Wednesday, June 2, 2010

Internet Rumah vs Internet HP

Tulisan ini saya buat untuk meladeni polemik yang sedang menimpa orang-orang dalam perkara perinternetan. Soalnya kan salah satu misi saya adalah menolong teman-teman saya yang kesusahan, supaya mereka nggak sampek stress cuman gara-gara bingung mau pakai koneksi internet apa. Orang rata-rata bingung coz buat internetan nampaknya butuh biaya yang banyak sekali, padahal sebenarnya saya pikir dalam sebulan tuh masih lebih mahal langganan koran ketimbang main internet.

Kalau Anda baru mulai hidup sendiri dan bingung mau pakai koneksi internet apa, Anda boleh baca tips yang akan saya kasih. Tapi sebelumnya jawab dulu pertanyaan saya:
1. Apakah Anda tipe orang yang sanggup main internet dengan melihat layar HP aja, atau Anda mutlak butuh computer buat main internet?
2. Apakah Anda tipe yang senang download apapun dari internet, seperti lagu, film, atau software?
3. Berapa jam dalam sebulan yang biasanya Anda pakai untuk main internetan?
4. Berapa budget yang sanggup Anda siapin buat main internetan?
5. Kartu HP Anda prabayar atau pasca bayar?
6. Apakah Anda sudah memeriksa paket internet yang ditawarin operator seluler kartu Anda?

Internet pada dasarnya bisa diakses dengan melihat HP atau pakai laptop/kompie. Untuk koneksi pasti butuh sambungan telepon, dan sambungan telepon ini bisa memakai Telkom atau operator seluler yang menaungin nomer HP Anda.

Kalau Anda mau pakai koneksi dari Telkom, Anda tinggal daftar ke kantor Telkom terdekat buat instalasi paket Speedy. Kalau Anda masih pemula, Anda boleh mulai dengan paket yang bayar Rp 75.000,-, itu udah bisa dipakai buat jatah main internet di laptop selama 15 jam dalam sebulan. (Itu harga yang dulu ya, tapi saya rasa harga yang sekarang nggak beda jauh.) Tapi kalau Anda pikir 15 jam itu cemen, coba ambil paket yang 50 jam/bulan, bayarnya sih sekitar Rp 150 ribuan.

Kalau Anda bukan tipe yang seneng main internetan jam-jaman, boleh aja pakai Telkomnet Instan yang mainnya pulsa per menit. Cuman kalau yang ini saya nggak komentar, soalnya koneksinya lemot melulu..

Kalau Anda kesulitan masang telepon rumah, berarti mau nggak mau Anda mesti internetan pakai layar laptop atau layar HP dengan koneksi dari operator seluler. Untuk nyambungin koneksi dari operator seluler ke layar laptop, syaratnya jelas: HP Anda mesti ada modemnya. Kalau nggak punya modem, ya harus beli dong buat masukin kartu seluler ke dalam modem itu.
Jika Anda cuman pakai sekali-sekali doang, cukup buka website resmi operator seluler Anda, lalu klik sana-sini supaya bisa main internetan. Biasanya mereka menghargainya per menit, dan tarifnya sekitar Rp 350,-/menit. Jadi kalau dipake sejam, akan ada pulsa sekitar Rp 21.000,- tersedot dari HP Anda. Harga internetan antar operator seluler mungkin ada perbedaan, tapi biasanya bedanya juga nggak terlalu jauh.

Sekarang banyak operator seluler yang pakai sistem paket buat internetan. Cukup bayar sekitar Rp 125.000,-/bulan, bisa sepuas-puasnya download ini-itu dari internet. Biasanya operatornya punya batas kuota tertentu untuk pengiriman data. Misalnya kalau dalam sebulan itu Anda sudah mendownload data sampai sekian GB, mereka akan menurunkan koneksi internet Anda. Sebenarnya system ini menyenangkan, sayangnya baru sukses untuk kartu-kartu pascabayar. Akhir-akhir ini banyak kartu prabayar yang mencoba sistem ini, tapi saya belum berhasil nyobainnya. Registrasinya error melulu.

Jika Anda tipe pembaca praktis yang bisa baca internet dari layar HP aja, sekarang banyak tersedia paket-paket dari operator seluler yang berbasis data. Biaya disedot hanya berdasarkan bandwidth yang Anda pakai, bukan berapa lama waktu yang dipakai buat download. Sebagai contoh, bayar Rp 5.000,- dari pulsa Anda, maka Anda akan dapet jatah main internet sebanyak 5 MB, selama seminggu. Kalau Anda butuhnya sebulan, beli aja yang Rp 20.000,- dan Anda bisa pakai internet sampek 35 MB. Saya sendiri buat ngeblog sehari-hari beli paket yang 300 MB untuk sebulan, bayarnya Rp 100.000,-. Satu-satunya kelemahan dari paket per volume ini: jangan sekali-kali dipakai buat main internet di laptop coz boros bandwidth banget.

Pertanyaan yang cukup mendasar: Apakah Anda butuh internetan via HP ini, atau bahkan apakah Anda butuh pasang koneksi internet pakai sambungan telepon di rumah? Tidakkah cukup buat ke warnet aja?
Nah, tentu aja ada keuntungannya main internetan di warnet ketimbang kedua modus yang saya sebut di atas. Ngga usah mikirin bayar listrik atau panik nge-charge HP. Bisa download suka-suka. Sejam paling bayarnya 5000-an.
Tapi tentu saja ada resiko suasana yang nggak private buat main internet sambil ngegunting kuku kaki dan pakai daster. Harus nunggu warnetnya buka. Dan yang repot adalah kalau yang kecanduan internet itu adalah anak Anda. Seatos-atosnya kursi di warnet, duduk di warnet itu seperti duduk di kursi Ligna. Kalau sudah duduk, lupa berdiri. Repotnya anak jadi susah disuruh pulang, susah disuruh belajar.

Oke, itu tips-tips dari saya. Mudah-mudahan membantu ya..

