Saturday, January 17, 2009

Makanya, Tanya Dong!


Kita selalu kepingin hidup kita sesempurna John dan Jane di film Mr and Mrs Smith. Ketemu di tempat eksotis, jatuh hati pada pandangan pertama, nge-date sebentar, lalu melamar dan langsung menikah. Semuanya berlangsung cepat dan sempurna.

Yang ngga diketahui John, Jane adalah pembunuh bayaran. Dan yang ngga diketahui Jane, John juga sebenarnya pembunuh bayaran.

Kisah berikut ini mirip kasusnya, cuman ini ngga melibatkan senapan mesin. Seorang teman asal Jakarta, ditugaskan ke daerah Timur Tengah selama beberapa minggu. Di tempat yang katanya penuh berkah tapi menurut gw isinya berantem melulu itu, dia ketemu laki-laki yang sangat ganteng asal Surabaya, yang juga dipekerjain di tempat yang sama.

Selanjutnya kejadiannya bisa direka-reka sendiri (tentu saja tanpa melibatkan adegan tanpa busana di sprei putih yang melibatkan tequila, coz ini kan di Timur Tengah! Di sana ngga ada tequila, paling banter adanya juga kebab dan shisha..:-o). Pokoknya ujung-ujungnya teman gw naksir si ganteng ini.

Padahal mereka kan baru kenal beberapa minggu, atau mungkin cuman beberapa hari. Kuatir baru saja kepincut dengan kucing dalam karung (gw ngga sopan juga ya; masa' cowok ganteng disamain sama kucing?), teman gw berusaha nyelidikin asal-usul si Ganteng. Dan itu bukan perkara gampang, coz mereka tinggal di kota yang beda, dan tidak punya lingkungan teman yang nyambung. Gampang aja melacaknya di situs pertemanan, tapi Friendster dan Facebook bukan tempat yang tepat untuk nyari borok-boroknya si Ganteng. Foto-foto di situ udah diedit, profilenya terlalu rapi, semuanya seolah sempurna tapi palsu.

Jadi teman gw ngontak sohibnya, seorang blogger yang sedang bertapa di Pulang Pisau, Kalimantan. Kenapa dia milih blogger cantik yang tengah menyendiri di negeri antah-berantah itu, coz si blogger ini dikenal punya networking luas yang jaringannya menjangkau sampai ke asosiasi profesi si Ganteng di Surabaya. Teman gw cuman mau tau borok yang paling dicemaskannya; apakah si Ganteng bukan bujangan lagi.

Gw, (ya, blogger cantik itu tentu aja gw; emangnya siapa lagi?!) langsung gerak cepat ngontak kakak gw yang masih kolega si Ganteng di Surabaya. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa ternyata si Ganteng adalah seniornya Mas gw, dan dia cuman beda dua angkatan di atas Mas gw. Dan Mas gw mengkonfirmasikan bahwa si Ganteng itu udah punya bini. Itu boroknya.

Untung teman gw ngga jadi ama si Ganteng. Kalo ampe jadi, bisa-bisa tempat tidurnya berisik nantinya.

Thanx to networking, jadi bisa mencegah terjadinya hal-hal yang (tidak) diinginkan. Si Ganteng jelas ngga merasa perlu kasih tau teman gw bahwa dirinya udah menikah, sama seperti John Smith ngga merasa perlu kasih tau Jane bahwa dirinya kerja sebagai pembunuh bayaran. Mungkin pria-pria ini mengira para "perempuan mereka" (apa sih frase Indonesia yang tepat untuk "their girls"?) akan tau sendiri yang sebenarnya nantinya. Mereka ngga akan pernah bilang kalo kita ngga pernah nanya.

Gw harus mulai nanyain teman-teman kencan gw sekarang. Mas, apakah kau punya bini? Dan apakah kau punya pekerjaan sampingan lain, misalnya..jadi pembunuh bayaran?

Bisa-bisa gw dikira kebanyakan nonton HBO.

Thursday, January 15, 2009

Koreksi Teh Inggris


Baiklah, apa yang ngga beres di gambar ini? Ini cuman gambar dari iklan teh Inggris favorit gw. Waktu gw nyoba produknya, gw langsung suka coz rasa buahnya yang manis dan harum berkesan riang, cocoklah sama gambar iklannya. Tapi tetap aja iklan ini ngga beres, kenapa? Yap, coz mana ada orang minum teh dengan kantong tehnya masih ada di dalam cangkirnya?

