Friday, July 16, 2010

Berburu Bebek


Jauh sebelum Foursquare lahir, paman saya sudah rajin mencatat rapi tempat-tempat makan favoritnya dalam PDA kecilnya yang cuman segede telapak tangan. Termasuk juga kalau dia dengar orang lain ngomongin tempat makan enak, dia langsung catet itu di PDA-nya sebagai salah satu "must visited place".

Salah satu tempat yang ada di daftarnya adalah sebuah tempat jualan bebek goreng di kawasan Kartosuro, Solo. Orang-orang bilang di sana bebek gorengnya paling enak se-Solo dan wajib banget buat dicicipin. Maka saya dan paman mampir sana dalam suatu perjalanan panjang dari Malang ke Jogja pada tahun '03. Jalan menuju tempat bebek itu agak mblusuk-mblusuk masuk gang, dan akhirnya kita nemu tempat itu, sebuah warung besar yang nampak sangat lengang. Pemiliknya, seorang bapak-bapak yang pakai sarung, lagi duduk-duduk di terasnya.

Kami bingung ini orang serius jualan bebek apa nggak. "Jualan bebek, Pak?"
Si bapak pakai sarung: "Iya."
Kok si bapak tenang-tenang aja.
"Ada bebeknya?"
"Sudah abis.."

Pantesan.. Saya senyum-senyum gondok.

Kami mau pergi. Paman saya udah mau muter balik dan tancep gas ke Jogja, tapi tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, biasanya abisnya jam berapa, Pak?"
Jawab Bapak Pakai Sarung, "Abisnya..jam sembilan."
Lho? Saya lihat arloji. Ini baru jam 5 sore kok.
Paman saya bingung. "Tapi ini masih sore kok bebeknya sudah abis?"
Si bapak pakai sarung malah ketawa. "Abisnya jam 9 pagi.."

Gubrakk..

***

Itulah. Sampek sekarang saya masih penasaran sama bebek Kartosuro itu, kok bisa-bisanya bebek paling laris se-Solo habis pada jam 9 pagi. Apa dia jualnya ke orang-orang yang mau jualan bebek lagi? Atau bebek itu saking larisnya sampek-sampek stoknya langsung abis sebelum tengah hari?

Siyalnya kami nggak pernah bisa membuktikan itu, coz kami nggak pernah punya cukup waktu buat patroli di Solo. Kami harus selalu buru-buru ke Jogja, atau ke Malang, jadi nggak pernah bisa berada di Solo pagi-pagi.

Maka sewaktu minggu lalu saya dan bokap jalan-jalan di Tegal, kita lihat bebek goreng cap seorang bapak-bapak haji cabang Kartosuro, maka kita pun mampir situ.

Bebeknya kayak yang saya potret ini, dibanderol Rp 13.500 per potong. Bisa pesen yang empuk, bisa juga yang utuh. Kalau utuh, bebeknya pakai tulang. Sedangkan kalau empuk, bebeknya disajikan suwar-suwir. Saya pesen yang utuh, soalnya mumpung saya nggak lagi ja'im jadi supaya saya bisa ngunyah tulangnya kraus-kraus, hehehe..

Bebek di sini disajikan pakai lalab dan sambel korek. Tempat makannya lega dan nggak sumuk, bangkunya lega, jadi cocok buat ngajakin makan tante-tante yang bokongnya gede-gede. (Maklumlah, saya mikirin bude-bude saya yang rata-rata gemuk-gemuk, hehehe..) Bokap saya seneng soalnya servisnya cepet, kita pesen dan bebeknya langsung disajikan lima menit kemudian, padahal waktu itu pengunjungnya masih rame lho. Dan pelayannya bilang tempat itu biasa tutup jam 9 malem, jadi cocoklah buat nomaden mobile kayak saya yang nggak bisa diprediksi jam berapa ada di kota mana, hehehe..

Jadi, mau nggak berburu bebek sampek Kartosuro? Hm, sik ta' pikir-pikir..

Thursday, July 15, 2010

Milih Hotel via Internet

Lagi, lagi, penyakit bokap saya akan kegemarannya getaway secara impulsive kumat lagi. Orang lain boleh bilang ini namanya holiday, tapi buat saya ini namanya getaway. Holiday itu liburan, artinya kau rehat sejenak dari aktivitas rutin. Saya lebih senang nyebut perjalanan saya ini getaway, coz setiap kali saya mau nanya bokap saya, “Kita mau ke mana?” bokap saya selalu njawab, “Ke mana ajalah, asal bukan di Bandung atau Jakarta.”