Tuesday, June 1, 2010

Komplikasi Boring yang Akut

Nggak ngerti kenapa sih masyarakat kita ini seneng banget bicara dengan istilah-istilah rumit yang dia sendiri nggak ngerti maksudnya apa. Apakah maksudnya mau dibilang (sok) pinter, padahal resikonya gede banget buat jadi terdengar dungu. Seperti dialog yang kemaren kedengeran ini:

A: Si X itu meninggal akhirnya minggu lalu. Sudah sepuh sih.
B: Oh ya? Sakit apa? Jantung? Stroke?
A: Sakit komplikasi.
B: Sakit apa?
A: SAKIT KOMPLIKASI!

Ada lagi yang lucu.

A: Duuh..sudah lama nggak ketemu teman-teman SMA. Gw lupa nama mereka semua!
B: Ah, masak sih? Padahal kan kita baru lulus SMA 15 tahun lalu..
A: Iya nih, gw menderita pikun akut!
B: Lha.. lu jadi pelupa gini mulai kapan?
A: Yaah..semenjak gw pergi kuliah S2 tiga tahun lalu, gw jadi PELUPA AKUT gitu deh..

Ngg..waduh, gimana ya? Saya mulai melihat gejala salah kaprah ini sudah melebar ke mana-mana. Soalnya kedua istilah di atas kan istilah medis, jadi kalau saya mendengar istilah di atas diucapkan oleh orang-orang yang di luar pekerjaan saya dan kebetulan salah menggunakannya, saya jadi ketawa, hehehe.. Apalagi waktu beberapa hari yang lalu saya baca headline di siaran berita tivi, “Ny Ainun Habibie meninggal karena sakit komplikasi”. Haiyaah..bukankah mestinya wartawan bisa jadi contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar?

Baik, sakit komplikasi itu apa sih? Bingung juga saya, soalnya seumur-umur di kuliah saya pun nggak pernah dengar satu pun sakit komplikasi. Tapi saya bisa memberi contoh sederhana gini. Misalnya seseorang kena serangan jantung, sehingga jantungnya nggak bisa memompa darah dengan memadai. Aliran darah ke bagian-bagian tubuh lainnya jadi lelet, termasuk ke ginjal. Maka ginjal pun jadi mogok bekerja dan ikutan sakit. Lalu, karena darahnya nggak mengalir dengan lancar, tak ada oksigen yang diantar ke paru, akibatnya paru jadi sesak oleh karbondioksida yang nggak dituker dengan oksigen. Nah, oksigen kan nggak ada nih, termasuk buat oksigen yang dianter ke otak, akibatnya otak pun jadi ikutan rusak dan sakit. Seperti yang saya bilang di sini kemaren, kalau otak berhenti bekerja, berarti mati. Jadi orangnya meninggal karena sakit apa? Penyebab matinya adalah sakit jantung, yang DIPERPARAH OLEH KOMPLIKASI ke ginjal, paru, dan otak. Jadi bukan meninggal karena “sakit komplikasi”..

Adakah orang yang pelupa akut? Bisa ya, bisa enggak. Ambil contoh, misalnya orang ketabrak truk sehingga kepalanya berdarah. Ternyata setelah ketabrak itu dia jadi hilang ingatan, alias jadi pelupa. Nah, karena penyebab lupanya itu baru mendadak, maka itu boleh disebut pelupa akut.
Tapi ada lagi orang yang karena proses lama, maka jadinya pelupa. Misalnya, kelamaan nggak ketemu teman-teman SMA sampek bertahun-tahun, jadinya lupa nama teman-temannya. Ini bukan “akut”, coz akut itu artinya terjadi secara mendadak. Kalau lupa nama teman karena lama nggak ketemu, itu BUKAN AKUT namanya, coz proses penyebab lupanya kan bertahun-tahun, jangka waktu yang cukup lama sekali. Mungkin lebih tepat istilahnya “pelupa berat”.

Eh ya, dua minggu lalu pas nonton Indonesia Idol saya denger jurinya ngomong kira-kira gini ke salah satu finalisnya, “Sewaktu kamu nyanyi tadi, mendengar kamu saya jadi BORING.”
Waduh..gimana sih? Boring itu artinya membosankan. Semenjak kapan MelGoes jadi membosankan? :-p

Maksudnya finalisnya yang membosankan, kan? Bukan jurinya?
Mestinya yang bener, “Sewaktu kamu nyanyi tadi, mendengar kamu saya jadi BORED.”
Kok mendadak jadi aneh, hihihi..
Akan jauh lebih aman kalau kita ngomongnya gini aja, “Sewaktu kamu nyanyi tadi, mendengar kamu saya jadi bosen.”
Kecuali, kalau si juri merasa bahwa dirinya kalah menarik ketimbang si finalis, ya bener kalau dia merasa bahwa “mendengar kamu saya jadi merasa diri saya ini membosankan”.

Sudah ah..ngerti kan sekarang di mana menggunakan kata komplikasi, akut, dan boring yang betul? Paling gampang yah, kalau nggak bisa ngomong linggis yang bener, ya nggak usah ngomong linggis. Kalau nggak bisa ngomong istilah yang kita nggak ngerti, ya cobalah ngucapin istilah yang kita ngerti aja. Supaya pembicaraan kita tidak menjadi komplikasi yang boring bin akut..

Monday, May 31, 2010

Suara Pedas yang Mau Sembahyang

Sekedar peringatan kecil, hati-hati buat Sodara-sodara semua yang berniat menghelat pesta pernikahan di gedungnya kompleks mesjid. Ternyata ada aja orang mesjid yang suka rewel kalau ada orang bikin hajatan. Mudah-mudahan rewelnya bukan karena merasa nggak kecipratan suguhan makanan.

Semalem, saya pergi ke pernikahan kolega. Pesta yang cukup rame, dan pengantennya pakai acara lempar kembang buket segala ke para jomblo. Saya tadinya disuruh my hunk ikutan berbaris buat nangkep kembang, tapi saya lebih ngeri kalau sepatu hak tinggi saya kenapa-kenapa. Maklumlah, hal-hal buruk selalu terjadi kalau saya terlalu excited, entah itu tali sepatu saya putus lah, atau tahu-tahu saya jatuh dan kaki saya keseleo lah. Dan ternyata bener aja, yang berhasil nangkep kembangnya adalah temennya si penganten, dalam proses penangkapan yang sedemikian brutal, dan ternyata sepatunya si penangkap itu ilang pas dia dapet kembangnya.. Wkwkwk..

