Haiyaah, this is not the right time.
Pokoknya, ujung-ujungnya bokap saya jadi telat masuk mesjidnya. Pulang-pulang diceritainlah ke saya dan nyokap.
(Interupsi dulu. Eh, sebenarnya kalau dateng sholat Jumat tapi nggak dengerin khotbah sebelum sholatnya, itu sholat Jumatnya sah nggak sih?)
Nyokap saya menanggapi cerita itu dengan ngomong begini, “Itu godaan. Waktunya mau menghadap Tuhan, kita dikasih pilihan, mau mengambil duit yang melambai di depan mata atau mau sembahyang?”
Lalu bokap saya bilang, “Bukan. Ini pilihan, antara sembahyang atau mau menolong orang yang sakit?”
Tapi saya ingat bahwa sakit itu sendiri ada dua macam, sakit gawat atau sakit tidak gawat. Sakit gawat itu adalah sakit yang bisa bikin mati kalau nggak ditolong detik ini juga. Sakit tidak gawat adalah sakit yang tidak akan mati kalaupun tidak ditolong detik ini juga.
Jadi saya kirain, anak ini sakit gawat sampek-sampek dateng ke kantornya bokap saya pas waktunya orang seharusnya sholat Jumat.
Kata bokap saya, ternyata setelah diperiksa, anak ini ngidap dermatitis atopic. Itu penyakit radang kulit berupa gatel-gatel menahun yang biasanya terjadi karena anak ini nggak tahan terhadap debu atau udara dingin. Maka pertanyaan saya selanjutnya, memangnya si ibu nggak bisa nunggu ya sampek sholat Jumat selesai?
Kalau seperti itu, maka pertanyaannya bisa dikembangkan. Kenapa ada orang mau ke dokter karena nganterin anak yang gatel-gatel kena debu, pada waktunya orang mau sholat Jumat? Kalau pakai kemungkinan dia nggak tahu dokternya laki-laki, kayaknya nggak mungkin. Jelas-jelas papan nama di depan gedung praktek bokap saya nunjukin kalau dokternya laki-laki.
“Mungkin ibunya pikir sholat Jumat nggak penting-penting amat dibandingkan prioritas anaknya yang sudah lama gatel-gatel,” kata saya.
Lalu kata bokap saya, “Ibunya pakai kerudung.”
***

Ini hari Jumat, Sodara-sodara. Yuk, coba pada hari ini kita rada pinteran dikit.
Gambarnya ngambil dari sini