Thursday, April 15, 2010

Nama dan Pelototan Ekstra

Jika Anda dikasih kesempatan buat mengubah nama Anda, entah itu sekedar menambah nama belakang atau ganti pakai nama suami, atau mengganti namanya sampai berubah sama sekali, mau nggak?

Gw kepikiran ini waktu baca surat pembaca di sini tadi pagi. Seorang bapak asal Bogor mengeluh, saban kali dos-q mau masuk Singapura, dos-q selalu kudu diinterogasi. Padahal dos-q masuk ke Singapura pakai student visa yang mestinya secara normal mbok ya dibiarkan masuk dengan tenteram. Ternyata, dos-q kudu diinterogasi soalnya paspornya ditandain “spesial”. Seorang petugas imigrasi entah kapan telah menuliskan “common name” pada pemeriksaan paspornya, dan menuliskan angka “480”, lalu mengirimkannya ke ruang interogasi. Dengan perlakuan itu, bapak ini merasa selalu diperlakukan bak buron. Oh ya, nama bapak ini adalah Abdul Wahid.

Gw nggak ngerti apanya yang “common” dengan nama Abdul. Apakah setiap orang bernama Abdul itu pasti akan dipelototin ekstra oleh petugas imigrasi, sama seperti polisi Bandung melototin dada ibu-ibu yang naik mobil karena nyari-nyari apakah ibu-ibu nggak pakai sabuk pengaman?


Tidak bisa dipungkiri, peristiwa 9/11 sudah merusak citra orang-orang Arab, sehingga orang-orang dengan nama berbau Arab sering dipelototin ekstra ketika bepergian ke negara-negara tertentu yang mengobarkan semangat antiterorisme secara berlebihan. Dicurigainya yang namanya bau-bau Arab itu simpatisan teroris, jadi mesti diperiksa ketat. Kasihan sekali warga-warga yang namanya bau Arab kalau gitu.


Gw jadi mikir, sekiranya gw orang Indonesia, dan nama gw bau Arab, mungkin gw bakalan diperiksa sekalian. Padahal boro-boro kenalan sama teroris, bikin bom molotov aja gw nggak tahu caranya.

***

Nama gw Vicky Laurentina. Gara-gara nama itu, banyak yang ngira gw Katolik, Kristen, atau minimal Tionghoa. Padahal agama gw Islam. Gw sendiri nggak pernah ambil pusing kalau gw dikira bukan muslimah. Gw pikir, sebodo amat orang mengira gw nggak religius, yang penting Tuhan tahu gw muslimah. Agama gw itu urusan gw dan Tuhan, bukan urusan orang lain.


Suatu ketika, sekitar sepuluh tahun lalu, nyokap gw yang baru seneng-senengnya ikut pengajian pertama kali, mengeluh ke bokap gw, kenapa nama gw bukan nama Islami. Nyokap gw malah nawarin manggil gw dengan nama lain yang kebetulan rada berbau Arab, tapi gw menolak. Bukan gw menolak nama berbau agama atau etnis tertentu. Tetapi gw pikir, ketika bokap gw ngasih nama gw pertama kali waktu gw lahir, bokap gw pasti berdoa dulu. Doa itu original. Kalau nama gw diganti dengan nama lain, berarti doa original yang dulu diucapkan bokap gw, nggak akan terucapkan lagi dong?


Suatu ketika, gara-gara nama gw, gw pernah dapet yang nggak enak juga. Dalam suatu makan siang di kantin bareng teman-teman kuliah, seorang adek kelas menghampiri kami dan nyebarin undangan ikutan tabligh akbar. Si neng itu memberikan tiap orang di meja kantin itu undangan satu per satu (undangan itu nggak ada nama penerimanya), tapi gw satu-satunya yang nggak dikasih undangan. Beruntungnya teman gw ada yang ngeliat, lalu negor si neng itu. “Eh, Dek, teteh yang ini nggak dikasih?”


Si neng itu terkejut dan nampak salah tingkah. Dengan malu dia kasih undangan juga ke gw, seraya bilang, ”Maaf, Teh.* Kirain, (Teteh ini) non-i..**”


Nyokap gw pernah bertanya ke gw, kalau gw punya anak nanti, mau nggak gw kasih nama yang berbau Islami? Gw abstain. Pikiran gw cuman satu: kalau gw punya anak, gw nggak mau paspor anak gw dipersulit untuk masuk negara tertentu cuman gara-gara namanya disangka bersodara sama teroris.


***


Dan lagian, nggak semua nama Arab itu pasti Muslim. Di jazirah Arab sana, banyak banget orang keturunan Arab tapi tidak beragama Muslim. Mereka memeluk Kristen, dan nama mereka tetap nama Arab. Gw baca di National Geographic Indonesia Juni 2009, bahwa orang-orang Kristen Arab kadang-kadang dipersulit juga ketika mereka jalan-jalan ke Amerika Serikat. Banyak petugas (imigrasi) Amerika salah mengira bahwa orang-orang dari negeri Timur Tengah pasti beragama Arab, tidak mungkin beragama Kristen, dan mereka pikir agama Kristen itu lahir di Italia.


Membuat gw sadar bahwa ternyata ada negara yang pengetahuan sejarah dan geografi penduduknya lebih bobrok ketimbang Indonesia.


Memeluk agama itu hak prerogatif tiap orang. Menamai anak, entah itu dengan nama yang religius ataupun dengan nama yang tidak religius, itu juga hak pribadi tiap orang. Ya nggak usah dicurigain macam-macamlah, mulai dari yang nggak diundang ke tabligh akbar, apalagi sampek ditahan di ruang interogasi imigrasi segala.


Haruskah orang paranoid bahwa nama seseorang berarti berasosiasi dengan agama tertentu, dan agama tertentu diasosiasikan dengan teroris? Dan haruskah kita terobsesi untuk menamai anak dengan bau agama tertentu, cuman gara-gara takut dikira anak kita nggak religius?


*Teteh = sebutan untuk mbak-mbak di kalangan masyarakat Sunda

**non-i = kode di kalangan pelajar dan mahasiswa, biasa digunakan untuk menyebut mereka yang bukan muslim

Wednesday, April 14, 2010

Diam = Sesat


Gw ngeh bahwa kita mesti rajin mbaca koran, tapi gw nggak tahu bahwa harus SERAJIN ITU kita mbaca koran.

Seorang kolega gw, sebut aja namanya Pak Casey, dibikin marah oleh bank tempat dos-q nanem deposito.

Jadi ceritanya gini, sekitar dua tahun lalu, bank tempatnya jadi nasabah ini promosi bahwa deposito mereka pasang bunga tinggi. Tergiur, Pak Casey pun pasang rekening deposito di sana. Menurut perjanjian, deposito itu berjangka waktu tiga bulan. Diperpanjang otomatis berikut bunganya. Ngomong-ngomong, bunganya 8,5% per tahun, jumlah yang cukup besar dan bikin siapapun ngiler.