Dan kebiasaan ini yang bikin saya selalu senewen setengah mati, coz kekuatiran saya jelas: Kalau kita mau jalan-jalan, malamnya kita mau tidur di mana? Bokap saya menganggap bahwa tidur di pom bensin adalah ide yang seksi, tapi saya dan nyokap nggak suka. Buat saya tempat yang seksi untuk tidur adalah tempat yang ada kamar mandinya dan kamar mandinya mengandung air yang bersih buat dipakai kumur-kumur untuk wudhu dan sikat gigi, plus satu ruangan buat selonjoran kaki tanpa kuatir punggung bonyok lantaran tidur sambil duduk. Oh ya, juga ruangannya cukup lebar buat sujud. Saya benci banget sembahyang di trotoar. Malu ah, lagi ngomong sama Tuhan mosok kelihatan orang lain di jalan?

Bokap saya sudah bilang kita nggak akan ke Semarang atau Jogja, coz nggak kuat nyetir ke sana dengan long weekend sesempit ini. Dengan tujuan utama kami adalah ke Brebes, maka saya perkirakan paling banter kami cuman bakalan tidur di Cirebon, Tegal, atau Kuningan. Persoalannya, hotel manakah yang enak di sana? Karena kami nggak punya teman yang tinggal di sana yang bisa kasih informasi tentang hotel yang cukup sesuai selera.

Kali ini saya akan bagi-bagi step-by-step milih hotel yang berlokasi di kota yang nggak kita kenal dengan baik, dan kita cuman bisa mengandalkan telepon.

1. Gunakan Foursquare
Buka Foursquare.com, lalu ketik lokasi kota yang kita tuju, kemudian ketik “hotel” di search engine. Misalnya saya rencana mau nginep di Cirebon, maka saya ganti lokasi Foursquare saya di Cirebon, terus saya ketik “hotel” di search engine. Nanti keluar daftar nama-nama hotel yang ada di kota itu. Klik satu per satu, catet hotel yang paling banyak pengunjung Foursquare-nya.

2. Gunakan Google
Ambil nama hotel yang nampaknya paling laris, lalu ketik namanya di search engine Google. Nanti keluar hasil pencarian, pilih link-link yang sekiranya mengandung review tentang hotel itu biasanya dari http://tripadvisor.com atau http://travelpod.com). Dengan begini kita akan ngerti pendapat orang-orang yang sudah pernah mengunjungi hotel itu, dan kita bisa menentukan apakah hotel ini sesuai dengan selera kita atau enggak.

3. Telepon ke hotel yang bersangkutan
Dari cara resepsionisnya menjawab telepon, sebenarnya kita sudah bisa memperkirakan ini hotel yang profesional atau cuman hotel ecek-ecek. Yang mesti kita tanyain ya standar aja: Apakah kamarnya ada buat hari nginep yang kita mau? Fasilitasnya apa aja, apa kelebihan fasilitas kamar suite ketimbang kamar superior? Tarifnya berapa?

Lebih bagus lagi kalau ternyata dari hasil googling itu kita nemu bahwa hotel itu terdaftar di situs-situs pemesanan hotel, misalnya Booking.com, Otel.com, atau Agoda.com, coz berarti kita bisa pesan kamar via internet dengan harga yang biasanya lebih murah. Hotel yang banyak diiklanin pakai bahasa linggis, biasanya servisnya lebih mantep. Intinya, makin banyak hasil pencarian tentang hotel itu di search engine, biasanya makin representatif kemungkinan hotel itu buat diinepin. Dan pencarian nama hotel di internet, jelas bikin perjalanan jauh lebih efektif ketimbang datang langsung ke kota dan ngabisin waktu muter-muter kota cuman buat milih hotel yang enak.

Gambar-gambarnya ngambil dari sini dan sini

Tuesday, July 13, 2010

Sate Kambing Muda

Kambing sebaiknya jangan berurbanisasi ke Tegal, coz pasti banyak banget orang mau berebutan ngincer kambing buat dijadiin sate. Tegal kota yang cukup kecil buat saya, dan nggak susah nyari sentra warung sate kambing di sini, coz kayaknya warung sate kambing berjejer di pinggir-pinggir tiap ruas jalan. Yang penting dateng aja siang-siang, jangan pagi-pagi, coz saat itulah tandanya asap mengepul-ngepul dari teras warung, sebagai indicator bahwa sate sedang dibakar.

Sate kambing muda disajikan per piringnya 10 tusuk, dan waktu saya dateng weekend kemaren mereka jualnya sekitar Rp 20 ribuan per 10 tusuk. Bumbunya biasa aja, pakai kecap manis dan irisan bawang merah.

Potongan daging kambingnya sedang-sedang aja, nggak terlalu besar, nggak terlalu kecil. Buat saya yang gigi gerahamnya rada-rada sensi sama daging alot, sate kambingnya agak kurang empuk. Saya malah lebih tertarik sama gajihnya, hahaha..

