Monday, January 11, 2010

Mencopot Status Sosial

Semalam, seorang ibu curhat di tivi bahwa anaknya yang udah kerja di bank dengan penghasilan cukup akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan berusaha di bidang lain. Sang ibu keberatan kenapa anaknya harus meninggalkan pekerjaan itu. Menurut dia, dia kan berasal dari “kampung”, jadi dia berpendapat kalau seseorang kerja di bank, orang itu akan dapet status sosial yang tinggi. (Sampai di sini, gw agak bingung mengkorelasikan antara “berasal dari kampung” dengan “berpikir bahwa kerja di bank = status sosial tinggi”).

Apakah kerja di bank itu = status sosial tinggi? Kalau seseorang kerja jadi tukang sapu di bank, atau jadi satpam di bank, itu status sosialnya tinggi, nggak? Sebenarnya status sosial tinggi itu apa sih?

Hasrat orang tua untuk punya anak yang memeluk status sosial tinggi itu sebenarnya udah dibentuk semenjak kecil. Coba bayangin, anak dimotivasi supaya jadi ranking 1 di SD -> supaya keterima di SMP favorit -> gampang masuk SMA favorit-> gampang masuk kampus bereputasi bagus -> mudah dapet pekerjaan -> dapet kedudukan -> status sosial tinggi. Jalur ini familiar banget buat gw, apakah ini familiar juga buat Anda?

Pengalaman ngobatin pasien-pasien berjabatan tinggi bikin gw percaya bahwa kedudukan nggak selalu bisa menolong kita dari bencana kesakitan. Gw pernah didatengin seorang pensiunan kolonel di sebuah kursi roda yang mengeluh sakit punggung. Dia ngidap hernia nucleous pulposus, yang menyebabkan dia nggak bisa berdiri buat gendong cucunya yang masih balita. Kata boss gw yang dokter bedah saraf, si pasien kudu dioperasi supaya punggungnya normal lagi. Riwayat medisnya bilang dia sempat cari pertolongan ke rumah sakit bagus di kota, sebelum akhirnya dia memilih dioperasi di rumah sakit sederhana lantaran asuransi kesehatan pegawainya berlaku di situ. Gw paham bagaimana preferensi seseorang dalam memilih tempat pelayanan kesehatan bisa berubah kalau urusannya sudah menyangkut uang.

Yang gw pikirkan, orang kalau udah jadi kolonel mestinya ya udah berjasa besar buat negara, mbok ya menikmati hasil kerjanya dengan pelayanan kesehatan di tempat yang bagus seperti hotel, bukan akhirnya bergantung sama asuransi. (Gw nggak bilang bergantung sama asuransi kesehatan itu jelek lho ya. Tapi kalau lagi ngomongin kualitas pelayanan hospitality di negeri kita, jangan berharap sama asuransi kesehatan.) Status sosial yang tinggi, menurut gw ya dirawat dengan pelayanan kesehatan yang kualitasnya paling bagus secara total, mulai dari konsultasi pertama sampai pemulihan operasi terakhir. Tapi nampaknya Pak Kolonel belum termasuk golongan yang mampu untuk itu. Padahal status sosialnya sudah tinggi, kan? Dan apa sih yang diinginkan laki-laki pada usia segitu? Meluk cucu kan?

Nyambung pada kasus anaknya si ibu, gw terhenyak jika orang berpikir bahwa berusaha sendiri tidak akan bikin status sosial tinggi. Aneh. Justru pasien-pasien gw yang rata-rata menyatakan sanggup bayar pelayanan yang berkualitas tinggi, malah berasal dari golongan pengusaha, bukan dari golongan pegawai. Mereka rata-rata boss, bukan karyawan.

Tulisan ini bukan buat mengkontroversikan penyesalan si ibu karena anaknya lebih seneng jadi pengusaha ketimbang jadi pegawai bank. Tapi gw menggarisbawahi, “Mengapa si ibu harus menyesal?” Anak kepingin jadi boss, mbok ya mesti didukung, bukan diharapkan jadi pegawai. Pada dasarnya, kalau seseorang nggak enjoy kerja di situ, (entah itu bank, atau angkatan bersenjata, atau kantor entah apalah), biarpun dia sampai di tahap menjadi direktur pun (yang notabenenya pasti status sosialnya tinggi), maka sampai kapanpun dia nggak akan pernah bahagia. Pertanyaannya sekarang, kita mau ngejar bahagia, atau cuman mau ngejar status sosial yang tinggi?

Dan orang-orang yang pinter akan berkata, kenapa kita nggak dapet dua-duanya aja, ya bahagia, ya status sosial tinggi? Jawaban gw, kenapa tidak? Dan untuk menjadi bahagia dengan status sosial tinggi itu, tidak perlu setengah mati sekolah hanya supaya diterima jadi pegawai kan?

Jangan pernah mengharapkan anak berhasil di bidang yang Anda inginkan. Sebaliknya, dukunglah dia berhasil di bidang yang dia inginkan. Boss yang paling pantas buat diri kita adalah diri kita sendiri, jangan mengharapkan orang lain untuk jadi boss buat diri kita.

