Monday, July 5, 2010

Betina Berani Sendirian

Semua orang ngomongin Eclipse. Film sekuel keduanya Twilight sesudah New Moon itu jadi trending topic di mana-mana dan saya kepingin nonton. Masalahnya, saya nggak punya teman kencan buat nonton di bioskop.

Saya tahu saya kepingin ngajak my hunk, tapi saya nggak tega. Pertama, dia benci film Twilight dan derivat-derivatnya itu, coz menurutnya film itu penuh dengan vampir-vampir metroseksual nan kebanyakan make-up. Tapi alasan sebenarnya saya nggak tega nyuruh dia reservasi pesawat cuman demi nemenin saya nonton bioskop.

Salah satu kesulitan perempuan lajang berumur 28 tahun yang paling besar adalah susah pergi ke tempat-tempat tertentu sendirian. Anda mungkin masih inget bahwa saya pernah nulis salah satunya di sini, cewek dilarang nonton konser sendirian. Malah saya juga pernah nulis di sini saya kebingungan waktu saya harus pergi ke kondangan sendirian. Saya berusaha keras nggak merasa aneh, tapi kadang-kadang sulit buat bertingkah normal kalau yang nganggap aneh itu keluarga kita sendiri.

Seperti kemaren, waktu saya bilang ke nyokap bahwa saya mau nonton bioskop.
Nyokap: "Sama siapa?"
Saya: "Sendiri."
Nyokap: "Kok sendiri? Memangnya koen nggak ada temennya, apa?"
Saya: "Nggak ada. Semua temen sudah punya suami. Vicky satu-satunya yang nggak punya suami."
Jawaban logis yang bikin nyokap saya nggak nanya-nanya lagi. Tahukah kenapa anak kadang-kadang sebal jawab pertanyaan orangtuanya? Karena mereka merasa pertanyaan itu tidak membantu menyelesaikan masalah.

Lagipula saya nggak becanda bilang bahwa saya nggak punya teman. Saya berumur 28, dan teman-teman seumuran saya rata-rata punya suami, jadi kayaknya nggak pantes kalau mereka hang out ke bioskop tanpa laki-laki masing-masing. Masih ada beberapa teman perempuan yang lajang, tapi seperti dokter umumnya, mereka rata-rata sibuk dengan tugas sekolah, dan kadang-kadang itu bikin saya sedih coz saya belum masuk S2 juga. Di Bandung saya nggak punya teman yang bukan dokter, coz jaman saya kuliah dulu mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu jarang banget punya teman dari jurusan lain. Kadang-kadang kepikiran buat pergi sama teman-teman yang masih bujangan; tapi saya punya pacar, dan saya nggak suka hang out sama laki-laki yang bukan pacar saya.

Lalu, apakah dengan kondisi itu lantas saya nggak bisa pergi ke bioskop? Mosok cuman gara-gara jauh dari pacar lantas saya harus berhenti menyenangkan diri sendiri? Saya nggak akan mati cuma gara-gara jadi lajang. Jadi kenapa saya mesti malu pergi ke bioskop sendirian? Memangnya kalau saya masuk teater sendirian, saya bakalan diusir satpam?

Jadi tadi siang, pergilah saya ke bioskop buat nonton perang vampir ganteng. Saya tiba di sana, dan antreannya panjang banget macam uler ngantre beras. Saya tengok kanan kiri depan belakang, semuanya a-be-geh. Mereka dateng bergerombolan, kebanyakan cewek-cewek. Ada juga pasangan-pasangan remaja alay yang lagi dimabok asmara, sepanjang ngantre bawaannya gandengan melulu. Saya mendengus. Huh! Pasti baru jadian sebulan!

(Halah, kayak dirimu nggak alay aja waktu baru pacaran dulu, Vic. Sekarang udah pacaran lama juga bawaannya masih kolokan.. :p)

Saya bertanya-tanya, kenapa saya yang paling tua di antrean ini? Ke mana perempuan-perempuan sepantaran saya? Apa menikah atau bekerja bikin mereka nggak suka Eclipse? Saya tahu sih Robert Pattinson itu berondong yang nggak pantes digila-gilain perempuan sepantaran saya, tapi kan Peter Fascinelli di situ juga cukup cakep buat ditongkrongin? Apa jangan-jangan sebenarnya usia saya ini udah matur, tapi selera saya masih kayak remaja?

Sambil ngantre, saya bales-bales e-mail. My hunk nge-twit, nanyain saya jadinya nonton kapan. Dia ngingetin saya bawa payung. Mungkin dia takut saya kehujanan. Atau bisa juga dia ngingetin supaya saya buka ojek payung.

Saya jawab sekarang saya lagi ngantre. Lalu dia jawab, "Aku bukan penggemar vampir, tapi aku pingin ada disitu skrg."

