Tuesday, December 6, 2011

Melukis dengan Sambel

Burger, Hi Tech Mall, Tambaksari, Surabaya.
Ini cuman saos, padahal. Tapi suka tidak suka, saya terpaksa mengakui bahwa penampilan saos yang disemprot-semprot dikit ini bikin burger yang cuman isi keju + selada + daging aja bisa bikin laper yang ngeliatnya. Ini mendongkrak nilai jual si burger, dari yang tadinya modal awalnya cuman Rp 3k, bisa naik sampek 3-5 kali lipat, tergantung di mana kau menjual burgernya.

Yang satunya, itu juga cuman bubuk kayu manis yang dibubuhin a la ceprok-ceprok di piring pancake. Tidak bisa dicocol oleh pancake-nya, bahkan dijilat langsung pun akan nampak seperti kurang kerjaan. Tapi ceprokan bubuk kayu manis ini bikin pancake-nya nampak lebih cakep ;)

Kadang-kadang, kalau saya lagi bikin proyek di dapur, waktu yang saya habiskan buat menghias-hias pakai saos ataupun bubuk ini jauh lebih banyak ketimbang bikin makanan utamanya. Bahan lukis yang paling saya sukai adalah mayonnaise dan whipped cream :)

P.S. Foto-fotonya saya jepret sendiri lhoo..

Pancake, Mayang Suki & Pancake, Gubeng, Surabaya.

Monday, December 5, 2011

Orangnya Harus Bejibun, Ya?

Disclaimer: Tulisan berikut ini penuh celaan, jadi kalau Anda nggak suka bahasan penuh hina-dina, silakan tekan tanda silang di sebelah kanan atas dan nggak usah baca sampek selesai. *kedipin sebelah mata kayak orang setep*

Jadi, malem ini saya lagi duduk di kantor nungguin ruang gawat darurat sembari berdoa semoga semua wanita dalam keadaan sehat dan tidak datang kemari lantaran mengeluh berdarah-darah dari sela-sela selangkangannya. Ya know, tidak ada dokter yang seneng dapet pasien berat kalau tengah-tengah malem begini, tidak saat mata sudah mulai kriyep-kriyep, kadar kortisol sudah mulai turun, dan gairah kerja sudah mulai reduksi lantaran dipakai kerja seharian. Saya lagi browsing di leptop, sembari playlist saya muterin Gloria Estefan dan Axl Rose (kalau Anda nggak tahu siapa itu Axl Rose, saya bisa pastikan Anda pasti jauh lebih ingusan daripada saya. Axl Rose itu yang nyanyi Sweet Child O' Mine sebeum di-recycle oleh Sheryl Crow. Awas kalau Anda juga nggak tahu siapa itu Sheryl Crow!), lalu perawat di kantor nyetel tivi dan..voila,  di tivi ada kontes boyband dan girlband.

Saya ngeliat tivi dan mematung kaku. I think I wanna die. Ya Tuhan, kenapa di dunia ini harus ada boyband dan girlband?!

Boyband dan girlband membanjir baru-baru ini, sungguh-sungguh mengotori tivi, membuat saya tidak punya pilihan lain kalau nyetel tivi selain terpaksa nontonin show-nya Mario Teguh atau Jakarta Lawyers Club. Dokter kok nontonin pengacara? Mereka ada di setiap channel, setiap jam, setiap menit. Membosankaaann!

Ini semua gegara Smash. Cowok-cowok yang air mukanya dibikin imut itu seolah-olah jadi prototype, dan dengan cepat produser-produser musik mengira bahwa resep artis macam ginian bisa digandakan. Kau kumpulkan lima orang, dandanin mereka dengan wax dan gel rambut, ajari mereka joget-joget, dan beri lagu yang mutunya so-so. Bayarkan segepok uang untuk membuat mereka tampil di Dahsyat,  bikin cewek-cewek menjerit-jerit, dan..jadilah boyband!

