Sunday, May 23, 2010

Telah Terkonfirmasi Si X Itu Modar

RIP: Telah meninggal dunia: keakuratan retweet di Indonesia.

Gw lupa persisnya siapa yang menulis itu di Twitter, tapi yang jelas status itu sampek bikin gw ngakak terbahak-bahak. Sekaligus miris. Jangan-jangan Anda, seperti gw juga, sering menyiarkan ulang berita dari orang lain tanpa cek apakah berita itu beneran atau enggak.

Kok mendadak gw jadi inget peristiwa tujuh tahun lalu. Gw masih di bangku kuliah, entah itu semester enam atau tujuh, ketika suatu malam pas jam setengah tujuh gw nerima SMS dari seorang teman kuliah yang bunyinya kurang lebih begini, “Fw: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dr Pablo di RS X pada jam 4 sore. Mohon doakan agar beliau beristirahat dengan tenang di sisi Allah SWT.”

Dalam agama gw ada ajaran bahwa menyebarkan berita kematian seseorang itu ada pahalanya, jadi gw forward tuh SMS ke sekitar lima orang teman. E-eh, semenit kemudian dateng balasan SMS dari teman yang gw kirimin forward-an itu, “Salah, tau! Dr Pablo masih sesak jam 6 sore. Slang oksigen belon dicopot, monitor masih bunyi. Senior barusan nengokin ke ICU.”

Dalam hati gw maki-maki tuh orang yang tadi ngirim SMS. Kok bisa-bisanya sih orang belum meninggal tapi sudah di-SMS-in ke mana-mana kalau orangnya sudah nggak ada?

Gimana kalau gw udah dateng capek-capek ke sana pakai baju item-item, dan siap ngasih amplop ke keluarganya sambil bilang, “Sabar ya, Jeng..” Tiba-tiba keluarganya malah menyangkal, “Lho, Bapak masih ada kok. Tuh lagi disuapin bubur ayam..”

Yang repot, kalau sudah disiarin ke mana-mana bahwa seseorang baru saja meninggal, dan semenit kemudian langsung ada yang berinisiatif mendirikan tenda, pesen kursi, pesen katering nasi dus. Di Jogja malah ada tradisi di mana kalau ada orang meninggal, keluarganya sibuk nyiapin souvenir buat yang melayat.

Balik lagi ke cerita dosen gw. Ternyata dr Pablo menderita pada akhir hayatnya. Beliau koma di ICU itu sampek dua hari kemudian, sehingga ketika akhirnya pada suatu pagi di kampus tersiar kabar bahwa beliau betul-betul finis, kami para mahasiswa cuman berkomentar, “Kalo yang ini (meninggal) beneran?”
Kami baru percaya sungguhan dr Pablo meninggal, ketika hari itu salah satu kuliah terpaksa batal gara-gara dosennya melayat dr Pablo.

Pada waktu gw naik pangkat jadi koass, gw baru ngeh bahwa definisi mati untuk tiap orang itu beda-beda. Kami para dokter diajarin bahwa seseorang sudah betul-betul mati ketika batang otaknya sudah nggak kerja. Kadang-kadang seseorang bisa aja nampak di monitor bahwa garis denyut jantungnya sudah lurus (di sinetron-sinetron, biasanya langsung ada adegan keluarga menangis histeris dan menyerbu si pasien yang ceritanya sudah mati), tapi sebenarnya kalau pasiennya dipasangi alat bantu nafas, mungkin saja batang otaknya belum mati. Jadi gw pikir, barangkali yang waktu itu nyiarin pertama kali via SMS bahwa dr Pablo meninggal, mungkin itu baru mati jantung tapi belum mati otak. Jadi sebenarnya malaikat maut belum betul-betul datang menagih utang.

Nanti dulu, masalahnya bukan itu. Jangan sekali-kali bilang bahwa seseorang sudah meninggal, kalau belum ada yang konfirmasi ke keluarga sang mayat. Siyalnya, kita suka sungkan nanya ke keluarganya, “Eh, permisi ya, Jeng. Mau nanya, jadi bapaknya sampeyan ini sudah meninggal apa belum?”

Makanya gw cuman geleng-geleng kepala waktu beberapa hari lalu tersiar cepat di Twitter bahwa Gesang meninggal. E-eh, nggak tahunya orangnya bangun paginya sambil nyanyi Jembatan Merah di ICU. Memang Gesang meninggal malemnya.
Kemaren juga gitu. Sore-sore gw baca lagi di Twitter bahwa Bu Ainun Habibie meninggal di Munich. Persis satu jam kemudian, tersiar tweet dari si tweepsy bersangkutan yang minta maaf karena menyebarkan berita yang salah. Bu Ainun masih kritis, belum meninggal. Tepatnya, Bu Ainun meninggal tadi malem.

Padahal kita semua yakin, kalau memang seseorang meninggal, cepat atau lambat keluarganya akan bikin pengumuman kepada khalayak ramai. Entah itu via Twitter, via Facebook, atau bahkan mungkin konferensi pers. Memang buat kita, pengumuman itu terasa lambat munculnya, apalagi kalau kita merasa “berkewajiban” melayat. Bayangkan, untuk melayat seseorang, barangkali seratus jadwal hari ini harus dibatalkan. Tunda rapat penting. Tunda operasi. Tunda syuting. Apalagi ibu-ibu pejabat mesti ke salon dulu. Kalau kita mau melayat pejabat, kan rambut kudu disasak? :-p

Tetapi, daripada kita sotoy, sok-sok merasa bagian dari keluarga padahal nggak ditunjuk, menyebarkan berita tentang kematian yang nggak kita lihat sendiri dengan jelas, bisakah kita menahan diri untuk menutup mulut? Keluarganya sudah direnggut orang yang mereka cintai, biarkan mereka sendiri yang mengonfirmasi. Karena, cara yang baik untuk menerima kedukaan, adalah mengumumkannya sendiri kepada publik, bahwa: Ya, ayah/ibu/anak/kakak/adik yang kami sayangi itu, memang sudah meninggal.

Gambarnya dari http://saysomethingfunny.wordpress.com