Friday, March 5, 2010

Pemberdayaan Ibu-ibu Gaptek


"Maklumlah, kan saya ibu-ibu, jadinya gaptek."

Kalimat itu gw baca di komentar sebuah blog minggu lalu. Pelontarnya adalah seorang wanita berumur hampir 40-an dan beranak dua. Gw mbacanya langsung miris kepingin nangis. Duh, nih ibu bodo bener sih? Bukan, bukan bodo lantaran gapteknya. Tapi bodo coz nyambung-nyambungin dua kalimat yang korelasinya sama sekali nggak ada. Apa hubungannya menjadi ibu-ibu dengan menjadi gaptek, coba? Nggak ada itu, nggak ada, nggak ada!

Nah, lupakan. Kali ini gw mau cerita tentang persekutuan arisan ibu-ibu dari sebuah klub. Suatu hari ibu-ibu ini berdarmawisata keluar kota naik bis. Nah, dari sekian banyak ibu-ibu yang nungguin bis berangkat sembari ngegosip, tersebutlah Bu X yang nggak ikut ngegosip tapi malah cetek-cetek HP.

"Lagi sms anak, Bu X, dari tadi nggak selesai-selesai?" tanya Bu Anita, sebut aja namanya begitu.

"Saya nggak lagi sms-an, saya lagi baca beritanya Pansus," kata Bu X.

"Ha? Bisa gitu, Bu X, keliatan dari HP sekecil gitu?" tanya Bu Anita takjub.

"Ya bisa dong, kan tinggal dipencet ajah," jawab Bu X sambil nunjukin layar Opera Mini-nya yang lagi buka Detik.com.

"Walah! Hebat ya HP-nya Bu X! Kalo HP saya bisa kayak gitu juga, nggak? Saya juga pengen atuh!"

"Ya pasti bisa dong. Kan HP Ceu Anita lebih baru dari HP saya. Katanya baru ganti HP sebulan kemaren, kan?"

"Ya udah, ajarin saya dong, Bu X. Pencet apa dulu?" sahut Bu Anita sambil ngeluarin HP-nya dari tas.

"Yak, pertama-tama pencet Menu dulu."

"Menu." Bu Anita tekan tombol. "Terus?"

"Tekan Opera Mini."

"Hah? Apa itu Mini-Mini, Bu X?"

Bu X ngernyit. "Lha HP-nya Ceu Anita ada Opera Mini-nya, nggak?"

"Nggak tau atuh.."

Bu X ngambil HP Bu Anita, truz bongkar-bongkar daftar aplikasi segala macam. "Walah, ini HP-nya mah mesti dipasangin Opera Mini dulu atuh, Ceu Anita.."

"Hah? Jadinya beli HP-nya mesti yang tipe apa dong?"

"Aduh, nggak usah tipe-tipean. Saya mah pergi ke tukang HP pinggir jalan, terus minta dipasangin Opera Mini. Saya bayarin aja 10.000 perak. Jadi deh, cuman 10 menit."

"Hah, murah bener? Masa' cuman segitu aja udah bisa baca berita kayak Bu X?"

Tiba-tiba, seorang ibu lain yang dari tadi udah nguping, ikutan nimbrung. "Kalo HP aku bisa nggak, Mbak X, dipake internet?"

Bu X noleh. "Ya bisa dong, Debbie, kan HP-nya Debbie merknya blekberi?"

"Iya, tapi gimana caranya?" tanya Bu Debbie.

"Sok atuh, sini saya liatin. Kalo blekberi punya ponakan saya mah, baru beli udah langsung ada Opera Mini-nya," kata Bu X sambil nerima smartphone-nya Bu Debbie. "Eh, nyalain dulu biar on dong, Bie."

Bu Debbie bingung. "Eh, gimana caranya nge-on-innya?"

"Hah, masak Debbie punya blekberi tapi nggak tau nge-on-innya?"

"Nggak tau," jawab Bu Debbie polos.

"Hah? Jadi bawa blekberi ke mana-mana di tas tapi nggak pernah on??"

"Ya ini kan saya cuman disuruh papanya anak-anak bawa blekberi ini. Tapi saya kalo nelpon anak-anak ya pake HP yang ini," jawab Bu Debbie ngeluarin HP yang lain dari tasnya. "Tapi kalo HP saya yang ini bisa dipake internetan kayak punya Bu X nggak, ya?"

"Ah, saya mau beli HP kayak punya Bu X ajah!" kata Bu Anita nggak mau repot.

"Halah, Ceu Anita! HP saya ini jadul banget. Masih bagusan HP Ceu Anita ketimbang HP saya!"

"Ah, biarin! Pokoknya saya mau beli yang sama. Merknya apa, Bu X?"

Bu X ngernyit. "Ini? Nokia."

"Sok lah, besok-besok saya mau beli juga!"

Sepulangnya ke rumah, Bu Anita bilang sama anaknya kalau mau beli HP kayak punya Bu X. Nanti ajarin ya, Teh, biar Mama bisa baca berita di HP kayak Bu X.

Anaknya itu, sebut aja namanya Michelle, bingung. "HP yang kayak gimana, Mah? Kan HP buat internetan kan banyak?"

"Pokoknya kayak yang punya Bu X," jawab mamanya bersikukuh.

Michelle, meskipun bingung, tapi berusaha jadi anak berbakti. Untunglah dia berteman baik dengan anaknya Bu X di fesbuk. Akhirnya dia kirim pesan ke fesbuknya anaknya Bu X itu.

Dan kemaren, gw dapet pesan ini di inbox fesbuk gw.
"Vic, pa kabar? Mau tanya.. Kalo handphone mamamu apa? Soalnya mamamu ngajak mamaku ganti hp seperti mamamu. Gwa bingung yg kayak gimana :p hehehe Thanx yah.."

Gw ketawa ngakak berderai-derai.

***

Jadi, menurut gw, ada satu lagi agenda yang sebaiknya kita lakukan dalam urusan pemberdayaan perempuan. Selain memperjuangkan kesempatan perempuan buat sekolah tinggi dan membebaskan perempuan dari ancaman kekerasan psikologis dalam rumah tangga, juga mestinya kita ngajarin ibu-ibu supaya nggak gaptek. Bagaimana ini, Sodara-sodara? *wink wink*

Thursday, March 4, 2010

Hak untuk Bolos


Judulnya aja udah mengajak ke maksiat, hahaha..!