Pada tiga bulan pertama, untuk melihat kinerja pelayanan bank, Pak Casey pun dateng ke bank buat nge-print jumlah terakhir dana depositonya. Ternyata betul, uang Pak Casey sudah berkembang biak sebanyak seperempat dari 8,5% dana awal dipotong pajak.

Tiga bulan berikutnya, dana pun dicek lagi. Uang sudah berkembang biak lebih banyak, termasuk dari bunga. Merasa percaya, Pak Casey memperpanjang deposito itu terus-menerus.

Karena sibuk, Pak Casey nggak dateng-dateng lagi ke bank. Memang dos-q jarang punya urusan buat ngobrol sama orang bank, coz lebih sering ngambil duit dari ATM. Tahu-tahu sudah dua tahun berlalu, dan Pak Casey teringat dana deposito yang dos-q tanam.

Maka isenglah dos-q nelfon pegawai bank yang neken formulir depositonya dulu, nanya sekarang dananya sudah berkembang jadi berapa. Si pegawai, sebut aja namanya Gemma, menyebut bahwa dana depositonya sudah sampai angka X. Pak Casey terkejut, kok jumlah terakhirnya cuman segitu. Gemma menjawab bahwa perhitungannya begini, lalu begini, lalu begitu. Ternyata, selama dua tahun ini Pak Casey mengira bahwa bunga depositonya tetap 8,5% sesuai perjanjian awal. Padahal, setelah tahun pertama, pemerintah nurunin suku bunga bank sehingga bank ini terpaksa nurunin bunga depositonya jadi 7,5%. Lama-lama bunganya turun lagi jadi 7%, kemudian jadi 6,5%, dan sekarang berhenti di angka 6%.

Pak Casey kan udah lama nggak main ke bank, jadi nggak tahu tentang turunnya bunga deposito itu. Tapi menurut Pak Casey, mestinya bank memberi tahu nasabah kalau bunganya turun. Coz dari awal nasabah hanya ngeh bahwa bunganya 8,5% dan perpanjang otomatis.

Intermezzo dulu ya. Gw tiap hari baca kolom bunga deposito di koran dan cukup hafal mana bank yang bunganya tinggi, dan mana bank yang bunganya cuman seupil. Bunga bank sudah banyak berubah dalam dua tahun terakhir, tapi lumayan stabil. Rata-rata bunga tiap bank memang turun selama ini. Bank-bank yang dulunya berbunga gede, sekarang bunganya udah nggak segede dulu lagi. Tapi saat ini, mereka tetap berbunga lebih gede ketimbang bunga di bank-bank yang lebih kecil.

Balik lagi ke urusan Pak Casey. Pak Casey sebel coz Gemma nggak kasih tahu dos-q bahwa bunganya turun. Disebutnya kinerja Gemma nggak bener ngurusin nasabah. Sebagai tindak lanjut, Pak Casey menyetop depositonya, menarik semua dana yang dos-q tanam di bank itu, termasuk menyetop tabungan hariannya juga. Pendek kata, dos-q nggak percaya sama bank itu lagi.

Gw menulis ini, coz gw juga sama kayak Pak Casey, awam tentang urusan perbankan. Sebenarnya kalau mau dirunut-runut ini cuman masalah manajemen komunikasi. Kalau bank berinisiatif bilang pada Pak Casey bahwa bunga deposito sudah turun dari 8,5% jadi 7,5%, mungkin Pak Casey nggak akan sepundung itu. Mungkin dos-q akan berhenti memperpanjang depositonya, tapi dos-q nggak akan sampek be-te dan nutup semua rekening tabungannya segala. Perlu digarisbawahi, di sini nasabah marah bukan karena bunganya turun, tapi nasabah marah karena bank NGGAK BILANG-BILANG bahwa bunganya turun.

Pelajaran moralnya di sini: Jangan pernah bikin konsumen kehilangan kepercayaan pada kita.

Gw bisa ngerti pembelaan bank. Nasabah mestinya mantau sendiri pergerakan suku bunga di koran, jadi dos-q bisa tahu sendiri kalau ada perubahan bunga. Maka pelajaran moralnya: Menjadi konsumen juga harus punya inisiatif.

Bagaimana ya, Sodara-sodara? Siapa yang mestinya banyak inisiatif, nasabah atau banknya?

Foto disamber dari http://mainstreet.com

Tuesday, April 13, 2010

Adakah Kompensasi?


Seseorang ditangkap di bandara kemaren. Dos-q ceritanya lagi mau boarding naik pesawat ke Singapura. Pas lagi ke toilet di pintu keberangkatan, tau-tau segerombolan polisi dateng dan minta orang ini ikut dengan mereka. Entah ini judulnya penangkapan atau penjemputan paksa, tapi yang jelas orang ini ditahan polisi.

Situasinya, orang ini sedang tidak berencana ngobrol-ngobrol sama polisi. Dia lagi mau naik pesawat ke Sinx, dalam rangka mau berobat ke Sinx (nggak tau dos-q sakit apa). Tapi gara-gara ditahan polisi ini, intinya orang ini nggak jadi terbang naik pesawat. Padahal, gw yakin, orang ini udah kadung mbayar tiket pesawat.

Yang jadi pikiran gw, itu polisi yang nangkepnya mau ngganti biaya tiket pesawatnya, nggak?

Ini yang bikin orang-orang males berurusan sama polisi. Bukannya mau menghalang-halangi penyelidikan ya, tapi kan kadang-kadang penahanan oleh polisi ini bisa menimbulkan masalah yang cukup merugikan orang lain.

Gw ingat cerita tentang seorang kolega gw sekitar 20 tahunan lalu. Jadi ceritanya, di sebuah ICU rumah sakit itu ada tim dokter yang mesti giliran jaga tiap malem. Sebutlah dalam satu tim itu ada empat orang. Yang bertugas jaga tiap malam ada satu orang, jadi tiap orang digilir jaga ICU tiap malam.

Nah, tersebutlah kolega gw yang merupakan salah satu dari tim itu, namanya dr X. Suatu malam datang seorang pasien ke ruang praktek dr X, minta surat keterangan sakit. Oleh dr X dikasih suratnya, lalu pasien itu pulang.

Besoknya, dateng polisi njemput dr X buat dimintain keterangan. Ternyata "pasien" yang kemaren itu mestinya jadi saksi buat suatu perkara, tapi dos-q pura-pura sakit dengan surat keterangan yang dibikinin dr X. Jadilah dr X kerepotan lantaran mesti bersaksi ini-itu di kantor polisi, lantaran dianggap membantu seorang saksi melarikan diri.