Oke, itu yang lucunya. Sekarang, saya cerita yang nggak enaknya. Gedung kondangannya itu ada di Jalan Diponegoro, salah satu gedung yang paling sering jadi langganan orang Bandung buat disewa bikin hajatan. Sebelahnya gedung itu adalah salah satu mesjid paling beken se-Bandung.

Pas lagi nyari-nyari tempat parkir, terdengarlah dari pengeras suara yang bisa kedengeran sampek seluruh lapangan, seorang khatib (atau muadzin? Entahlah) memperingatkan siapapun untuk tidak main gamelan. Soalnya ada orang lagi sholat. Saat itu kan jam tujuh malem, tahu sendirilah kalau itu jamnya orang baru adzan sholat Isya.

Saya pikir si halo-halo itu berhenti di satu kalimat aja. Nggak taunya dia nyerocos. Katanya, cobalah buat nggak membunyikan apapun kalau waktunya orang sholat. Biarpun Anda sudah merasa menyewa gedung dan manggil tukang gamelan sampek artis sekalipun. Kalau cuman sekedar mau menabuh-nabuh, apapun bisa ditabuh kalau di sekitar mesjid. Tapi jangan pas waktunya orang sholat. Jangankan tabuh-tabuhan, malah kalau di depan kita ada orang lagi sholat pun, kitanya jangan ngaji. Ngaji itu bisa gangguin konsentrasi orang sholat.

Lalu si halo-halo ngelanjutin lagi. Katanya dia kesiyan sama Anda (entah itu siapa) yang nekat tabuh-tabuhan gamelan. Kesiyan coz nggak ngehormatin orang sholat. Katanya dia ngomong gini bukan karena merasa dirinya pemilik mesjid. In fact, mesjid itu milik Allah Subhana Wa Ta’ala.

Nggak ngerti, mungkin kadar takwa saya yang tipis atau saya yang lagi sensi, tapi mendadak saya jadi sebel dengernya. Itu maunya nyindir yang lagi bikin hajatan ya? Kok nggak sekalian aja bilang kalau di deket mesjid jangan bikin kondangan gitu? Memangnya orang kalau shalat tuh cuman pas jam 12 siang atau jam tujuh malem doang, enggak kan? Shalat itu bisa kapan aja, entah itu jam satu siang, atau jam sembilan malem, dan kalau ada yang shalat jam segitu, orang tetep nggak boleh bikin kondangan di gedung sebelahnya?

Saya yakin, itu yang nyewain gedung hajatannya juga nggak bego-bego amat. Dia sudah tahu bahwa gedung itu sebelah mesjid. Konsekuensinya, tuh gedung mestinya ya kedap suara, supaya bunyi-bunyi apapun yang ditabuh di dalam gedung, nggak sampek kedengeran ke mesjid sebelahnya. Jadi nggak usahlah orang mesjid mengkritik tajam via pengeras suara untuk orang-orang yang nabuh gamelan di gedung hajatan supaya nggak gangguin orang sembahyang. Kalau memang orang merasa terganggu dengan suara-suara apapun waktu sholat, sekalian aja tukang parkir suruh libur dan jangan niup-niup peluit parkir. Memangnya bunyi peluit itu nggak potensial gangguin orang sembahyang ya?

Atau ya sekalian aja, jangan nyewa-nyewain tuh gedung buat orang bikin kondangan. Jadi adil toh?

Lagian juga, saya yakin tuh si halo-halo nggak maksud nyepet kolega saya yang lagi bikin hajatan. Lha waktu saya masuk ke tempat hajatan itu, ternyata nggak ada gamelan sama sekali. Soalnya buat hiburannya, kolega saya nyewa pianis jazz. Dan semua orang juga tahu, segaduh-gaduhnya musik jazz yang cuman pakai piano dan string itu, masih kalah berisik ketimbang musik gambus..

Mestinya orang nggak cuman disuruh bertoleransi kepada orang yang sedang beribadah. Tetapi orang yang mau beribadah juga nggak boleh nyindir-nyindir orang yang tidak sedang hendak beribadah. Kritik seharusnya disampaikan dengan cara yang lebih elegan, bukan dengan cara yang menggurui dan menyindir-nyindir. Bukan begitu?

Eh, mendadak saya jadi terhenyak. Saya mengkritik si halo-halo di blog saya ini, itu elegan juga nggak ya? :-p

Gambarnya dari http://madah.com

Sunday, May 30, 2010

Go Green, Dong!

Ada yang menarik waktu saya pergi ke sebuah toko kosmetik keluaran Inggris beberapa minggu yang lalu bareng adek saya. Ceritanya saya beli body lotion, sementara adek saya beli minyak wangi. Variannya banyak banget di tempat itu, ada yang wangi rasa buah, ada yang wangi rasa kembang. Saya dengan cepat nemu wangi peach, lalu saya bawa ke kasir. Sementara adek saya susah nemu pilihan. Abis semuanya wangi sih.

Sang petugas kasir membungkus body lotion saya dalam sebuah kantong kertas kecil, lalu menjepretnya. Dan transaksi pun selesai.

Beberapa saat adek saya pun datang dan siap bayar minyak wangi yang dos-q beli. Saya membuka jepretan kantong belanjaan saya, memastikan sang kasir sudah masukin belanjaan saya dengan benar dan nggak ketuker sama orang lain. Sang kasir ngeliatin kita berdua, menyadari bahwa kita berdua adalah kakak-adek, dan menawari, “Mau barang ini (yang dibeli adek saya – Red) dimasukin ke situ, Mbak?”

Saya mikir sebentar. Mm..saya takut kantong kertas itu jebol sih. Tapi nampaknya minyaknya adek saya ringan-ringan aja. “Ya deh, boleh. Demi para orang utan.”

Sang petugas kasir pun ketawa. Akhirnya dia membuka kantong belanjaan saya yang isi lotion tadi, lalu masukin minyak adek saya ke dalamnya. Padahal kan beda transaksi mestinya beda kantong belanjaan ya?

Di toko itu, digelar poster segede gaban bergambar orang utan. Saat ini toko tersebut mengklaim bahwa untuk penjualan kosmetik dari cabang-cabangnya di seluruh dunia, prosesnya dibikin seefisien mungkin untuk membantu pelestarian orang utan di Cali. Beberapa cara yang mereka lakukan untuk itu, antara lain bikin supaya tiap botol plastik yang mereka pakai untuk mengemas kosmetik itu, dibikin sebanyak 30%-nya dari plastik yang bisa didaur ulang. Cara lainnya adalah dengan membiasakan belanjaan produk mereka yang dibawa pulang oleh konsumen dibungkus dalam tas dari kertas daur ulang.