Beberapa hal yang bikin saya empet setengah mati lihat boyband dan girlband:
- Jumlah personelnya banyak banget. Ya Tuhan, ini mau nyanyi apa mau demo?
- Bajunya sama semua. Mengingatkan saya pada baju di Pasar Atum, bayar cepek dapet lima. Bajunya pasaran!
- Seolah-olah nggak cukup, tatanan rambutnya juga sama semua! Kayak anak-anak panti asuhan baru dipanggilin tukang potong rambut, semuanya dipotong dengan gaya rambut yang sama..
- Anehnya, biarpun ada banyak macamnya boyband dan girlband, tapi kok gaya narinya sama semua.. Apakah koreografer yang ngelatihnya juga sama? Misalnya hari Senen ngelatih girlband A, besok hari Selasanya ngelatih girlband B?
- Lagunya sangat-sangat tidak bermutu! Persis model pop permen karet, lagunya begitu mudah dikunyah, begitu mudah dibuang dan dilupakan..
- Dan yang paling penting, saya nggak yakin grup-grup kayak gini bakalan tahan lama. Alasannya simpel aja, coz anggotanya ada tujuh! Susah ngebagi honornya tuh. Anggap aja sekali manggung dihargain Rp 10 juta, gimana caranya ngebagi Rp 10 juta jadi tujuh?

Kenapa sih orang-orang tivi itu begitu percaya bahwa pertunjukan boyband dan girlband bisa mendongkrak pemasukan iklan di tivi? Atau jangan-jangan saya aja yang udah ketuaan sampek kesulitan mengapresiasi cewek-cewek jual tampang berambut panjang potongan a la Korea yang jingkrak-jingkrak a la ababil dan berkostum a la Sailormoon?

*Sudahlah, Vic, daripada kau mengomel terus, bagaimana kalau kau mulai mendirikan girlband juga? Siapa tau bisa masuk tivi dan nyaingin Cherry Belle..*

Eh ya, adakah blogger yang kepikiran mau bikin girlband atau boyband? Gabung dong, saya juga mau ikutan, hihihi.. Tapi saya maunya grupnya unisex, jadi di grup itu ada personel cewek dan personel cowok sekaligus.. (maumu, Vic!)

Yu now mi so eeell..

Sunday, November 27, 2011

Cangkruk di Dusun Malaysia

Roti prata adalah jenis panekuk yang dibikin dari bahan dasar bubur dan digoreng di atas panggangan, membentuk roti yang enak dimakan empuk. Roti ini banyak dijumpai di Semenanjung Malaya, biasa jadi makanan kebangsaannya orang-orang Tamil, maklumlah lantaran asal roti ini sebetulnya ya dari India sebelah selatan sana. Di Malaya, roti prata disajikan dengan kuah kari.

Roti prata bisa dimakan secara plain, tapi direkomendasikan buat dimakan  dengan disiram saos kari.
Bisa disajikan dengan kari sapi, tapi kali ini saya minta pakai bumbu kari ayam aja.
Tapi kita nggak perlu jauh-jauh pergi ke Malaysia sana buat ngincipin roti prata. Masakan Malaysia sekarang lagi booming di Indonesia, termsuk roti prata. Restoran-restoran Malaysia berserakan di segala penjuru Surabaya, dan dengan berani mereka bersaing menjual roti prata. Salah satunya ialah Malay Village yang saya dan my hunk datengin kemaren di bilangan Adityawarman, yang mengusung roti prata sebagai appetizer jagoannya.

Milih masakan Malaysia sebetulnya nggak susah-susah amat lantaran cita rasa Malaysia nggak asing-asing banget dengan lidah Indonesia. Malay Village nyodorin macem-macem penganan dengan campuran selera antara Melayu, Cina, dan India, sesuai dengan negara asal makanannya yang memang jadi tempat tinggal suku-suku itu. Saya pun tanpa tedeng aling-aling nyobain semuanya, mulai dari roti prata yang khas India, sambil mengganyang nasi Hainan yang penuh kaldu ayam.

Char siew, cara masak a la Cina (denger-denger sih khasnya daerah Kanton, bener nggak sih?).
Konon, di Cina sana, biasanya yang dimasakin char siew adalah daging babi, tapi di resto ini pakai daging ayam aja.
Yang sempet bikin saya penasaran adalah ayam char siew, coz sepanjang yang saya tahu, char siew adalah daging yang dipanggang setelah dibumbuin madu, kecap kedelai, dan konon disiram sherry. Saya ngincipin juga ayam char siew ini, tapi saya nggak bisa mengidentifikasi apakah di Surabaya ini disiram sherry juga apa enggak. Soalnya saya kan nggak boleh ngincipin sherry, takut besoknya mabok dan tanpa sadar ngoceh yang enggak-enggak :p