Gw nyobain sekantong, lalu gw celupin di cangkir. Sesuai petunjuk di kemasannya, gw mau nyeduh tehnya di air panas selama 3-5 menit. Tapi di tengahnya baru menit pertama, tehnya keburu cokelat kemerahan. Takut kemanisan, buru-buru gw pindahin kantongnya ke cangkir lain.

Ternyata dengan satu menit pun, teh buah yang mestinya diseduh tiga menit juga masih tetap enak. Bahkan satu kantong yang menurut petunjuknya cukup untuk satu porsi aja, bisa buat dua porsi. Meskipun gw belum nyobain, apakah kalo gw nyeduh tehnya untuk satu porsi selama tiga menit, hasilnya seenak percobaan pertama.

Ada hal-hal yang ngga diajarin di buku tapi harus tau dari pengalaman. Misalnya ya itu, kalo nyuguhin teh, jangan sama kantongnya. Padahal iklannya ngajarin sebaliknya. Dan masalah porsi-porsian teh itu ngga mutlak juga.

Tapi satu hal yang gw pastiin. Biarpun konon teh ini diimpor langsung dari teh a la keluarga Buckingham di Inggris, minum teh ini sama sekali ngga bikin gw ngerasa seperti Ratu Inggris!

Wednesday, January 14, 2009

Penggemar Berat Amoksisilin


Betul, nampaknya ngga cuman Barack Obama yang punya banyak penggemar, karena ternyata amoksisilin juga banyak banget penggemarnya.

Tersebutlah seorang awak kapal datang ke klinik gw ngeluh berdarah saban kali boker. Selidik punya selidik, ternyata kelasi ini sudah lama susah boker, jadi begitu dikeluarin dia maksain terus sampai anusnya lecet berdarah. Dia datang ke klinik gw coz udah bosen minum amoks tapi bokernya ngga kunjung normal. Gw ngga ngerti kenapa dia milih amoks sebagai pertolongan pertamanya. Kalo memang dia kepingin darahnya berhenti, kenapa ngga make Betadin aja sih?

Gw jadi inget, host gw yang perokok berat tahun lalu batuk-batuk. Dia gusar coz amoks yang diminumnya ngga mempan nyetop batuknya. Padahal selama ini batuk selalu rajin menyatroninya hampir 1-3 bulan sekali seperti arisan RT, dan untuk itu dia selalu minum amoks yang bisa dibelinya sendiri di pasar obat Palangka. Saking bosennya dia minum amoks itu, dia cuman minum amoks satu-dua tablet aja, begitu batuknya membandel, jadi ngga pernah diminum sampai obatnya abis.

Contoh-contoh di atas adalah bukti kenapa masyarakat kita (dan termasuk kita juga) begitu tololnya dalam urusan minum antibiotik. Amoks sekarang banyak banget dijual bebas di pasar obat murah, jadi orang awam bisa seenaknya beli aja tanpa pake resep dokter. Padahal kalo suatu antibiotik ngga diminum ampe abis, maka kuman yang udah kolaps di dalam tubuh, batal mati dan bisa hidup lagi, bahkan lebih ganas daripada sebelumnya. Dan ngga semua penyakit bisa sembuh dengan minum antibiotik, contohnya ya kasus sembelit tadi, coz sembelit memang bukan disebabkan kuman yang patut dibunuh pake antibiotik.

Yang paling repot, yang namanya obat itu punya efek merusak ginjal. Jadi istilahnya, kalo ngga perlu-perlu amat, ya ngga usah minum obat. Itulah sebabnya kenapa dokter kadang-kadang ngga mau kasih obat ke pasien, coz memang dianggap tuh pasien bisa sembuh sendiri kalo ngga minum obat. Gw sendiri sering becanda sama para kolega gw, kalo mau jadi dokter laris, jadilah dokter ginjal. Coz, pasien yang sakit ginjal itu bejibun, lantaran di masa lalu mereka doyan beli obat sembarangan di pasar obat. Dan yang paling asyik, sakit ginjal itu sampai sekarang ngga ada obatnya. Orang-orang antre buat cuci darah bukan buat perbaikin ginjalnya; tapi hanya untuk pake mesin yang bisa gantiin ginjal mereka bersihin racun yang gerogotin tubuh mereka, kasarnya sih alternatif supaya mereka bisa meninggal pelan-pelan "dengan cara yang lebih enak". Dan biaya cuci darah itu mahal banget, bisa bikin pasiennya ampe jual rumah segala. Ngga heran para dokter ginjal itu tajir-tajir.