Sunday, January 10, 2010

Bikin Nggak Cantik Aja


Gw nggak suka laki-laki ngebul. Tapi gw sebel lihat perempuan ngebul. Dan lebih empet lagi lihat perempuan yang ngebulnya pakai kerudung.

Sebut aja gw seksis, atau bahkan rasis. Tapi menurut gw, perempuan ngebul bikin gw jijay. Dan ngebul itu, bikin perempuan nggak cantik aja.

Soalnya, emansipasi jender nggak termasuk menuntut perempuan diijinkan buat ngebul, pada tempat yang tidak tepat.

Foto diambil minggu lalu, waktu gw lagi makan siang di sebuah pusat perbelanjaan di kota.

Saturday, January 9, 2010

Laki-laki Tak Diundang

Coba perhatikan gambar ini baik-baik. Ada yang aneh? Ah, coba perhatikan lagi. Dapet yang anehnya?

Gw ngambil gambar ini di tempat wudhu sebuah mesjid di Alun-alun Kota Bandung minggu lalu. Yang namanya tempat wudhu, pasti dipisah antara cowok dan cewek. Gw masuk ke tempat wudhu cewek dong, soalnya gw nggak punya kapasitas buat masuk ke tempat wudhu cowok, hehehe.. Gw lihat dua orang cewek lagi pasang jilbab di situ. Tidak aneh itu. Yang bikin gw bengong, ada bapak-bapak lagi wudhu di sebelahnya.

Lalu pas gw lagi ambil foto ini, gw denger ada suara orang batuk. Gw terhenyak. Batuk kok bukan suara sopran atau suara alto, tapi kok yang gw denger malah batuk suara bariton? Semula gw sangka gw berhalusinasi, tapi waktu dari toilet itu keluar laki-laki berumur sekitar 35-an, mata gw nyaris keluar saking melototnya.

INI KAN TEMPAT CEWEK?!

Ada yang jaga di situ, dua orang cewek pakai jilbab lagi ngobrol-ngobrol. Si laki-laki yang baru kencing nyelipin duit ke boks penjaga toilet, lalu dia keluar dari tempat itu. Gw bengong. Neng-neng berjilbab yang njagain tempat duit, terus aja ngerumpi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Empat hari lalu, gw ke mesjid itu lagi, barengan sama partner gw. Gw turun ke tempat wudhu cewek, sementara partner gw turun ke tempat wudhu cowok. Dan, lagi dan lagi, gw lihat ada cowok-cowok lagi wudhu di tempat wudhu cewek.

Pas ketemu lagi di teras mesjid, gw nanya sama partner gw, “Kamar mandinya laki-laki ada airnya, nggak?”

Kata partner gw, “Ada. Tapi satu baris (krannya) mati.”

Gw mengernyit. Ha? Apa itu sebabnya pria-pria itu pada milih wudhu di tempatnya cewek?

Gimana yah? Toilet cewek itu mestinya kan disucihamakan dari pria-pria apapun. (Memangnya pria itu hama ya?) Nggak boleh nyampur lah. Kan di toilet itu cewek bebas ngapa-ngapain, mulai dari copot jilbab sampai sisiran. Gw sih nggak pakai kerudung, tapi kaum gw yang pakai kerudung kan berhak nyopot jilbabnya di toilet cewek yang bebas dari laki-laki? Dan, mestinya kan cowok manapun yang berani masuk ke toilet cewek harus diusir seperti orang-orangan ngusir burung-burung sawah? Apalagi kalau yang ngejaga toiletnya juga sama-sama pakai jilbab?

Dan yang bikin gw sewot, kalau laki-laki boleh bebas keluar-masuk toilet cewek, kenapa gw nggak boleh bebas keluar-masuk toilet cowok?

Friday, January 8, 2010

Naik-naik Nggak Mbois

Menurut gw, salah satu pemborosan yang dilakukan pemerintah kota ini adalah bikin jembatan penyeberangan. Kenapa gerangan? Ya soalnya mau Bandung bikin jembatan penyeberangan sampai seratus biji pun, gw ragu akan ada orang yang mau naik ke jembatan itu buat menyeberang jalan. Logikanya sederhana, naik jembatan penyeberangan berarti makan tiga kali jalan lebih panjang: naikin tangganya + nyeberang jembatannya + nurunin tangganya. Bandingin dengan kalau nyeberang jalan langsung tanpa naik-turun tangga dulu, lebih hemat waktu kan?



Tiga hari lalu, gw pergi sama seorang teman dari Surabaya. Lalu suatu saat, tibalah waktunya kita harus nyeberang sebuah jalan raya. Kendaraannya ramai sekali, dan padat, coz itu jam makan siang, dan situasi macet. Jalannya satu arah, dan gw pun mengawasi mobil-mobil dengan gelagat mau nyeberang.

Lalu teman itu nanya ke gw dengan heran, “Kita nggak naik jembatan?”