Akhir-akhir ini gw sulit ngeblog coz udah seminggu gw kena flu. Kepala susah diajak mikir, coz flu ini bikin gw be-te berat. Jadinya susah nulis yang enak-enak. Dan ini alamat flunya bakalan lama, coz gw nggak pernah istirahat.

Gw dididik keras di keluarga yang melarang bermalas-malasan, dan flu bukan alasan yang sahih buat off dari rutinitas sehari. Jaman gw masih kecil dulu, bokap gw suka mikir gw pilek bakalan sembuh sendiri coz gw, Little Laurent, adalah anak yang sangat kuat dan susah dikontrol. Baru dibeliin obat flu kalau nyokap gw udah mencak-mencak lihat gw nyedot-nyedot ingus nggak karuan. Dan nggak ada ceritanya gw ijin nggak masuk sekolah cuman gara-gara flu. Padahal kalau dipikir-pikir, kan gw bisa nularin banyak temen ya? Hehehe..

Pas gw udah gede dan belajar tentang kedokteran pencegahan penyakit menular, gw baru ngeh bahwa obat flu yang terbaik adalah tidur. Memang benar flu itu bisa sembuh sendiri, asalkan kekebalan tubuh dalam stabil kembali. Nah, kekebalan tubuh itu cuma bisa stabil jika tubuh itu istirahat cukup. Artinya, kalau mau flunya minggat, ya harus tidur!

Maka, suatu hari pas gw lagi praktek, datanglah seorang remaja tanggung sambil membersit-bersit idung dan cengengesan. Dia ditemani nyokapnya.

"Ada apa, Dek?" tanya gw lembut pada bocah berseragam putih abu-abu itu. Sebut aja namanya Louis.

"Ini, Dok. Anak saya batuk dan pilek dari kemaren," nyokapnya memberondong.

Gw melirik nyokapnya sekilas. Yang saya panggil "Dek" itu bukan sampeyan, Ma'am, tapi anaknya.

Gw tanya lagi ke Louis, "Batuknya ada dahaknya?"

Kali ini nyokapnya nggak nginterupsi. Ya iyalah, yang punya dahak kan anaknya, bukan nyokapnya.

"Ada, Dok," jawab Louis serak. Waah. Suaranya seksi!

Gw tanya-tanyain bocah itu sebentar, lalu gw periksa badannya. Si bocah menyeringai badung. Umurnya 17.

Selesai. Lalu gw membacakan prosedur rutin gw. Ini sakit batuk. Diam di rumah ya, jangan ke mana-mana. Nanti dikasih resep obat, diminumnya tiga kali sehari. Stop merokok.

"Nanti saya kasih surat buat ndak masuk sekolah," tangan gw bergerak otomatis ke tumpukan surat sakit di meja.

"Haa?? Jangan, Dok! Jangan!" seru nyokapnya.

Gw terhenyak. Lho? "Kenapa, Bu?"

"Ngg..nanti dia malah bolos!" kata nyokapnya.
Di sebelahnya, Louis menyeringai nakal kekanak-kanakan.

Lha? Memang tujuan gw itu kan?
"Flu ini cuma sembuh dengan istirahat total, makanya kalau bisa jangan masuk sekolah dulu," jawab gw dengan tampang medis.

"Pasalnya, Dok, dia kalau di rumah ini nggak pernah istirahat, tapi maunya main PS!" seru nyokapnya, terdengar lebih kesal kepada anaknya yang nakal ketimbang dokternya yang medicine-procedural.

Gw tersenyum ngerti. Tapi di mana maknanya gw udah capek-capek sekolah untuk pelayanan dengan kualitas terbaik?

"Maaf, Bu, tapi flu ini nular. Dia bisa potensial menularkan ke teman-teman di sekolahnya. Lagipula dia memang harus istirahat. Sudah kelas tiga kan, Louis? Kan bentar lagi ujian."

Si ibu terdiam. Gw merasa telah memenangkan pertempuran pro-kontra surat sakit dengan susah-payah.

"Iya deh, tapi jangan lama-lama ya, Dok. Nanti anak saya nggak belajar, malah main di rumah," kata si nyokap. Tiba-tiba dia nyubit lengannya Louis. "Duh, kamu teh mani bangor!"
(Itu bahasa Sunda buat mengeluh kenapa anaknya nakal banget.)

Baiklah, gw nggak kepingin harga diri Louis jatuh di depan dokter yang cantik. "Nanti Ibu selesaikan administrasinya di kasir aja. Resep dan surat sakitnya diambil di sana."

Maka pergilah ibu-beranak itu dari ruangan gw. Gw beresin tindak lanjut buat Louis, gw taruh ke perawat di kasir, lalu gw balik ke ruang praktek dan siap-siap buat pasien berikutnya.

Eeh..nggak ada semenit tahu-tahu nyokapnya Louis balik lagi. "Dokteer! Kenapa anak saya dikasih surat sakitnya untuk dua hari?"

Gw tersenyum. "Oh ya, mudah-mudahan dua hari di rumah, flunya sembuh, Ibu.."

"Bukan, Dook! Suratnya satu hari aja! Kalau kelamaan, nanti dia malah main PS di rumah!"

Ya ampun.

***

Begitulah. Ternyata banyak orang yang masih menganggap flu sepele dan nggak butuh istirahat. Padahal kalau dibiarkan, flu bisa ganggu produktivitas kerja dan belajar sehari-hari.

Sebenarnya, flu sekarang bisa dicegah dengan vaksin flu. Tapi vaksin ini belum membudaya di Indonesia coz belum jadi program wajib pemerintah, mungkin lantaran belum banyak angka kematian karena flu. Tapi yang jadi masalah bukanlah berapa banyak yang mati karena flu, tapi seberapa banyak pengurangan kualitas kerja karena pegawai dan murid kena flu.

Guru mestinya melarang murid yang sakit flu untuk masuk sekolah. Murid yang flu harus tidur di rumah.

Sebut gw nyeleneh, tapi menurut gw, orang yang sakit flu memang berhak buat bolos.

Tuesday, March 2, 2010

Ujian Loyalitas

Cerita ini sebenarnya ngendap di kepala gw semenjak tahun lalu, gw nggak pernah ngungkapinnya ke siapapun coz gw merasa cerita ini terlalu norak buat dikisahkan. Tapi hari ini gw berpikir bahwa untuk setiap apes yang diterima seseorang, pasti ada hikmahnya yang bisa dipetik banyak orang, jadi gw rasa sebaiknya cerita ini gw publikasikan. Untuk alasan etika, semua nama yang disebut di sini adalah nama samaran.