Saya pikir, lucu juga kalau setiap toko menggunakan cara ini. jika kita bisa meminimalisir tiap kantong plastik yang dipakai buat belanja dan menggantikannya dengan barang-barang yang bisa didaur ulang, bumi nggak akan kecapekan karena mesti menanggung beban sampah plastik yang dihasilkan penduduk dunia setiap tahunnya. Cara sederhana yang bisa kita lakukan, antara lain membungkus tiap belanjaan kita pakai tas kain yang syukur-syukur kita bawa sendiri dari rumah.

Beberapa hari lalu, seperti biasa saya pergi belanja ke supermarket buat beli barang kebutuhan sehari-hari. Saya bawa tas kain hasil menangin kuis dari Didut ini, hehehe. Lumayan lho, si petugas kasir supermarketnya nggak jadi mbungkusin belanjaan saya pakai kantong plastik. Lagian tampang tasnya juga cukup modis dan serasi dengan kostum saya, hihihi.

Kita mengurangi sampah plastik, sebetulnya bukan sekedar karena kita sayang sama orang utan. Tetapi, semakin banyak sampah plastik dibakar setiap tahunnya, maka semakin sulit tanah harus megap-megap mengandung polimer-polimer bekas plastik, sehubungan polimer plastik itu paling susah diuraikan menjadi zat hara. Kalau tanah penuh dengan zat-zat anorganik, maka tanah akan susah ditanemin pohon. Padahal pohon perlu untuk ventilasi udara yang dihirup sehari-hari, tidak saja oleh para orang utan yang hidup di kawasan hutan, tetapi juga oleh manusia, kaum kita sendiri.

Kalau Anda mau sekedar berbaik hati, gimana kalau Anda beli barang apa aja di toko manapun, sedapat mungkin bawa tas sendiri buat mbungkusinnya. Entah itu dimasukin ke dalam tas kanvas Anda, atau ditenteng masukin ke dalam saku celana. Kalaupun Anda nggak biasa bawa tas, bilang sama mas-mas kasirnya supaya nggak usah repot-repot misahin mana kantong plastik buat sampo, dan mana kantong plastik buat makanan kaleng. Satu-satunya kondisi di mana kita mesti misahin belanjaan adalah saat kita belanja daging cincang dan sabun mandi sekaligus. Oh ya, juga saat kita beli oli dan sekaligus minyak goreng.. :-D

Saturday, May 29, 2010

Lovely Shock

Giling, giling, giling!

My hunk sempat nanyain saya, beberapa minggu lalu, saya mau dikadoin apa buat ulang tahun. Saya tahu dia belum bisa kabulin daftar keinginan saya. Tapi akhirnya saya bilang ke my hunk, “Kadonya kamu aja deh. Kamu yang dimasukin kotak terus dibungkus pakai pita..”

Saya cuman becanda. Soalnya, dia kan tinggalnya jauh banget, ngapelin saya aja mesti naik pesawat dulu. Jadi saya berharap, yah mudah-mudahan dia kirim kado.

Sampek hari Kamis sore, nggak ada orang berhenti di depan rumah sama sekali. Saya jadi gemes. Nggak ada orang tukang kurir nganterin paket malem-malem, kan? Saya jadi nyesel, soalnya waktu my hunk nanyain saya mau kado apa, saya dengan sok tegarnya bilang saya nggak dikadoin juga nggak pa-pa.. (Huu..padahal..)

My hunk ng-sms, dia lagi nonton Fariz RM di tivi. Uh..jadi jam segini dia lagi ongkang-ongkang kaki di rumahnya dan nggak ngepakin saya kado.

Saya pakai kimono saya, tidur cepat malam itu. Baru bangun besoknya pas saya ulang tahun. Itu hari Jumat, libur Waisak, dan saya memutuskan bahwa “the birthday girl kepingin bangun siang”. Setengah masih merem, saya nyalain HP dan membiarkan SMS-SMS dan e-mail-e-mail masuk buat bilang selamat ulang tahun. Termasuk my hunk. Saya mulai bikin beberapa varian dari kata “terima kasih”.

Lalu my hunk ng-sms, godain saya yang masih di kasur. Saya jawab, “Tadi malem aku mimpi Mas dateng ke sini dan lihat aku baru bangun n belum mandi. Waktu aku bangun, aku kecewa coz ternyata cuma mimpi..”
Jawabnya, dia lagi di jalan dan nanti mau nelfon saya. Saya melirik jam. Biasanya jam segini dia lagi keluyuran nyetir cari pecel buat sarapan.

Ternyata beberapa menit kemudian dia nelfon. Saya langsung nyamber, “Kamu kalo lagi nyetir kamu jangan nelfon aku.” Bahaya, tahu.
Tapi dia malah jawab, “Aku nggak nyetir. Aku ada di depan rumahmu.”
Saya masih setengah ngantuk. “Apa?”
Dia: “Aku di depan rumahmu.”
Saya pikir telinga saya berhalusinasi. “Apa??”
Dia: ”Aku di depan rumahmu!”
Saya kaget. “APA?!”

Serentak saya mengikat kimono saya yang longgar dan lari keluar kamar, lari ke teras, celingukan dan berharap saya mimpi. Ketika saya menoleh ke depan pintu pager rumah, saya terperanjat. My hunk berdiri di luarnya, menatap saya sambil bersidekap, persis Romeo nggak dibukain pager oleh Juliet.

Saya melongo persis ikan mas koki. “Mas..?”
Dia tersenyum.
Tapi yang keluar dari mulut saya kemudian, “What are you..(doing)?!”

Sumpah, saya kaget setengah mati. My hunk ada di depan rumah saya? Di Bandung? Jam enam pagi?!
Dan saya menyadari tampang saya kacau total saat itu. Saya kan baru bangun!
Alih-alih bukain dia pager, saya malah lari masuk ke rumah. Dan dia tetap tinggal di luar pager..

