Thursday, September 5, 2013

Bikini dan Ratu Kecantikan

Sekedar memoir, buat kalian yang jarang nonton tivi, malam ini ada pemilihan Miss World. Tumben-tumbenan Indonesia dipercayai buat jadi tuan rumah penyelenggaraan kontes kecantikan ini. Padahal menang saja tidak pernah.

Di tweet-nya @OfficialRCTI, disebutkan bahwa untuk kontes tahun ini, tidak ada penilaian kontestan memakai bikini.

Lalu saya jadi bingung. Kebingungan ini saya susun menjadi dua postulat:

Pertama, saya heran kenapa menilai seseorang harus dengan melihatnya pakai bikini.
(Kenapa tidak dengan kostum lain? Dengan kostum astronot, misalnya?)

Wednesday, September 4, 2013

Pak Guru Sudah. Dirimu?

Setelah ini saya jadi berpikir-pikir di mana sebaiknya saya beli skateboard.
***
Pagi ini dimulai ketika my hunk nganter saya ke rumah sakit. Menjelang pintu gerbang sekolah, mata saya tertumbuk pada sesosok pria tua menenteng sepeda di trotoar rumah sakit. Saya terperanjat mengenalinya, itu guru saya dan beliau berkeringat berbalut baju olahraga. My teacher bikes to work!

Tinggal 10 menit lagi acara sekolah kami akan dimulai dan kami masih di sini, di trotoar. Saya buru-buru turun dari mobil my hunk dan mempercepat jalan ketika masuk ke gedung, takut profesor sudah datang duluan di hall. Tapi saya masih belum lupa bahwa Pak Guru masih di trotoar, masih keringetan, masih pake kaos olahraga. Dan saya lihat tadi sepertinya sebuah mobil besar mewah menghampirinya, mungkin itu supirnya datang untuk menjemput sepedanya. Saya membatin tidak mungkin Pak Guru masuk rumah sakit dengan berpakaian seperti itu.

Saya masuk ke hall dan menghela napas lega karena profesor ternyata belum datang. Saat saya duduk dan berniat ngeblog, tahu-tahu pintu terbuka dan..itu Pak Guru masuk. Duduk di kursi favoritnya di pojok. Sudah pakai kemeja rapi. Tidak ada bekasnya sama sekali bahwa 10 menit yang lalu Pak Guru masih berseliweran di jalanan dengan bersepeda.

Sunday, September 1, 2013

Emak Laurent Pergi ke Pasar

Akhrinya saya punya waktu barang sejenak buat baca buku resep masakan yang udah saya beli empat bulan lalu dan memutuskan untuk mencoba beberapa resep. Yang ringan-ringan aja, jangan yang berat-berat. Lebih disukai kalau bahannya bisa dibeli di mall, supaya my hunk nggak usah pusing mikirin tempat parkir kalau nganterin saya belanja logistik dapur. Lebih disukai lagi kalau mallnya buka di atas jam sembilan malam, karena memang biasanya saya baru pulang dari sekolah itu jam sembilan malam. Lebih disukai lagi kalau barang yang di supermarket itu ditata sesuai label pada raknya, jadi kita nggak perlu tanya-tanya sama pramuniaganya kayak orang bego (ya memang bego, namanya juga nggak pernah masak!). Misalnya kalau jeruk citrus jangan ditaruh di rak yang dilabelin jeruk sunkist, karena ternyata harganya beda jauh. Demi Tuhan, apa bedanya jeruk citrus dengan jeruk sunkist? Dua-duanya sama-sama jeruk!

Thursday, August 29, 2013

Promosi Orang Sakit

Andaikan saja Anda ini sakit dan harus diopname, apa yang Anda inginkan? Apakah Anda ingin dijenguk atau dibiarin aja?

Jujur aja, kalau saya sakit, saya berubah jadi godzilla yang bawaannya kepingin ngumpet. Maunya tinggal di kamar dan nggak mau diajak ngomong. Soalnya badan nggak enak banget, tampang jadi berantakan, dan saya jadi malu.

