“Liburan sekolah nanti
kau ke Ostrali ya. Tinggal sama orang di sana. Sendirian.”
Kalimat itu dilontarkan
ayah saya pada waktu sekitar bulan April 1996, di meja makan ketika kami makan
malam. Saya syok dan langsung ketakutan.
Umur saya 14 tahun waktu
itu. Belum pernah naik pesawat sendirian. Apalagi menyasar-nyasarkan diri di
negara yang nggak bisa berbahasa Inggris. Tapi ayah saya tetap kirim saya ke
Sydney, melalui program homestay berdurasi sebulan yang diadakan Rotary Club.
![]() |
| Opera House adalah salah satu icon yang saya kunjungi ketika tinggal di Sydney. Berupa gedung yang terdiri atas beberapa hall untuk memutar pertunjukan opera dan pertunjukan musik. Sumber foto di sini. |
Di program homestay itu, remaja-remaja Indonesia
disebar di Sydney untuk menginap di rumah penduduk lokal pilihan. Masing-masing
tinggal bersama keluarga warga negara Australia, diperlakukan seperti anak
sendiri oleh keluarga-keluarga itu, dan sehari-harinya bersekolah di sekolah
setempat. Karena bahasa sehari-hari Australia adalah bahasa Inggris, jadi kami
dipaksa ngomong bahasa Inggris dengan keluarga angkat kami, dengan guru dan
teman-teman di sekolah (selama di sana saya bersekolah di Heathcote High School
di kawasan Wollongong), dan juga dalam berbagai kesempatan casual seperti
ketika kami naik bis, jalan-jalan ke mall, atau sekedar beli majalah di warung.
Saya sendiri beruntung
mendapatkan keluarga Lewis yang sangat ramah, dengan pasangan suami-istri
Philip dan Lewis yang senang bercanda satu sama lain bersama ketiga anak-anak
mereka, Katie (15), Melissa (12), dan Benjamin (11). Saya tinggal bersama
mereka di sebuah rumah di kawasan Engadine. Mereka tahu bahasa Inggris saya
pas-pasan, tetapi mereka tidak keberatan mengoreksi. Vocabulary saya dulu parah
banget, tapi banyak mengobrol dengan mereka sehari-hari membuat kosa kata saya
berkembang banyak.