Pasalnya, dr X ini bertanggungjawab mengawasi pasien-pasien di rumah sakit. Akibat kudu dipanggil polisi, kolega-kolega dr X di rumah sakit jadi mesti berjibaku menangani tanggung jawab yang ditinggalin dr X. Padahal timnya kan cuman empat orang, dan tiap orang udah punya jadwal sendiri yang sangat padat. Di sini kita lihat bagaimana pemanggilan seseorang oleh kepolisian bisa merepotkan banyak orang yang nggak bersangkutpaut. Nggak heran orang males berurusan sama hukum coz mereka nggak kepingin meninggalkan tanggung jawab yang sangat hectic.

Anggap saja orang yang kemaren ditangkep di bandara itu ternyata memang nggak bersalah, lalu dibebaskan. Tapi kan tiket udah kadung dibayar dan hangus. Apakah polisi mau ngganti tiket yang hangus gara-gara sang tertangkap itu disuruh ikut polisi?

Polisi boleh-boleh aja manggil dr X buat jadi saksi. Tapi apakah polisi bisa cari dokter pengganti untuk pasien-pasien kritisnya dr X yang mestinya nggak boleh ditinggal-tinggal?

Supaya polisi tuh nggak "ngambil" orang begitu aja, tapi juga memperhitungkan dampak-dampak kerugian yang terjadi akibat "pengambilan" itu. Calon penumpang yang ditangkap, resikonya tiket hangus. Dokter ICU dijemput, resikonya jadwal jaga acak-acakan. Ibu rumah tangga ditangkap, resikonya nggak ada yang jagain anaknya. Penjaga kebon binatang diambil, resikonya nggak ada yang ngasih makan gajah-gajah. Anda pasti bisa menambah panjang daftar ini.

Bisakah polisi kasih kompensasi?

Catetan: Setelah nonton penangkapan di bandara kemaren, gw jadi rada jiper kalau mau ke toilet umum sendirian. Bisa-bisa gw dijemput polisi kalau lagi mau pipis, dan disuruh ikut tanpa menyelesaikan pipis gw. Kalau gw sampek nggak bisa nahan pipis di mobil polisi, apa polisinya sanggup kasih kompensasi?

Monday, April 12, 2010

Ini Bukan Dekorasi, Lho!


Pengalaman jalan-jalan ke banyak tempat ternyata nggak cuman ngajarin gw bahwa Indonesia punya warga yang beda-beda warna kulit dan mata pencaharian, tapi perbedaan itu juga sampek ke urusan kepatuhan terhadap polisi dan mindset buat mawas diri.

Sewaktu gw jadi dokter PTT di Cali dulu, gw sering tinggal bareng host gw di Palangka. Gw perhatiin ke mana-mana dos-q kalau nyetir tuh mesti nggak pakai seat belt. Bikin gw agak rikuh sendiri, coz gw kan udah biasa pakai seat belt kalau tinggal di Bandung. Jadinya kalau nebeng mobilnya tuh gw sendirian yang pakai seat belt, sementara host gw yang nyetir sebelah gw nggak pakai.

Anehnya, kalau kita bermobil ke Banjarmasin, begitu mau masuk kota Banjar, host gw buru-buru pakai seat belt. Suatu hari gw iseng nanya ke host gw, kenapa host gw nggak pakai seat belt di Palangka, tapi malah pakai seat belt di Banjar? Alasan sang host, "Soalnya di Banjar peraturan (polisi)-nya lebih ketat.."

Tadinya gw pikir itu cuman fenomena klasik "Jawa dan non-Jawa" aja. Mungkin di Jawa orangnya lebih tertib berkendara coz mobilnya kan jauh lebih padat, sedangkan kalau di luar Jawa ya kurang tertib coz kepadatan mobilnya masih kurang.

Tapi pas weekend kemaren, nyokap gw ketamuan teman lamanya pas jaman sekolah dulu. Oleh nyokap, si tante dianterin ke tempat belanja-belanji di Bandung. Ya namanya teman lama, sambil nyetir tuh nyokap gw ya ketawa haha-hihi aja sama si tante. Pas tiba di toko tujuan dan baru mau turun dari mobil, jantung nyokap gw nyaris copot, coz ternyata sepanjang perjalanan dari Cihampelas ke Jalan Riau tadi, si tante nggak pakai seat belt!

Gilingan. Untung nggak ketangkep pulisi.

Pas naik mobil lagi, ternyata si tamu itu nggak pakai seat belt lagi. Maka nyokap gw minta tolong supaya si tante pakai seat belt-nya. Lalu mereka jalan lagi ke tempat berikutnya. Terus, pas udah mau naik mobil lagi, ternyata si tamu nggak pakai seat belt lagi sebelum diingetin nyokap gw.

Nampaknya, tamu ini memang nggak biasa pakai seat belt kalau naik mobil di tempat tinggalnya. Mungkin dikiranya seat belt itu dekorasi.

Sewaktu nyokap gw cerita ke gw, gw pikir aneh kalau orang ini nggak biasa pakai seat belt di tempat tinggalnya di Surabaya. Ah, perasaan kalau gw lagi ke Surabaya dan disetirin teman-teman gw yang warga sana, mereka selalu pakai seat belt kok.

Terus, gw baru inget, sepupu gw yang tinggal di Malang, itu kalau nyetir juga nggak pakai seat belt. Gw kan pernah nebeng dos-q di sana, jadi gw inget itu. Pas gw ngingetin dos-q buat pakai seat belt, dos-q malah njawab enteng, "Tenang aja, Ky. Pulisi di Malang itu ndak galak-galak kayak di Jakarta."

Gw mendelik. Tapi sepupu gw malah minta supaya gw duduk depan sambil mangku anaknya yang waktu itu baru umur tiga tahun, coz biasanya anaknya itu seneng duduk depan. Gw turutin aja mangku ponakan gw, sambil melingkarin seat belt di depan perut si buyung. Eh, si buyung malah berontak coz merasa seat belt itu bikin dos-q "kepanasan".

Tadinya gw pikir sepupu gw itu rada ceroboh. Lalu besoknya gw nebeng sama mobil sepupu gw yang satunya, yang beda nenek dan beda kakek. Ternyata sepupu gw yang satunya juga nggak pakai seat belt.

Batin gw, orang-orang Malang ini berani mati.

Padahal, kalau di Bandung, gw sebut polisi-polisinya mata keranjang coz mereka seneng ngeliatin dada orang-orang yang naik mobil. Begitu keliatan satu aja penumpang nggak pakai seat belt, langsung peluit bunyi, "Priit!" Seterusnya adalah adegan bantah-bantahan antara polisi dengan sang kena tilang. Paling sering ditilang adalah (1) ibu-ibu. Soalnya mereka merasa seat belt itu bikin sesak perut mereka yang kegendutan. (2) orang-orang dari luar kota Bandung. Soalnya di tempat asal mereka, nggak pakai seat belt nggak pernah diapa-apain.