Harap diingat bahwa harga sate kambing di sini cukup fluktuatif menyesuaikan dengan musim. Saya inget saya dateng ke Tegal tahun lalu, dan mereka membanderol satenya sekitar Rp 30.000,- per 10 tusuk. Saya kaget juga denger harganya semahal itu, apakah memang lantaran waktu itu musim Lebaran, atau karena mereka terkesima lihat tampang saya yang terlalu bling-bling. Kesimpulannya, menawar sate kambing di sini bukanlah dosa. Usahakan waktu nawar kau pakai bahasa Jawa logat Jawa, bukan pakai bahasa Jawa logat Bandung.

Penilaian saya pribadi: Yah, satenya cukup enak. Apanya yang kurang? Hm, dagingnya kurang empuk dan saya nggak terlalu antusias sama bumbu kecap. Saya lebih suka bumbu kacang, soalnya lemaknya lebih banyak. Kalau mau ke Tegal, jangan lupa makan sate kambing muda. Tapi kalau tinggal di Bandung dan cuman kepingin pelesir sambil makan sate kambing, ke Puncak atau Cikampek aja sudah cukup..

Monday, July 12, 2010

Geliat Air Terjun di Guci

Hawanya sejuk, dingin, cocok buat orang yang kepingin ngincipin udara segar. Itu kesan saya waktu jalan-jalan ke Guci. Tidak, tidak, Guci ini bukan nama daerah yang jualan gentong air. Guci adalah area di lereng Gunung Slamet yang panorama utamanya adalah air terjun.

Masuk ke Guci ternyata nggak terlalu sulit. Saya ke sana pakai mobil, dan cukup modal Rp 48.000,- termasuk tiket buat empat orang dewasa. Dari pintu gerbang sampek ke air terjun lumayan masih kudu nyetir 10-15 menitan, di jalan beraspal yang mendaki dan berkelok-kelok nyusurin lereng. Ternyata di dalem area yang digerbangin itu masih ada desa kecil yang buat saya lebih mirip pasar, di mana penduduk local tinggal berjejer sambil nawarin rumah-rumah mereka yang udah disulap jadi losmen-losmen kecil (mereka sebut itu vila).

Agak ke dalam dikit, baru saya nemu air terjunnya. Berupa grojogan, cukup deh buat merendam-rendam kaki. Kalau anak kecil mungkin senang main air, kecipak-kecipak sambil sekalian nyebur. Saya nggak turun ke air, saya sudah puas hanya dengan motret dari pinggir jalan raya aja.

Sebenarnya, turis lebih terkonsentrasi di kolam pemandian artifisialnya, yang lebih mirip kolam renang dengan air panas. Di sekelilingnya ada pasar souvenir yang jualan kerajinan tangan dari manik-manik dan baju batik.

Sebenernya saya berencana nginep di sini Sabtu lalu, tapi ternyata di venue saya nemu banyak banget hotel yang kosong, tapi nggak cukup enak buat ditidurin. Agak anomaly sih mengingat kemaren kan long weekend, di mana hotel di Tegal dan Cirebon aja rata-rata terisi okupansi sampek 100%. Turis-turis rata-rata ke sini cuman buat ke air terjunnya atau ke pemandian umumnya doang, tapi sedikit yang berminat buat nginep. Memang saya lihat losmen-losmen itu kayaknya terlalu berisik, sedangkan hotel-hotel yang ada belum nampak terawat. Agak lucu juga waktu saya dateng ke hotel yang paling besar di situ, dan resepsionis yang menyambut saya ternyata nggak pakai sepatu.

Sejauh ini Guci kayaknya masih populer cuman di kalangan masyarakat Tegal dan sekitar Gunung Slamet sendiri, dan saya belum lihat daerah ini cukup menarik perhatian investor. Bisa aja sih daerah ini dibikin lebih menarik asalkan ada investor yang mau bikin hotel dan mengelolanya dengan profesional. Oh ya, pemerintah daerahnya sebaiknya menggaji orang buat jadi petugas parkir, coz penataan arus kendaraan turis di sana awut-awutan banget.

Tips buat ke Guci:
1. Guci bisa dicapai dengan nyetir dari Tegal ke arah selatan selama sekitar 45 menit. Lebih baik nyetirnya waktu masih ada matahari, coz kalau malem gelap banget lantaran nggak ada lampu jalan.
2. Parkir mobil cukup di depan air terjun, nggak usah nyari-nyari yang deket pasar coz di deket pasar nggak ada tempat parkir.
3. Kalau buat backpacking cocok deh nginep di losmen-losmen itu, tapi yang pecinta hotel dengan sarapan yang nyaman dan pelayanan profesional mesti siap-siap gigit jari.
4. Anyway, kalau cuman kepingin refreshing mencium udara segar dan menikmati panorama gunung berkabut, tanpa menginap, maka jalan-jalan di pinggir lereng gunungnya aja sudah cukup menarik.