Di sebuah kota kecil di Kalimantan, sebut aja kota itu namanya Handap Hapakat, hidup seorang pegawai bernama Pak Benicio. Umurnya sekitar 50-an.

Pak Benicio punya istri dan anak yang tinggal di sebuah kota bernama sebut aja Tingang Menteng, letaknya sekitar 180 km dari Handap Hapakat. Karena harus bekerja di Handap Hapakat, Pak Benicio meninggalkan anak-istrinya di Tingang Menteng dan hanya menemui mereka di akhir pekan.

Istri Pak Benicio sekitar 50 tahunan juga, namanya Bu Kajol.

Suatu hari Bu Kajol mendapat telepon dari seorang laki-laki bernama Hugo. Hugo adalah seorang laki-laki berumur 30-an, pengusaha toko elektronik yang cukup punya nama di kota sekecil Handap Hapakat.

"Halo, ini Bu Benicio ya? Saya Hugo. Bu Benicio apa kabar?"

Bu Kajol alias Bu Benicio, yang pada dasarnya ramah, menjawab basa-basi. Kabar baik. Ada perlu apa?

Selanjutnya adalah basa-basi yang basi banget. Bu Benicio lagi apa? Pak Benicio nggak ada di Tingang Menteng? Kapan Pak Benicio pulang?

Jawab Bu Kajol, "Pak Benicio ada di Handap Hapakat. Hugo ke rumahnya Bapak aja sendiri, kan deket itu dari rumah Hugo."

Lalu Hugo memutar pembicaraan. Bu Benecio anaknya berapa? Kok nampaknya masih muda ya? Rahasianya apa kok cantik terus? Bu, boleh nggak saya main ke rumah Ibu kapan-kapan?

Bu Kajol ketawa garing. "Oh iya, silakan. Sama Jeng Emily aja, lama saya nggak ketemu.."

Pak Benicio dan Bu Kajol menghadiri pernikahan Hugo dan Emily beberapa tahun lalu, karena orang tua Emily adalah pejabat lokal di Handap Hapakat.

Begitulah. Tadinya Bu Kajol menyangka itu hanya telepon biasa dari seorang warga tetangga suaminya. Tapi ternyata Hugo bukan laki-laki biasa.

Hugo mulai sering menelepon Bu Kajol. Kadang oleh Bu Kajol diangkat, kadang nggak. (Bu Kajol adalah ibu rumah tangga yang sibuk berat, saking sibuknya suka nggak denger bunyi telepon.) Dan tiap kali Hugo nelfon, isinya basa-basi nggak penting pula. Muja-muji Bu Kajol masih sintal, memohon main ke rumah Bu Kajol, dan lain-lain.

Lama-lama firasat Bu Kajol nggak enak. Pikirnya, kalau memang pasangan muda itu kepingin bersilaturahmi sama keluarga Benicio, kok nggak Jeng Emily aja yang melobi Bu Kajol, biar Pak Benicio dilobi oleh Hugo. Atau minimal ya ibu mertuanya Hugo yang nelfon Bu Kajol, coz usia mereka lebih nyambung.

Suatu hari, Bu Kajol lagi banking di Tingang Menteng, pas Hugo nelfon ke HP-nya lagi.
"Halo, Bu Benicio? Saya ada di Tingang Menteng nih, mau main ke rumah Bu Benicio!"

"Sama siapa, Hugo?" tanya Bu Kajol heran. Biasanya kan orang Handap Hapakat pergi ke Tingang Menteng kalau ada bisnis dan mereka bawa companion, entah staf atau istri.

"Sendiri," jawab Hugo riang.

"O," Bu Kajol ngernyit. "Tapi Pak Benicio nggak ada, kan hari ini Pak Benicio ada di Handap Hapakat."

"Bu Benicio, saya cuma mau ketemu Bu Benicio aja. Bu Benicio ada di rumah? Ini saya di depan rumah Bu Benicio!"

"Hwalah, saya lagi di bank, nanti dulu ya!" Bu Kajol menutup telepon.

Setengah gusar, sembari ngantre di bank itu, Bu Kajol nelfon suaminya. Tanyanya, "Pa, itu Hugo yang mertuanya di Jalan Pualam itu ngapain sih ngeyel main ke rumah buat ketemu Mama padahal Papa lagi ada di Handap Hapakat?"

Pak Benicio mengerutkan kening. Lalu katanya, "Sebentar. Ta' kros-cek dulu."

Kemudian Pak Benicio men-dial rumah mertua Hugo. Puji Tuhan, yang ngangkat telfonnya ternyata ibu negaranya sendiri.
Sapa Pak Benicio riang, "Halo, Bu Meyers, apa kabar? Saya Pak Benicio. Ini, saya mau tanya, ada perlu apa ya kok Hugo sekarang ada di Tingang Menteng nyari istri saya?"

Tentu saja si ibu mertua terheran-heran. "Lha, sedang apa dia di sana? Kusangka dia di toko lah. Emily tak bilang padaku mau ke luar kota hari ini."

Pak Benicio ketawa. "Dunno. Dia di Tingang Menteng sekarang. Saya sangka Emily ikut. Lha bilangnya mau ketemu istri saya?"

Telepon putus. Bu Meyers ribut sendiri di rumahnya yang megah khas pejabat itu.

Pokoknya, beberapa saat kemudian, Hugo nelfon Bu Kajol lagi. "Bu Benicio, maaf ya. Saya nggak jadi ketemu Bu Benicio. Barusan saya ditelepon Mama disuruh balik ke Handap Hapakat sekarang juga.." nadanya terdengar panik.

Bu Kajol tahu persis bagaimana perempuan Dayak kalau marah.

Semenjak itu, Bu Kajol tidak pernah ditelfon-telfon pria muda ingusan lagi.

***

Peristiwa ini terjadi bertahun-tahun lalu, tapi Bu Kajol baru nyeritainnya ke gw tahun lalu, waktu gw merasa perlu belajar tentang rumah tangga.

Nggak pernah ketahuan jelas, kenapa pria muda yang sudah punya istri, mau nguber-nguber wanita separuh baya yang udah punya suami. Tapi Pak Benicio akhirnya melakukan penyelidikan sana-sini di kota kecil itu, dan akhirnya nemu fakta yang amat nggak enak.

Hugo sengaja diperalat buat menggoda Bu Kajol. Diharapkan nanti rumah tangga Bu Kajol dan Pak Benicio buyar, dan ujung-ujungnya Pak Benicio akan hancur karena kehilangan penopang. Jadi sasaran utamanya sebenarnya adalah Pak Benicio.

