Monday, December 3, 2012

Jejaknya Mulai Panas Lagi

Selama bertahun-tahun ia menghilang. Kami mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada tanda-tanda ia masih ada. Padahal kami merindukannya setengah mati, di setiap liter aliran darah kami rasa itu masih ada dan ingin kami rasakan lagi. Kami bingung ke mana kami harus mencari.

Nyokap saya bilang, ia tidak ada duanya. Bokap saya mufakat, ia tidak pernah minta uang banyak-banyak. Adek saya pernah carikan alternatif lain, tapi rasanya tidak ada yang menyamainya. Saya lebih realistis, saya merasa kita akan menemukan penggantinya suatu saat nanti. Meskipun saya belum pernah berhasil menemukan penggantinya. Ia adalah..







..rumah makan Cwie Mie Malang.

***

Dulu posisinya beberapa meter dari supermarket Borma di kawasan Setiabudi, Bandung. Kami makan di situ beberapa bulan sekali. Yang jual itu orang Tionghoa keturunan Jawa. Setiap ke sana saya selalu pesan cwie mie ayam dengan minuman lemon squash. Biarpun yang jual itu matanya sipit, tapi restoran itu nggak ada babinya. Harganya pun tidak mahal-mahal amat. Makanya kami suka.


Lalu beberapa tahun lalu, saya meninggalkan rumah dan pergi ke Cali. Ketika saya kembali ke rumah, restoran cwie mie itu sudah nggak ada lagi. Ada sedikit perasaan sedih, saya belum sempat traktir teman di situ, kok restorannya sudah nggak ada. Padahal tempat itu enak, dekat rumah. Bangkrutkah ia? Mungkinkah penggemarnya sedikit? Siyalan, seharusnya populasi orang Jawa seperti saya di kawasan Bandung Utara lebih banyak.

Tahun pun berlalu. Saya pergi ke Surabaya dan nyaris lupa terhadap rumah makan kenangan yang sudah tidak ada itu. Lagi pula di Surabaya banyak rumah makan Cina yang jualan cwie mie. Meskipun saya rada waswas juga karena pengawasan terhadap babi di rumah makan Cina di Surabaya tidak begitu ketat. Saya nggak percaya cwie mie kalau yang masak itu bukan Tionghoa. Sama seperti saya nggak percaya ravioli kalau yang masak itu bukan orang Itali.

Kemaren, saya pulang ke Bandung. Bonyok saya ngajakin saya makan di restoran Belgia dekat rumah. Kami ambil meja di balkon. Tempat itu cukup rame dan pelayannya gesit bergerak ke sana kemari.
Tak sengaja nyokap saya melirik ke meja sebelah kami. Dua orang bapak Tionghoa lagi ngobrol akrab. Nyokap saya mengamati salah satunya dengan teliti.

"Eh.." Nyokap saya berbisik ke saya dan adek saya. "Kayaknya bapak itu yang jual cwie mie yang di depan Borma dulu deh.."

Saya mengerutkan kening. "Really?" Saya ragu. Jujur aja, saya nggak pernah kepikiran buat ngapalin muka pemilik restoran manapun.

"Iya!" kata nyokap saya yakin.

Saya dan adek saya melirik pakcik itu sembunyi-sembunyi. Saya bingung kenapa kami harus peduli. Kalau memang dia yang jual cwie itu, terus kenapa?

Nyokap saya makin galau. "Kira-kira, dia sekarang jualan cwie mie-nya di mana ya?"
Saya mulai mulas. Kepikiran saya melakukan sesuatu, yang bisa jadi akibat impuls rutin akan rasa penasaran. Saya tahu impuls itu semakin kuat apabila itu menyangkut makanan!

Nyokap saya ternyata sudah mendahului saya. "Tanya ah!" katanya tiba-tiba.

Saya terperanjat. Ingin saya mencegah nyokap, tapi saya seolah terpaku di kursi saya. Mom, bagaimana kalau ternyata salah? Bagaimana kalau ternyata bapak Cina itu bukan yang jualan cwie mie itu? Kan saya yang duduk sama nyokap saya di meja sebelahnya jadi malu? Mosok saya harus pindah meja? Mana mejanya sudah pe-we pula, di balkon? Eh nggak pa-pa sih, di ruang dalem kayaknya lebih bebas dari asap rokok..

Nyokap saya melirik bokap saya, seolah meminta restu untuk menembak Cina asing di meja sebelah. Bokap saya, yang berkepentingan akan cwie mie enak bin halal bin murah, malah mengangguk setuju. Saya mengatupkan tangan di dada, berdoa. Tuhan, setiap detik hidup itu ada risikonya. Jika malu karena salah tembak itu adalah risiko yang saya hadapi, mohon bimbing saya untuk dapat melaluinya, ya Tuhan..

Lalu nyokap saya berjalan tenang menghampiri meja sebelah. "Mohon maaf, Pak.." katanya mengusik obrolan mereka. "Saya mau tanya, apakah Bapak dulu yang jualan cwie mie di dekat Borma?"

Tanpa diduga, tiba-tiba si Tionghoa itu menjawab sambil tersenyum, "Betul."

Mendadak rasa deg-degan saya langsung hilang!

"Oh, ke mana sekarang cwie mie-nya, Pak?" Nada suara nyokap saya terdengar girang.

"Sudah nggak jualan lagi, Bu," si pakcik Tionghoa berseri-seri. "Pindah ke Rumah Mode. Sekarang yang jual itu kakak saya."

"Nama tempatnya apa?" Tahu-tahu bokap saya ikut nimbrung.

"Cwie Mie Malang," sahut si pakcik riang.

"Oke, di Rumah Mode ya? Nanti saya lihat," bokap saya langsung bersemangat.

"Terima kasih ya, Pak. Maaf mengganggu," nyokap saya mengangguk sembari nyengir, lalu kembali ke meja kami.

Lalu pakcik-pakcik itu kembali melanjutkan obrolan mereka, seolah interupsi bikinan nyokap saya barusan tidak pernah terjadi.

Sementara bokap, nyokap, adek dan saya menghela nafas lega di meja kami. Cwie mie dekat Borma itu ternyata tidak bangkrut. Mereka cuma tutup mungkin karena sewa tempatnya habis masa kontrak. Cwie mie itu masih ada, cuman pindah lokasi. Lokasi yang baru itu titik keramaiannya lebih padat, moga-moga omzetnya lebih besar. Jadi kemungkinan bangkrutnya juga lebih kecil. Jadi moga-moga rumah makannya masih lama bertahannya. Yang paling penting, lokasi barunya masih dekat rumah kami! ^^

Saya lebih lega lagi karena saya batal malu lihat nyokap saya nembak orang asing.. :p

***

Saya belum sempat ke Rumah Mode di kawasan Setiabudi itu, karena saya keburu harus pulang ke Surabaya. Biar bonyok atau adek saya aja yang inspeksi ke sana. Yang jelas, jejak Cwie Mie Malang yang hilang itu sudah mulai panas lagi. Rumah makan kesukaan keluarga kami, nampaknya akan segera kami temukan kembali.. :)
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com