Sunday, July 11, 2010

Telor Asin Bakar


Ke Brebes rasanya nggak lengkap kalau nggak beli telor asin, coz memang telor asin itu penganan khas kota Brebes. Di sepanjang jalan utama Brebes jamak banget ditemuin toko-toko yang dagangan utamanya adalah telor asin. Yang saya ambil spotnya ini berada di Jalan Diponegoro yang biasanya dilalui para nomad yang berjalan dari arah Cirebon ke Semarang.

Ada macem-macem telor asin yang dijual, antara lain telor asin isi arwana, telor asin mentah, atau telor asin isi pindang. Favorit saya telor asin bakar, seperti yang saya pasang fotonya ini, yang mana telornya dibakar sampek kulitnya gosong, dan kuning telornya berubah jadi merah. Dibanderol Rp 33.000,- untuk isi 12 butir.

Kadang-kadang mereka jual kuning telornya doang, dijual goceng dapet empat butir. Cuman saya nggak suka ma'em telor asin kalau nggak pakai putih telornya, cuman kuningnya doang. Rasanya buat saya jadi eneg, hehehe.

Saturday, July 10, 2010

Bukan Sekedar "Halaah.."


Musim panas sudah datang, orang mulai senang telanjang di tempat terang. Bukan, ini bukan pantun. Saya kepikiran ini waktu beberapa hari lalu saya jalan di trotoar jalan raya Pasirkaliki, dan saya lihat ada seorang ibu mandiin anaknya di trotoar. Anak itu disiram emaknya pakai gayung yang airnya diambil dari ember, dan diisi pakai kran di tembok pagar sebuah kantor. Pemandangan yang bikin saya tertegun. Anak itu mungkin umurnya baru 1,5 tahun, dan badannya yang telanjang keliatan oleh setiap orang yang lewat Jalan Pasirkaliki.

Mungkin saya lebay, tapi kan bisa aja ada psikopat lewat dan ngeliatin anak yang telanjang itu, lalu kepikiran niat yang jelek-jelek.

Saya jadi inget beberapa minggu lalu saya nonton tivi bareng nyokap. Ada acara reality show di mana seorang seleb lagi mandiin bayinya. Ritual itu dimulai dari mandiin bayi dalam bak bayi, lalu menghanduknya, dan ngebedakin si bayi. Nah, di layar nampak gambar bagian selangkangan si bayi itu dibikin buram oleh stasiun tivinya. Lalu, nyokap saya mencemooh, "Halaah..cuma gambar bayi aja pake dibikin blur segala!"

Sontak saya dan adek saya memprotes cemoohan nyokap itu, dan kami berdua bilang bahwa anak itu sekarang nggak boleh lagi keliatan alat kelaminnya di layar tivi, meskipun dia masih bayi sekecil apapun. Dan stasiun manapun yang masih menayangkan alat kelamin bayi secara terang-terangan bisa kena denda.

Saya tahu agak susah buat orang umum (termasuk nyokap saya sendiri) untuk memahami bahwa anak pun berhak untuk dilindungi alat kelaminnya, bahkan meskipun dia masih bayi. Soalnya balita, bayi, atau anak kecil umumnya kan belum punya akal, jadi dia nggak punya rasa malu. Makanya ajakan untuk menutupi alat kelamin anak kecil biasanya akan ditanggapi dengan cemoohan "halaah.."

Tapi yang tidak diantisipasi banyak orang, melindungi alat kelamin anak dari pandangan orang lain yang tidak berkepentingan, akan mengurangi kemungkinan anak ini jadi calon korban intaian psikopat seks. Anda pernah nggak sih kepikiran bahwa di dunia ini ada orang yang senang mengoleksi foto-foto bayi, tapi hanya foto alat kelaminnya saja?

Tentu saja saya nggak melewatkan alasan kenapa orang masih senang mandiin anaknya di pinggir jalan. Sepupu saya, lebih sering mandiin anak-anaknya yang berumur dua dan satu tahun di halaman depan rumahnya ketimbang di kamar mandinya. Alasannya, seger coz di halaman kan nggak sumpek. Tapi saya sendiri kesulitan ngingetin sepupu saya tentang kemungkinan tetangga psikopat yang seneng ngecengin ponakan-ponakan saya yang lagi telanjang.

Kalau kita bingung gimana caranya kasih pendidikan seks pada anak-anak, sebenarnya mulai aja dari yang gampang-gampang.
1. Jangan mandi di tempat terbuka. Mandilah di kamar mandi yang pintunya ditutup.
2. Tutup alat kelamin anak dari pandangan orang lain yang bukan orangtuanya.
3. Termasuk juga kalau lagi siram-siraman di tempat umum, misalnya kolam renang. Jangan ganti baju di tengah-tengah muka umum.

Itu nasehat yang cukup membumi, bukan begitu?