Saya ngeliat muka saya di cermin kamar dan mufakat tampang saya betul-betul awut-awutan. Tapi saya nggak bisa langsung mandi, coz asisten pribadi nyokap saya baru aja bukain pager dan minta my hunk duduk di teras..

Saya keluar lagi ke teras dan siap mengomeli dia karena mau datang nggak bilang-bilang dulu. Tapi dia malah membungkam mulut saya, “Selamat ulang tahun..”

Ya Tuhan, mestinya saya nangis terharu atau semaput? Tega bener dia, dateng mendadak ke rumah saya pagi-pagi dengan tampang ganteng, padahal saya belum mandi dan mata masih penuh belekan..

Ternyata, diam-diam dia udah pesen tiket pesawat jauh-jauh hari buat ke Bandung dan booking hotel. Dia tiba di Bandung Kamis sore dan survey bagaimana naik angkot dari hotelnya ke rumah saya. Jadi Kamis sore, pas saya lagi ngeluh kenapa nggak ada pak pos nganterin paket kado buat saya, sebenarnya dia udah sampek jalan depan rumah saya tapi dia balik lagi ke hotelnya. Waktu dia ng-SMS dan bilang dia lagi nonton Fariz RM di tivi, itu sebenarnya dia nonton di tivi kamar hotelnya, bukan di tivi rumahnya. Dan hotel tempat dia nginep itu, sebenarnya jaraknya cuman tiga kilo dari rumah saya. Dan sore itu saya malah ngomel dalam hati, kenapa dia nggak kirimin saya kado..?

“Makasih ya, Mas, udah dateng buat ulang tahun aku,” gumam saya bahagia.
Dia tersenyum dan manggut. “Iya.”
“Tapi, Mas,” saya nelan ludah. “Kok Mas nggak pake pita..?”

***

Jadi..terima kasih ya temen-temen semua yang udah nyelametin ulang tahun saya di Twitter dan Facebook, dan maaf belum sempet saya bales. Soalnya dari kemaren saya nggak sempet on-line, lantaran saya ngedate dua hari penuh sama my hunk. Saya bawa dia keluyuran, berburu cari tempat buat manjain hobi dia motret-motret sambil wisata kuliner. Baru saya lepas dia tadi, coz dia mesti cabut naik pesawat pulang ke rumahnya. Sewaktu saya nulis blog ini, saya masih kepingin nyakar punggungnya gara-gara dia dateng nggak bilang-bilang dulu. Padahal, kalau dia dateng, saya kepingin masak buat dia..

Ternyata cinta memang indah. Saya nggak ngira cinta bakalan bikin my hunk nggandol pesawat jauh-jauh dan menyesatkan dirinya di Bandung sendirian cuman buat survey nyari jalan ke rumah saya. Dan saya pikir, saya udah dapet kado terindah yang saya inginkan tahun ini. Kemaren, umur saya genap 28 tahun dan saya gadis paling beruntung di muka bumi ini.

Thursday, May 27, 2010

Keanehan Wanita


Kemaren kau terlambat datang bulan, dan kau uring-uringan.

Sekarang bulannya sudah datang, kau lebih uring-uringan.


Mau kau bawa ke manaa.. rahim kitaa..?

Wednesday, May 26, 2010

Kenapa Kita Mau Balik Lagi?

Seorang cewek dateng ke sebuah salon dalam keadaan suntuk berat. Matanya nampak sembab dan mukanya cuman berpulas bedak. Dia bilang ke petugas kasir di salon bahwa dia kepingin creambath, lalu dilulur kaki.

Si mbak-mbak kasir itu nganterin dia ke ruang creambath dan menyilakan si cewek ini cuci rambut dulu. Karena suntuk dan kepingin yang seger, dia bilang ke kapster yang nyuci rambutnya, tolong cuciin pakai air dingin aja.

Setelah itu creambath pun dimulai. Si cewek bilang pijetannya kurang keras, maka si kapster pun pijet kepala si cewek lebih keras lagi. Bahkan si cewek bisa melihat di kaca, urat-uratnya si kapster itu sampek nonjol semua, padahal si kapster itu ceking.

Selesai creambath, si kapster mau bilas rambut si cewek. Tahu-tahu si cewek merasakan guyuran hangat nyiram ke kepalanya. “Air dingin aja, Mbak,” katanya.
Tapi si kapster malah nyela, “Bersihin pake air anget dulu ya, Teh. Supaya lemak bekas rambutnya ilang semua..”
Si cewek melongo. Dibiarinnya aja si kapster bilas rambutnya pakai air anget, tapi setelah itu baru diguyur air dingin.

Selesai creambath, si kapster nganterin si cewek ke bilik refleksiologi buat luluran kaki. Yang meladeni si cewek buat luluran kaki ternyata kapsternya beda lagi. Jadi si cewek pun duduk tenang sementara kakinya dipijet pakai lulur oleh kapster yang kedua.

Sembari dipijet, si cewek noleh keluar bilik itu via partisi, dan ngeliatin seruangan salon yang lagi rame. Ada yang lagi diroll, ada yang lagi blow, ada yang lagi dikeriting. Tahu-tahu si cewek denger si kapster ngomong sesuatu ke dia sayup-sayup.
“Apa?” tanya si cewek.
“Mau baca majalah, nggak, Teh?” tanya si kapster.
“Oh enggak, enggak, makasih,” jawab si cewek.

Akhirnya selesailah acara luluran kaki itu. Sebelum si cewek mbayar di kasir, dia ke toilet dan nyiapin beberapa lembar fulus. Lalu keluar dari toilet, si cewek balik ke ruang creambath dan nyariin mbak-mbak yang mijetin kepalanya tadi. “Mbak, makasih ya,” katanya sambil nyelipin fulus ke si kapster.
Si kapster seneng, sementara si cewek minggat dan nyariin kapster yang tadinya mijetin kakinya. Ternyata si kapster itu lagi fesbukan di HP. “Mas, makasih ya,” tiba-tiba dia menghampiri si kapster itu.
Si tukang pijet kaki itu nampak terkejut, tapi berseri-seri waktu nerima tip yang menurut gw nggak seberapa itu.

