Monday, January 7, 2013

Dicari: Suami Tidak Pilih-pilih

Jodoh itu di tangan Tuhan.

Jadi, sebaiknya kamu ambil jodohmu itu dari tangan Tuhan. Apa kamu pikir Tuhan akan kasih langsung ke kamu begitu saja?

***

Saya kebagian titipan dari teman saya, seorang perempuan yang kebetulan belum punya suami. Pacarnya bubar tahun lalu dan sekarang dos-q kepingin punya teman kencan. Dos-q nitip ke saya, siapa tahu saya punya teman laki-laki yang kosong, tolong dikenalin ke dos-q. Spesifikasinya, teman saya ini maunya laki-laki yang pergi sholat Jumat.

Jadi saya kirim message ke kolega saya. Terakhir kali saya ketemu kolega saya tahun lalu, dos-q masih jomblo. Jadi saya bilang, saya mau kenalin dos-q ke teman cewek saya tadi. Saya bilang teman saya itu dosen bahasa Inggris.

Terus..kolega saya itu malah njawab, "Nggak ada yang dokter? Hehehe.."
Jawaban itu kontan bikin saya urung dan langsung menjejalkan HP ke dalam tas!


***

Saya heran kenapa dokter mau pilih pacar aja minta yang sesama dokter juga.
Saya lebih heran lagi kenapa orang kepingin pacar aja masih ngajuin syarat segala, minta syaratnya pekerjaan tertentu pula.
Apakah dia pikir pekerjaan tertentu itu adalah jaminan bahwa pernikahannya bahagia?

Saya ingat bagaimana saya mendengarkan teman cewek saya yang kepingin teman kencan itu. Dia tanya bagaimana saya mendapatkan my hunk (cerita lengkapnya sudah saya tulis di sini).

***
Foto dijepret oleh +Erditya I. Wirasta 


Saya bukan guru jodoh yang baik, mengingat raport saya dalam dunia perasmaraan lebih buruk ketimbang malam Tahun Baru. Kepadanya saya bilangin waktu saya kenalan sama my hunk pertama kali, saya nggak niat menjadikannya pacar. Mimpi kencan sama dos-q pun tidak. Tapi saya punya naluri untuk berteman, jadi saya mutusin untuk temenan aja sama dos-q (kami tukeran alamat e-mail, nomer HP, saling follow Twitter, add Facebook, ya "prosedur" standar gitulah).
Bahwa pada akhirnya saya dan my hunk saling naksir dan mutusin buat pacaran, itu terbentuk karena kami sering ngobrol. Media ngobrolnya ya dari hal-hal yang saya sebutin tadi.

Tapi intinya jelas. Kalau Anda kepingin punya pacar, baiknya niatnya jangan nyari jodoh dulu. Mulailah dari temenan. Dari level temenan itu Anda bisa menilai orang ini baik atau tidak. Kalau orangnya baik, instinct buat naksir itu nanti terbentuk sendiri, tinggal urusan waktu sampek Anda berani buat nembak atau enggak.
Tapi kalau dari awal kenalan niatnya sudah kepingin ngegaet jadi pacar, jika dalam perjalanan kenalan itu ditemukan hal-hal yang nggak cocok (misalnya ternyata pekerjaannya si prospek itu bukan pekerjaan yang kita inginkan), itu akan menutupi kualitas dari si prospek yang sebetulnya justru kita inginkan sebagai calon teman kencan.

Makanya jadi orang, mesti ikhlas dan nggak milih-milih. Pikirkan prinsip kita kenapa kepingin punya suami/istri, dan kenapa kita menetapkan syarat "don't" buat si calon prospek. Contoh:
1. Saya harus punya suami yang bisa nemenin saya ke Mekkah. Berarti syaratnya, jangan cari suami yang bukan muslim (soalnya Mekkah kan dilarang dimasukin non-muslim).
2. Istri saya harus wangi. Berarti syaratnya, jangan mau sama cewek yang doyan masak. Soalnya cewek yang doyan masak biasanya bau bawang habis masak barbeque-an.
3. Suami saya harus bisa ngobrol sama bapak saya yang cuma bisa ngomong bahasa Tionghoa. Apakah ini berarti cari pacar harus sesama Tionghoa, atau gimana kalau kita kencan sama siapapun yang kita suka tapi kita suruh aja dia les bahasa Tionghoa?
4. Istri saya harus dokter. Soalnya saya sakit jantung dan sebentar lagi saya mau meninggal. Lebih disukai punya sertifikat ACLS, apalagi kalau punya alat intubasi!

Saya inget saya pernah ngeluh di blog bahwa saya takut calon mertua saya nuntut saya harus bisa masak. Dan saya inget waktu itu +Arman Tjandrawidjaja ngomentar, "Kalo gak bisa masak tapi dicereweti mertua ya nyari mertua yang lain aja... "
Siyalan, lu bener, Man.. :p

Kita yang suruh orang lain kompromi dengan syarat kita, atau kita yang kompromi dengan diri kita sendiri. Tinggal milih. :)
http://laurentina.wordpress.com
http://georgetterox.blogspot.com