Ikan asem manis pesenan my hunk,
dengan latar es mangga di belakangnya.
Es mangganya dicampur podeng, rasanya suegerr!
Galau adalah saat kau tidak tahu
mana yang harus kaulakukan duluan,
menggado ayam panggangnya, makan nasi gorengnya,
atau tersenyum pada kamera.
My hunk sih nggak mau susah, dos-q pilih menu Melayu aja, fillet ikan asem manis plus nasi goreng sapi lada item, hihihi.. Dan ternyata dari semua makanan yang ada di meja, dos-q memang paling seneng ikan asem manisnya. Aih, mungkin lantaran bumbu asem manis memang paling mirip sama lidah Indonesia yaa..

Satu hal yang saya sukai dari tempat ini adalah servisnya cepet tapi masakannya tetep enak. Pesenan saya dateng dalam 10 menit, nggak lama-lama amat lah.

Oh ya, kalau kamu pingin ngincipin masakan Malaysia tapi nongkrong jauh dari Surabaya, Malay Village juga ada di Cilandak lho. Bagi-bagi dong di sini, apa masakan Malaysia kesukaanmu? ;)

Foto-foto dijepret oleh Eddy Fahmi.

Tuesday, November 15, 2011

Sutra, Jangan Pakai Dulu Deh!

Sebagai seorang Event Organizer amatiran, sering banget saya dapet keluhan bahwa penonton nggak bisa denger suara pembicara di mic-nya. Saya nggak bisa mangkir bahwa sebagian masalah itu nongol gegara ketidakbecusan sound-system, tetapi saya menjumpai bahwa kerap kali itu memang kesalahan tidak sengaja oleh pengguna mic-nya.

Salah satu penyebabnya ternyata adalah masalah baju. Lho, kok bisa? Kayak contohnya yang di gambar ini. Mic kini dilengkapi clip on yang bisa dijepitkan ke baju, dan fungsinya adalah supaya suara si pembicara tetap kedengeran oleh seluruh dunia tanpa menghalangi gerak tangannya yang bebas, sehingga tangannya nggak perlu kaku megang mic. Ini keliatannya praktis, tapi ternyata jadi problem kalau bahan bajunya nggak cocok sama mic-nya.

Jika pembicaranya pakai baju dari sutra, dan mic dijepitkan ke bajunya, perlahan-lahan posisi mic akan bergeser karena sutranya licin. Awal-awal memang nggak terasa, tapi kalau pembicaranya banyak bergerak, lama-lama sutra bajunya akan bergesek dan jepitan mic-nya akan bergeser, maka suara pembicara akan pelan-pelan hilang dari pengeras suara. Akibatnya apa yang dibicarakan si pembicara nggak bisa terdengar oleh penonton.

Diperlukan mic dengan jepitan yang cukup kuat supaya nggak sampek ngegeser saat menjepit bahan sutra. Mungkin jepitannya bisa bikin bahannya sendiri jadi sedikit cacat.

Sekiranya kita sering ditodong jadi pembicara, sebaiknya kita belajar tahu sedikit-dikit tentang teknik nampil, nggak cuma tentang cara menyampaikan bahan ke khalayak ramai, tapi juga tentang macam-macam mic dan cara pegangnya supaya pembicaraan kita efektif.

Saturday, October 15, 2011

Siape Elu?

Sering kita mengunjungi tempat makan dan kita liat di sana pemilik tempatnya memajang foto-foto pengunjungnya yang pernah makan di situ. Tadinya saya bingung kenapa mereka dipasang fotonya di situ, kok kesannya narsis banget, tapi belakangan baru saya tahu kalau foto mereka dipajang di situ lantaran mereka adalah orang terkenal. Definisi orang terkenal itu sangat relatif, kadang-kadang menurut si pemilik tempatnya orang di foto itu terkenal, tapi menurut saya nggak terkenal tuh. Buktinya ada beberapa figur di foto yang saya nggak kenali, tapi ternyata dia dipasang di situ lantaran dia adalah penyanyi dangdut. Owalah, pantesan saya nggak kenal.. *melengos*