Memang di Handap Hapakat itu, banyak yang ngiri sama Pak Benicio. Coz Pak Benicio itu tajir dan punya istri yang ayu.

Teror itu ada yang keras, ada yang halus. Teror yang halus lebih berbahaya ketimbang yang keras, coz kadang-kadang wujudnya nggak tampak. Kita menyadari teror yang halus itu hadir, hanya dengan naluri kita. Dan Bu Kajol, sudah menggunakan nalurinya ketika sadar ada yang ingin merusak pernikahannya.

Tanya gw kepadanya dengan polos, "Tante, kenapa Om Benecio percaya pada Tante selama bertahun-tahun padahal tinggal pisah kota?"

Bu Kajol ketawa. Lalu jawabnya, "Lha Om itu sedikit-sedikit pasti nelfon Tante, dan sembarang-sembarang Tante selalu Tante ceritain ke Om. Gimana Om nggak percaya sama Tante?"

Gw terdiam dan menyeruput teh gw. Hari itu, gw belajar bahwa modal utama dari sebuah kepercayaan adalah komunikasi yang intensif. Dan kepercayaan itu, yang bikin setiap pasangan bisa menghadapi teror apapun.

Foto gw itu, my hunk yang motret. :)

Sunday, February 28, 2010

Ditikung Kolega Sendiri

Setiap orang mungkin pernah kemalingan pacar. Tapi tidak banyak yang mendapati malingnya mau ngajak salaman setelah memalingi pacarnya.

Semalam, dalam keadaan flu berat dan insomnia, gw nontonin bokap gw dan adek gw nonton Chelsea vs Manchester City di tivi. Bokap gw ngakak waktu John Terry ngajak Wayne Bridge salaman, dan ternyata Bridge nggak nyalamin balik, malah langsung melengos seolah-olah Terry nggak ada.

Gw mencoba mengira-ngira alasan kenapa Bridge nggak mau salaman sama Terry:

1. Mungkin tangannya Terry nggak ada duitnya, sedangkan Bridge nggak mau salaman kalau bukan salam tempel.
2. Mungkin Bridge habis dari toilet, terus belum sempat cuci tangan, jadi sungkan kalau mau salaman.

*Gw bukan pemerhati sepakbola dari sisi olahraganya, gw lebih tertarik pada sisi infotainment-nya.*

Gw harus googling dulu untuk memastikan bahwa hipotesa-hipotesa sesat gw di atas itu benar. Ternyata, gw salah besar.

Jadi rangkuman opera sabunnya begini:
John Terry adalah kaptennya Chelsea, nyambi juga jadi kaptennya tim nasional Inggris. Wayne Bridge adalah karyawannya City.

Terry sudah menikah dengan seorang mbak-mbak bernama Toni, dan disinyalir Bridge turut menghadiri syukuran pernikahan itu dan memberikan doa restu bersama pacarnya yang bernama Vanessa Perrocel.

Dari hasil pernikahannya, Terry dapet anak kembar. Sementara dari hasil kumpul kebonya, Bridge punya satu anak laki-laki.

Masalah datang ketika kedapatan bahwa Terry ternyata selingkuh sama Jeng Vanessa. Bridge ngamuk.

Bridge nggak mau masuk timnas Inggris buat Piala Dunia di Cape Town nanti coz nggak sanggup pura-pura kompakan sama Terry yang jadi kaptennya.

Semua orang juga tahu bahwa kapten adalah pemimpin, dan yang lain-lainnya adalah anak buah. Gimana perasaan kita kalau pemimpin kita adalah orang yang malingin pacar kita sendiri?

Tadi pagi gw mbaca di koran bahwa menjadi korban perselingkuhan adalah stres yang sangat besar. Korban sibuk bertanya-tanya: Kenapa kekasih selingkuh? Kenapa selingkuhnya harus sama teman gw sendiri? Kenapa teman gw malingin kekasih gw? Bagaimana sekarang gw mesti menghadapi orang yang malingin kekasih gw?

Siyalnya, nggak setiap orang punya sistem pertahanan diri yang kuat untuk digoncang tsunami macam begitu. Ada beberapa mekanisme sikap yang bisa diambil Bridge untuk menghadapi maling pacarnya:

1. Terima. Memisahkan sosok Terry antara kolega sepakbola dan maling. Kita salaman di lapangan, tapi nanti pas bulan Desember nggak usah kirim kartu Natal.

2. Lawan.
Habisin itu si Terry. Kempesin ban sepedanya. Kirimin klepon yang udah basi. Umpetin bajunya waktu mandi di Sungai Thames. Upload fotonya Terry di Facebook waktu lagi ngelem aibon. Pas di lapangan, hajar idungnya si Terry.

3. Lupakan.
Cari pacar baru dan cari teman baru. Prinsipnya orang Jawa, gak ono koen gak patek'en. Biarpun nggak ada kamu, gw nggak bakalan kena kusta kok.

4. Menghindar.
Sebisa mungkin, jangan ketemu Terry di mana pun. Jangan di timnas, jangan di Liga Inggris. Jangan salaman. Prinsip ini seperti lagunya Boyz II Men yang dulu kolaborasi sama Uncle Sam, "I don't ever wanna see you again. Tell me, why did it have to be my best friend?"

Dengan berpegang pada ringkasan opera sabun di atas, gw nyimpulin bahwa Bridge nggak bisa ngambil mekanisme pertahanan diri nomer 1, 2, atau 3. Alasannya:

1. Tidak bisa menerima. Bridge nggak mau munafik, pura-pura temenan di lapangan tapi benci di luar. Itu namanya kebohongan publik, apalagi Bridge dan Terry sama-sama jagoannya rakyat Inggris. Sebaik-baiknya idola adalah idola yang nggak bo'ong.

2. Tidak bisa melawan. Soalnya kalau ketahuan FA, nanti Bridge bisa diskors. Lagipula implementasinya susah, mengingat Terry jarang makan klepon dan nggak pernah mandi di Sungai Thames.

3. Melupakan lebih gampang. Masalahnya, Terry itu nikung dengan pacarnya yang udah kasih dia anak. Kebayang kalau mau lihat si bayi, terus ingat emaknya yang nikung, hih..pengen ngelemparin tombak deh!

Dengan demikian, paling gampang ya bereaksi seperti nomer 4, menghindar. Praktis, nggak kuatir kena skors, nggak melibatkan tombak, nggak usah bohong, dan nggak perlu repot beli klepon.