Membredel pasar obat supaya mereka ngga jual obat sembarangan tanpa resep hanya sampai batas wacana. Yang penting adalah kasih tau para orang awam (termasuk kita juga lho!) supaya mereka ngga beli sembarang obat. Duit bisa didapat, obat bisa dibeli, sehat itu murah. Tapi sembuh itu, harganya bisa mahal banget.

Tuesday, January 13, 2009

Melawan, atau Benjol..!


Silakan sebut gw munafik lantaran ngga pro-Palestina, tapi setelah baca cerita ini, biarkan Tuhan tentukan siapa yang benar.

THE UNMEASURABLE PRICE OF WAR
Paul Martin

Sahabat saya Ashraf dan saya telah bekerja, makan, mengobrol..bahkan bertentangan pendapat, melalui begitu banyak tugas siaran - sebagian di bawah tekanan keras sebagai militan Palestina di Gaza melawan Israel, atau satu sama lain.

Pada hari ke-6 perang saat ini saya tak dapat menghubungi Ashraf di ponsel.

Kelak, dengan berlinangan air mata, dia memberi tahu saya kenapa. Adiknya yang paling kecil, Mahmoud, 12 tahun, dan sepupunya yang berumur 14 tahun, diberi tahu keadaan di luar sedang terlalu berbahaya. Rumah keluarga Ashraf berada di jalan yang sisinya merupakan gurun. Jadi anak-anak itu bermain dengan polos di atap datar rumah keluarga itu.

Lalu pesawat terbang Israel yang tak berawak menembakkan dua roket kecil.

Ashraf lari ke atas dan membawa anak-anak itu ke rumah sakit, tapi sia-sia. Keduanya dimakamkan hari itu juga.

Itulah yang terbaru dalam seri bencana bagi ayah Mahmoud dan Ashraf yang amat terpuji, seorang dokter. Dia telah berubah menjadi pengungsi sejak perang 1948.

Tahun lalu dia kehilangan satu putra, kameramen saya yang mengagumkan dan sulit tertahankan, Ahmed, dalam tabrakan mobil. Dan kini anaknya yang terkecil, Mahmoud.

PERISTIWA MENGERIKAN
Adakah alasan untuk serangan roket itu?

Mungkin saja. Kendaraan antena Israel tak berawak mungkin telah menyiarkan kembali gambar langsung yang tak menunjukkan anak-anak tapi sekedar figur tidak jelas yang bergerak di atas atap. Seberapa jelasnya gambaran pesawat terbang akan dak atap rumah Ashraf, akan menjadi subyek pemeriksaan, seperti yang dijanjikan Israel.

Juga, rumah Ashraf dekat dengan salah satu markas besar keamanan kota itu.

Pada Juni 2007 saya telah melihat - sedang berteduh di bawah papan daging yang berayun di dalam toko daging - ketika gedung itu ditangkap oleh pasukan Hamas.

Saya telah melihat rakyat sipil Israel tewas juga, hancur berkeping-keping dalam bom bunuh diri. Sebelas orang tewas - termasuk sekeluarga berenam di sisi jalan Jerusalem - kepingan badannya berhamburan di dinding.

Ada peristiwa mengerikan pada tahun 2001 di hotel pinggir pantai di Netanya. Pisau dan garpu tergantung menempel dalam langit-langit ruang makan, tempat 30 pria dan wanita lansia berkumpul untuk pesta makan-makan, semuanya kini sudah tewas.

Dan di kota Sderot, Israel, pada dua tahun lalu, saya bertemu supir ambulans yang telah ngebut ke peristiwa serangan roket yang meratakan rumah dekat jalur Gaza.

Ditemukannya cucuny sendiri, Osher, 1 tahun, terbaring dengan mata kirinya berayun keluar dan kepalanya pecah terbuka. Dokter menyelamatkan jiwanya.

Lalu di pinggir jalan Sderot, ada bangku kecil, terlukis dengan bebungaan merah dan biru pada titik tempat Ella, 17, seorang musisi yang berbakat, sedang jalan-jalan ketika sebuah roket menghantam dan membunuhnya.

PAKSAAN UNTUK MEMBUNUH
Saya juga telah bertemu para pembunuh - orang-orang yang telah merontokkan orang-orang tak berdosa macam Ella si Israel atau Mahmoud si Palestina. Mereka punya penjelasan sendiri. Beberapa bulan lalu, saya pergi dengan brigade penembak roket Palestina yang tekun mengirim persenjataan mereka ke jantung kota Israel (Sderot itu sendiri sebenarnya).