Maka, buat gw dan nyokap, membawa tamu ibu-ibu dari luar kota berarti kudu wanti-wanti soal seat belt.

Banyak yang bilang sebenarnya di Indonesia nggak perlu-perlu amat soal seat belt. Soalnya di Indonesia, kendaraannya padat jadi susah mau jalan yang kenceng. Tabrakan bisa dihindarin, jadi ngapain repot-repot pakai seat belt? Kecuali kalau mau masuk jalan tol, kan nyetirnya kudu ngebut, nah..baru pakai seat belt.

Sebenarnya menurut gw itu adalah cara pikir yang salah besar. Siapa yang bilang tabrakan gampang dihindari? Kalau mobil di depan kita ngerem mendadak dan kita nggak waspada, bisa-bisa mobil kita nabrak mobil dos-q dan dada kita menghantam setir. Maka di dada bisa terjadi pendarahan dalam yang susah banget dideteksi kalau korbannya belum pingsan. Dan kalau sudah pendarahan, tinggal siap-siap gelar karpet buat nyambut malaikat maut. Yang repot, malaikat maut itu kalau mau dateng suka nggak bilang-bilang dulu.

Tapi kan kadar kesadaran orang untuk menghindari bencana ya beda-beda. Contohnya ya bisa dilihat pada perbandingan warga kota-kota di atas. Mungkin buat pakai seat belt mesti nunggu di-prit polisi dulu. Atau mungkin, nunggu tewas dulu, baru pakai seat belt.

Sunday, April 11, 2010

Tuan Rumah Nanggung?

Bulan lalu gw sempat tergila-gila nonton Hannah Montana.

Memang sebenarnya gw udah ketuaan buat nonton serial a-be-geh itu, tapi gw cuek bebek aja. Lha gw kalau nonton itu bisa ketawa ngakak sampek sakit perut. Mosok sih gw ketuaan buat ketawa?

Hannah Montana adalah serial bikinan Disney Channel tentang seorang cewek a-be-geh yang nyambi jadi diva pop. Pemerannya adalah Miley Cyrus, bintang remaja yang sekarang lagi ngetop-ngetopnya (mungkin setara Debbie Gibson pas jaman '90-an) sebagai penyanyi dan bintang film. Menurut informasi dari majalahnya anak-anak alay yang jarang banget gw baca, Miley ini anaknya Billie Ray Cyrus. Nah, kalau Billie ini gw kenal coz ngetop banget pas jamannya gw dulu masih pakai seragam putih-merah. Billie main juga di Hannah Montana jadi bokapnya Miley yang kocak banget.

Serial Hannah Montana diputer di RCTI saban jam 5.30 sore, dan gw selalu duduk manis di depan tivi nungguinnya. Tapi entah kenapa semenjak seminggu terakhir ini, Hannah Montana nggak diputer lagi di RCTI. Sebagai gantinya, gw malah dipaksa nonton sinetron kacangan yang dibintangin bocah-bocah kemaren sore, yang konon namanya Ibrahim dan yang satu lagi katanya bernama Raffi Ahmad.

Sudah lama sekali gw nggak jadi couch potato semenjak gw kuliah dan lupa sama sekali jadwal acara tivi. Yang gw tonton cuman itu-itu aja: berita, talk show, berita, talk show. Yah, selain di tivi juga nggak ada program hiburan yang menarik buat gw. Makanya begitu Hannah Montana diputer di tivi, gw seneng banget.

Ada penjelasan bagus kenapa orang seneng nonton film serial: Alasan (1) adalah orang menyukai kisah fiksi rekaan. Sesuatu yang nggak nyata, beda dengan berita. Ini nggak bisa digantikan dengan nonton film lepas, coz film lepas berdurasi 2-3 jam, sedangkan orang butuh alasan (2), yaitu mereka kepingin film yang durasinya singkat aja, paling-paling 30-60 menit supaya sesudah nonton film mereka bisa kerjain pekerjaan yang lain. Dan jangan lupa, (3) mereka kepingin cerita yang bersambung.

Sebenarnya, kebutuhan-kebutuhan ini bisa dipenuhi oleh tayangan sinetron. Masalahnya, sinetron Indonesia rata-rata kacangan.

Siyalnya tayangan sinetron bikinan Indonesia menuh-menuhin jadwal semua stasiun tivi non-berita sampek-sampek nggak ada lagi porsi buat serial tivi barat. Oh ya, ada sih serial dari Korea, tapi ya itu nggak masuk itungan gw, coz bahasanya di-dub ke bahasa Indonesia sehingga gw il-feel. (Gw nggak ngerti kenapa kita nggak boleh nonton serial Korea dalam bahasa aslinya. Takut nggak kasih proyek kerjaan buat yang tukang dubbing-nya?)

Gw dibesarkan di wangsa '80-an dan '90-an, di mana dulu banyak banget serial Barat berkeliaran sepanjang minggu di tivi. Tiap hari ada aja film serial yang mau gw tonton. Gw sendiri penggemar beratnya The Simpsons, Full House, Beverly Hills 90210, Friends, sampek Sex and the City. Memang jaman dulu, jumlah sinetron itu belum sebanyak sekarang. Jumlahnya dikit banget, masih bisa diitung dengan jari. Ibu-ibu dan para bedinde yang kepingin sinetron, cuman bisa melampiaskan keinginannya dengan nonton telenovela asal Mexico atau Venezuela.

Lama-lama serial Barat ngilang dari tivi, dan gw kehilangan jadwal tontonan rutin. Terakhir kali serial yang gw tonton rutin adalah Gossip Girl.

Sekarang nggak ada lagi serial Barat di tivi. Yang ada ya sinetron, sinetron melulu.

Memang, dampak bagusnya adalah tontonan produksi Indonesia berhasil jadi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi itu nanggung coz kualitas sinetronnya bikin orang jadi mual-mual. Tontonan macam apa yang nyeritain cewek kece tapi dungu yang kerjaannya mewek melulu, tante-tante jahat binti jutek dengan make-up menor, dan anak SD yang mengancam bunuh-bunuhan cuman gara-gara naksir temennya yang masih ingusan?

Mungkin kita memang masih perlu nonton serial Barat secara rutin tiap pekan. Nggak cuma bikinan Hollywood, tapi juga bikinan Thailand, bikinan Italia, atau bikinan Argentina, kalau ada. Coz kita perlu pembanding untuk membentuk selera sinetron kita. Kita cuman bisa punya selera sinetron yang bagus kalau kita sudah nonton sinetron yang jelek. Kalau kita udah tahu sisi bagusnya serial tivi bikinan negeri orang, kita akan bisa bikin serial tivi sendiri, nggak cuman yang bisa menjaring rating yang tinggi, tapi juga dengan ide cerita yang bermutu.

