Sebelum saya berangkat ke Surabaya bulan lalu, bokap saya udah mewanti-wanti supaya saya mawas diri coz biaya hidup di Surabaya itu tinggi. Saya kirain yang bokap saya maksud dengan “biaya tinggi” adalah karena di sana bemonya cukup jarang lantaran kebanyakan orang bawa mobil sendiri. Semula saya tenang-tenang aja coz saya nggak keberatan naik bemo, toh di Surabaya saya cuman tinggal sebulan ini. Tapi ternyata saya baru ngeh kalau yang dimaksud “biaya tinggi” adalah biaya yang mesti dikeluarin para warga Surabaya buat pakai AC.
Surabaya ternyata kota paling panas di Indonesia (meskipun saya nggak yakin, kan saya belum pernah ke Pontianak yang jelas-jelas dilalui garis khatulistiwa). Surabaya lebih panas ketimbang Jakarta, ketimbang Pulang Pisau, ketimbang Medan, ketimbang kota-kota manapun yang pernah saya satronin. Semua orang pakai AC di mana-mana, entah di mobil, di kantor, di rumah. Kadang-kadang saya kesiyan sama deretan rumah-rumah yang bagus-bagus di jalan protokol Surabaya yang tembok luarnya dikotor-kotorin oleh perabotan AC.
Saya yang warga Bandung, sampek senewen menghadapi udara panas Surabaya. Pindah dari Bandung ke Surabaya serasa pindah dari Rusia ke Gurun Sahara. Nggak masuk akal, mosok kadang-kadang sehari saya mandi sampek tiga kali. Bener-bener boros sabun. Pokoknya betul bahwa biaya hidup di Surabaya itu tinggi, coz boros listrik buat nyalain AC atau kipas angin, boros sabun mandi, dan boros deterjen coz pakai baju baru sebentar aja langsung keringetan.
Selama sebulan saya tinggal di sana, hujan cuman turun empat kali. Ironisnya, saban kali saya buka Twitter dan mbaca tweet-an orang-orang Jakarta, isinya keluhan tentang Jakarta kehujanan melulu sampek nggak bisa dipakai jalan-jalan ke mana-mana. Saya sebel ngeliatnya, mbok orang-orang Jawa sebelah barat ini pindah aja ke Surabaya supaya mereka nggak ngeluh kehujanan terus-menerus. Saya bingung kenapa hujan cuman turun di Jawa sebelah barat, sedangkan di sebelah timur keadaannya kering-kerontang. Saking keringnya, saya njemur baju mulai jam setengah enam pagi aja, jam 10 siang sudah kering.
Sekarang saya ngerti kenapa my hunk selalu bersukaria tiap kali hujan. Coz itu berarti Surabaya jadi dingin dan dia bisa enak-enakan melungker di tempat tidur. Lha buat saya, Surabaya mau hujan apa enggak, nggak ada bedanya. Biarpun hujan, saya tetep pasang kipas angin banter-banter, coz hujan nggak bisa menurunkan suhu udara yang rata-rata 35 C. By the way on the way busway, fisiologi badan saya masih berdasarkan suhu rumah saya di Bandung yang cuman 19 C.
Ketika saya pulang ke Bandung kemaren, saya baru ngeh bahwa alangkah beruntungnya saya bisa menyesuaikan diri dengan kota beriklim panas dan kota beriklim dingin sekaligus. Di Bandung, hujan turun hampir setiap hari tanpa tedeng aling-aling, bikin asisten pribadi nyokap saya kelimpungan coz ngejemur baju jadi lama keringnya, dan saya jadi ngamuk coz tiap kali hujan, koneksi Speedy saya entah bagaimana langsung lemot. Apakah kabel teleponnya terendam hujan? Kok nggak keren banget.

Ramalan amatir saya, sampek 50 tahun lagi, Jakarta nggak akan bebas dari banjir. Coz mereka sudah merombak hutan-hutan bakau menjadi hutan apartemen. Jika kau ingin tinggal dan bekerja di Jakarta, yang pertama harus kaupikirkan adalah apakah rumahmu bebas banjir. Apakah jalanmu menuju kantor juga bebas banjir. Nggak usah mikirin beli mobil dulu. Mobil semewah apapun nggak bisa membebaskanmu dari banjir, kecuali kalau kamu naik tank. Kalau kamu nggak bisa berhadapan dengan risiko kemacetan dan kebanjiran itu, nggak usah ngomel jika kamu adalah penduduk Jakarta. Coz ngomel nggak ada gunanya.

Jangan ngamuk sama alam. Kitalah yang mesti menyesuaikan diri. Dan berhentilah ngamuk sama gubernur. Dia mungkin arsitek yang pinter menata kota, tapi butuh lebih dari satu orang arsitek untuk mengusir orang-orang yang suka buang sampah sembarangan di bantaran kali Ciliwung.
Gambar cowok kebanjiran di atas diambil dari sini. Kalau foto saya di atas dijepret oleh mas yang ini.