Bagaimana kalau Anda yang jadi Wayne Bridge? Gimana kalau Anda diajak salaman oleh kolega yang udah nikung sama pacar Anda sendiri? Terima, atau kemplang?

Saturday, February 27, 2010

Dicari, Belly-phone


Anda hamil? Carilah belly-phone. Anda belum hamil? Cari juga belly-phone. Apa sebab? Soalnya janinnya akan lebih pinter kalau didengerin musik pakai belly-phone.

Kalau kita biasa dengerin musik via earphone, alias plug atau empuk-empukan yang disumpal ke kuping, maka kali ini gw akan memperkenalkan belly-phone, yaitu empuk-empukan yang ditempelin di perut. Bisa dipakai untuk ibu hamil yang mau memperdengarkan musik kepada bayinya.

Ini hasil oleh-oleh gw setelah dengar kuliah Dr dr Hermanto Tri Joewono, SpOG(K) di Surabaya, Jumat minggu lalu. (Maaf, baru gw reportase sekarang, coz kemaren-kemaren sibuk ngoceh perkara perjalanan kereta, hehehe)

Kenapa harus diperdengarkan musik?
Jadi gini, untuk menjadi manusia yang pintar, bayi perlu diberikan rangsangan-rangsangan berupa rangsangan sentuh, lihat, dan dengar. Dan rangsangan ini bukan cuman diberikan semenjak lahir, tapi akan lebih baik kalau diberikan semenjak masih dalam kandungan alias masih janin. Karena saraf-saraf otak janin sudah tumbuh semenjak masih dalam rahim ibunya. Jadi makin sering dirangsang, maka janin akan semakin pintar.

Rangsangan yang paling sederhana yang bisa diberikan adalah berupa rangsangan suara. Dan kali ini yang gw tulis dari hasil dengerin kuliah ini adalah pengaruh mendengarkan Mozart buat janin dalam kandungan.

Kenapa Mozart? Hehehe..banyak penelitian yang bilang bahwa musiknya Mozart ternyata bagus banget buat merangsang sel-sel otak bayi. Jika komposisi karya Mozart dimainkan pakai biola, gelombang musik yang dihasilkan ternyata sejalan dengan gelombang di dalam otak janin.

Kapan waktu yang tepat buat mendengarkan belly-phone ini? Harap diinget bahwa tidak semua waktu kehamilan pas buat diperdengarkan musik. Sebaiknya janin diperdengarkan musik mulai kehamilan usia 20 minggu. Soalnya, telinga janin baru bisa berfungsi baik setelah kehamilan usia 20 minggu, hehehe..

Paling baik dimainkan Mozart-nya pas malem-malem. Karena resonansi suara yang paling bagus diterima janin ya pas malem, selain itu juga karena malem memang saat yang paling tenang.

Gimana kalo emaknya nggak doyan dengerin Mozart, tapi senengnya dengerin Mbah Surip? Ya nggak masalah, coz yang memang butuh dengerin Mozart ya janinnya, bukan emaknya. Jadi plug yang nyambung ke pemutar musik ditempelin di perut emaknya, bukan disumbatin ke telinga emaknya. Maka yang ngedengerin Mozart adalah janinnya, sementara emaknya boleh suka-suka dengerin yang lain, yihaa.. Berapa lama? Butuh waktunya 60 menit. Oh ya, dengerin musiknya sesuai urutan lagu lho, jangan diloncat-loncat. :p

Masalah kecil muncul: Di mana beli belly-phone? Hahaa..gw juga nggak tahu. Well, kalau gw sih pakai cara primitif aja: Ear plug yang biasa gw sumbatin di kuping, tempel aja di perut pakai selotip. :p Alah, gw belum hamil ini, nanti aja deh mikirnya, mudah-mudahan pas gw hamil nanti, udah ada alat belly-phone di toko..

Kenapa kabel musiknya kudu ditempelin di perut, bukan didengerin aja pakai loudspeaker? Well, kalau didengerin pakai loudspeaker, akan timbul atenuasi pada suara yang dihasilkan, jadi gelombang suara tidak akan sampai kedengeran oleh janin dengan kualitas yang kita mau.

Sayangnya gw sendiri bukan penggemar Mozart, jadi gw nggak ngeh lagu mana aja yang jadi karyanya Mozart. (Gw taunya cuman Bryan Adams, hahaha..) Tapi yang harus digarisbawahi di sini, sebaiknya lagu yang diperdengarkan adalah lagu dalam nada mayor, bukan yang minor. Ya iyalah, kalau janinnya denger lagu minor nanti jadi pribadi yang tukang sedih dong.. :)

Oke, Ladies, sudah siap nyari belly-phone?

Friday, February 26, 2010

Toilet Tidak Jujur

Akhirnya gw mutusin buat pipis juga. (Ck ck ck..gw terheran-heran bagaimana dari yang namanya kebelet pipis bisa jadi ide buat tulisan sampai dua biji! Kenapa ide menulis selalu datang tiap kali lagi kebelet?)

Lalu gw lihat tulisan ini dan tercengang.


Baiklah, mereka salah menerjemahkan. “Pergunakanlah saat kereta berjalan”, seharusnya hasil terjemahannya adalah “Please use when the train is going.”

Karena, “Please use only the train is running” artinya hanya dipakai kalau keretanya lari.


Gw bayangin, kalau penumpangnya kaum kulit putih alias bangsa Kaukasus, mereka harus nunggu keretanya lari dulu, baru mereka bisa pipis. Tapi bangsa Indonesia nggak bisa disalahkan kalau pakai toiletnya waktu kereta lagi jalan pelan di stasiun, misalnya waktu mau nyambung gerbong. Bukankah tulisannya “pergunakanlah saat kereta berjalan”?


Lalu gw masuk ke kamar toilet itu, dan nyari-nyari lobang toiletnya. Wijna, minggu lalu bilang di blog ini bahwa hasil buang hajat di toilet kereta itu langsung jatuh ke rel, bukan “ditabung” dulu di container atau entah apa. Ternyata dia benar. Lobang toilet yang lagi gw potret ini, jelas-jelas jatuhnya ke tanah.


Pantesan bangsa ini susah banget dibikin jujur kalau berbuat salah. Orang-orang kita senang lempar batu sembunyi tangan, kalau bikin salah suka nggak mau ngaku. Dan toilet ini sudah mencerminkan itu. Orang tinggal lempar produk hajatannya di atas rel, lalu meninggalkannya lari bersama kereta. Lempar tokai, sembunyi bokong.