Tapi nggak semua orang kayak gitu kan. Saya pernah punya pasien yang kebetulan masih mertuanya temen saya sendiri. Saya bilang ke teman saya kalau mertuanya itu sudah nggak pa-pa dan nanti siang mau saya pulangin supaya dos-q bisa tidur di rumah yang tentu suasananya lebih nyaman. Tapi si teman malah memohon-mohon supaya saya tetap menginapkannya barang semalam lagi. Dos-q bisik-bisik ke saya, soalnya budenya yang berasal dari luar kota baru tiba nanti sore buat ngejenguk si mertua. Si mertua tetep kepingin dijenguk oleh si bude itu di rumah sakit supaya dos-q kelihatan "sakit".. Kalo dijenguknya di rumah kan rasanya kurang gimanaaa gitu.. :p

Saturday, August 17, 2013

Ingat! Facebook Masih Jagoan

My hunk ngunggah foto kami ketika sedang dugem hari ini ke Facebook. Saat dos-q mengunggahnya, tiba-tiba di Facebook muncul tulisan semacam begini, “Apakah Anda ingin menge-tag Zaenani Trinanto, Vicky Laurentina, dll.. pada foto ini?” sementara di foto terpampang kotak-kotak tag dengan nama yang persis bener sama pemilik wajah aslinya.

Kami tercengang dan mendadak teringat suatu hal yang sangat penting, ini adalah fitur kelebihan Facebook yang masih belum bisa disaingin oleh socmed-socmed yang lain: Bisa hafal muka saya dengan tepat.

Wednesday, July 31, 2013

Belajar Tidur Sendirian

Dalam pernikahan, selalu ada yang pertama. Masak pertama. Nyuci baju pertama. Masang antene tv pertama. Browsing rumah pertama. Mandi bareng pertama. Dan entah apa lagi yang pertama.

Ini sudah 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan tahu-tahu my hunk bilang kalau malam ini dos-q mau ngumpul bareng temen-temennya. Sesama pria. Saya sih nggak keberatan, tetapi itu jadi persoalan sewaktu dos-q bilang dos-q mau pulang subuh. Saya mengkeret. Soalnya berarti itu konsekuensinya dos-q bakalan di luar rumah dari malem sampek subuh. Berarti saya tidur sendirian dong malam ini?

He's always there beside me.
Now he wants to beside himself for a while.
Bukan saya nggak berani tidur sendirian ya? Semenjak menikah, seumur-umur cuman satu kali saya tidur sendirian di kamar, yaitu waktu my hunk pergi seminggu keluar kota untuk urusan kerjaan. Sisanya bukan saya yang tidur sendirian, tapi saya yang ninggalin my hunk tidur sendirian.. soalnya saya jaga rumah sakit.
Well, saya sendiri nggak keberatan tidur sendirian selama itu urusan cari nafkah atau sekolah, tapi ini kan.. ugh, semata-mata karena dos-q mau kumpul sama temen-temennya.

Saturday, July 27, 2013

PR buat Asuransi Kesehatan

Salah satu poin penting dari perencanaan keuangan ialah bagaimana mengembangkan aset yang ada supaya jadi banyak menghasilkan dan bagaimana melindungi aset yang ada supaya nggak sampek hilang oleh hal-hal yang nggak terduga. Salah satu musibah yang sering bikin kita bangkrut itu adalah kalau kita sakit.

Sebenarnya bukanlah penyakit itu yang bikin bangkrut, bukan juga harga obatnya apalagi biaya dokternya, tetapi rumah sakitnya itulah yang bikin bangkrut. Bahkan penyakit Indonesia yang paling sering bikin mati yaitu serangan jantung, sebenarnya nggak akan menggorok isi dompet penderitanya asalkan pilih dokter yang cerdas di Puskesmas yang tepat, dan obat-obatan yang diperlukan sebetulnya sudah ditanggung oleh Jamkesmas. Jadi nggak benar itu kalau ada pameo “orang miskin nggak boleh sakit”. Yang bener adalah “orang miskin nggak boleh (masuk rumah) sakit (swasta).”

Thursday, July 25, 2013

Takbir dan Mengejan Pun Berlomba

Lebaran itu seharusnya sholat Id bersama keluarga, tetapi tahun lalu saya menghabiskan Lebaran dengan mengurusin orang-orang yang mau melahirkan di rumah sakit.