Memang, kalau sekarang stasiun tivi mencoba nyisipin serial Barat dalam jadwal acaranya, mungkin akan sulit dapet jumlah penonton yang sebanyak penonton sinetron. Tapi sekarang, coba dipikir, kita mau bikin acara yang menjunjung tinggi rating, atau menjunjung tinggi penonton yang berkualitas?

Saturday, April 10, 2010

Lain Kali Pakai Rantang

Dalam suatu artikel keluaran sekitar sepuluh tahun lalu, X-tina Aguilera pernah bilang bahwa kadang-kadang keluarganya bela-belain nggak mau makan burger dari restoran cepat saji yang cukup beken di Amrik. Alasannya sungguh sepele, karena pegawai-pegawainya mengemas makanan dalam wadah styrofoam.

Sewaktu itu gw belum ngeh tentang kenapa seseorang bisa antipati nggak mau makan bawa pulang cuman gara-gara dibungkus wadah styrofoam, sampai kemudian gw belajar tentang kimia di SMA.


Foto ini dijepret beberapa minggu lalu, waktu gw iseng jajan bubur ayam di Tangerang. Ada orang lain yang rupanya pesan bubur sebelum gw, jadi gw baru diladenin belakangan. Sambil nunggu pesanan, gw ngeliat bagaimana bapak-bapak ini mengemas pesanan buat pelanggannya, lalu gw sadari apa yang nggak beres: Bapak ini masih pakai stryrofoam buat mewadahi bubur ayamnya.

Memang, styrofoam itu wadah yang praktis banget. Makanan tetap segar kalau disimpan di dalam sini, selain itu biaya produksi styrofoam cukup murah sehingga harga jualnya juga murah. Dilihat secara estetika, mewadahi bubur dalam styrofoam nampak lebih keren ketimbang cuman di dalam plastik. Bukan begitu?

Yang tidak diketahui banyak orang, styrofoam mengandung suatu bahan benzena yang lumayan berbahaya buat badan manusia. Seperti yang kita ketahui semua, bahwa begitu makanan atau minuman masuk ke mulut kita, semua bahan itu akan dilumat bulat-bulat oleh usus kita, lalu diolah menjadi zat-zat gizi di dalam tubuh. Sebagian tentu saja tidak bergizi, maka zat-zat yang tidak menjadi gizi itu akan berubah menjadi urin atau feses, dan dikeluarkan dari badan kita dalam bentuk pipis atau pup.

Semua? Tidak semua.

Ada beberapa zat yang nggak bisa diolah jadi gizi, tapi juga tidak bisa diolah menjadi urin atau feses. Rokok adalah salah satunya. Juga benzena dari styrofoam ini. Zat-zat macam beginian akan nongkrong terus di dalam badan kita, sampai kapanpun nggak akan pernah keluar kecuali kita sudah tamat alias meninggal. Yang merepotkan, zat-zat beginian akan numpuk dan menyatu dengan sel-sel asli di badan kita, bahkan mengubahnya menjadi kanker.

Pada kasus penggunaan styrofoam untuk membungkus bubur ayam ini, suhu tinggi oleh bubur yang masih panas-panas akan menguraikan pigmen-pigmen dari styrofoam sehingga pigmen-pigmen itu akan masuk ke makanan. Minyak yang masih panas dari makanan menghasilkan kolesterol, dan kolesterol itu mudah larut dengan bahan styrene di dalam styrofoam. Kesimpulannya, kalau kita makan makanan yang dibungkus di dalam styrofoam, maka benzena dalam styrofoam itu ikut dimakan oleh kita. Dan tidak akan pernah keluar-keluar dari badan kita.

Bapak-bapak yang jualan bubur ayam itu tidak tahu tentang ini.

Gw akhirnya tetap sarapan bubur itu, tapi gw minta makan di tempat supaya gw makan pakai piringnya si bapak.

Sekarang gw berusaha ngapalin restoran-restoran mana aja yang masih pakai styrofoam buat bungkusin makanannya, supaya gw nggak usah pesan bawa pulang dari restoran itu. Sebisa mungkin, kita menghindari styrofoam buat bungkusin makanan-makanan kita. Membungkus bubur ayam dalam plastik sekali pakai mungkin masih lebih baik buat badan, meskipun ujung-ujungnya tumpukan plastik tetap merusak lingkungan juga. Barangkali gw lain kali bawa rantang aja sekalian kalau mau bawa pulang bubur ayam.

Ada ide?

Friday, April 9, 2010

Ayo Mancing!

Anda kepingin belajar sabar sekaligus tahu rasanya makan makanan hasil tangkapan sendiri? Gampang. Ikutan mancing yuk!

Dewasa ini, mancing nggak perlu jauh-jauh ke sungai, duduk di pinggir rumput sambil kepanasan dan gatel-gatel lantaran digigit semut merah. Di Jawa Barat banyak banget tersebar kolam pemancingan komersial di mana kita bisa mancing ikan di situ sesukanya. Kolam-kolamnya besar-besar, paling kecil ya mirip kolam renang ukuran olimpiade sampai yang ukuran segede-gede gaban seluas lapangan bola. Pengelola kolamnya udah naruh ikan-ikan di dalam situ, siap buat dipancing. Kita sebagai pengunjung tinggal dateng, duduk di gazebo pilihan yang tersebar di pinggir kolam, terus keluarin joran dan jaring. Lalu..mancing deh!

Caranya mancing sebenarnya gampang. Begini prosesnya:

1. Ambil pancingan, pasang kail dan umpan di ujung tali pancingan. Kail berfungsi buat naruh umpan, untuk diumpankan ke ikan. Umpannya bisa berupa pisang atau cacing. Tapi kalau model yang gw potret ini lebih suka pakai umpan berupa kroto.

2. Pasang pelampung di tali pancing. Pelampung hendaknya yang warnanya ngejreng, supaya keliatan di bawah sinar matahari. (Pelampung pada foto ini ditunjukkan pada anak panah.)

3. Siapkan jaring dan jala. Eh, jaring dan jala sama aja ya? Jaringnya digantung pada paku yang ada di pinggir kolam. Jala ditaruh dekat kita.

4. Sekarang kita mulai mancing. Perhatikan pelampung udah siap dan umpan ditunjukkan di anak panah. Putar tali pancing sampai minimal, pegang tongkat pancing, lalu angkat tongkatnya.

5. Posisi tangan pada 135 derajat dari daratan, lalu lempar tali pancing ke kolam sehingga tali akan merentang.

6. Perhatikan tali merentang panjang di atas kolam, sementara umpan yang tadi kita pasang sudah tenggelam di dalam kolam. Pelampung (yang ditunjukkan anak panah) yang mengapung di air kolam adalah indikator bahwa umpannya masih menggantung di dalam kolam. Jika ada ikan datang dan memakan umpan itu, maka pelampung akan tenggelam.