“Tumben lu ngasih tip, biasanya lu saban creambath di situ nggak pernah ngasih tip,” kata gw waktu si cewek cerita itu ke gw.
Lalu si cewek cerita ke gw. “Gw udah creambath di situ berkali-kali dengan kapster yang beda-beda, dan mereka selalu iya-iya aja apapun yang gw minta. Tapi sekali ini gilirannya gw minta dibilas pake air dingin, si neng itu malah ngeguyur pake air anget dulu coz dia peduli perkara lemak di rambut gw. Coba kalo dia nggak kasih tahu gw bahwa bekas creambath itu kudu diguyur air anget dulu, barangkali hasil creambath gw nggak akan seoptimal yang gw inginkan.”
Dan perkara tukang pijet refleksi itu, dia melanjutkan, “Gw masuk ke salon itu dalam keadaan be-te berat gara-gara gw berantem sama adek gw dan nyokap gw. Nampaknya si kapster ngerti hati gw lagi susah, jadi dia mencoba nyenengin hati gw dengan nawarin majalah.”
Dia menelan ludah dan bilang, “Orang-orang ini nggak cuman menjalankan pekerjaan mereka, Vic. Tapi mereka juga peduli sama konsumennya. Makanya gw kasih tip. Coz gw suka hasil kerjaan mereka. Mereka bekerja itu pake hati.”

***

Kita kadang-kadang melayani klien cuman seperlunya aja, tapi kadang-kadang kita lupa menarik hati konsumen supaya mereka seneng sama layanan kita. Sebagai contoh kecil aja, minggu lalu bokap gw pergi ke Banceuy beli kopi di toko langganan kami. Adek gw bertanya-tanya kenapa bokap gw harus pergi sejauh itu, padahal kopi yang sama banyak dijual di toko-toko yang lebih dekat dengan rumah kami.

Lalu nyokap gw menjelaskan, bahwa waktu bokap gw pergi ke toko itu, si penjualnya nanya, bokap gw mau nyimpen kopi itu sampek kapan. Jawab bokap gw, paling-paling sebulan juga udah abis. E-eh, si penjual kopi malah bilang, bokap gw nggak usah beli banyak-banyak, tapi sedikit-sedikit aja. Soalnya kalo disimpennya sampek lama a la penyimpanan rumah tangga kami, bisa-bisa kualitas kopinya berkurang.

Padahal kalau penjualnya cuman ngejar keuntungan, dia bisa aja membiarkan bokap gw beli kopi sebanyak-banyaknya, kan? *wink*

Pernah juga beberapa minggu lalu gw ma’em pizza di Dago. Gw baru pertama kali ke sana, dan gw nanya pizzanya segede apa. Si pelayan malah nganjurin gw buat pesen satu dulu, nanti kalau kurang boleh pesen lagi. Betul-betul tidak serakah.

Nyatanya, gw malah nambah pizza lagi sampek dua kali. Ukuran besar. :-)

Dan memotretnya dengan spontan.

Teman gw akan creambath di salon itu lagi. Dan bokap gw akan beli kopi di tempat itu lagi. Dan gw akan makan pizza di sana lagi, sambil bawa orang lain.

Jadi, sudahkah kita melayani klien kita dengan hati?

Monday, May 24, 2010

Tas Cewek Kecil Amat..


Lihat isi tas Anda dan mari kita inventarisir. Ada apa aja di dalamnya? Mungkin dompet atau HP. Di tas nyokap gw selain ada parfum, kadang-kadang bisa aja ada terasi. Eits, jangan ngenyek ya, nyokap gw suka bagi-bagi terasi ke temen-temen arisannya. Dan jangan ditanya betapa sumringahnya ibu-ibu wangi itu kalau dikasih terasi. Langsung tuh terasi dijejalin ke dalam tas mereka yang merknya bisa Louis Vuitton atau Birkin itu.

Lha tas gw sendiri sebenarnya nggak berat-berat amat kalau gw nggak punya ide sinting bawa sendal teplek di dalem tas gw. Hahaha..iya, kadang-kadang gw bawa sendal teplek! Soalnya gini lho, Sodara-sodara.. Gw kan hobi pakai sepatu hak tinggi ke mana-mana. Tapi kadang-kadang situasi dugem tuh suka nggak cocok sama sepatu hak tinggi. Bayangin, gw udah cakep-cakep dateng ke restoran keren, nggak tahunya sampek di sana tempat parkirnya kepenuhan. Mau parkir di pinggir jalan, ternyata ujan bin becek pula. Mana tahan sepatu hak tinggi gw dipakai basah-basahan di trotoar yang nggak jelas mana semen mana tanah? Akibatnya sering gw turun dari mobil dan masuk ke restorannya pakai sendal teplek, terus begitu udah dapet tempat duduk baru ganti pakai sepatu hak tinggi, hihihi!
(Aneh ya, padahal kan makan pakai mulut, bukan pakai sepatu..)

Nah, kemaren adek gw mau pergi ke simposium dan seperti biasa dos-q fitting kostum dulu sebelum pergi. Kemaren rencananya dos-q mau pakai gaun casual, dan tas yang matching warnanya sama gaunnya ternyata kecil. Tasnya mungkin cuman sekecil ubin kamar mandi gitu deh, jadi cuman muat bawa dompet dan HP. Padahal adek gw mau bawa dompet kosmetik dan mukena.

"Sudah, ganti tas aja sama yang lebih gede," kata gw.
Adek gw manyun. "Tas yang gede nggak cocok warnanya sama bajunya.."

Gw ketawa terbahak-bahak.

Iya ya, kalau dipikir-pikir, nggak penting meskipun gw punya tas sampek selemari, tetep aja gw paling nyaman pakai tas yang itu-itu aja. Gw maunya pakai tas yang gede, yang nggak cuman muatin dompet dan HP aja, tapi gw juga kepingin bawa payung dan sendal coz cuaca di Indonesia makin lama makin nggak bisa ditebak. Sebelah diri gw bilang bahwa gw ini orangnya parnoan, nggak pe-de kalau nggak bawa "peralatan perang" gw, tapi sebelah diri gw yang satu lagi bilang bahwa..yah, gw memang nggak mau batal makan-makan cuman gara-gara ujan.