Saya mahasiswa sekolah spesialisasi kedokteran kandungan dan tahun lalu saya ditugaskan magang di sebuah rumah sakit di Sidoarjo selama tiga minggu sekitar Lebaran. Ini pertama kalinya saya merayakan Idul Fitri tanpa bersama orang tua saya (waktu itu saya masih belum punya suami) dan sekolah saya memang nggak memberikan libur meskipun Lebaran. Waktu diberi tugas itu, saya udah ikhlas aja dalam hati untuk tidak berlebaran sama keluarga, karena saya mikir, “Ah, paling-paling saya masih bisa sholat Id bersama dokter-dokter jaga lainnya di lapangan parkir rumah sakit.”

Pada malam Idul Fitri kamar bersalin saya bersihkan dari pasien dan semua pasien yang masih hamil saya bikin supaya cepat lahir sehingga mereka bisa memperkenalkan anak baru mereka ketika keluarga mereka membesuk mereka pada hari Lebaran. Sungguh aneh malam itu saya tidur nyenyak, dan saya masih sempat menyiapkan mukena plus sajadah plus koran untuk siap-siap sholat Id di lapangan rumah sakit. Jam lima pagi saya bangun dengan perasaan segar dan mandi.

Ketika balik ke kamar tidur sambil mengeringkan rambut habis keramas, feeling saya nggak enak ketika HP saya berkedip-kedip tanda SMS masuk. Ternyata itu dari kolega saya. Isinya simpel sekali. “Pasien baru. Kiriman. Kala dua lama.”

Saya lari ke kamar bersalin dan menjumpai kolega saya dan beberapa bidan mengerubuti seorang ibu yang terbaring pasrah di tempat tidur dengan perut membelendung nampak seperti habis menelan kulkas. Saya mendengar sendiri mulut saya bertanya, “Siapa yang kirim?” padahal sebenernya saya mau ngomong, “Siapa yang menghalangi saya mau sholat Id?”

Tuesday, July 23, 2013

Dua Tahun Minta Pensiun

Setiap kali saya ngeliatin HP, mendadak saya langsung teringat orang yang mau kena serangan epilepsi. Soalnya HP saya senengnya bengong dan nggak mau diajak ngapa-ngapain. Tapi di tengah-tengahnya ada jam pasir. Biasanya saya nunggu satu menit dulu, baru setelah itu HP saya mau kerja. Dan itu sangat mengganggu, karena mobilitas saya dihitung dalam detik.

Saya mau protes, tapi apa daya saya teringat janjinya tukang HP yang dulu ngejual HP saya ini. “Garansinya cuman dua tahun lho, Teh,” katanya. Baru sekarang, kutukan dua tahun itu terasa benar adanya. Setelah dua tahun bersama saya, HP saya mulai nunjukin tanda-tanda geriatri. Lemot, bengong, baru diajak ngebut dikit aja langsung kecapekan.

Saturday, July 13, 2013

Lebih Spesifik Dong..

Ustadz yang berceramah di tarawih yang saya datengin malam ini bertanya, "Bapak-bapak, Ibu-ibu, adakah di antara Anda yang hari ini berdoa, 'Ya Allah, berikan saya detak jantung. Ya Allah, berikan saya oksigen untuk bernafas.'?"

Saya dengan jujur menggeleng. Karena saya memang nggak pernah berdoa minta dikasih detak jantung atau oksigen.

Tadi pagi, saya berdoa sesudah witir. "Ya Tuhan, saya mohon supaya kedua orang tua saya selalu sehat.. Saya mohon bimbing saya supaya saya bisa menjalani sekolah dengan baik."

***

Setelah bertahun-tahun jadi dokter, saya baru menyadari ironi bahwa, tetap bernyawa ternyata nggak selalu lebih baik daripada mati. Saya melihat pasien-pasien tergolek loyo di ranjang ICU, ada yang sudah berada di sana seminggu, ada yang sudah sebulan, hanya ditopang mesin bantu napas (yang dibayarin Jamkesmas alias dana Pemerintah alias pajak rakyat), mereka mungkin saja masih bernyawa tetapi menurut saya mereka nggak hidup.