7. Sambil menunggu ikan datang memakan umpan, kita bisa duduk-duduk yang manis atau sambil menelepon. Tapi mata harus tetap mengawasi pelampung di tengah kolam.

8. Begitu pelampung tenggelam, tanda ikan memakan umpan kita, angkat tongkat pancing. Tali pancing akan menegang, pertanda ikan sedang memberontak karena berusaha memakan umpan kita. Putar tali pada tongkat pancing, maka ikan akan terangkat bersama tali pancing kita.

9. Ikan yang diperoleh bisa macam-macam, tergantung amal ibadah kita. :-p

10. Mata kail akan terperangkap dalam mulut ikan karena ikan tadi berusaha memakan umpan di mata kail. Lepaskan mata kail dengan tang.

11. Simpan ikan di dalam jaring di pinggir kolam. Jadi ikannya tetap bisa menikmati saat-saat terakhir hidupnya sembari bernafas karena dia masih berada di dalam air. Selanjutnya kita bisa memancing ikan lagi dan nanti menampungnya di dalam jarring itu. Kalau sudah selesai mancingnya, bawa ikannya ke caddy untuk ditimbang. (Ya, nggak Cuma lapangan golf yang punya caddy, tapi kolam pemancingan juga punya.)

Ada banyak macam ikan yang sering disediakan di kolam pancing. Pada kolam-kolam pemancingan yang sering gw kunjungin di sekitar Bandung, biasanya mereka punya ikan nila, ikan gurame, ikan mas, sampai ikan bawal. Mungkin lantaran cocok sama kondisi geografis tanah sekitar Bandung yang lumayan sejuk. Rata-rata ikan dibanderol Rp 20.000,00-Rp 25.000,00/kg.

Biasanya penggiat hobi mancing cuman seneng proses mancingnya doang. Mereka senang nangkep ikannya, tapi nggak niat makan ikannya. Jadi pengelola kolam memberlakukan kebijakan di mana konsumen cuman bayar untuk setiap ikan yang mereka pancing dan dibawa pulang. Kalau ikannya mau dimakan di tempat situ, ada biaya tambahan coz bayar juru masak. Kita bisa pesen ikannya dimasak sesuai selera, apakah itu dibakar atau digoreng aja.

Beberapa kesulitan buat mancing:
1. Kalau ngelempar tali pancingnya kurang jauh, biasanya umpan cuman berakhir di pinggiran kolam. Padahal, biasanya ikan paling seneng main di tengah-tengah kolam. Jadi kalau mau sukses, harus sering latihan ngelempar. Yeah, ini olahraga biseps juga sih.
2. Nungguin pelampung tenggelam. Mancing itu seperti pe-de-ka-te, kita kadang-kadang takut umpannya nggak laku dimakan ikan. :-p Gw punya tips: Kalau udah tujuh menit kita melempar tali pancing tapi pelampungnya ngga tenggelam juga, coba diangkat tongkat pancingnya, liatin umpannya masih ada atau nggak.
3. Umpan sudah dilempar, tapi pelampung ngga kunjung tenggelam. Ternyata, kita lengah dan ikan telah memakan umpan kita dengan cepat tanpa kita sadari.
4. Beberapa ikan ternyata punya gigi yang bisa melukai jari kita. Jadi gunakan tang untuk melepas kail dari mulut ikan yang sedang megap-megap meregang nyawa.
5. Kita nggak hobi mancing, tapi orang yang kita temenin mancing itu maniak mancing. Dan bagian resenya, kalau yang mancing itu udah duduk megang tongkat pancingnya, dos-q nggak mau berdiri sampai berjam-jam meskipun kita udah bosen nemeninnya.

Ayo mancing, biar tau enaknya makan ikan tangkapan sendiri.. 

Thursday, April 8, 2010

Kuno, Tapi Wajib Punya


Jika Anda adalah seorang pekerja kantoran, bos perusahaan, atau hanya sekedar mahasiswa, barang apa yang wajib Anda punya di rumah? HP? Kompie? Jawabannya masih kurang. Benda yang wajib Anda punya itu bernama mesin tik.

Lho, kan udah ada kompie, kenapa masih perlu mesin tik?

Jawabannya, coz masih ada beberapa orang yang maksa pakai mesin tik. Seperti yang terjadi pada gw akhir-akhir ini.

Minggu ini rada hectic coz gw lagi sibuk ngajuin aplikasi ke sebuah lembaga. Untuk keperluan aplikasi itu, mereka minta gw bikin surat ini dan surat itu. Termasuk gw mesti ngisi beberapa formulir yang udah mereka sediakan dan bikin essay segala. Sebenarnya bikin-bikin aplikasi gituan gampang-gampang aja kalau gw nggak diganjal syarat: Formulir dan essaynya mesti diisi dengan mesin tik atau ditulis tangan.

Batin gw, ya oloh, udah jaman paperless gini masih ada aja yang kepingin banyak-banyak kertas.

Tadinya gw mau pakai tulis tangan aja. Tulisan tangan gw kan rapi, aheuheu.. Gini-gini juga nilai gw di pelajaran menulis halus pas kelas 2 SD dulu dapet 8 lho (sok nepuk dada sendiri!). Tapi masalahnya, dengan tulisan tangan gw yang bagus itu, gw takut orang-orang yang mau menilai aplikasi gw itu jadi ragu dengan kredibilitas gw sebagai dokter. Tulisan tangannya dokter kan terkenal jelek-jelek! :-p

Jadi tidak ada jalan lain buat gw selain pakai mesin tik punya bokap gw.

Bokap punya mesin tik dua biji. Yang satu mesin tik udah tua, dulu suka dipakai bokap gw buat ngetik tugas kuliahnya. Beratnya, dooh..jangan ditanya. Tiap kali gw habis ngetik pakai mesin itu, ujung jari-jari gw rasanya kapalan. Tapi yang paling gw empet, model hurufnya nggak banget. Baru ngeliat hasil ketikannya satu paragraf di essay gw aja, gw langsung ngantuk. Gimana gw bisa bikin essay gw menarik di mata orang lain kalau gw sendiri ngantuk ngeliat essay gw sendiri?

Untungnya, mesin tik kedua bokap gw adalah mesin tik elektronik. Tutsnya nggak berat, coz lebih mirip keyboard di komputer. Lalu model hurufnya juga lebih menarik, bisa disetel italic juga lho.

Tapi ternyata, yang kata orang bahwa barang jaman sekarang kalah awet ketimbang barang jaman dulu, itu benar.

Mesin tik elektronik gw ternyata aneh. Dia suka pilih kasih, kalau gw ngetik suatu huruf, hurufnya nggak keluar di kertasnya. Akibatnya gw mesti ngetik huruf itu dua-tiga kali supaya hurufnya mau keluar. Tadinya sih kalau ngadatnya cuman satu-dua kali ya nggak masalah. Tapi kalau berkali-kali, kan nggak enak banget kalau lagi dipakai ngetik essay. Kayak foto di atas, ini hasil ketikan essay gw yang rusak gara-gara mesin tiknya sering ngilangin huruf. Nggak acih banget kan?