Oh ya, memang tepat di atas kepala kami itu ada jembatan penyeberangan. Tapi gw sebagai host nggak ngajakin dia naik jembatan itu. Gw bahkan lupa di situ ada jembatan penyeberangan. *dasar kacamata kuda!*

Gw menggeleng dengan cuek. “Nope.”

Teman gw itu malah menatap gw sambil mengerutkan kening. Kok nggak naik jembatan penyeberangan sih?

Gw hampir baru mau bilang ke dia, “Orang Bandung nggak suka naik jembatan penyeberangan.” Tapi akhirnya gw menjelaskan kepadanya dengan becanda, “Kita nggak naik jembatan penyeberangan, karena kita norak.” Lalu gw ngeliatin mobil-mobil di jalan lagi sambil siap-siap mau nyeberang.

Tapi sang teman tetep ngotot. “Vicky?!” katanya dengan pandangan mata kita-norak-kalau-nyeberang-nggak-pakai-jembatan-padahal-sudah-jelas-jelas-di-atas-ada-jembatan.

Gw menatap dia dan mbatin, kenapa dia tidak tahu bahwa menjadi orang norak itu lebih enak?? “Oke, oke! Kita naik jembatan!” sergah gw. Lalu buru-buru gw naik jembatan duluan, sambil mendesah dalam hati. Kenapa gw dapet turis yang tertib? Apakah semua orang Surabaya memang hobi naik jembatan penyeberangan?

Alasan-alasan norak kenapa gw nggak suka naik jembatan penyeberangan:

1. Lebih cepat nyeberang jalan langsung. Kita nggak akan ketabrak, coz mobilnya juga jalannya pelan kayak siput. Mobilnya jalannya pelan coz jalannya lagi macet. Lihat tuh mobilnya pada nyalain lampu merah semua. (Bukannya jalannya macet karena orangnya nyeberang seenaknya ya? Hihihi..)

2. Jalan-jalan di Bandung itu sempit-sempit. Panjang jembatan diitung termasuk tangga jauh lebih panjang ketimbang lebar jalan raya itu.

3. Orang-orang lain nggak nyeberang pakai jembatan penyeberangan. Kalau gw naik sendirian ke atas, rasanya aneh aja gitu, nggak mbois buanget.

4. Gw pikir jembatan penyeberangan itu sarangnya gelandangan buat tidur.

5. Mending kalau cuman gelandangan. Gw takut begitu kita naik jembatan, ternyata di atas sudah ada preman nungguin buat siap-siap malak.

Akhirnya kita turun dari jembatan itu dan tiba di seberang jalan. Lalu gw bilang ke teman itu dengan malu-malu, “Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku naik jembatan penyeberangan..”

Gw yang salah. Mestinya kalau mau nyeberang jalan kemaren, milih sisi jalan yang agak jauh, jadi dia nggak akan terpikir punya inisiatif buat ngajakin gw naik jembatan penyeberangan yang merepotkan itu. Hihihi.. Dooh, mudah-mudahan nggak ada yang melihat gw di jalan hari itu. Bisa-bisa timbul gossip besok jadi headline, “Vicky naik jembatan penyeberangan! Kok tumbeenn..” Gaswat nih..

Oh ya, foto di atas itu bukan jembatan yang kita seberangin kemaren. Fotonya itu cuman nyomot dari Pikiran Rakyat. Kalau gw nemu jembatan ada sampahnya kayak gitu, gw pasti langsung minta turun.

Wednesday, January 6, 2010

Misadopsi Pizza a la Kita

Nggak ngerti konsepnya rada nyeleneh atau apa, tapi ternyata pizza yang selama ini jadi kegemaran orang Indonesia melenceng jauh dari konsep aseli negeri asalnya. Pizza dipopulerin pertama kali bukan di Italia seperti yang selama ini dikira banyak orang. Tepatnya, Italia itu negerinya Menara Pisa, bukan pizza. Pizza sebenarnya diciptakan di Amrik, oleh warga keturunan Italia. Dibikinnya roti, lalu diisi macem-macem topping.

Kemaren, pasca dugem di sebuah restoran di sebuah mal di Sukajadi, Bandung (Iya, mal ini lagi. Setiap kali gw ke mal ini, gw selalu dapet ide buat bikin tulisan. Gw berutang banyak sama mal ini, dan gw berharap mal ini dilindungi Tuhan untuk kurun waktu yang lama. Mengingat pendiriannya nyaris nggak jadi gara-gara sempat diprotes banyak warga lokal lantaran menggusur pemukiman setempat yang sangat padat. Hey, ini mau cerita pizza atau mau cerita mal?), gw mutusin untuk nyatet macam-macam misadopsi pizza di negeri kita:

1. Pizza mestinya dibangun di roti yang tipis, bukan yang tebel. Tapi orang Indonesia suka manyun kalau disodorin yang tipis-tipis, mereka maunya yang tebel-tebel. Prinsipnya, makin tebel rotinya, makin pol kenyangnya. Mungkin karena kalau sudah makan pizza ya nggak makan nasi. Atau masih ada yang pesen pizza sekaligus nasi?