Kalau yang di foto ini bukan ibu-ibu yang pulang dari pengajian,
tapi sekumpulan mahasiswa residensi ginekologi di Surabaya.
Sehubungan rumah makan bebek di Nginden
tidak mau memasang foto mereka di meja kasirnya
lantaran dianggap kurang terkenal,
maka saya memasang foto mereka di sini karena kasihan.
Oh ya, mbak yang paling kiri itu paling cantik lho :D
KENAPA PEMILIK TEMPATNYA MESTI REPOT-REPOT MEMAJANG FOTO MEREKA?
Mungkin alasannya begini:
1. Bahkan Siti Nurhaliza bilang makanan di sini enak!
2. Nih lho, Moerdiono pernah makan di sini. Mosok Anda enggak?
3. Dengan makan di sini, Anda akan bisa seperti Syahrini! Liat aja fotonya!
Dan mungkin saya akan menanggapinya lain:
1. Berapa banyak rumah makan ini berani bayar manajemennya Mbak Siti supaya mau memboyong Mbak Siti untuk makan di situ dan berfoto bersama pemilik rumah makannya?
2. Moerdiono pernah makan di sini. Dan sekarang dia meninggal. Jadi, makan di sini bisa bikin meninggal?
*tidak lulus pelajaran silogisme*
3. Nggak mauu! Nggak mau jadi kayak Syahriniii!
*kabur pake helikopter*

KENAPA YANG BEGINI INI HANYA TERJADI PADA RUMAH MAKAN?
Mengapa tempat-tempat dagang lain nggak melakukan hal yang sama?
Saya nggak pernah liat ada bengkel cuci mobil masang foto artis yang pernah nyuci mobilnya di situ. Atau salon yang majang foto menteri yang lagi krimbat di situ. Atau mungkin supermarket lah. Mosok sih selebriti nggak pernah nyuci mobil, krimbat, atau minimal belanja gula? Mereka kan juga manusia?
(Tapi saya pernah nemu toko souvenir kecil di Jalan Raya Kuta di Bali yang majang fotonya Mona Ratuliu, lengkap dengan testimoninya segala.)
Lha saya sendiri pernah papasan sama Jovanka Mordova di Pondok Indah Mall, tubrukan sama Didi Petet di Plaza Senayan, dan cengar-cengir sama Denny Chandra yang lagi beli susu di Borma. Tapi nggak ada tuh PIM, Playan, n Borma mau masang foto artis di meja kasir..

KENAPA NGGAK PERNAH ADA RUMAH MAKAN MINTA SAYA FOTO BARENG PEMILIK RUMAHNYA?
Padahal saya kan juga orang terkenal. Ayo coba Anda pikir, Anda yang sering baca blog saya pasti kenal saya, berarti saya orang terkenal kan? :p
*disambet pakai tasnya Balenciaga*

Lalu, karena saya dokter: KENAPA NGGAK ADA RUMAH SAKIT MEMAJANG FOTO ARTIS YANG PERNAH BEROBAT KE SITU?
Misalnya foto bintang film yang lagi operasi jantung. Atau foto penyanyi cilik yang lagi disunat.
Kalau pun nggak ada artis, mbok minimal ya foto Pak Gubernur lagi vasektomi. Kan gubernur juga orang terkenal? Ya kan? Ya kan?
Lebih bagus lagi kalau yang dipasang itu foto Prita Mulyasari, saya yakin itu akan jadi upaya marketing yang hebat untuk mendongkrak kunjungan pasien ke situ!

Jika Anda mau buka usaha, usaha apapun meskipun bukan usaha kuliner, berani nggak Anda pasang foto orang terkenal di tempat usaha Anda? Nggak usah yang muluk-muluk, saya juga mau kok pasang foto saya di situ.. *ngedipin sebelah mata yang kelilipan*

Owalah, Vic, Vic, emangnya..siape elu??
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Sunday, September 25, 2011

Kasur, Kangenkah Kepadaku?

Guru saya dalam suatu ceramah psikiatri pernah bilang, "Tidurlah 8 jam sehari, maka Anda akan memiliki badan yang cukup sehat untuk beraktivitas optimal."

Saya mencatat itu baik-baik, karena itu dulu saya selalu rajin tidur siang. Bahkan kalau suatu hari saya nggak sempat tidur siang pun, misalnya lantaran saya pulang setelah jam tiga sore, saya selalu menyempatkan diri tidur. Eh, itu namanya bukan tidur siang ya, tapi tidur sore. Tapi nggak pa-pa, yang penting kuantitas delapan jam tidurnya terpenuhi.