Fotonya ngambil dari sini

Friday, July 9, 2010

Jumat Rada Pinteran Dong Ah

Hari Jumat, mungkin minggu lalu atau dua minggu yang lalu, bokap saya nutup pintu ruang prakteknya dan siap-siap ke lapangan parkir. Jam sudah nunjukin jam 11.30, dan mestinya sekarang waktunya bokap saya pergi ke mesjid buat solat Jumat. Lalu datanglah perempuan ini, bawa anaknya yang mungkin umur 3-4 tahunan, menghadang bokap saya, bilang gini, “Dok, anak saya mau berobat.”

Haiyaah, this is not the right time.

Pokoknya, ujung-ujungnya bokap saya jadi telat masuk mesjidnya. Pulang-pulang diceritainlah ke saya dan nyokap.

(Interupsi dulu. Eh, sebenarnya kalau dateng sholat Jumat tapi nggak dengerin khotbah sebelum sholatnya, itu sholat Jumatnya sah nggak sih?)

Nyokap saya menanggapi cerita itu dengan ngomong begini, “Itu godaan. Waktunya mau menghadap Tuhan, kita dikasih pilihan, mau mengambil duit yang melambai di depan mata atau mau sembahyang?”
Lalu bokap saya bilang, “Bukan. Ini pilihan, antara sembahyang atau mau menolong orang yang sakit?”
Tapi saya ingat bahwa sakit itu sendiri ada dua macam, sakit gawat atau sakit tidak gawat. Sakit gawat itu adalah sakit yang bisa bikin mati kalau nggak ditolong detik ini juga. Sakit tidak gawat adalah sakit yang tidak akan mati kalaupun tidak ditolong detik ini juga.
Jadi saya kirain, anak ini sakit gawat sampek-sampek dateng ke kantornya bokap saya pas waktunya orang seharusnya sholat Jumat.

Kata bokap saya, ternyata setelah diperiksa, anak ini ngidap dermatitis atopic. Itu penyakit radang kulit berupa gatel-gatel menahun yang biasanya terjadi karena anak ini nggak tahan terhadap debu atau udara dingin. Maka pertanyaan saya selanjutnya, memangnya si ibu nggak bisa nunggu ya sampek sholat Jumat selesai?

Kalau seperti itu, maka pertanyaannya bisa dikembangkan. Kenapa ada orang mau ke dokter karena nganterin anak yang gatel-gatel kena debu, pada waktunya orang mau sholat Jumat? Kalau pakai kemungkinan dia nggak tahu dokternya laki-laki, kayaknya nggak mungkin. Jelas-jelas papan nama di depan gedung praktek bokap saya nunjukin kalau dokternya laki-laki.

“Mungkin ibunya pikir sholat Jumat nggak penting-penting amat dibandingkan prioritas anaknya yang sudah lama gatel-gatel,” kata saya.
Lalu kata bokap saya, “Ibunya pakai kerudung.”

***

Saya nulis ini karena saya mau bilang bahwa kita hidup di negara di mana kebiasaan sebagian besar rakyat adalah menutup kantor-kantor mereka pada Jumat siang karena laki-lakinya mau sholat Jumat. Itu sebabnya saya selalu mikir, kalau mau ke penjual jasa apapun yang sekiranya orang laki-laki, jangan pas waktunya Jumat siang karena itu waktunya orang sholat. Kita mau bilang “gw berhak atas jasa elo karena gw mau bayarin elo” juga nggak etis, coz itu artinya kita melanggar hak seseorang untuk beribadah. Siapa bilang konsumen punya hak untuk tidak punya etika?

Ini hari Jumat, Sodara-sodara. Yuk, coba pada hari ini kita rada pinteran dikit.

Gambarnya ngambil dari sini

Thursday, July 8, 2010

Saya Menantang Anda!

Tantangan hari ini: Tutuplah mata Anda, sebutkan 10 lagu anak-anak berbahasa Indonesia, dan jangan ambil nafas. Bisa?

Saya iseng nyobain ini, lalu mulai nyebut setiap lagu anak-anak yang pernah saya nyanyiin. Satu-satu Aku Sayang Ibu. Pelangi Pelangi. Balonku Ada Lima. Ajaib, saya berhenti setelah nyebut tiga biji, lalu saya terdiam. Mengingat-ingat. Ternyata saya mulai ngaco. Garuda Pancasila? Berkibarlah Benderaku? Itu bukan lagu anak-anak, itu lagu wajib.

Pasti gara-gara waktu sekolah dulu, saya terlalu sering disuruh nyanyi buat upacara bendera.

Apa sih yang salah? Padahal saya ini sekolah TK-nya lama lho, coz saya udah masuk TK waktu umur 3,5 tahun dan baru keluar setelah 6 tahun. 2,5 tahun di TK ternyata nggak bikin saya fasih nyanyi lagu anak-anak.