Ini masih mendingan kalau keretanya lewat di kawasan persawahan. Hasil tokai atau pipis bisa dijadiin zat hara yang bikin subur tanah. Tapi gimana kalau keretanya lewat di kawasan perkotaan? Apalagi kalau relnya melintas di tengah jalan raya. Gimana perasaan kita kalau mobil kita mesti ngantre di depan pintu lintasan kereta api, nungguin keretanya lewat, lalu ternyata di dalam kereta itu ada orang lagi boker, dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta? ^^

Atau mungkin harus dibikin pengumuman dulu, “Perhatian, perhatian! Sebentar lagi kita akan memasuki jalan raya di kota. Penumpang jangan boker dulu..!”

Gini nih akibatnya kalau pembangunan transportasi kita nggak banyak melibatkan faham religius. Katanya ajaran agama gw, mbok ya habis buang hajat itu dibersihkan supaya produk hajat itu tidak merugikan orang lain. Ya termasuk hasil buang hajat di toilet itu dibuang di container yang benar, jangan sampai dibuang di rel. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Pertanyaannya sekarang, apakah negara kita punya cukup anggaran buat membangun container toilet, supaya penumpang kereta tidak buang hajat sembarangan?

Thursday, February 25, 2010

Mengejar Pesona, Taruhan Nyawa


Pagi itu, gw mutusin buat mengalah kepada kandung kemih gw yang udah gw empet semalaman lantaran gw nggak mau pipis di toiletnya kereta. Sadar bahwa gw nggak mau menginvestasikan hidup gw dengan percuma hanya untuk sakit batu saluran kemih, akhirnya gw ambil tas gw dan gw berjalan terhuyung-huyung ke toilet di belakang gerbong. Itu hampir jam enam dan gw mengasumsi kereta lagi jalan antara Tasikmalaya dan Bandung.

Gang belakang gerbong adalah tempat yang strategis untuk melakukan apa aja. Pada perjalanan dengan kereta yang lalu, gw lihat gang itu adalah tempat paling strategis buat dipakai klepas-klepus untuk penumpang kereta eksekutif yang dilarang ngebul di dalam gerbong. Tapi pagi itu, gw lihat laki-laki ini berdiri di pinggir pintu sambil keasyikan motret sawah-sawah. Pintunya terbuka lebar-lebar.

Gw nggak tahu apakah kondektur tahu bahwa ada pintu kereta yang nggak dikunci. Jika kereta ini berhenti di manaa gitu, siapapun bisa masuk: pedagang kacang tanah, penumpang liar, atau bahkan kambing. Tapi gw kuatir kalau ada orang celaka lantaran jatuh dari pintu kereta itu, dia bisa aja jatuh di tengah-tengah sengkedan sawah dan saat dia bisa berteriak minta tolong, kereta sudah lari sejauh dua kilo.

Namun yang gw lihat di gang ini, laki-laki ini nampak sama sekali tidak takut jatuh.

Beberapa bulan terakhir ini gw melakukan riset kecil-kecilan terhadap hobi fotografi. Gw iseng meniru para pelakunya, berpikir seperti mereka, macam begitulah. Gw melihat bagaimana hobi ini bisa bikin orang kecanduan pada pelakunya; mereka bela-belain jungkir balik demi mendapatkan foto yang bagus, kadang-kadang sampai taruhannya adalah keselamatan diri mereka sendiri. Dan di gang ini, gw melihat contohnya yang nyata.

Apa yang kau cari dari gambar sawah-sawah itu, Bung? Apa kau memang terobsesi dengan pemandangan itu, atau kau hanya menikmati sensasinya memotret dari pintu kereta yang terbuka lebar-lebar? Kalau kau jatuh, apa yang mau kau potret?

Gw harus bilang fotografi itu hobi yang seksi. Pelakunya bisa membingkai sebuah kejadian biasa menjadi hal yang sama sekali nggak biasa. Itu perlu naluri yang tajam, mata yang teliti, kesabaran yang tinggi, dan selera yang bagus. Gw nggak heran sekarang sekolah-sekolah fotografi menjamur di Jawa. Mungkin cuman satu mata kuliah aja yang perlu ditambah di sekolah itu: pelajaran keselamatan jiwa.

Dan melihat fotografer ini, mendadak gw jadi kangen sama my hunk. Dia mencintai kamera, melebihi apapun di dunia ini. Kadang-kadang gw cemburu coz tangannya nyantol ke kameranya lebih lama ketimbang nyantol ke gw.

Siyalan, gw sampai lupa bahwa gw mau pipis.

Tuesday, February 23, 2010

Gojlokan buat Si Cantik

Gw selalu bermimpi, punya foto di mana gw keluar dari sela-sela asap. Bukan, bukan maksudnya gw punya cita-cita terpendam buat jadi pemadam kebakaran. Bukan juga karena waktu kecil gw terlalu sering nonton pertunjukan Nicky Astria atau Ita Purnamasari di Aneka Ria Safari. Tapi gw pikir, keren aja kalau gw berpose dengan latar belakang asap. Dan dua hari lalu, impian gw akhirnya terwujud. Meskipun dengan setting yang sama sekali nggak pernah gw idamkan.

Yang tidak pernah terpikir oleh gw itu, bahwa kalau mau pose dengan latar belakang asap itu adalah, jangan sekali-kali pakai parfum. Percuma, wanginya langsung ilang.

Ini semua gara-gara gw jalan-jalan ke Surabaya beberapa hari yang lalu. My hunk ngajak gw ngincipin sate kelapa di kawasan Ondomohen, mumpung gw lagi ada di sana. Tante gw bilang, bo’ong tuh, nggak ada yang namanya sate kelapa, adanya juga sate lapa. Soalnya yang jual itu orang Madura, jadi mereka nggak bisa ngomong “kelapa”, bisanya ngomong “lapa”.

Jadi gw bela-belain bangun pagi, mandi pakai sabun wangi, semprot-semprot pakai minyak harum dan dandan yang cantik dengan semangat ‘45 gw bakalan sarapan sama my hunk. Tiba di venue, alangkah bengongnya gw liat ternyata yang dimaksud counter sate kelapa itu posisinya di pinggir trotoar. Orang-orang ramai ngantre di situ berdesak-desakan, bergerilya melawan kepulan asap yang membubung dari pembakaran sate. Nggak ada nomer antrean, jadi setiap orang berteriak-teriak dalam bahasa Madura minta pesenannya didulukan. Penjualnya balas teriak-teriak dalam bahasa Madura minta pembelinya bersabar. Gw bingung caranya mau mesen gimana, lha gw sudah lupa caranya ngomong Madura.