Ketika semester yang baru di sekolah saya mulai Juli lalu, saya pun harus rela pulang dari sekolah sore-sore, karena memang tugas saya yang seabrek nggak bisa diselesaikan siang-siang. Kadang-kadang saya baru pulang jam tujuh malam sampek apartemen, suatu hal yang ironis mengingat sebetulnya letak sekolah saya persis di depan apartemen saya. Praktis tidur siang pun jadi barang mahal buat saya. Jadi kalau seumur-umur gini orang ditanyain, apa barang mahal yang kamu inginkan, mungkin orang akan jawab mobil, cicilan rumah, atau liburan ke Sinx, jawaban saya mungkin beda sendiri: Bobok siang!

Atau lebih tepatnya, saya sungguh kangen tidur delapan jam sehari.

Karena program kuliah saya beda jauh antara semester sekarang dan semester sebelumnya, teman-teman kuliah saya pun ikutan ganti. Dalam 2-3 minggu ini, kalau saya lagi tugas jalan ke departemen lain selain departemen obgyn, saya banyak ketemu teman-teman yang kuliah bareng saya di semester lain. Terus, saban kali mereka liat saya, mereka selalu bilang, "Vicky, kok kamu jadi kurus??"

Memang berat saya susut tiga kilo sih. Tapi mosok sih sampek keliatan kurus? Mungkin rona muka saya nampak capek ya. Muka kan nggak bisa bohong, kelelahan itu keliatan dari pancaran muka, dan lain-lain..

Saya sampek janji, kalau ada waktu buat tidur, saya akan tidur. Pada hari Sabtu dan Minggu, kalau ada yang berani nelfon saya pagi-pagi, saya bisa ngamuk lantaran jam segitu saya masih meluk guling dan dipeluk selimut. Lha hari-hari kerja kan saya harus bangun pagi-pagi, coz posisi saya menyebabkan saya kudu dateng ke kantor lebih duluan daripada senior. Jadi Sabtu-Minggu kan libur, maka giliran saya menikmati bangun siang dong? ;)

Tapi belakangan, rencana saya buat bayar utang tidur di waktu weekend itu, terpaksa kudu direvisi lagi. Bukan, nggak ada appointment yang saya bikin di hari weekend. Tapi penyebabnya, lebih karena badan saya yang memilih bangun sendiri.
Saya nggak bisa merem lagi setelah sholat subuh. Biarpun saya udah milih berbaring diam di atas kasur, tetep aja saya nggak bisa tidur. Mungkin karena badan ini sudah biasa disuruh kerja mulai subuh, jadi kalau jam segini disuruh bobok, dia malah kebingungan sendiri..

Saya berharap kasur saya mengerti. Memang sedikit demi sedikit saya berubah. Tapi saya tetap mencintainya, sama seperti dia mencintai saya. Percayalah, ke manapun saya pergi, saya akan selalu kembali ke pelukannya.. *sambil nyium kasur dan mulai merapikan sprei*
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Saturday, September 10, 2011

Tips Ngelobi Orang

Suatu hari saya dan my hunk lagi dugem di food court sebuah mal, dan kami dengar di meja sebelah kami seseorang lagi ngoceh kepada teman makannya tentang sebuah produk. Kalau dari caranya ngomong, feeling saya sih dia lagi presentasi MLM.

Saya melirik si tetangga dan berpikir, produk dia nggak akan laku kalau presentasinya kayak gitu. Atau pun kalau laku, tidak akan laris dalam secepat periode yang dia inginkan. Penyebabnya multipel: food court itu terlalu berisik, ada anak kecilnya, dan presentasi dilakukan sambil makan mie hot plate.

Saya bukan sales girl, tapi sebagai seorang buyer yang over kritis, tentu saja saya punya tips buat orang-orang yang demen ngelobi untuk menaikkan kurva penjualan barangnya. Kuncinya satu: Perhatikan bahwa dari seluruh presentasi yang Anda berikan pada seseorang, maka yang nyantol di kepala orang tersebut cuman 30%. Sisanya? Menguap entah ke mana. Jadi, upayakan lingkungan supaya isi presentasi Anda bisa betul-betul nyantol di kepala penontonnya.

1. Jangan pernah presentasi produk di food court. Food court itu berisik. Anda mau lawan bicara Anda dengar semua presentasi Anda kan? Ajak lawan bicara Anda untuk makan-makan di sebuah kafe yang tenang dengan keberisikan di bawah 60 db.