Makanya hampir seminggu ini gw pusing tujuh keliling. Gimana gw mau ngetik kalau mesin tiknya rusak? Masih mending kalau kompie yang rusak (eh, jangan ding!), kan di sekitar rumah gw banyak rental komputer. Tapi kalau mesin tik rusak? Emangnya ada rental mesin tik?

Gw protes ke bokap gw kenapa mesin tiknya rusak. Kan kita jarang banget pakai mesin tik itu. Atau jangan-jangan mesinnya ngambek lantaran hampir nggak pernah dipakai? Bokap gw cuman pakai mesin tik satu kali setahun, yaitu pas ngisi formulir pajak.

Apakah kita tidak lagi perlu mesin tik? Nampaknya masih ada aja saat-saat di mana kita mesti ngisi formulir pakai mesin tik. Yang lucu, apa gw mesti beli mesin tik baru yang mungkin aja cuman gw perlukan sekali setahun? Bukankah lebih efektif kalau kita buka penyewaan mesin tik? Kakak gw dulu pernah berusaha cari uang saku tambahan dengan ngetikin skripsi orang pakai mesin tik. Soalnya, banyak dosen di kampus sekitar rumahnya mewajibkan mahasiswa bikin tugas pakai mesin tik, dan mahasiswa-mahasiswa itu kalang kabut coz kebanyakan mereka cuman punya laptop, bukan mesin tik. Siapa bilang punya komputer itu bisa menyelesaikan segala masalah kita?

Mudah-mudahan, semakin lama, semakin nggak ada lagi lembaga-lembaga yang masih minta aplikasinya diketik pakai mesin tik. Mbok kalau ada formulir gitu diunggah aja di internet, biar yang memerlukan bisa ngisi langsung di internet. Hemat kertas buat dicetak, hemat tempat buat nyimpen arsip kertas, hemat pohon yang ditebang buat bikin kertas. Dan gw nggak perlu dipusingin oleh mesin tik yang tutsnya bikin jari-jari kapalan atau mesin tik yang sering ngilangin huruf.. :-p

Atau jangan-jangan, lembaganya sengaja nyuruh pemohonnya ngetik aplikasi pakai mesin tik, sekedar untuk menguji apakah pemohonnya itu cukup tangguh untuk melaksanakan tugas dengan modus yang cukup susah?

Saturday, April 3, 2010

Nestapa Korban Tilep Pajak

Pada musim hujan, Bandung menjadi kota yang menyiksa coz sama sekali nggak enak buat dipakai jalan-jalan. Hampir tiap ruas jalannya mengingatkan gw kepada muka orang yang habis kena cacar alias bolong-bolong. Bolongnya nggak kira-kira, diameter segede-gede gaban dan cukup dalem sampai bikin setiap pengendara mobil manapun jadi nggak waras. Beberapa minggu lalu sebuah skuter terperosok di tengah jalan gara-gara dos-q nekat mengangkangi sebuah lobang di situ. Lha, hujannya deras banget akhir-akhir ini, situasi banjir, mana tahu kalau di tengah jalan situ ada lobang. Apakah lantas kita mesti kesiyan sama para pengendara motor di Bandung? Hah, gw bilang, jangankan sama yang naik motor, kepada yang naik mobil aja gw merasa ikut berduka cita. Gw bilang, enaknya kita-kita yang tinggal di Bandung ini ganti aja semua mobil dengan kendaraan tinggi biar nggak gampang terperosok. Kalau gw lebay, gw pasti udah bilang bahwa ruas jalan-jalan di Bandung ngingetin gw kepada Jalan Trans Kalimantan yang melintasi Kalimantan Timur jalur utara. Rusak.

Jangan heran, ruas jalan yang rusak bukan cuman jalan-jalan pinggiran kota. Tapi nggak tanggung-tanggung kebopengan jalan sudah bisa dirasakan di jalan-jalan besar macam Jalan Djundjunan dan Jalan Setiabudi. Padahal dua jalan itu fatal; Jalan Djundjunan adalah pintu masuk Bandung dari arah barat, coz pintu Tol Pasteur ada di sana. Adapun Jalan Setiabudi adalah satu-satunya jalan protokol buat keluar dari Bandung menuju utara.

Gambar di atas gw ambil di Jalan Setiabudi dan perempatan Setrasari Mall. Dua-duanya sama-sama daerah mahal di Bandung, perekonomian maju pesat di sana, setiap hari ribuan kendaraan berseliweran dan nggak terhitung berapa orang pengendara yang memaki ketika ban kendaraan mereka terperosok menginjak lobang.

Ada apa ini? Apakah penduduk Bandung terlalu melarat sampai-sampai nggak bisa bayar biaya perbaikan jalan? Ide itu malah bikin gw tersinggung. Jelas-jelas bokap gw selalu rajin bayar pajak.

Kakak gw pernah nasehatin gw, sekitar beberapa tahun lalu, waktu gw masih baru lulus dan semangat-semangatnya nyari lowongan kerjaan. Katanya, jangan pernah mengusik-usik gajimu berapa. Kalau dapet ya terima, jangan nanya kenapa kamu cuman dapet segitu. Dia bilang, gaji kita itu sebenarnya jumlahnya X, tapi lantaran dipotong pajak ini pajak itu, akibatnya yang kita terima masuk ke dompet cuman sejumlah X – pajak. Jadi kalau nerima slip gaji itu bawaannya pasti sakit hati.

Sewaktu beberapa hari yang lalu gw nonton siaran langsung dari Bandara Soekarno Hatta – Tangerang (bukan Jakarta lhoo..) mengenai liputan kepulangan Gayus Tambunan, gw nggak bisa nahan rasa kesal. Gw pribadi nggak bisa habis pikir kenapa seorang tukang pajak bisa nekat-nekatnya nilep duit rakyat yang udah dikumpulin rame-rame buat bayar pajak (yang katanya buat kesejahteraan rakyat).

Bokap gw udah bayar pajak daerah, tapi jalan di Bandung masih bolong-bolong. Gaji kakak gw udah dipotong pajak penghasilan, tapi buat berobat aja masih harus bergantung kepada asuransi. Untung dia punya adek yang dokter jadi bisa minta konsultasi gratis via telepon (Mbak, ini nggak gratis ya. Jangan lupa nanti traktir makan! :-p) Jadi kesimpulannya, pajak yang selama ini kita bayarin itu dipake buat apa aja, heh?