Mohammed, 24, (pada misi penembakan roket pertamanya) bilang bahwa pria, wanita, dan anak-anak Israel suatu hari nanti akan menghabisi para pejuang. "Jadi ayo bunuh mereka duluan," katanya.

Berbulan-bulan kemudian, saya ketemu dia di jalanan Gaza. Dia telah memutuskan pensiun dari penembakan roket dan kembali ke pemrograman komputer.

Perdana menteri Hamas punya penasehat didikan Amerika, yang pernah bilang kepada saya di kamera, "Roket kami belum cukup mematikan, tapi suatu hari nanti, dengan izin Tuhan, they will be."

Saya juga ketemu dua pilot Israel dari brigade Kobra, belitan ular menghias pada sisi helikopter satu-awak mereka, masing-masing dipasangi peluncur roket dan senapan mesin.

Salah satu pilot, Uri, menurunkan kacamata pilotnya, lalu mencabut keluar kliping koran Yahudi dengan foto seorang bocah pria dan kakeknya.

Mereka tewas, ceritanya, waktu pria ini sedang menjemput anak ini dari penitipan anak. Uri sedang terbang, bertujuan membunuh mereka yang disebutnya teroris. "Saya selalu bawa foto-foto ini kalau sedang bertugas," dia menjelaskan. "..untuk mengingatkan saya bahwa saat saya memburu teroris, saya sedang melindungi orang-orang macam ini."

Tidur nyenyakkah ia di malam hari? Saya bertanya kepadanya.

Terdiam sejenak. "Tidak," katanya. "Terkadang saya terbangun dan penasaran, ketika saya melihat target kami yang dekat dengan rakyat sipil, apakah benar jika tidak saya tembak. Mungkin saya biarkan dia hidup dan besok dia akan bunuh rakyat sipil kami."

Dari kaum pejuang Israel atau kaum Palestina, dapatlah saya rasakan empati yang besar terhadap mereka yang tidak bersalah.

Monday, January 12, 2009

Toko Obat Macam Mana Ini?


Sebel ngga sih kalo malem-malem kita butuh banget sesuatu dan ngga bisa ngedapetin? Duit buat beli sih ada, tapi toko yang jualnya tutup? Mungkin begitu kira-kira perasaan pasien gw waktu suatu malam dia ngiderin kota buat nyari apotek yang buka. Dia udah cukup merasa ngga enak lantaran udah ngegedor apartemen gw malam Minggu karena infeksi saluran kencingnya yang udah sakit banget, tapi waktu dia mau nebus resep gw, ternyata apoteknya tutup. Apa gunanya kalo berobat ke dokter tapi obatnya ngga bisa didapat?

Padahal orang sakit kan harus diobatin saat itu juga, masa' mau nunggu ampe apoteknya buka? Berarti jam 2 pagi pun apoteknya harus buka dong?

Ketidakpuasan pelanggan pun berlanjut besoknya, waktu cucu ibu kost gw mencret-mencret. Buat nebus resep gw, pasien sampai harus ngegedor pintu belakang apotek demi diladenin penjaganya. Ibu kost gw terpaksa harus kecewa lantaran sirup yang gw resepin ternyata ngga dijual di apotek itu.

Maka gw gantilah resep sirup itu dengan puyer. Gw tulisin aja, obatnya dosis 250 mg sebanyak enam bungkus. Maka ibu kost gw balik lagi ke apotek.

Eh kata apoteknya, mereka ngga punya tuh puyer 250 mg. Mereka cuman punya puyer yang itu.. 480 mg.

Duh, ingin sekali gw tatar tuh penjaga apotek. Ya 480 mg dibagi 2 aja, kan dapet 240 mg. Tambahin sisa 10 mg-nya, ukur pake timbangan. Sampeyan nih katanya apotek, masa' ngukur obat puyer aja ngga bisa?! Tapi gw ogah kalo mau bikin ribut sama penjaga apotek pagi itu, soalnya:
1. Besar kemungkinan dia cuman pelayan yang ngga cukup sebanding buat diajak berantem
2. Masih pagi, gw belum mandi, belum makan, jadi kayaknya ngga asik aja kalo berantem tapi belum mandi (padahal apa hubungannya ya?)