2, Kalau bisa, jangan sampek lawan bicara Anda itu bawa anak kecil. Dengan adanya anak yang kemungkinn rewel, dia akan terpecah konsentrasinya antara mendengarkan Anda dan meladeni anaknya yang masih belum bisa dikendalikan kesabarannya. Kecuali kalau Anda memang presentasi tentang produk yang berguna buat anak rewel.

3. Menu makanan sangat berpengaruh buat presentasi Anda. Baik Anda maupun lawan bicara Anda, sebaiknya jangan pesan makan yang panas-panas apalagi pedas! Anda kan nggak mau presentasi dengan hidung meler lantaran kepedesan, mosok Anda mau mengharapkan lawan bicara Anda mendengarkan Anda sementara dia sendiri kepanasan karena disuguhi mie di atas hot plate?

Frappucino chocochip, roti panggang kaya spesial, teh susu ginseng, roti goreng  telur kornet keju.
Lokasi: Phoenam Cafe, Surabaya.
4. Sekiranya Anda nggak terlalu bermodal, nggak perlu memberatkan diri dengan mentraktir calon pembeli di restoran mahal, tapi juga jangan di tempat yang terlalu murah. Kadang-kadang calon pembeli tidak tahu dia mau ditraktir apa, maka sebaiknya Anda memberi contoh dengan memesankan menu yang cukup classy tapi tidak terlalu mengenyangkan. Kesan classy untuk menunjukkan kelas Anda. Kenapa jangan sampek terlalu kenyang? Soalnya kalau terlalu kenyang, orang nggak bisa konsentrasi mendengarkan dan malah jadi cenderung ngantuk. Pilihlah menu-menu ringan, misalnya pasta ukuran medium atau roti kaya dengan kopi atau teh.

* Dear Vicky, sebenarnya posting ini tentang tips melobi buat para sales, atau cuman mau pamer menu makan malammu? :p *

Wednesday, September 7, 2011

I Love Him!

Foto ini diambil oleh Angki ketika kami hang out ke gurun pasir di Bromo weekend lalu. Sudah lama saya dan my hunk kepingin punya foto kami berdua lagi jumpalitan, tapi kendalanya ternyata banyak:
1. Perlu orang ketiga buat nekan tombol shutter-nya. Pakai self-timer susah, tau..
2. Action gini nggak bisa dilakukan di sembarang tempat. Coba kalau kami beginian aja di jalan raya, bisa-bisa jadi tontonan rakyat gratis dan dikira orang gila..

You and me, kita meloncat bersama ;)


Tuesday, September 6, 2011

Sehat atau Takut Benjol?

Ketika orang berbondong-bondong ingin daftar jadi Pegawai Negeri, saya yakin tidak satu pun dari mereka yang berencana ikut senam pagi di kantornya setiap jumat.

Lalu saya bertanya-tanya, sebetulnya ikut senam pagi saban jumat itu hukumnya wajib atau sunnah? Kalau wajib, kalau pegawainya nggak ikut senam, ada pemotongan gaji, nggak? Sebaliknya kalau sunnah, kalau pegawainya ikut senam, dapet renumerasi nggak?

Instansi pemerintah seharusnya belajar memoles peraturannya supaya nampak menarik dan supaya pegawai menyadari manfaatnya, bukan sekedar maksa pegawai senam cuman gegara takut benjol oleh atasan.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Monday, September 5, 2011

Bromo! Bromo! Bromo!

Yaiyy..saya jalan-jalan lagi! Kali ini saya dan beberapa blogger nyoba kopi darat jenis lain dengan hiking ke Bromo. Sebenarnya sudah berkali-kali sih saya ke Bromo, tapi kali ini istimewa lantaran nggak cuman ini pertama kalinya saya jadi event organizer langsung buat tour ke Bromo (lha biasanya saya kan pergi bareng bonyok, dan sebagai anak saya selalu manut sama susunan acara bikinan bokap saya). Tetapi juga lantaran Bromo sekarang udah nggak kayak dulu lagi semenjak Bromo meletus akhir tahun lalu. Banyak banget landscape Bromo yang berubah total, sebagian bikin nggak nyaman, tapi justru sebagian lagi malah jadi lahan wisata baru yang nambah tempat itu jadi semakin menarik.