Kata kakak saya, waktu balita saya suka nyanyi "I Just Called to Say I Love You"-nya Stevie Wonder. Tapi kata bokap, saya senengnya nyanyi theme song-nya "The Sound of Music". Nyokap sayalah yang ngajarin saya "Cicak-cicak di Dinding", dan berusaha ngajarin saya tetap jadi anak-anak, jangan dewasa sebelum waktunya cuman gara-gara saya seneng lagu buat "orang besar".

Jadi waktu saya denger kemaren bahwa Abdullah Totong Mahmud a.k AT Mahmud meninggal, saya agak terhenyak. Apakah saya mesti berduka? Saya nggak hafal lagu anak-anak 10 biji aja, apalagi saya nggak tahu mana lagu anak ciptaan AT Mahmud, mana ciptaan Ibu Soed, mana ciptaan entah siapa. Kalau ada tantangan sebutkan 10 lagu ciptaan seseorang dalam satu tarikan nafas, saya lebih hafal lagu-lagu ciptaan Yovie Widianto, Ahmad Dhani, bahkan lebih hafal lagi ciptaan David Foster atau Babyface.

Cuman satu lagu anak-anak yang paling sering saya nyanyiin. Biasanya saya nyanyiin kalau saya terperangkap di jalan raya, nggak bisa gerak, tapi jalur sebelah kanan saya lengang dan sayup-sayup terdengar suara sirene khas pengawal pejabat kampungan. "Macet lagi, macet lagi.. Gara-gara si Komo lewaat.."

Eh, itu lagu anak-anak juga kan? Tapi bukan ciptaan AT Mahmud, itu ciptaan Kak Seto.

Apakah Anda lebih baik dari saya? Saya menantang Anda. Kalau Anda disuruh nyebut 10 lagu anak-anak dalam satu tarikan nafas, lagu apa aja yang bisa Anda sebutin?

Tolong, tolong jangan jawab, "Mau dibawa ke manaa.. hubungan kitaa..?"

Gambarnya ngambil dari sini

Wednesday, July 7, 2010

Ketika Blogspot Error

Kronologinya dimulai kemaren, waktu pagi-pagi saya nerima e-mail pemberitahuan dari Blogger.com bahwa sudah ada komentar menunggu di kolom moderasi untuk tulisan saya Betina Berani Sendirian berturut-turut dari Mbak Adhini, Debby Silaban, dan Risdania. Maka saya pun buka dashboard Blogger.com saya, buat approve tuh komentar-komentar. Anehnya, di kolom moderasi saya cuman nemu komentar dari Risda, tapi nggak ada komentar Mbak Adhini dan Debby. Ke mana ya?

Tadinya saya pikir ini robotnya Blogger.com aja yang lagi error. Bahwa cepat atau lambat komentar Mbak Adhini dan Debby akan muncul di kolom moderasi, tapi ternyata sampek siang komentar-komentar itu nggak muncul juga. Terpaksa deh saya pura-pura komentar atas nama link URL-nya Mbak Adhini di kolom komentar, dan isi komentarnya saya salin dari e-mail notifikasi. Komentar Debby juga saya perlakukan serupa. Dengan demikian komentar dari kedua orang itu tetap tayang di blog saya.

Siangnya, saya posting lagi, kali ini dengan artikel berjudul Gagap Persalonan. Beberapa saat setelah saya publish, muncul e-mail notifikasi dari Blogger.com bahwa ada komentar menunggu moderasi, dari Christin Ratri. Saya log in ke Blogger.com, publish komentar Christin, lalu saya balas.

Kemudian, muncul lagi e-mail notifikasi bahwa Pak Rawins juga sudah urun komentar. Saya pun buka kolom moderasi, lalu publish komentar Pak Rawins pula. Waktu saya mau balas komentar Pak Rawins di kolom komentar, saya terhenyak. Eh, kok yang ada di sini cuman dua komentar doang, yaitu komentar dari Christin dan Pak Rawins. Komentar yang tadi saya tulis sebagai balasan buat Christin mana?

Maka jadilah saya nulis komentar lagi, satu alinea buat Christin dan satu alinea buat Pak Rawins. Publish. Selesai.

Beberapa saat kemudian, Mas Fahmi komentar pula dan masuk moderasi. Saya approve. Saya buka kolom komentar buat jawab. Ternyata, yang di kolom komentar cuman tiga: dari Christin, dari Pak Rawins, dari Mas Fahmi. Komentar berupa dua alinea yang tadi saya tulis buat Christin dan Pak Rawins sudah nggak ada. Eh?

Lalu jadilah saya tulis lagi komentar saya itu, buat Christin, Pak Rawins, dan Mas Fahmi. Saya sampek bosen lantaran saya udah nulis lelucon yang sama sebanyak dua kali buat Christin. Publish. Selesai.

Terus, e-mail notifikasi saya bunyi lagi. Ternyata ada komentar dari Ninda. Saya buka kolom moderasi. Eh? Komentar dari Ninda mana? Kok kolom moderasi kosong blong?