Dokter ngga bisa berdiri sendiri tanpa apotek, coz apotek yang jual obatnya. Tapi apotek juga mesti tau diri bahwa masyarakat butuh mereka, jadi mereka pantas siaga 24 jam dengan harga obat yang pantas. Dan apotek tuh harus punya standarisasi supaya mereka bisa kasih obat sesuai peraturan yang ada, coz namanya juga mereka tuh apotek, bukan warung obat kelas teri.

Sunday, January 11, 2009

Rontgennya Rusak, Boss..!


Jangan pernah lihat kalender. Itu nasehat bijak teman gw sebelum gw berangkat ke Cali. Jangan pernah berharap waktu akan berjalan cepat, coz kecepatan waktu tetap segitu-segitu aja. Jangan pernah ngitung mundur hari sampai tiba waktunya kontrak kerja ini berakhir, coz jika kamu melakukannya, bisa-bisa kamu bunuh diri lantaran PTT ini rasanya ngga selesai-selesai.

Pasien yang disinyalir tangannya remuk yang gw ceritain kemaren itu, ternyata kisahnya ngga berakhir ampe di situ. Staf kantor gw nganterin sang pasien ke rumah sakit dengan pikep dinas, dan nyeritain kisah selanjutnya kepada gw.

Staf kami ngebut buru-buru ke rumah sakit. Tiba di sana, ternyata mereka nunggu lama sekali ampe dokter jaganya datang. Katanya masih lebih cepat nungguin kedatangan gw ke kantor, padahal gw kan jaga di rumah, bukan di kantor, dan jarak rumah ke kantor lumayan 3 km. Lha ini ada dokter jaga di rumah sakit, tapi nyamperin ke UGD-nya aja lama beut.

Dokternya akhirnya tiba dan baca surat rujukan gw. Dia meraba tangan si pasien yang mungkin remuk itu, lalu bilang ke kaptennya si pasien, "Kayaknya tangannya ngga pa-pa." Lalu ia meresepkan pil antimual dan salep antinyeri.

Karena gw udah pesenin supaya tangan pasiennya di-Rontgen, sang dokter nyaranin pasien itu supaya foto Rontgen dilakukan di rumah sakit di kabupaten tetangga. Rumah sakit yang kami rujukin ini, lagi ngga bisa nge-Rontgen, coz Rontgennya rusak.

Staf kantor gw patah hati. Bayangin, udah capek-capek nganterin pasien, tapi si pasien ngga bisa ditanganin di rumah sakit lantaran Rontgen rusak. Apa gunanya rumah sakit kalo cuman buat diagnosa fraktur aja alatnya ngga bisa dipake?

Sang pasien juga patah hati coz ngga bisa segera ditolong. Untuk dirujuk ke rumah sakit kabupaten tetangga, tak ada anggaran darurat untuk transportasi. Dia hanya seorang anak buah kapal, kecelakaan itu terjadi saat kapalnya lagi singgah di pelabuhan kota kami. Kalo ada apa-apa, siapa yang bisa nolong selain klinik yang cuman punya fasilitas seadanya?

Sekarang gw sadar bahwa gw ngga bisa berbuat apapun selain melakukan P3K dan merujuk ke ahli bedah. Gw tau ahli bedah juga ngga akan bisa nolong kalo ngga ada foto Rontgen. Bantuan gw terhadap sang kelasi terlalu kecil, tapi setidaknya gw telah memberi tahu pasien itu bahwa dia butuh Rontgen untuk mastiin tangannya mungkin remuk dan bisa cacat permanen. Kalo gw ngga bilang gitu, mungkin ampe sekarang dia masih mengaduh kesakitan di kapalnya lantaran tangannya ngga bisa dipake megang garpu.

Dan yang mengusik gw, peristiwa itu terjadi saat gw lagi tidur siang. Gw bisa aja nolak dengan dalih kecelakaan itu di luar kompetensi gw sebagai dokter umum, tapi yang gw lakukan malah pergi menanggulangi si pasien seadanya. Dan tindakan gw itu, memang akhirnya menolongnya.

Jadi gimana kalo pasien itu datang bukan pada suatu sore jam 3, tapi datang larut malam? Dan pada hari libur pula saat gw lagi ngga stand-by? Akankah pasien itu buru-buru langsung dibawa ke rumah sakit hanya untuk mendengar bahwa Rontgen-nya rusak?

Dengan berat hati, gw terpaksa menyadari bahwa kehadiran gw sebagai dokter umum satu-satunya yang berwenang di pelabuhan itu, ternyata masih sedikit berguna. Padahal, gw sedang berharap ada mukjizat yang bisa mempercepat berakhirnya masa tugas gw, supaya gw bisa buru-buru angkat kaki dari kota sepi ini.