2. Nggak ada itu pizza yang pinggirannya diisi macem-macem, sehingga kalau pinggirannya digigit keluarlah sosis nyembul atau keju yang lumer. Tapi restoran waralaba pizza yang iklannya suka nongol di tivi-tivi itu dengan gagah berani mempromosikan pizza dengan aneka macam pinggiran yang ciamik. Favorit gw jelas keju. Malah lebih sip lagi kalau dicocol ke mayonnaise. Ini makan pizza atau ngerujak?

3. Pizza yang bener ya dimakan pakai tangan, bukan pakai pisau dan garpu. Ini bukan steak! Makanya makan pizza sama sekali nggak cocok buat pasangan-pasangan yang pengen ja-im pada kencan pertama. Ini lebih cocok buat pasangan-pasangan yang senang makan dengan urakan.

4. Merujuk pada alasan nomer tiga, pizza sebaiknya dihidangkan di atas piring, bukan dihidangkan di atas penggorengan yang panas. Pizza disobek pakai tangan, bukan dipindahkan ke piring pakai sutil. Kalau maksa nyobek pizza dari penggorengan di atas meja, itu namanya ngajak luka bakar bareng-bareng, hahaha..

5. Dan akhirnya, penyakit kita semua sama aja: pizza nggak dimakan pakai saos sambel!

Maka, sewaktu sang pelayan datang nganterin pizza-nya ke meja kami kemaren, roti tipis, tanpa pisau, tanpa garpu, tanpa saos sambel, dan hanya sekotak tisu, gw menggumam lirih ke teman gw, “Pizzanya sungguhan.”

Dan gw lupa kapan gw pernah sebahagia itu sebelumnya.

Fotonya dijepret oleh teman gw. Gw terlalu lapar melihatnya sampai tidak bisa berbuat apa-apa.

Tuesday, January 5, 2010

Apa Kabar Video Call?

Teknologi 3G merasuki HP-HP yang dijual di Indonesia mulai sekitar tahun ’07. Inget waktu itu iklan pertama tentang 3G di tivi-tivi, membombardir promosi bahwa kalau kita punya HP yang ada 3G-nya, kita bisa nonton tivi via HP, dan kita bisa telfon-telfonan nggak cuman dengar suaranya aja, tetapi juga bisa lihat mukanya lagi ngomong sama kita. Setidaknya begitulah pengertian awam gw tentang HP, waktu itu.

Pada tahun ’08, gw akhirnya beli HP anyar, dan nggak cuman beli HP yang mengandung 3G, tapi pakai yang 3,5G sekalian. Sewaktu lagi milih-milih HP di counter, seorang pramuniaga yang cukup baik hati ngajarin gw bahwa fitur yang gw maksud di atas itu namanya bukan 3G, tetapi namanya “video call”. Ternyata, nggak cuman HP yang mengandung teknologi 3G bisa dipakai buat video call. Penanda HP itu bisa dipakai video call, adalah mesti ada kamera di bagian dalam maupun bagian luar HP-nya.

Waktu itu gw menyambut baik fitur video call itu, soalnya gw tipe orang yang sering harus bikin diskusi jarak jauh dan diskusi itu akan jauh lebih efisien kalau melibatkan video. Sebagai contoh, misalnya gw disuruh nyokap ke toko buat beli kue, tetapi nyokap gw cuman mau enak aja nunggu di rumah. Daripada nyokap gw pusing-pusing kasih spesifikasi kue yang gw nggak ngerti, mendingan gw pergi aja ke tokonya, lalu nanti di sana, gw tinggal video call-in nyokap gw sembari nyuting kue-kue yang dipajang di situ, dan tinggal nanya, “Mom mau kue yang stroberinya banyak ini atau mau yang tabur cokelat kayak gini?”
Paling-paling nyokap gw tinggal jawab, “Coba geser lagi ke sebelahnya, kok kayaknya kue yang itu bo’ong deh.” Definisi kue bo’ong di keluarga kami, adalah kue yang cuman hambur ornamen doang tapi adonan kuenya sendiri cuman sedikit.

Ternyata, setelah gw akhirnya dapet HP yang bisa video call itu, fitur itu justru hampir nggak pernah dipakai sampai sekarang. Alasannya, soalnya buat video call itu kan mode 3G-nya mesti nyala, padahal gw nggak suka banget nyalain mode 3G kalau nggak perlu-perlu amat, coz sinyal 3G itu ngabis-ngabisin batre.

Ditambah lagi, jangankan di-video call, di-voice call biasa aja gw suka nggak denger. Lha kadang-kadang gw tuh suka ada di ruangan mana, HP-nya gw taruh juga di mana.
*Kan sudah dibilang, Vic, ganti aja ringtone-mu yang Avril Lavigne itu dengan lagu metal, biar suaranya banter..*
(Lha gw kirain Avril Lavigne itu penyanyi metal?)

Dan kalau dapet video call itu menuntut kita mesti sudi di-syuting saat itu juga. Padahal belum tentu juga pas kita ditelfon itu penampilan kita dalam keadaan siap dilihat orang lain. Siapa sih yang mau di-video call dalam keadaan bangun tidur dengan mata masih belekan?