Lalu my hunk bilang sama gw, “Biasanya yang mesen mamaku. Aku nunggu di mobil.”

Gw menatapnya nanar. Yupz, inilah pelajaran penting dalam setiap relationship: Pria mengompori wanita mereka untuk belanja makan, tapi mereka tidak mau nyerondol antrean dan mereka merayu wanita mereka untuk melakukan itu.

Tempat itu gila banget. Antrean gila-gilaan, dengan kemampuan bahasa Madura gw yang mengharukan, bisa-bisa baru nanti siang pesenannya kita diladenin, dan takutnya satenya udah abis. My hunk nawarin kita berdua sarapan di tempat lain aja, tapi gw tolak coz gw udah kadung sampai sini jadi gw mesti nyobain.

Akhinya jadilah gw ikutan menggojlok diri sendiri dalam kepulan asap di situ, dan mencoba berteriak ke penjualnya dalam bahasa Madura yang patah-patah, pesan sate kelapa 20 tusuk. Bussoo deh..gw udah dandan cantik-cantik ujung-ujungnya malah terperangkap di antara antrean sate kelapa. Badan gw bau asap, mata gw perih sampai keluar air mata. My hunk? Oh, dia berdiri di pinggir jalan dan malah keasikan motret gadisnya berjuang beli sate.

Saat itulah tiba-tiba gw jadi kangen nyokap gw. Biasanya nyokap gw yang bertugas mblusuk-mblusuk ke antrean penuh asap gini, lalu mesan empat porsi buat gw, adek, dan bokap gw. Nyokap gw juga fasih ngomong Madura, soalnya nyokap gw kan orang Jawa Timur tulen dan nyokap gw bisa mendesak penjual manapun buat minta diduluin. Sementara gw dulu kan masih kecil, nggak pernah mau ikutan nemenin nyokap dan maunya enak-enak tidur-tiduran di mobil. Hwaa..coba kalau dulu gw ikutan sama nyokap, pasti sekarang gw tahu caranya nyerobot antrean beli sate dan ngeyel dalam bahasa Madura!

Untunglah akhirnya gw dapet sate kelapanya. Gw keluar dari antrean asap itu dengan tampang berantakan, bubar sudah harum dari badan gw. Kontras, gw menghampiri my hunk yang masih segar dan wangi.

Sahut gw, “Aku sampek nangis, Mas.” Dia malah ketawa terbahak-bahak.

Bagus, bagus, batin gw. Jadi ini sebabnya kenapa para istri selalu nampak kucel setiap kali baru pulang dari pasar. Karena mereka mblusuk-mblusuk nggak karuan demi belanja makanan buat suami mereka, sementara suaminya cukup jadi seksi makan. Oh ya, sekaligus seksi mbayarin dan seksi nyetirin.

Satenya enak, hehehe. Tadinya gw kirain itu sate isinya kelapa, tapi ternyata daging sungguhan yang dibumbuin kelapa. Bisa juga pesen sate yang ada lemaknya atau ada sumsumnya. Sate 20 tusuk plus nasi yang dibumbuin kelapa juga, dibanderol Rp 34.000,-.

Lain kali, gw mau ke situ lagi. Dan gw mau bela-belain belajar bahasa Madura dulu sebelum ke sana, biar gw bisa nyerobot antrean dengan leluasa.

My hunk dan gw sendiri yang menjepret fotonya.

Friday, February 19, 2010

Pesawat Pujaan Orang


Gw suka banget naik kereta api, tapi gw nggak pernah mufakat sama WC-nya. Gw heran, kenapa sih WC di kereta api itu selalu bau apek? Apakah tukang bersih-bersih WC-nya nggak pernah sempat nyikat WC lantaran kereta berhenti di tiap stasiun cuman lima menit? Memangnya harus berhenti berapa lama di tiap stasiun supaya petugasnya punya waktu buat nyikat WC?

Gw pikir mungkin para direktur kereta api nggak punya anggaran cukup buat beli sikat WC dan pengharum toilet. Baiklah, gw sangat maklum. Tapi kayaknya yang punya kereta api terus-menerus memprovokasi para penumpang untuk pipis, terbukti dengan adanya para pramugari menawari penumpangnya kopi dan teh. Mereka seolah lupa, kalau penumpangnya minum kopi atau teh, nanti orangnya terangsang buat pipis. Kalau mau pipis, penumpangnya mesti ke WC. Padahal WC-nya bau apek, akibatnya penumpangnya ngomel. Jadi, para direktur kereta api yang terhormat, kalau nggak mau penumpangnya ngomelin WC, mbok ya pramugarinya jangan disuruh nawarin kopi atau teh.

Maka jadilah pas gw naik kereta api kemaren, penumpangnya bermuram durja gara-gara ngempet pipis sepanjang jalan. Untuk menghibur penumpangnya supaya tidak mellow, maka di gerbongnya dipasangin tivi. Gw perhatikan sepanjang jalan tuh tivi muterin itu-itu lagi: iklan kereta api, lagu-lagu sendu, dan film lepas.

Gw sendiri nggak terlalu ngeh dengan apa yang diputar di layar 14 inci itu, coz posisi duduk gw tujuh deret dari tivi itu. Udah tivinya kekecilan buat gw, filmnya bisu pula. Padahal kalau dipikir-pikir, ini filmnya juga nggak jadul-jadul amat. Mungkin paling lama ya keluaran tahun '90-an. Helloo..ada yang tahu di mana remote tv-nya?

Gw pikir, siapa juga sih penumpang yang mau nonton film bisu? Jadi gw neliti muka-muka penumpang yang di kereta. Ada yang lagi tidur, ada yang lagi baca koran, dan ada juga yang lagi nulis blog (yang ini sih gw!). Oke, ada segelintir yang lagi ngeliatin tivi, tapi matanya melayang ke mana-mana. Kesimpulan gw, tak ada penumpang yang sungguh-sungguh memperhatikan film di tivi itu.

Gw jadi kesiyan sama kereta api yang udah repot-repot nyediain tivi tapi nggak ditonton. Padahal kan buat nyediain tivi itu mereka udah capek-capek mbayar listrik dan nyewa DVD di tukang rental, huhuhu..