Jika gw cukup mengerti betapa sebenarnya kota kecil ini butuh gw, akankah gw berhenti berharap supaya waktu segera berlalu? Jika gw sadar bahwa sebenarnya kota ini masih kekurangan dokter, maukah gw tetap di sini pada hari libur? Jika empati itu telah ada, cintakah yang samar-samar gw rasakan pada kota ini?

Saturday, January 10, 2009

Fobia Kamera?


Kita sudah berusaha keras, jangan sampai keluar rumah dengan tampang kusut seperti baru disambar genderuwo. Tapi kamera tetap aja setia mengintai dan siap menyerang setiap saat bak paparazzi tak diundang.

Suatu hari yang cukup terik, gw lagi enak-enak tidur siang, dan tiba-tiba dipanggil kantor. Ada pasien kecelakaan, jadi sebaiknya gw turun tangan. Maka gw segera nyiapin diri gw segesit mungkin; lempar selimut, ganti daster dengan baju kerja, nyisir, pake bedak, matiin lampu, tutup jendela. Ngga gampang melakukan itu semua dalam sekejap, coz gw kan cewek dan ngga bisa ngolesin lipstik sambil buru-buru, sementara gw ngga boleh kalah cepat sama supir kantor yang saat ini lagi ngebut buat ngejemput gw.. Oops, itu dia udah tiba di depan apartemen gw. Gw segera meraup tas dan ngunci pintu.

Kita tiba di kantor dan gw segera ngurusin pasien itu. Nampaknya tangannya retak, jadi gw kasih obat antinyeri, lalu rujuk dia ke rumah sakit terdekat. Masalah selesai.

Saat gw lagi duduk santai nulis laporan, staf kantor datang dan minta gw ke ruangan lain untuk difoto. Kantor memerlukan foto gw untuk pendataan pegawai. Dan kamera digital udah siap.

WHAT?! No way, gw ngga mau dipotret! Tidak hari ini, saat gw buru-buru ke kantor untuk kasus darurat di mana gw ngga sempat dandan lengkap!

Staf meyakinkan gw bahwa gw masih cantik sore itu, tapi gw menepis bujukannya yang buat gw hanya terdengar bak omong kosong. Tak ada orang yang boleh motret gw saat itu, tidak ketika gw sedang ngga pe-de dengan rona muka gw nan pucat. Jika gw tau hari itu kantor mau motret gw, gw akan dandan lengkap. Tapi mereka bangunin gw mendadak dari tidur siang demi pasien yang tangannya remuk, jadi gimana gw mau dandan lengkap? Bagaimana kalo gw nekat difoto dengan tampang seadanya dan foto itu dikirim ke Direktorat Jenderal Pusat? Apa kata Bu Menteri kalo pegawainya nampak pucat di foto?

"Aduh, jadi benar bahwa pegawai negara kita memang tidak sejahtera. Nih fotonya aja nampak mirip orang susah. Apakah tidak sebaiknya kita naikkan gaji mereka supaya mereka nampak sedikit lebih ceria?"

Gw janji sama staf kantor bahwa besok gw akan bawa foto resmi gw, jadi mereka ngga perlu motret gw sore ini. Staf gw sepakat.

Alangkah susahnya jadi perempuan dan jadi dokter sekaligus. Kami harus selalu gesit menghadapi masalah darurat kapanpun, dan secara bersamaan juga harus selalu tampak menawan untuk siap difoto setiap saat. Dan itu tak akan pernah jadi pekerjaan yang mudah.

Wednesday, January 7, 2009

Layak Disantet


Gw ngga percaya ilmu hitam. Itu cuman konsumsi orang-orang yang ngga pernah disekolahin. Dan posisinya sama nistanya dengan penyembah berhala. Tapi sekarang gw pengen tau di mana alamat biro penyedia jasa santet. Spesifikasi: Santetnya ngga boleh gaptek.

Ini bermula gara-gara kemaren pagi gw dibangunin e-mail notifikasi bahwa Georgetterox tersayang gw di Friendster baru aja dapet komentar. Begitu gw liat cuplikan komentarnya, ternyata iklan kasino gratis! Males liatnya, gw hapus tuh e-mail dan janji ntar kapan-kapan tuh komentar mau gw tandain spam aja langsung dari dashboard.

