Saturday, May 22, 2010

Bahasa Leluhur Njelimet

Sebenarnya gw mau nulis ini dari beberapa minggu lalu, tapi gw lupa dan baru teringat setelah gw baca blog ini. Nasib deh kalo kebanyakan ide buat ditulis, hihihi.

Suatu hari gw dan teman jalan-jalan keliling Bandung. Pas lewat Jalan Cikapundung, dia terperangah lihat papan nama jalannya, terus motret foto di atas ini. Anda lihat bahwa di papan ini, nama jalan ditulis dalam aksara Latin dan aksara Sunda. Ini memang disengaja oleh Pemerintah Kota sebagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian bahasa Sunda. Biarpun sebenarnya banyak banget orang Sunda yang nggak tahu cara baca aksara ini.

Sebagai seorang turunan Jawa yang gede di Bandung, gw cukup beruntung coz gw mengerti bahasa Jawa dan bahasa Sunda sekaligus. Harap diingat, mengerti bukan berarti bisa ngomong pakai bahasa itu. Maksudnya, gw nyerah kalau disuruh ngoceh pakai bahasa itu, tapi gw ngerti kalau ada yang ngegosipin gw pakai bahasa itu. Mungkin kalau dalam terminologi bahasa Inggris, gw berbahasa dengan pasif, bukan aktif.

Teman gw itu sempat nanya, apakah gw bisa baca aksara Sunda itu. Tentu saja gw nggak bisa. Alasan (1), coz gw memang nggak pernah diajarin waktu sekolah dulu. Alasan (2), coz gw nggak merasa butuh bisa baca itu. Buat gw, melek huruf Latin dan huruf Arab sudah cukup, nggak usah ditambah-tambah lagi. Huruf Latin, coz buat nulis resep ke pasien. Huruf Arab untuk investasi dunia akhirat. Menguasai huruf Sunda (atau bahkan Jawa sekalipun) nggak kasih nilai tambah buat gw. Barangkali, pemikiran-pemikiran kayak gw sini yang bikin aksara daerah pelan-pelan punah.

Pembicaraan tentang bahasa daerah selalu aja bikin mood suram. Banyak kaum sesepuh mengeluh bahwa generasi muda sekarang ogah banget berbicara bahasa daerah. Saking suramnya, sebuah kabupaten di Jawa Barat yang gw lupa namanya, sampek mencanangkan hari Jumat sebagai hari berbahasa Sunda di sekolah. Jadi, kalau hari Jumat, setiap murid dan guru diharuskan ngomong apa-apa pakai bahasa Sunda (di luar jam pelajaran), tanpa pandang bulu biarpun muridnya bukan etnis Sunda sekalipun. Gw langsung bersyukur, untung gw udah lulus.

Orang tua gw sendiri juga nggak pernah ngajarin bahasa Jawa di rumah. Gw bisa ngerti bahasa Jawa hanya karena sering menguping obrolan mereka. Akibatnya, bahasa Jawa gw belepotan coz gw sulit nemu kata yang tepat.

Kadang-kadang, untuk keperluan bergaul, gw mencoba ngomong Sunda ke teman-teman gw yang orang Sunda. Hasilnya, mereka malah mandang gw dengan tatapan ganjil. “Vic, lu ngomong Indonesia aja deh, jangan pakai bahasa Sunda.”

Sekalinya ketemu teman-teman dari Surabaya yang sekolah di ITB dan mereka memanggil satu sama lain dengan “jancuk”. Gw merasa ketemu sodara seetnis dan berusaha ngikut ngomong Jawa, tapi mereka menyebut gw “Jawa murtad” (orang Jawa yang nggak bisa ngomong Jawa).

Gw merasa seperti Yahudi. Ditolak di negeri orang, ditolak di negerinya sendiri. Makanya pandangan politik gw nggak pernah musuhin Israel coz gw ngerti apa yang mereka resahkan.

Yang lucu pernah suatu hari gw mau sowan pertama kalinya ke bonyoknya pacar gw yang Jawa tulen. Sebelum gw pergi, nyokap gw mewanti-wanti, “Don’t speak Javanese to his mother. Koen kalo ngomong itu (unggah-ungguh-nya) kasar.”

Kakak gw yang di Malang ngomel panjang-pendek gara-gara anaknya ulang ke rumah dengan pe-er suruh nulis pakai aksara Jawa. Ponakan gw itu nggak bisa ngerjain, sedangkan kakak gw juga nggak bisa. Tukas Kakak, “Buat apa sih belajar hanacaraka? Memangnya nanti kalo dia anwar barang di pasar ya harus pake nulis hanacaraka?"

Oleh sebab itu, hendaknya kaum sesepuh nggak usah ngomel menuduh generasi muda nggak mau melestarikan bahasa daerah, coz budaya sendiri yang mempersulit bahasa itu untuk berkembang. Sebenarnya solusinya ada aja:

1. Jika anak muda ingin ngomong bahasa daerah ke orangtuanya, ngomong aja sesukanya. Jangan dipaksa harus pakai unggah-ungguh atau undak-usuk basa.

2. Ajari murid bahwa bahasa daerah bisa dipakai untuk keperluan terhormat, misalnya melobi pejabat atau sekedar minta ijin sama dosen supaya boleh nge-date sama anaknya dosen. (:-p) Jadi bukan cuman berfungsi buat nawar tukang becak, atau maki-maki orang yang bikin baret mobil kita.

3. Dewasa ini banyak orang nulis namanya pakai huruf Arab atau huruf Cina buat gaya-gayaan, kenapa nggak ajari murid menulis namanya sendiri pakai huruf bahasa daerah?

4. Bikin lomba nge-rap pakai bahasa daerah buat anak muda, seperti yang sudah dilakukan Ebieth Beat A dengan rap bahasa Sunda-nya. Murid yang bikin lagu paling bagus, diijinkan dapet nilai 9 di rapor tanpa harus ikut ulangan umum.

Pendek kata, kalau bahasa itu bisa dipakai di segala kondisi tanpa harus pakai syarat-syarat yang rese, tentu pemakaian bahasa itu akan berumur panjang.