Dan bahkan saat gw mengikhlaskan diri buat video call itu pun, ternyata tidak selalu berhasil. Sebagai ilustrasi, gw pernah lagi nyobain video call sama kakak gw pas kita berdua lagi nongkrong di sebuah kafe di Surabaya. Kita berdua udah nyalain mode 3G masing-masing, tapi sewaktu gw mencoba video call-in kakak gw, ternyata gagal.


Nonton tivi via video call juga nggak pernah gw lakukan. Soalnya per menitnya nyedot pulsa banyak!


Alhasil sekarang, video call gw anggurin. HP 3,5G (atau di Bandung sekarang, cukup cuman sampai 3G aja) cuman berguna buat bikin koneksi mobile internet kenceng, lainnya enggak. Mungkin ini tantangan buat para produsen HP, gimana caranya supaya teknologi 3G bisa dioptimalin tanpa harus ngabis-ngabisin batre. Juga tantangan buat operator seluler supaya pelanggan nyaman ber-video call tanpa takut pulsa jeblok atau takut sinyal putus.

Apakah Anda ber-video call?

Monday, January 4, 2010

Hati-hati Dong Sama Lagunya

Masih inget nggak sama lagu ini?

“If you love me like you tell me, please be careful with my heart,

You can take it, just don’t break it, or my world will fall apart..”


Lagu ini ngetop udah lama sekali, mungkin sekitar wangsa ’90-an gitu deh, dinyanyiin sama Bing Loyzaga dan Jose Mari Chan dari Filipina. (Tapi gw terpesona sama lagunya justru waktu dinyanyiin oleh Chan dan Titiek Puspa, hahaha!) Anda yang sama-sama generasi X kayak gw atau mungkin generasi baby-boomers pasti masih inget lagu ini, dan beberapa masih bisa menyanyikannya dengan fasih, ya kan?


Nah, lagu itu kayaknya bakalan ngetop lagi tahun ini. Cuman bukan dinyanyiin oleh Chan dan Bing, melainkan oleh Christian Bautista dan Bunga Citra Lestari. Jangan keburu hepi dulu! Soalnya, menurut yang gw dengar barusan, lagu itu bakalan dirilis di Indonesia, dan dinyanyiin dalam bahasa Indonesia. Wadaww!


Jadi nanti kalau dinyanyiin dua orang itu, hasil reffrainnya kayak gini lho,

Kau cinta pertama..” (itu bagian yang semestinya adalah “You were my first romance..”)

Seterusnya gw lupa, tapi ujung-ujungnya lirik “please be careful with my heart”-nya diganti jadi “tetaplah di hatiku..” Kacau beliau!



Hm..gimana yah? Kok gw nggak sreg gitu, lagu yang aselinya ditulis dalam bahasa linggis, tahu-tahu diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia. Ini sebenarnya bukan peristiwa baru kan? Masih inget dulu lagunya Julio Iglesias yang judulnya To All the Girls I’ve Loved Before dirilis di Indonesia dalam kemasan duet bareng Andre Hehanussa, di mana setengah liriknya diganti ke dalam bahasa kita sendiri. Yang paling fenomenal tentu saja lagunya Maribeth judulnya Denpasar Moon, di Indonesia sampai diterjemahin ke dalam banyak bahasa, selain ke bahasa Indonesia sendiri, juga ke bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa entah apa lagi.


Maksud gw, kalau memang tuh lagu Please Be Careful with My Heart mau ngetop lagi ya nggak usah diterjemahin ke bahasa Indonesia deh, merusak karya aja (meskipun mungkin pencipta lagunya sudah ikhlas). Lirik aselinya udah bagus, nggak usah digonta-ganti lagi. Kalau boleh gw pengen nyebutnya sih please be careful with the song, alias..hati-hati dong sama lagunya. Apa sekedar mau mamer-mamerin, “Ini lho..Christian Bautista bisa nyanyi lagu bahasa Indonesia?”


Buat Anda yang pengen tahu lirik aseli lagunya kayak apa, nih gw tulis di sini. Sori dori mori ya versi Unge-Xtian nggak gw tampilin di sini, soalnya gw nggak mufakat sama liriknya..

If you love me like you tell me, please be careful with my heart,

You can take it, just don’t break it, or my world will fall apart.


You were my first romance and I’m willing to take a chance,

That the life is true, I’d still be loving you,

I will be true to you, just a promise from you will do,

From the very start, please be careful with my heart.


I love you when you know I do, there’ll be no one else for me,

Promise I’ll be always true for the world that all to see,

Love has hurts and lies have been spoken,

And I have had my heart that broken,

I’ve been burnt and I’ve been hurt before.


So I know just how you feel, trust my love is real for you,

I’ll be gentle with your heart, I’ll caress it like the morning dew,

I’ll be right beside you forever, I won’t let our world fall apart,

From the very start, I’ll be careful with your heart.

Sunday, January 3, 2010

Indo Rasis

Kalau ada orang yang bilang bahwa di Indonesia nggak ada rasisme, orang itu pasti nggak pernah berurusan dengan kerjaan multinasional. Ada saat-saat di mana orang tidak dihargai di Indonesia, kalau bersangkutan dengan warna kulitnya, penampilannya, atau sekedar dari bahasa yang dia ucapkan.