Eh, ngga taunya e-mail-e-mail notifikasi lainnya berdatangan, dan semuanya soal komentar dari pengirim yang sama tentang kasino gratisan. Edan, emangnya blog gw tuh sarana iklan, apa? Dan sang penjahat kasino masih aja ngirim iklan yang sama ke blog gw, semenjak gw nyalain e-mail gw jam 5 dan iklan itu baru stop jam 8, mungkin si moron itu kecapekan sendiri ngetik copy-paste-submit terus-terusan. Membuat gw yakin bahwa ini bukanlah perbuatan otomatis dari suatu komando, tapi ulah oknum yang masih nyebarin spam secara manual.

Pertanyaannya, siapa yang melakukan? Orang iseng? Kalo cuman iseng, kenapa dia melakukannya hanya pada posting Make Friends with Ghost, posting yang udah kadaluwarsa tiga minggu? Artinya, tindakan spamming itu bukan buat menarik perhatian pembaca Georgetterox.

Maka yang menarik, kalo emang ini tindakan acak, kenapa posting yang dipilih itu Make Friends with Ghost? Dan dengan jumlah spam yang dikirim banyak banget, hitungan terakhir gw ampe 100, maka orang ini terobsesi berat kepingin ngerusakin posting gw yang satu ini. Entah apa alasannya.

Dan tindakannya itu berlangsung selama jam pagi. Gw sih ngerti aja kalo yang melakukan ini adalah pengangguran amatiran yang ngga punya kewajiban sarapan dan berangkat ke kantor. Tapi bahwa spam itu tau-tau berhenti jam 8 pagi? Kenapa dia berhenti ngirim jam segitu?
Entah gimana gw kepikiran bahwa jam segitu tuh kalo di Boston udah waktunya tidur. Kenapa Boston? Coz orang yang gw olok-olokin di blog Make Friends with Ghost itu, tinggal di Boston. Dan dengan sifatnya yang rada ngidap ansietas-depresif, dia emang cocok buat terobsesi untuk ngirim ratusan spam ke blog gw.

Apa yang mesti gw kerjain? Nyuratin dia buat nuduh dia kirim spam dan nyuruh dia stop? Males banget gw berkomunikasi dengan orang gila. Tengadahin tangan dan berharap pertolongan jatuh dari langit? Tidak, itu bahkan bukan ide yang cerdas. Atau, buka yellow pages Banjarmasin dan cari alamat dukun yang bisa kirim santet ke alamat e-mail di Boston?

Mendadak gw terdengar seperti orang yang ngga intelek.

Blog bahkan bisa kena spam. Berbahagialah, coz itu pertanda bahwa blog kita udah beredar luas. Moderasi komentar akan butuh manajemen sendiri, dan saat itulah blog tidak lagi hanya sekedar jadi hobi.

Gw doain, orang yang kirim spam ke blog gw itu, suatu saat nanti akan meregang nyawa karena sifilis.:@

Tuesday, January 6, 2009

Jangan Bunuh Diri Dulu!


Ada banyak alasan kenapa orang ingin bunuh diri. Usaha bangkrut, suami selingkuh, atau malu belum bayar sekolah. Tapi motivasi tetangga gw untuk bunuh diri betul-betul aneh.

Gw lagi enak-enak tidur, pas bapak kost bangunin gw. Katanya tetangga kita pingsan di jalan, setelah muntah-muntah. Gw langsung ambil stetoskop dan lari keluar. Singkat cerita, tetangga gw, seorang perempuan paruh baya, dalam keadaan setengah nggak sadar dibopong ke rumah sakit. Saksi mata menyebutkan bahwa muntahan si ibu itu bau obat nyamuk.

Baru besoknya gw diberi tau bahwa si ibu ternyata emang minum obat nyamuk. Gw bingung kenapa dari sekian banyak alternatif minuman di Pulang Pisau, mulai dari air galon ampe air sungai, tetangga gw malah milih obat nyamuk untuk diminum. Seberat itukah krisis pangan di kota kita? Padahal bapak kost gw jualan air minum isi ulang pake teknologi ultra violet (promosi nih yee..)

Well, alasan kenapa si ibu minum obat nyamuk adalah, karena anak laki-lakinya baru saja pulang ke rumah bawa penyanyi dangdut.

Jangan ketawa! Gw juga ngga paham korelasinya. Maksud gw, kenapa kayak gitu aja harus minum obat nyamuk? Kebayang kalo yang dibawa pulang anaknya bukan penyanyi dangdut, tapi penyanyi seriosa. Akankah yang diminum bukan obat nyamuk, tapi malah minum minyak tanah? Gimana kalo anaknya pulang bawa penyanyi rap? Mungkin ibunya akan minum lisol.