Narsis di atas Bukit Mentigen pas matahari terbit.
Jam 4 kurang, saat semua orang masih tertidur lelap dan bahkan ayam pun belum ada yang nekat berkokok, kita-kita udah cabut dari hotel dan nyewa jip. Tujuannya ya standar-standar aja deh: ngejar matahari terbit buat foto-fotoan, haha!
Semula saya sempat heran soalnya rute yang dilewatin supir jipnya bukan rute yang biasa saya lewatin pas saya terakhir kali ke Bromo tujuh tahun lalu. Dulu tuh kalau saya nemenin bokap ngejar foto matahari terbit, kami biasanya pergi ke Bukit Pananjakan, coz dari situ bisa dapet foto matahari terbit dengan berlatar pegunungan Bromo-nya. Kali ini supir jipnya bilang bahwa akibat Bromo erupsi tahun lalu, jalan ke Pananjakan jadi rusak berat dan nggak bisa dilewatin. Akibatnya turis-turis terpaksa digiring ke bukit lain yang sekiranya bisa dapet pemandangan matahari terbit yang sama bagusnya. Maka jadilah subuh tadi kami pergi ke Bukit Mentigen.
Bukit Mentigen ini masih berpasir, jadi nggak ada tempat yang jelas buat memijak.
Di sebelah kanan saya itu ufuk timur, sedangkan di sebelah kiri saya
 sebetulnya bukan Angki, melainkan Gunung Batok, hehehe..

Dengan adanya rombongan yang semuanya sesama pecinta kamera (sebagian lagi seneng banget moto dan sebagian lagi seneng banget difoto!), maka klop deh itu pemandangan matahari terbit dilalap habis sama kita. Berkali-kali kita nyoba macem-macem pose dengan macem-macem latar belakang, mulai dari yang mataharinya masih malu-malu sampek malu-maluin alias silau banget, hihihi.. Sekalian juga saya sukses siaran langsung dari Bromo via HP. Begitu matahari mulai nongol dikit di ufuk timur, langsung saya narsis pakai kamera HP dan buruan saya upload fotonya ke Facebook, biar nggak hoax kalau ada isu bahwa saya lagi di Bromo dong aah..

Ternyata, untuk berfoto di gurun pasir nggak perlu harus ke Arab!
Lokasi: Pasir Berbisik, Kabupaten Probolinggo,

Selanjutnya, supir jipnya pun bawa kita ke Pasir Berbisik. Eits..apaan nih nama tempat kok mirip judul pelemnya Dian Sastro? Ternyata, ini gurun pasir lho, dan suka dipakai syuting film-film FTV gitu deh (ini sih kata supir jipnya, lha saya nggak ngerti soalnya saya kan nggak pernah nonton tivi..). Begitu tiba di venue, kita langsung bersorak kegirangan, soalnya akhirnya kita berhasil membantah tahayul yang bilang bahwa kalau orang Indonesia kepingin foto di gurun pasir harus ke Arab! Cihuuy..Indonesia punya gurun pasir!

Duduk manis di atas padang pasir.
Yang moto ini Eddy Fahmi.


Ehh..apaan nih kok ada foto saya berani duduk di atas pasir padahal saya orangnya takut banget sama yang kotor? Lhaa..pasirnya bersih dan berkilauan, Sodara-sodara! Tempat ini juga asik banget coz biarpun waktu kami dateng ke sini sudah jam 7 pagi, tapi tempat ini masih sepi dan belum banyak pengunjung yang dateng. Alhasil kita sukses foto-fotoan tanpa ada figur orang lain di dalam background, hihihi..

Pura ini berposisi sekitar 1 km jalan kaki dari
pangkalan jip kawah Bromo, dan 2 km dari anak tangga Bromo. 