Akhirnya, kemaren gw kopi darat sama Ria Sugiarto. Rada mimpi sih bisa ketemu blogger asal Limpung ini, kalau selama ini kita cuman ngobrol via blog dan via Facebook doang, maka kali ini kita betul-betul bisa ngobrol mata ketemu mata, hahaha! Ria sedang ke Bandung weekend ini, jadi kita pun kopi darat di sebuah warung pizza di tengah kota. Makasih dah ngajak ketemuan ya, Ria!

Nah, cerita ini dimulai dari usaha Ria yang berusaha pesan hotel-hotel buat diinepin di Bandung, via telepon interlokal dari Semarang. Kebetulan hotel yang diincarnya adalah hotel-hotel yang biasa diinepin oleh backpacker bule gitu, jadi resepsionis yang ngangkat teleponnya ngoceh pakai bahasa Inggris. Ria pun nyebutin kalau dos-q berniat ke Bandung pada tanggal sekian dan mau pesan kamar di situ. Apa daya, si resepsionis menyahut bahwa Ria nggak bisa nginep di situ. Soalnya, menurut si resepsionis, hotelnya cuman buat nerima tamu dari warga negara asing!

Apa-apaan ini? Mosok yang boleh nginep di situ cuman tamu bule doang? Padahal kan hotelnya letaknya di Indonesia, staf yang meladenin juga orang Indonesia, kenapa nggak mau nerima tamu orang Indonesia?

Ria sempat minta bantuan gw buat nyariin hotel lain. Tapi selain itu juga Ria tetap bersikukuh mau nginep di hotel sok-eksklusif-khusus-bule itu, soalnya kan letaknya cukup sesuai dengan keperluan Ria. Jadi besoknya dia telfon lagi tuh hotel, tapi dia siasatin lain. Ria nelfon sambil ngomong cas-cis-cus pakai bahasa linggis, sebutin nama aselinya, mau datang kapan, tanya harga. Sebagai seorang dokter dan backpacker mahir, ternyata bahasa linggis itu ampuh banget buat memukul mental pegawai sombong manapun.

Apa yang terjadi? Setelah dibombardir pakai bahasa linggisnya Ria, akhirnya si resepsionis nanya, “Mbak, bisa bicara bahasa Indonesia, nggak?”

Jawab Ria, “BISAA!”

Singkat cerita, Ria bisa nginep di hotel itu. Dengan tarif normal (Iya kan, Ria? Awas kalau mereka pasang tarif tamu Indonesia lebih mahal ketimbang tarif tamu bule!).

Gw ketawa terbahak-bahak waktu Ria cerita itu ke gw. Perasaan sewot dan merasa didiskriminasikan juga meliputi gw.

Ini sebenarnya hampir sama dengan sebuah artikel yang gw baca di koran minggu lalu. Seorang konsultan majalah gaya hidup keluaran Jakarta, sebut aja namanya Sam, beberapa bulan lalu minta sebuah resort mewah di Bali, supaya majalahnya boleh memprofilisasi resort itu di edisinya. Lalu manajemen resort itu bilang, mereka baru ngijinin resort itu ditampilkan di majalahnya Sam, setelah Tahun Baru. (Hm, aneh ya? Bukannya makin cepat sebuah hotel ditampilkan di majalah, maka makin banyak tamu yang akan datang nginep di situ?)


Lalu, entah sekitar bulan Oktober atau November lalu, nggak sengaja Sam baca sebuah majalah keluaran luar negeri, dan ternyata resort itu tampil di majalah itu. Resort itu ternyata lebih memprioritaskan ditampilkan di majalah keluaran luar negeri ketimbang di majalah keluaran lokal!


Gw rasa, mungkin ini taktiknya. Kuatirnya kalau resort itu tampil duluan di majalah local, maka tamu-tamu yang pesan kamar duluan sebelum Tahun Baru adalah tamu warga negara Indonesia. Akibatnya kamar akan penuh dengan tamu-tamu yang bayar pakai rupiah, sedangkan turis-turis yang pakai dolar nggak akan kebagian kamar. Pemasukan dolar lebih sedikit, dan pemasaran atas pelayanan mereka yang mungkin akan disiarkan oleh tamu-tamu bule juga akan lebih sedikit. Bandingkan kalau tamu-tamu yang pesan kamar duluan adalah tamu-tamu bule. Pulang dari liburan, tamu-tamu bule itu akan bernyanyi ke teman-teman di negara mereka supaya kalau ke Bali nginepnya di resort itu aja. Pemasaran internasional yang efisien, bukan?


Tapi buat gw, kedua cerita di atas, ujung-ujung kesimpulannya sama: pemilik-pemilik hotel ini lebih memprioritaskan konsumen asing ketimbang konsumen dari negeri sendiri. Siapa sih yang bilang bahwa pelanggan adalah raja?