Paling repot tuh kalau acara kondangan. Heran gw, kenapa sih tas wanita kalau ke pesta, yang model clutch itu, pada mungil-mungil semua? Clutch gw tuh kecil banget, cuman buat muat lipstik dan HP doang. Makanya kalau ke kondangan tuh gw selalu berdoa komat-kamit, "Duh, Gusti..mudah-mudahan nanti di tengahnya pesta nggak ada razia polisi dadakan. Soalnya saya nggak bawa KTP.."

Foto oleh Hadi Cahyono, gw edit dari Cosmopolitan.

Sunday, May 23, 2010

Telah Terkonfirmasi Si X Itu Modar

RIP: Telah meninggal dunia: keakuratan retweet di Indonesia.

Gw lupa persisnya siapa yang menulis itu di Twitter, tapi yang jelas status itu sampek bikin gw ngakak terbahak-bahak. Sekaligus miris. Jangan-jangan Anda, seperti gw juga, sering menyiarkan ulang berita dari orang lain tanpa cek apakah berita itu beneran atau enggak.

Kok mendadak gw jadi inget peristiwa tujuh tahun lalu. Gw masih di bangku kuliah, entah itu semester enam atau tujuh, ketika suatu malam pas jam setengah tujuh gw nerima SMS dari seorang teman kuliah yang bunyinya kurang lebih begini, “Fw: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dr Pablo di RS X pada jam 4 sore. Mohon doakan agar beliau beristirahat dengan tenang di sisi Allah SWT.”

Dalam agama gw ada ajaran bahwa menyebarkan berita kematian seseorang itu ada pahalanya, jadi gw forward tuh SMS ke sekitar lima orang teman. E-eh, semenit kemudian dateng balasan SMS dari teman yang gw kirimin forward-an itu, “Salah, tau! Dr Pablo masih sesak jam 6 sore. Slang oksigen belon dicopot, monitor masih bunyi. Senior barusan nengokin ke ICU.”

Dalam hati gw maki-maki tuh orang yang tadi ngirim SMS. Kok bisa-bisanya sih orang belum meninggal tapi sudah di-SMS-in ke mana-mana kalau orangnya sudah nggak ada?

Gimana kalau gw udah dateng capek-capek ke sana pakai baju item-item, dan siap ngasih amplop ke keluarganya sambil bilang, “Sabar ya, Jeng..” Tiba-tiba keluarganya malah menyangkal, “Lho, Bapak masih ada kok. Tuh lagi disuapin bubur ayam..”

Yang repot, kalau sudah disiarin ke mana-mana bahwa seseorang baru saja meninggal, dan semenit kemudian langsung ada yang berinisiatif mendirikan tenda, pesen kursi, pesen katering nasi dus. Di Jogja malah ada tradisi di mana kalau ada orang meninggal, keluarganya sibuk nyiapin souvenir buat yang melayat.

Balik lagi ke cerita dosen gw. Ternyata dr Pablo menderita pada akhir hayatnya. Beliau koma di ICU itu sampek dua hari kemudian, sehingga ketika akhirnya pada suatu pagi di kampus tersiar kabar bahwa beliau betul-betul finis, kami para mahasiswa cuman berkomentar, “Kalo yang ini (meninggal) beneran?”
Kami baru percaya sungguhan dr Pablo meninggal, ketika hari itu salah satu kuliah terpaksa batal gara-gara dosennya melayat dr Pablo.

Pada waktu gw naik pangkat jadi koass, gw baru ngeh bahwa definisi mati untuk tiap orang itu beda-beda. Kami para dokter diajarin bahwa seseorang sudah betul-betul mati ketika batang otaknya sudah nggak kerja. Kadang-kadang seseorang bisa aja nampak di monitor bahwa garis denyut jantungnya sudah lurus (di sinetron-sinetron, biasanya langsung ada adegan keluarga menangis histeris dan menyerbu si pasien yang ceritanya sudah mati), tapi sebenarnya kalau pasiennya dipasangi alat bantu nafas, mungkin saja batang otaknya belum mati. Jadi gw pikir, barangkali yang waktu itu nyiarin pertama kali via SMS bahwa dr Pablo meninggal, mungkin itu baru mati jantung tapi belum mati otak. Jadi sebenarnya malaikat maut belum betul-betul datang menagih utang.

Nanti dulu, masalahnya bukan itu. Jangan sekali-kali bilang bahwa seseorang sudah meninggal, kalau belum ada yang konfirmasi ke keluarga sang mayat. Siyalnya, kita suka sungkan nanya ke keluarganya, “Eh, permisi ya, Jeng. Mau nanya, jadi bapaknya sampeyan ini sudah meninggal apa belum?”

Makanya gw cuman geleng-geleng kepala waktu beberapa hari lalu tersiar cepat di Twitter bahwa Gesang meninggal. E-eh, nggak tahunya orangnya bangun paginya sambil nyanyi Jembatan Merah di ICU. Memang Gesang meninggal malemnya.
Kemaren juga gitu. Sore-sore gw baca lagi di Twitter bahwa Bu Ainun Habibie meninggal di Munich. Persis satu jam kemudian, tersiar tweet dari si tweepsy bersangkutan yang minta maaf karena menyebarkan berita yang salah. Bu Ainun masih kritis, belum meninggal. Tepatnya, Bu Ainun meninggal tadi malem.

Padahal kita semua yakin, kalau memang seseorang meninggal, cepat atau lambat keluarganya akan bikin pengumuman kepada khalayak ramai. Entah itu via Twitter, via Facebook, atau bahkan mungkin konferensi pers. Memang buat kita, pengumuman itu terasa lambat munculnya, apalagi kalau kita merasa “berkewajiban” melayat. Bayangkan, untuk melayat seseorang, barangkali seratus jadwal hari ini harus dibatalkan. Tunda rapat penting. Tunda operasi. Tunda syuting. Apalagi ibu-ibu pejabat mesti ke salon dulu. Kalau kita mau melayat pejabat, kan rambut kudu disasak? :-p

Tetapi, daripada kita sotoy, sok-sok merasa bagian dari keluarga padahal nggak ditunjuk, menyebarkan berita tentang kematian yang nggak kita lihat sendiri dengan jelas, bisakah kita menahan diri untuk menutup mulut? Keluarganya sudah direnggut orang yang mereka cintai, biarkan mereka sendiri yang mengonfirmasi. Karena, cara yang baik untuk menerima kedukaan, adalah mengumumkannya sendiri kepada publik, bahwa: Ya, ayah/ibu/anak/kakak/adik yang kami sayangi itu, memang sudah meninggal.