Kelar dari Pasir Berbisik, akhirnya jadi juga kita ke kaldera Bromo yang super luas itu. Di sinilah saya ngeliat perbedaan Bromo tahun ini dengan Bromo sebelum erupsi. Akibat dari meletusnya Bromo, kawah Bromo yang tadinya cuman beralaskan batu-batu dan nyaman buat dipakai hiking, kini jadi full pasir dan bikin medan hiking jadi berat banget. Jarak dari parkiran jip ke bawah anak tangga sekitar 2 km, dan sepanjang itu jalurnya tertimbun pasir setinggi sekitar dua meter. Saya baru jalan 500 meter langsung terengah-engah lantaran nggak kuat mendaki tanah pasir Bromo yang curam dan berpasir, dan akhirnya nyerah dan melambaikan tangan pada joki kuda. Jadilah my hunk motretin saya naik kuda, sementara dia sendiri berdiri dari atas, hehee.. Agak nyesel juga sih saya, kenapa tadi nggak pakai gaun aja ya, kan asyik kalau saya foto-fotoan naik kuda di Bromo sambil pakai gaun panjang gitu..

Difoto Eddy Fahmi dari jauh.
Tadinya saya kepingin naik kuda sambil pakai gaun gitu,
tapi takut dikira artis n dimintain tanda tangan..

Anak tangga menuju puncak Bromonya ternyata juga nggak kalah parahnya. Cita-cita saya mau ngitung jumlah pasti anak tangganya pun terpaksa bablas gara-gara anak tangganya ketutupan pasir!

Perhatikan anak tangganya yang penuh pasir. Kalau cuman turun sih gampang, tapi naiknya itu yang berat, bo'.
Beberapa pengunjung malah nggak mau turun pakai tangga;
mereka milih ngesot di area sebelah tangga yang memang penuh pasir.
Foto dijepret oleh Angki.

Naik tangganya bikin stress lantaran saya kebingungan nggak tau memijak ke yang mana, ditambah faktor kecuraman anak tangga yang berbanding terbalik dengan stamina saya yang nggak selangsing tujuh tahun lalu. Saya terpaksa berhenti sebentar-sebentar, dan itu ternyata cukup mengganggu lalu-lintas karena anak tangga yang sempit bikin orang di belakang kita nggak bisa naik kalau orang di depannya berhenti. Saya sampek denger seorang pengunjung berseloroh, “Dooh..nggak di Surabaya, nggak di Bromo, sama aja macetnya!”

Dan akhirnya kita sampek juga di puncak Bromo, yaiyyy!
Siaran langsung dari puncak Bromo! Latar belakang: Gunung Batok.
Alhamdulillah yaah..akhirnya sampek juga. "Sesuatu" banget yaahh..

Langsung saya upload foto saya ke Facebook dong buat siaran langsung, hihihi.. Hey..ternyata sinyalnya si merah juara lho!

Para blogger berbuat narsis dengan berpose membentuk inisial nama masing-masing.
Lokasi: Kawah Bromo. Dari kiri ke kanan:
V untuk Vicky Laurentina, F untuk Eddy Fahmi, R untuk Risdania Syafdini, A untuk Angki.

Tips jalan-jalan ke Bromo:
1.       Sebaiknya pakai jip kalau mau ke kawah pasirnya. Jangan naik motor matic, gila! (Sambil inget tadi pagi kami lihat ada orang susah-payah bawa Mio ke kawah Bromo, ck..ck..ck)
2.       Kalau memang niat nonton matahari terbit, datenglah sebelum jam 4.30 untuk nge-tag tempat, soalnya setelah itu susah banget lantaran gerombolan orang makin lama makin banyak yang kepingin nongkrong di Mentigen demi berbuat narsis.
3.       Sebagian jalur harus didaki dengan jalan kaki. Siyalnya kemiringan jalurnya curam banget. Lebih repot lagi lantaran jalurnya berpasir, jadi sering muka kita belepotan pasir dari depan kita. Mendingan pakai masker deh buat yang nggak tahan debu.
4.       Sewa jip bisa digepok sampek Rp 500k/mobil, bisa dimuatin 8 orang kalo kurus-kurus. Lebih baik kordinasi sama hotel tempat kita nginep supaya bisa dapet harga murah. Harga Rp 275-375k cukup reasonable kok.
5.       Kalau mau bawa tas, nggak usah isi tasnya dengan barang banyak-banyak! Nggak usah bawa laptop, mentang-mentang mau ke puncak Bromo terus mau check in di Foursquare gitu? Nggak usah bawa payung juga cuman gara-gara Anda takut kulit Anda jadi ber-glitter bak Edward Cullen kalau kena panas. Cukup isi tas dengan dompet, yang cukup buat bayar tip untuk supir jip dan jajan di bawah anak tangga Bromo. Sarapan dengan mie instant kemasan gelas dan kopi di sana cukup memadai lho.