Ini mungkin sama kayak kita di rumah. Kebiasaan jelek kalau ada di rumah, pasti tivi dinyalain. Padahal belum tentu juga tivinya ditonton. Kadang-kadang tivi ditinggal nyala dengan suara banter, sementara kita masak di dapur. Kadang-kadang bukan kita yang nonton tivi, tapi tivi yang nontonin kita, soalnya kita ketiduran. Paman gw punya kebiasaan duduk di ruang tengah, tivi nyala, tapi suaranya dibikin bisu, sementara dos-q muterin mp3 The Beatles dari teater rumahnya.

Kenapa kereta api ngotot masang tivi padahal penumpangnya nggak nonton? Mungkin karena sifat dasar manusia, senang lihat gambar bergerak dan dengar suara berisik. Meskipun dia nggak terlalu ngeh dengan informasi yang disampaikan oleh gambar dan suara itu.

Bukan apa-apa sih. Tapi gw pernah hidup setahun di dusun yang doyan mati lampu, jadi gw sadar bahwa mestinya kita nggak boleh buang-buang listrik. Sampai sekarang gw masih mentung kepala gw sendiri kalau gw menangkap basah diri gw ketiduran di depan tivi yang menyala.

Tips buat kereta api, kalau memang niat menghibur penumpang dengan tivi, tanpa buang listrik:

1. Sebelum keretanya jalan, tanya dulu ke seluruh penumpang, "Bapak-bapak, Ibu-ibu, ayoo siapa yang mau nonton tivi, acungkan tangaan!!"

2. Nggak usah nyalain tivi di bagian belakang gerbong. Sudah tahu penumpangnya duduk ngadep depan semua, ngapain juga nyalain tivi di bagian belakang?

3. Kalau memang niatnya mau muter film bisu, pilihlah film yang memang nggak ada suaranya, misalnya Mr Bean atau Charlie Chaplin. Apa gunanya muter film action di kereta api kalau penumpangnya nggak denger suara bak-bik-buk?

Thursday, February 18, 2010

Para Bonyok di Jejaring Sosial


"Mati gw. Bokap gw baru ikutan Twitter dan sekarang nanya username gw apa. Should I add him??"

Jeritan panik teman gw di status Twitter itu bikin gw ngakak, beberapa minggu yang lalu. Gw tahu maksud dia, Selena (bukan nama sungguhan, seumuran sama gw), takut bokapnya denger setiap twit-annya yang nggak berwibawa itu.

Semenjak marak kasus cewek a-be-geh yang kabur dari rumah lantaran mau kopi darat sama temen yang baru dikenal di Facebook, kebanyakan orang malah bersuara sumbang, "Salah sendiri, kenapa orangtuanya nggak fesbukan?" Para ahli sibuk mengkampanyekan bahwa orang tua itu mestinya menjadi warga jaringan sosial bukan cuman sekedar jadi "internet migrant", tapi harus sekalian jadi "internet inhabitant". Artinya menjadi warga asli dari dunia maya, beraktivitas normal di dunia maya, dan juga yang penting, berpikir a la dunia maya.

Yang terjadi sekarang, para orang tua umumnya ikut jejaring sosial karena latah, lantaran sungkan dibilang gaptek. Padahal, bonyok yang melek teknologi nggak selalu asyik. Dan harus disyukuri bahwa kadang-kadang bonyok yang gaptek justru lebih aman.

Selena senang curhat di Twitter. Segala hal yang ada di kepalanya dia curhatin: urusan kantor, urusan cem-ceman, sampai urusan pilkada(l). Teman-teman ngerumpinya sesama tweepsies adalah makhluk-makhluk yang isi kepalanya hampir sama, interpretasinya sama, dan sama-sama doyan ngerumpi dengan nyelekit. Dan sekarang, bokapnya mau follow dia, dan apapun yang Selena twit-kan bisa gampang dipantau oleh bokapnya sendiri.

Banyak cerita unik yang bisa kita kupingin kalau mbaca rumpian orang di status-status mereka. Bininya si boss yang semlohay, teman tenis yang curang melulu, sampai Pak RT yang suka ngabisin kue sendirian kalau lagi ngeronda bareng.

Tentu saja ada resiko curhatan-curhatan yang nggak enak itu dibaca oleh orang-orang yang nggak berkenan. Memang langkah antisipasinya, jangan biarkan orang-orang itu nge-add kita di jejaring sosial. Atau tetap di-add, tapi kita nggak usah curhat.

Masalahnya, Sodara-sodara, curhat itu perlu buat melepas stres. Dan nggak afdol kalau curhat di status update itu nggak sampai lampias. Sekarang gimana mau curhat sampai puas, kalau ada orang yang tidak berkenan dengan curhatan kita di status?

Maka gw bisa ngerti kenapa Selena begitu panik di-follow bokapnya sendiri di Twitter. Selama ini Selena begitu puas curhat di status Twitter tentang stresnya dan ada kemungkinan bokapnya juga ikut berkontribusi memperparah timbulnya stres itu. Tapi mosok dia mau nolak bokapnya dan memblokir bokapnya dari daftar follower?

Persoalan gap yang cukup besar tentang cara berpikir antara orang tua dan anak akan semakin pelik kalau sudah merambah ke dunia maya. Coba tengok bedanya perilaku kedua kelompok itu di jejaring sosial. Ada perbedaan ekspresi, cara bicara, cara berpikir, cara bersikap, dan sialnya juga ada perbedaan kadar selera humor. Semua perbedaan itu, bisa bikin problem hubungan antara anak dan orang tua di dunia maya.

Lalu gw pikir, berkaitan dengan Selena, supaya anak dan orang tua nggak sampai stres gara-gara salah satu pihak tidak bisa curhat di status dengan puas, mungkin solusinya si anak kudu bikin dua account sekaligus. Satu account buat di-add bonyoknya, di mana dia bisa mengisi statusnya dengan citra yang jaim seperti anak baik-baik. Lalu satu account lagi buat di-add teman-teman ngerumpi untuk dipakai enak-enak curhat. Betul-betul solusi yang ribet.

Kecuali kalau kita mau mikir solusi yang lebih cerdas: Jangan pernah cepat bereaksi terhadap status update orang lain. Karena setiap status di jejaring sosial hanyalah ledakan perasaan sesaat. Persoalannya, apakah kadar kecerdasan emosional kita cukup untuk itu?

Untung bokap gw belum nge-twit kayak bokapnya Selena. Bokap gw baru fesbukan doang. Dan gw nggak niat ngajarin bokap gw nge-twit.

Menjadi melek teknologi bukan cuman sekedar berupa latah mengikuti jejaring sosial, tapi juga harus bijaksana menyikapi setiap aspirasi yang disampaikan di dunia maya.