Saya terpaksa “pura-pura” komentar atas nama Ninda. Jadi komentarnya pakai URL-nya Ninda, tapi isi komentar saya ambil dari e-mail notifikasi. Waktu saya buka kolom komentar di postingnya, ternyata yang di sana juga cuman tiga: dari Christin, Pak Rawins, dan Mas Fahmi. Padahal saya suer deh, tadi saya nulis satu alinea buat Mas Fahmi di kolom komentar.

Sadarlah saya bahwa ada yang nggak beres menyangkut perkomentaran saya (dan mungkin orang-orang lain) di Blogspot. Mbak Adhini masuk berkomentar lagi beberapa saat kemudian, dan ternyata komentarnya juga tidak masuk kolom moderasi.

Bingung? Saya membanding-bandingkan komentar antara Debby, Mbak Adhini, Risda, Christin, Pak Rawins, Mas Fahmi, Ninda, termasuk komentar saya sendiri. Lalu saya dapet benang merahnya.

Ternyata, orang-orang yang tidak muncul komentarnya di kolom moderasi, mereka berkomentar atas nama ID Blogger.com masing-masing. Mbak Adhini pakai nama username IbuDini, sedangkan Ninda pakai nama username Anyindia. Debby juga tidak muncul komentarnya di kolom moderasi karena dia pakai username OpenID Wordpress atas nama Debhoy. Sedangkan Christin, Pak Rawins, dan Mas Fahmi tetap tayang komentarnya soalnya mereka nggak pakai username Blogger.com ataupun OpenID. Christin pakai Name/URL dengan URL pribadinya di domain web.id, Pak Rawins pakai dot com, Mas Fahmi pakai dot info.

Waktu saya ngobrol soal musibah ini di Twitter, ternyata Mbak Reni Judhanto dan Slamet Riyadi juga mengalami masalah serupa. Mbak Reni bahkan ngaku bahwa menurut e-mail notifikasinya dia nerima 7-8 komentar untuk blognya, tapi ternyata komentar itu nggak publish di blognya.

Terpaksalah saya copy paste komentar orang-orang dari e-mail dengan metode Name/URL. Menurut saya ini praktek nggak jujur juga, coz berarti saya malsuin identitas para komentator dan memanipulasi waktu. Ambil contoh aja, kemaren tuh Mbak Fanny Fredlina berkomentar di blog saya jam 5 sore atas nama Sang Cerpenis Bercerita, tapi karena komentarnya nggak muncul di account Blogspot saya, terpaksa saya salin ulang komentarnya dari e-mail notifikasi, sehingga seolah-olah Mbak Fanny baru komentar jam setengah enam. Haiyaah..


Buat para jemaah, untuk sementara kalau mau komentar di sini, tolong ya jangan pakai ID Blogger.com atau ID Wordpress, tapi tolong pakai Name/URL aja dulu. Blogger.com nampaknya lagi maintenance, dan mereka lagi kacau-beliau. Komentar yang pakai Name/URL biasanya nggak ilang, tapi yang pakai ID Blogger dan Wordpress malah ilang. Kemaren postingan saya Betina Berani Sendirian sudah sampek 25 komentar, tapi dini hari ini saya nemuin komentar nyusut tinggal sembilan. Ke mana tuh sisanya?

Mudah-mudahan kerusakan ini segera diperbaiki dari Blogspot sana. Supaya kita nggak usah memanipulasi identitas komentator lagi. Haduh..Blogspot, Blogspot. Ada-ada aja.


Gambar kucingnya ngambil dari sini

Tuesday, July 6, 2010

Gagap Persalonan

Berurusan sama salon jelas nggak jauh-jauh dari perkara fanatisme. Soalnya urusannya sudah sama kepercayaan dibumbuin mitos. Dan saya harus ngaku bahwa perkara salon kadang-kadang bikin saya puyeng sendiri.

Kemaren saya potong rambut. Saya punya jadwal yang saya patuhin, bahwa beberapa bulan sekali saya mesti merapikan ujung-ujung rambut saya yang kering-kering.

Nah, salah satu langganan saya adalah salonnya Pak Joni di sebuah mal di pusat kota. Saya suka tempat itu coz pergi ke sana seperti one-stop-shopping; sehabis potong rambut saya bisa jajan di kedai roti punyanya Pak Joni juga (Pak Joni ini usahanya banyak lho, selain punya salon, dia juga punya toko roti dan toko donat). Kadang-kadang saya suka bingung, sebenarnya saya ini mau potong rambut atau beli roti. Tapi kapan-kapan aja kita ngomongin ini, saya mau ngomongin salon dulu.