Inikah rasisme? Ria dibedakan hanya karena dia ngomong pakai logat Jawa, bukan pakai logat Bavaria. Sam dibedakan hanya karena majalahnya keluaran Jakarta, bukan keluaran Oz. Mungkin ini bukan rasisme. Mungkin lebih tepatnya, ini adalah mental inlander yang masih terus dipiara oleh sejumlah pengusaha penginapan di Indonesia.


Bagaimana dengan Anda, blogger-blogger pengusaha? Apakah Anda lebih semangat menggarap pasar luar negeri sampai-sampai nggak menyediakan tempat buat pasar negeri sendiri?

Saturday, January 2, 2010

Denda buat SMS-an

Denda Rp 750.000,- menanti buat orang-orang yang berani nyetir sambil megang HP, entah itu lagi nelfon atau cuman sekedar SMS-an. Peraturannya akan disosialisasikan polisi-polisi Indonesia sedianya selama tiga bulan ini. Artinya, lewat dari tiga bulan lagi, siapa-siapa yang berani HP-an sambil nyetir, harap siapkan Rp 750.000,- di tempat koin mobilnya.

Gw cuman iseng nanya, “Kenapa baru sekarang?”

Sewaktu peraturan ini baru disosialisasikan juga, sebuah stasiun tivi meliput para pengguna jalan dan nanyain pendapat mereka. Rata-rata orang berpendapat positif coz mereka tahu bahwa nyetir sambil SMS-an bisa beresiko kecelakaan. Mulai dari nabrak truk gandeng, sampai nabrak babi hutan lewat.

Tapi gw tertarik dengan pendapat seorang cewek yang bilang begini, “Menurut saya sebenarnya menyetir sambil SMS-an itu nggak akan bikin celaka ya, asalkan orangnya itu udah biasa.”

Gw mengerutkan kening. Udah biasa? Coba definisikan “udah biasa”. Nyetir sambil SMS dan menjadikannya kebiasaan rutin, apakah lantas membuat orang tersebut mahir nyetir mobil sembari SMS-an tanpa beresiko mengakibatkan kecelakaan?

Beberapa orang memang cukup beruntung ditakdirkan memiliki kemampuan “multitasking”. Misalnya, makan sambel sembari ngegosip. Chatting sambil nyusuin bayi. Bikin kopi sambil nggoreng tempe. Termasuk juga nyetir sambil SMS-an. Tapi dari contoh-contoh di atas, berapa banyak yang kita tahu tidak akan membuyarkan konsentrasi terhadap pekerjaan lantaran pikirannya bercabang ke mana-mana?

Yang jadi masalah adalah, kalau gara-gara pengendaranya harus bagi-bagi konsentrasi antara melihat jalan dan melihat layar HP, maka dia tidak akan tahu bahwa ada babi hutan lewat. Dan babi itu bisa celaka cuman gara-gara pengendara mobilnya lagi ngelihat layar HP waktu dia ketabrak.

*Ngomong-ngomong, Vic, kenapa sih contohnya harus babi hutan?*

(Soalnya kalau contohnya manusia ketabrak kan

serem..)


Bagaimana dengan faktor kebiasaan? Nah, ini yang harus diluruskan. Orang terbiasa karena dia terlatih. Orang mampu nyetir sambil SMS-an karena dia biasa melakukannya. Yang jadi problem, kemampuan orang itu ada batasnya. Semakin berumur, otaknya semakin uzur, maka kemampuannya untuk membagi konsentrasi akan semakin berkurang. Siyalnya sifat egoisme karena merasa “sudah terbiasa” itu tidak akan berkurang seiring dengan berjalannya umur. Pendek kata, makin tua, makin tidak sadarlah dia bahwa dia udah nggak sebagus dulu dalam urusan nyetir sambil SMS-an, gitu lho.


Yang repot, kalau sudah “merasa terbiasa”, lama-lama dia jadi takabur, dan nggak mau sadar bahwa lama-lama kemampuannya berkurang.


Jadi, selagi masih muda dan kita masih sadar bahwa suatu hari nanti kemampuan kita berkonsentrasi akan semakin berkurang, lebih baik berhenti nyetir sembari SMS-an, sebelum kita mulai menabrak orang atau babi hutan. Apalagi polisi sekarang makin nggak mau tahu aja, ada orang ketabrak mobil, tetap aja pengendara mobilnya yang dipenjara biarpun orangnya yang bego nyebrang jalan sembarangan. Padahal kalau kita dipenjara, siapa yang mau ngitik-ngitik suami di rumah, siapa yang mau mijitin nyokap di rumah?


Foto gw jepret empat hari lalu. Supir angkotnya SMS-an pas angkot lagi berhenti di Jalan Cihampelas.

Friday, January 1, 2010

Penonton Spongebob Tidak Melayat

Kalau boleh, gw kepingin bikin survey aneh tapi nyata, judulnya sederhana aja, “Ada di mana Anda waktu Gus Dur meninggal?”