Maksudnya bukan gw mau jelek-jelekin tukang pajak. Paman gw tukang pajak. Dan teman-teman blogger gw juga tukang pajak. Termasuk sepupu gw juga lagi jadi freshman di kantor pajak. Kita semua tahu persis bahwa teorinya pajak itu adalah untuk bayarin fasilitas buat rakyat. Tetapi kalau tuh pajak malah ditilep oleh tukang pajaknya sendiri, bukannya dipakai buat betulin aspalnya Jalan Setiabudi, Jalan Djundjunan, dan perempatan Setrasari Mall, bahkan malah pajaknya dipakai buat kasih makan para narapidana yang dipenjara gara-gara korupsi pajak, gw malah pikir duit itu muter-muter sia-sia seperti lingkaran setan.

Dan yang patut harus digarisbawahin, nggak semua tukang pajak demen korupsi. Beberapa orang tukang pajak sudah bersedia jadi pegawai negeri yang mulia, nggak ngiler lihat duit orang meskipun kerjaannya tiap hari ngitung sampai milyaran. Tapi kalau ada satu-dua orang aja tukang pajak yang korup, tentu itu akan merusak nama baik kolega-kolega lainnya sesama tukang pajak toh?

Syukurlah Gayus Tambunan udah pulang. Gw udah empet baca halaman Twitternya Gayus Tambunan. Mbok sekalian dos-q disuruh nyanyi aja, berbuat penilepan itu nyontoh ke siapa. Siapa lagi orang-orang di kantor pajak yang suka nilepin pajak, biar orang-orang itu dicopot aja dan nggak usah dipakai buat ngumpul-ngumpulin pajaknya rakyat. Dan ntie kalau udah ketahuan nama-namanya, tangkep aja dan masukin ke penjara. Dan tolong deh, ntie kalau udah di penjara, makannya bayar sendiri-sendiri, jangan dibiayain dari duit pajaknya rakyat!

Friday, April 2, 2010

Ya Ngepel, Ya Nyuci, Ya Motret

Syarat utama untuk menjadi asisten rumah tangga biasanya gampang aja. Cukup harus bisa ngepel, nyapu, nyuci baju. Tapi dewasa ini, tuntutan seorang asisten rumah tangga makin besar. Mereka harus bisa bayarin listrik ke kantor PLN, bawa anak asuhannya ke dokter, atau nyariin kodok buat Ospek anak majikannya.

Syahrince, (nama disamarkan dengan semena-mena) baru kerja beberapa bulan ke tante gw. Umurnya sekitar 20-an, anaknya rajin dan nggak banyak tingkah. Ketika keluarga besar kami kumpul-kumpul di rumah Grandma kami di Kreyongan dua minggu lalu, tante gw mbawa asisten pribadinya itu buat disuruh nyuci piring dan nyuci baju.

Selesai kumpul-kumpul dan sebelum pulang ke rumah masing-masing, gw ngajakin bokap gw dan kakak-kakaknya itu foto-foto bareng Grandpa dan Grandma gw. Kan lucu aja gitu, orang tua foto bareng anak-anaknya yang sudah besar-besar dan sudah pada sepuh juga. Maka sebagai cucu yang baik, gw pun jadi fotografer dadakan.

Terus, kita semua kepingin semua anggota keluarga yang ada di situ foto juga. Jadi nggak cuman orang tua dan anak, tapi juga berikut menantu plus cucu juga. Artinya gw juga ikutan. Saat itulah kita jadi bingung sendiri. Kalau semuanya berfoto, terus yang pegang kameranya siapa dong?

Saat itulah gw sadar kesalahan gw sebagai fotografer narsis: Gw lupa bawa tripod dari Bandung. Aih!

“Oke, panggil Syahrince aja!” seru tante gw, lalu teriak manggil gadis itu yang lagi nyuci piring. “Rin! Riin!”

Semua orang, ya tante, om, bonyok, dan para sesepuh, gw siapkan buat pose di tempatnya masing-masing. Syahrince muncul dari belakang tergopoh-gopoh menjawab daulat tante gw. “Ya, Bu?”

“Sini,” kata gw, lalu nyodorin kamera gw. “Tolong potretin ya? Pegang kameranya seperti ini, nanti jarinya pencet tombol yang ini..”

Syahrince langsung panik setengah mati disuruh megang barang itu. “Aduh, HP-nya gede banget tho, Mbak??” serunya sambil ngeliat layar display yang nyambung langsung ke lensa di mana nyokap dan tante gw sibuk benah-benahin rambut.

“Lhoo, ini bukan HP, ini namanya kamera,” kata gw. “Pegang yang erat. Jangan dijatuhin!”

“Ngg..aduuh, saya belum pernah megang HP sampek yang gede kayak gini..”

“Bukan, ini bukan HP!” kata gw. “Ini bukan buat nelepon, ini buat motret!”

“Owalah..saya baru liat tho, Mbak.. HP saya ya bisa buat motret, tapi nggak segede gini,” kata Syahrince kebingungan. “Duuh..piye iki??”

“Udah, nggak usah tegang! Pegang kameranya, terus pencet tombol gedenya! Kalau mau motret, bilang satu-dua-tiga! Ngerti?”

“I-iya, Mbak!” Syahrince menggigil ketakutan.

Gw lari ke kerumunan keluarga gw, terus ambil posisi wuenak. “Ya, itung sekarang!”

“Satu..dua..” Syahrince ngitung pelan. Lho, kok kakinya maju?

“Rin, kowe jangan sambil jalan!” seru bokap gw.

“Lhaa, piye iki tho, Pak? Gambar orangnya kok pada jauh semua??” seru Syahrince panik.

Gubrag! Ya iya dibikin jauh, kan maksudnya biar kaki-kaki kita semua pada keliatan gitu lho..

Paman gw nginterupsi, menghampiri Syahrince, terus ngajarin asisten itu lagi njepret kameranya sambil ngomong pakai bahasa Jawa. Si asisten iya-iya aja, dan akhirnya biar dia nggak panik, gw yang bagian ngitung satu-dua-tiga. Akhirnya, jepret!

Dan beginilah hasilnya foto keluarga made in Syahrince, seperti yang gw pajang di sini. Tebak gw yang mana, hahaha..

Jadi, begitulah konsekuensinya kalau seorang asisten rumah tangga harus bekerja pada keluarga yang doyan narsis. Ketika tak ada seorang pun dari keluarga itu yang ingat mbawa tripod tapi ngotot kepingin foto bareng, maka sang asisten rumah tangga pun harus dikaryakan. Enaknya ini jadi catatan buat para pemilik jasa penyaluran asisten rumah tangga, supaya para calon pekerja itu dilatih betul, tidak cuman latihan calistung dan latihan bersih-bersih rumah, tapi juga harus dilatih motret. Lho, ini mau ngajarin calon asisten rumah tangga atau ngajarin calon fotografer?

Oh, bedinde, bedinde, jasamu tiada tara..