Anyway, gw cukup berduka coz ulah si ibu telah membuat panik para tetangga sampai-sampai harus ngegedor kamar gw padahal gw lagi tidur. Ini kan Natal dan Tahun Baru, seharusnya jadi hari bahagia yang mesti dirayain dengan salam-salaman, bukan dengan minum obat nyamuk..!

Friday, January 2, 2009

Kejar Setoran


Tahun lalu Facebook booming, sementara popularitas Friendster mulai meredup. Dulu gw bisa kewalahan balas e-mail di Friendster saking bejibunnya, tapi sekarang belum tentu gw bisa dapet e-mail satu aja sehari di Friendster. Justru tiap hari ada aja yang ngundang gw masuk Facebook. Meskipun kalo dipikir-pikir, sebenarnya yang ngundang gw ke Facebook sih, orangnya masih yang itu-itu aja di account Friendster gw.

Gw ngerti sih, sekarang (hampir) semua orang merasa harus punya account Facebook. Pejabat-pejabat yang ngebet mau jadi presiden Indonesia juga berebutan bikin Facebook. Kayaknya niru-niru manuvernya Barrack Obama, yang konon punya 30.000 teman di account Facebook-nya. Teman gw yang seorang arsitek, juga jadi "teman"-nya di Facebook itu, biarpun gw ragu apakah Obama kenal sama teman gw itu, dan tau apakah teman gw itu punya rambut setengah gimbal dan demen makan batagor.

Padahal kalo dipikir-pikir Facebook juga ngga ada bedanya sama Friendster. Sama-sama buat nyari teman sekolah jaman dulu. Yang lucu, banyak yang ngundang gw, padahal gw ngga pernah ngerasa pernah ketemu sama mereka. Sialnya, waktu gw masih pake seragam sekolah dulu, gw bukan anak yang populer di sekolahan. Gw ngga kenal semua orang, tapi cuman tau segelintiran. Pendek kata, mereka mungkin kenal gw, tapi gw aja yang ngga kenal mereka.

Jadi suatu hari ada laki-laki asing ini ngundang gw di Facebook, dan di profilenya gw baru ngeh bahwa dia pernah satu sekolah sama gw, tanpa ambil pusing gw terima undangannya. Tapi waktu gw kirimin dia e-mail buat iseng nanyain sekarang dia kerja di mana, dia jawab, "Maaf, ini Vicky yang mana ya? Sorry saya rada pelupa, udah sembilan tahun, hehehe.." Nah, dia ngucapin password yang salah. Dia bukan lupa sama gw, tapi dia emang ngga kenal sama gw. Dan gw juga ngga ingat dia. Tanpa tedeng aling-aling, gw tendang dia dari daftar friend.

Ini jadi mirip fenomena Friendster dulu. Seorang dokter pernah ngundang gw di Friendster. Gw terlalu sibuk buat approve dia. Dia ngotot minta di-approve segera, dan akhirnya dia untung juga gw approve. Sekitar setahun kemudian, gw ngundang dia masuk Yahoo Messenger. Lalu dia balas undangan gw dengan pertanyaan ini, "Maaf, ini Vicky yang mana ya?" Wah, salah password lagi nih. Jelas dia ngga ingat gw, padahal ID gw yang tertera di situ jelas-jelas nunjukin nama lengkap gw. Gw hapus aja dia dari Messenger List, dan sekalian dari Friendster juga. Anehnya, kira-kira beberapa bulan kemudian, dia ngundang gw buat masuk Hi5. Jadi, kesimpulannya, orang-orang ini kenal gw apa engga, sih?

Gw bingung kenapa orang berlomba-lomba ngundang orang di Facebook, Friendster, Hi5, Plurk, dan entah situs mana lagi. Apakah kalo makin banyak temennya berarti dia makin eksis? Sekarang apa artinya punya daftar friend setumpuk kalo mereka kenal sama kamu aja engga? Kenal kamu itu, berarti tau kamu ini siapa, tinggal di jalan apa, RT berapa, udah punya selir berapa. Makanya gw ngga percaya bahwa temen arsitek gw "temenan" sama Obama.

Bagaimana dengan kamu? Berapa jumlah di daftar friend kamu? Dan yang lebih penting lagi, apakah mereka ini betul-betul temen kamu? Atau cuman nambah-nambah deret foto doang?