Beberapa saat setelah gw dikabarin teman via internet bahwa Gus Dur meninggal Rabu lalu jam 18.45, keluarga gw di rumah nyalain tivi supaya kita bisa “bergabung” dengan para pelayat di Rumah Sakit Ciptom Mangunkusumo, Jakarta. Gw menguap kuat-kuat nonton reportase yang membosankan itu, coz gw tahu, jenazah Gus Dur tidak akan nampak sampai dua jam kemudian. (Soalnya sudah protokol di rumah sakit mana-mana, seorang pasien yang dinyatakan meninggal di situ harus tinggal dulu sampai dua jam pasca jam kematian, setelah itu baru boleh dibawa pulang oleh keluarganya.)

Tapi tetap aja gw nonton acara reportase itu, coz gw tertarik menganalisa kelakuan orang-orang yang kena syuting kamera. Luar biasa, kameramennya cuman nyuting dari satu sudut doang, tapi begitu banyak kelakuan manusia yang diekspos dan semuanya lucu-lucu. Ada keluarga pasien yang nampaknya lagi nunggu di ruang tunggu, mereka sadar disyuting kamera, dan mereka malah sibuk HP-an. (Mungkin ng-SMS keluarganya bilang bahwa mereka lagi masuk siaran langsung tivi!) Ada dokter yang keluar dari bangunan rumah sakit sambil senyum-senyum, kalau dilihat dari cara jalannya ini kayaknya murid sekolah spesialisasi yang baru selesai shift kerja. (Ngapain coba residen keluar via pintu yang banyak kamera tivinya, padahal mereka biasa keluar via pintu lain yang lebih privat?) Ada petugas cleaning service yang tiap lima menit bolak-balik lewat sambil ngepel. (Makin sering disyuting, nggosok pelnya makin kenceng. Nampak rajin!)

Lalu, di tengahnya gw lagi nonton reportase di ruang tengah rumah itu, tiba-tiba gw denger suara setan menjerit! Hah?? Gw bangun dan ke ruang makan di mana asisten pribadi keluarga gw lagi nonton tivi, dan terkejut. Sang asisten lagi nonton sinetron dedemit.

OMG! Mantan presiden Negara ini meninggal dan sebuah stasiun tivi malah nyalain sinetron dedemit??

Lalu gw ambil remote control dan menginspeksi setiap saluran. Ternyata, pas hampir jam 8 malam itu, hanya ada tiga saluran tivi yang bikin siaran langsung pelayatan Gus Dur dari RSCM, yaitu TV One, Metro TV, maaf satunya lagi gw lupa. Sisanya? Ada yang nyiarin Spiderman. Ada yang nyiarin sinetron dedemit. Ada yang nyiarin sinetron mewek. Lainnya iklan, iklan, iklan, dan iklan.


Kemaren, jam 7 pagi, gw nyalain tivi lagi, nonton siaran langsung dari rumah Gus Dur di Ciganjur, waktu Gus Dur mau diangkat ke dalam mobil jenazah yang mau bawa almarhum ke Bandara Halim. Sekali lagi, gw ngecek tiap tivi, dan ngitung berapa banyak saluran tivi yang nyiarin pemberangkatan Gus Dur. Ternyata cuman dikit juga yang nyiarin, sisanya malah sibuk bekutetan memutar Spongebob, Doraemon, dan acara anak-anak yang lainnya, dan bahkan infotainment. Ck ck ck.


Sori dori mori, tapi nampaknya buat sebagian orang, mungkin berita artis masih lebih penting ketimbang nonton pelayatan seorang mantan presiden. Mungkin acara kartun buat anak-anak balita masih jauh lebih penting buat diputer jam 7 pagi, karena anak-anak balita masih terlalu kecil buat dikasih tahu bahwa di Indonesia ini pernah punya pemimpin bernama Gus Dur. Dan mungkin para pecinta sinetron lebih mementingkan nonton sinetron dedemit dan sinetron mewek ketimbang nonton siaran langsung dari rumah sakit. Atau orang-orang ini tetap bekutetan muterin program regular lantaran sudah janjian sama para pemasang iklan.


Atau mungkin, cuman gw yang menganggap penting nonton pelayatan Gus Dur, sedangkan orang lain beranggapan bahwa pelayatan itu nggak penting-penting amat?


Memang sekarang udah nggak seperti jaman dulu lagi, di mana setiap saluran tivi diperintahkan buat mengutamakan siaran langsung acara presiden di atas acara apapun. Tapi ini bukan masalah prioritas tayangan tivi disetir oleh penguasa atau tidak. Ini masalah tanggung jawab media televisi buat mendidik kepada masyarakat, mana informasi yang penting untuk diketahui saat itu juga, dan mana informasi yang bisa diprioritaskan belakangan.


Gw nulis ini bukan berarti gw penggemar Gus Dur. Tetapi kepedulian terhadap seorang pemimpin bangsa akan menuntun sikap menuju kepedulian terhadap bangsa itu juga. Dan kalau kita nggak peduli-peduli amat sama bangsa kita sendiri, barangkali kita juga nggak peduli-peduli amat terhadap identitas diri kita sendiri.


Kecuali, kalau identitas kita itu bernama Spiderman, Spongebob, dedemit, dan infotainment.


Foto di atas karya Widodo Jusuf.