Saya punya kepercayaan aneh bahwa cewek lebih pinter motong rambut ketimbang cowok. Soalnya, motong rambut butuh ketelitian, dan dalam perkara ketelitian itu sel-sel otak cewek bekerja lebih keras ketimbang sel-sel otak cowok. Maaf ya, saya bukan seksis, teori ini toh saya baca dari buku-buku kuliah saya. Maka implementasinya, saya lebih percaya kalau cewek yang motong rambut saya ketimbang cowok. Bahkan saya nggak percaya kalau kapsternya banci. Coz menurut buku kuliah saya, banci itu cuman jiwanya doang yang kecewek-cewekan, tapi tetep aja otaknya adalah sel otak cowok.

Nah, maka saya biasa potong rambut di salonnya Pak Joni ini coz mereka punya kapster cewek buat motong rambut. Siyalnya pas saya dateng ke situ kemaren, ternyata kapster yang cewek lagi nggak masuk.

Jadi terpaksa deh saya mau rambut saya dipotong kapster yang cowok. Pas dia nyampirin kain di badan saya, feeling saya nggak enak. Nih orang bau asbak! Haiyaa..saya benci banget sama bau rokok.

Ya udah, mungkin saya perlu rada toleran dikit. Mosok saya batal potong rambut cuman gara-gara saya nggak mufakat sama bau badan kapsternya? Itu nggak adil. Kan ada pepatah, "Don't judge a book by its smell."

Asaall.. Yang ada juga, don't judge a person by its odor.

Nah, belum apa-apa, si kapster udah kasih informed consent, "Rambutnya dibiarkan panjang ya. Belakangnya saya bentuk, jadi nanti ada bentuknya bla-bla-bla.." Dia mulai ngoceh tentang gimana dia mau bikin rambut saya kayak apa.
Saya mengerutkan kening. Batin saya, "Kok lu nggak tanya sih gw mau rambut gw dibikin model apa, tapi lu malah nyodorin ide lu sendiri?"

Saya sih nggak keberatan sama idenya si kapster, coz saya cocok-cocok aja sama ide dia (saya nggak sebut itu saran lho), tapi saya nggak suka kalau nggak ditanyai apa yang saya inginkan atas rambut saya sendiri. Jadi saya catet dalam hati:
1. Kapster yang ini bukan cewek.
2. Kapster yang ini bau asbak.
3. Kapster yang ini nggak nanyain pendapat klien.

Oh ya, satu lagi yang nggak saya suka dari seorang kapster salon adalah kalau dia sok tahu alias sotoy.
"Sering rebonding ya?" tanyanya.
"Nggak pernah," jawab saya. Serius, rambut saya masih perawan. Nggak pernah dikeriting, dilurusin, apalagi dicat.
"Rambutnya kering nih."
Yak, kalo di sepakbola ini namanya kartu merah. Jangan pakai kapster ini lagi deh.

Orang tuh dateng ke salon buat dimanja, bukan buat dikritik. Jadi saya males banget denger kapster ngoceh, "Rambut Anda kering/gampang rontok/mencuat/membulat/bla-bla-bla.." betapapun itu benar. Kecuali kalau ditanya lho, baru kapster boleh kasih pendapat. Saya bahkan jadi dokter nggak pernah mengkritik pasien itu panuan, biarpun pas saya periksa parunya ternyata di punggungnya banyak bruntus-bruntus. Lha dia dateng kan buat ngeluh sesak napas, bukan ngeluh gatel-gatel. Sama kayak klien dateng ke salon buat potong rambut, bukan buat nanya kenapa rambutnya kering.

Saya tahu maksudnya kapster itu baek sih. Tapi saya nggak seneng orang cerewet-yang-nggak-dibutuhin.. (belagak lupa saya habis mbawelin pacar saya gara-gara dia telat makan siang)

Oh iya, saya juga sebel. Jadi di pintu depan tuh tulisnya gunting Rp 21.000, blow Rp 21.000. Pas saya terima bonnya, ternyata saya di-charge gunting Rp 21.000, blow panjang Rp 27.000. Rambut saya panjang, jadi mereka nge-charge saya lebih. Padahal di iklan depannya nggak ada tuh tulisan blow rambut panjang Rp 27.000, yang ada ya blow Rp 21.000. Haiyaa..Pak Joni nggak jujur!

Memang praktek akal-akalan gini udah biasa. Bulan lalu saya creambath di Setiabudi dan di depan tuh ditulisnya creambath-nya Rp X, udah termasuk cuci dan blow. Tapi pas saya bayar di kasir, ternyata mereka nge-charge saya ekstra Rp 5.000. Soalnya di bonnya ditulis bahwa kapsternya nge-blow saya pakai "blow variasi". Padahal saya udah bilang sama si neng itu blow biasa aja asal kering. Lagian rambut saya pasca di-blow juga sama-sama aja tuh, nggak jadi ekstra lurus atau ekstra mbulet. Apanya yang variasi?

Eh, ada yang bisa kasih tahu saya bedanya blow standar dan blow variasi? *maap, gagap persalonan*

Gambarnya ngambil dari sini