Gambarnya dari http://saysomethingfunny.wordpress.com

Saturday, May 22, 2010

Bahasa Leluhur Njelimet

Sebenarnya gw mau nulis ini dari beberapa minggu lalu, tapi gw lupa dan baru teringat setelah gw baca blog ini. Nasib deh kalo kebanyakan ide buat ditulis, hihihi.

Suatu hari gw dan teman jalan-jalan keliling Bandung. Pas lewat Jalan Cikapundung, dia terperangah lihat papan nama jalannya, terus motret foto di atas ini. Anda lihat bahwa di papan ini, nama jalan ditulis dalam aksara Latin dan aksara Sunda. Ini memang disengaja oleh Pemerintah Kota sebagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian bahasa Sunda. Biarpun sebenarnya banyak banget orang Sunda yang nggak tahu cara baca aksara ini.

Sebagai seorang turunan Jawa yang gede di Bandung, gw cukup beruntung coz gw mengerti bahasa Jawa dan bahasa Sunda sekaligus. Harap diingat, mengerti bukan berarti bisa ngomong pakai bahasa itu. Maksudnya, gw nyerah kalau disuruh ngoceh pakai bahasa itu, tapi gw ngerti kalau ada yang ngegosipin gw pakai bahasa itu. Mungkin kalau dalam terminologi bahasa Inggris, gw berbahasa dengan pasif, bukan aktif.

Teman gw itu sempat nanya, apakah gw bisa baca aksara Sunda itu. Tentu saja gw nggak bisa. Alasan (1), coz gw memang nggak pernah diajarin waktu sekolah dulu. Alasan (2), coz gw nggak merasa butuh bisa baca itu. Buat gw, melek huruf Latin dan huruf Arab sudah cukup, nggak usah ditambah-tambah lagi. Huruf Latin, coz buat nulis resep ke pasien. Huruf Arab untuk investasi dunia akhirat. Menguasai huruf Sunda (atau bahkan Jawa sekalipun) nggak kasih nilai tambah buat gw. Barangkali, pemikiran-pemikiran kayak gw sini yang bikin aksara daerah pelan-pelan punah.

Pembicaraan tentang bahasa daerah selalu aja bikin mood suram. Banyak kaum sesepuh mengeluh bahwa generasi muda sekarang ogah banget berbicara bahasa daerah. Saking suramnya, sebuah kabupaten di Jawa Barat yang gw lupa namanya, sampek mencanangkan hari Jumat sebagai hari berbahasa Sunda di sekolah. Jadi, kalau hari Jumat, setiap murid dan guru diharuskan ngomong apa-apa pakai bahasa Sunda (di luar jam pelajaran), tanpa pandang bulu biarpun muridnya bukan etnis Sunda sekalipun. Gw langsung bersyukur, untung gw udah lulus.

Orang tua gw sendiri juga nggak pernah ngajarin bahasa Jawa di rumah. Gw bisa ngerti bahasa Jawa hanya karena sering menguping obrolan mereka. Akibatnya, bahasa Jawa gw belepotan coz gw sulit nemu kata yang tepat.

Kadang-kadang, untuk keperluan bergaul, gw mencoba ngomong Sunda ke teman-teman gw yang orang Sunda. Hasilnya, mereka malah mandang gw dengan tatapan ganjil. “Vic, lu ngomong Indonesia aja deh, jangan pakai bahasa Sunda.”

Sekalinya ketemu teman-teman dari Surabaya yang sekolah di ITB dan mereka memanggil satu sama lain dengan “jancuk”. Gw merasa ketemu sodara seetnis dan berusaha ngikut ngomong Jawa, tapi mereka menyebut gw “Jawa murtad” (orang Jawa yang nggak bisa ngomong Jawa).

Gw merasa seperti Yahudi. Ditolak di negeri orang, ditolak di negerinya sendiri. Makanya pandangan politik gw nggak pernah musuhin Israel coz gw ngerti apa yang mereka resahkan.

Yang lucu pernah suatu hari gw mau sowan pertama kalinya ke bonyoknya pacar gw yang Jawa tulen. Sebelum gw pergi, nyokap gw mewanti-wanti, “Don’t speak Javanese to his mother. Koen kalo ngomong itu (unggah-ungguh-nya) kasar.”

Kakak gw yang di Malang ngomel panjang-pendek gara-gara anaknya ulang ke rumah dengan pe-er suruh nulis pakai aksara Jawa. Ponakan gw itu nggak bisa ngerjain, sedangkan kakak gw juga nggak bisa. Tukas Kakak, “Buat apa sih belajar hanacaraka? Memangnya nanti kalo dia anwar barang di pasar ya harus pake nulis hanacaraka?"

Oleh sebab itu, hendaknya kaum sesepuh nggak usah ngomel menuduh generasi muda nggak mau melestarikan bahasa daerah, coz budaya sendiri yang mempersulit bahasa itu untuk berkembang. Sebenarnya solusinya ada aja:

1. Jika anak muda ingin ngomong bahasa daerah ke orangtuanya, ngomong aja sesukanya. Jangan dipaksa harus pakai unggah-ungguh atau undak-usuk basa.

2. Ajari murid bahwa bahasa daerah bisa dipakai untuk keperluan terhormat, misalnya melobi pejabat atau sekedar minta ijin sama dosen supaya boleh nge-date sama anaknya dosen. (:-p) Jadi bukan cuman berfungsi buat nawar tukang becak, atau maki-maki orang yang bikin baret mobil kita.

3. Dewasa ini banyak orang nulis namanya pakai huruf Arab atau huruf Cina buat gaya-gayaan, kenapa nggak ajari murid menulis namanya sendiri pakai huruf bahasa daerah?

4. Bikin lomba nge-rap pakai bahasa daerah buat anak muda, seperti yang sudah dilakukan Ebieth Beat A dengan rap bahasa Sunda-nya. Murid yang bikin lagu paling bagus, diijinkan dapet nilai 9 di rapor tanpa harus ikut ulangan umum.

Pendek kata, kalau bahasa itu bisa dipakai di segala kondisi tanpa harus pakai syarat-syarat yang rese, tentu pemakaian bahasa itu akan berumur panjang.