Mau terharu tapi kok segan sumringah sendirian. Saya juga kepingin dia ada di sini, ngantre bareng saya seperti remaja alay senewen takut nggak dapet kursi. Mungkin dia akan ketiduran sepanjang nonton, tapi nggak pa-pa deh asalkan saya boleh ngabisin popcorn-nya.

Jadi tiba giliran saya beli tiketnya. "Eclipse satu," kata saya ke mbak-mbak yang jual tiket.
Si mbak nunjukin denah duduk. Hampir semua bangku udah terisi, tapi nggak susah saya nemu bangku yang kosong cuman buat satu orang. Saya pilih di baris ketiga dari atas, persis di pinggir gang.

Dan saya pun nonton. Ketawa waktu Edward ngejekin Jacob yang nggak pernah punya baju, menggelenyar waktu Edward nyium Bella di padang lilac, dan berjengit waktu Edward mbanting Victoria sampek kepala si tante-tante itu copot.

Filmnya bagus. Nggak sia-sia saya bela-belain nonton. Tapi yang lebih bikin saya puas adalah saya berhasil masuk bioskop sendirian tanpa takut dikira aneh oleh nyokap saya.

Karena sesungguhnya, hal yang paling bikin kita nggak nyaman hanyalah pikiran-pikiran waswas dari kita sendiri.

Gambarnya, ngambil dari sini

Sunday, July 4, 2010

Besar Kecil Nggak Ngefek

Setiap kali pertandingan Piala Dunia, pasti Twitter mabok. Apalagi kalau yang main itu kesebelasan dari tim-tim favorit. Paling dongkol saya waktu beberapa hari lalu nonton Belanda vs Brazil. Begitu perpanjangan waktu tiga menit ekstra berakhir, sontak orang-orang kumpeni oranye itu berpelukan, sementara Carlos Dunga marah-marah, Twitter langsung kebanjiran tweet dari seluruh dunia yang tidak bisa menahan emosinya antara sedih campur kegirangan atas tim favoritnya masing-masing. Alhasil saya nggak bisa masuk ke timeline, dan saya baru bisa masuk ke Twitter..sejam kemudian. Membuat saya marah-marah, bukan karena Brazil kalah (saya dukung Brazil karena Brazil lebih miskin ketimbang Belanda), tapi karena menurut saya Twitter mestinya naikin kapasitas server-nya supaya semua orang yang nge-twit bisa masuk. Saya rasa inilah resikonya bergabung dengan jaringan social yang kualitas statusnya lebih tinggi ketimbang Facebook.

Ngomong-ngomong, beberapa hari lalu saya baca komentar seseorang di blogger bernama X. (Kenapa ya, kok saya ini senang banget nyebut seseorang dengan nama X, padahal namanya sama sekali nggak ada huruf X-nya? :-p) Jadi gini, ceritanya blogger ini dulu blogger laris. Tiap kali posting, nggak sampek dua jam, itu jumlah komentarnya sudah belasan. Namun, akhir-akhir ini, tuahnya berkurang. Hari ini saya itung sudah empat hari sejak dia posting terakhir, tapi posting-nya itu belum sampek 10 komentatornya. Seorang komentator nanya kenapa blog itu sekarang nggak serame dulu komentarnya. Lalu sang blogger menjawab, nampaknya karena sekarang sudah menjamur Twitter dan Facebook, orang lebih tertarik baca dan ngomentarin status-status yang pendek-pendek ketimbang baca blog. Apalagi Twitter, yang sekali nulis status nggak boleh lewat dari 140 karakter, malah lebih menarik orang buat me-reply atau me-retweet-nya.

Lalu saya ngitung-ngitung tulisan saya sendiri. Saya piara dua blog, yang satu di sini dan di sana. Saya piara Facebook juga di sini, tapi saya lebih aktif di account Twitter saya. Saya nggak pernah ngitung-ngitung berapa yang komen di status Facebook maupun Twitter saya, tapi yang jelas saya tidak pernah merasa bahwa kehadiran microblog dua biji itu menyunat jumlah komentator yang masuk ke macro-macroblog saya.

Tadi pagi, saya buka Google Analytics buat lihat sebanyak apa yang berkunjung ke blog saya di Blogspot. Ternyata, 53,6% pengunjung berasal dari orang-orang yang mengklik link atas diri saya yang menyebar di banyak tempat. Bisa karena saya pernah ninggalin komentar di blog orang-orang, bisa juga karena orang-orang itu masang link atas blog saya di blogroll mereka. Berikutnya 26,6% pengunjung ternyata mendatangi blog saya dari search engine, dengan kata kunci paling banyak berupa “georgetterox”, “vicky laurentina”, dan “hipster”. (Saya cengar-cengir di sini, berarti nama yang saya karang-karang itu ternyata sudah jadi brand). Dan hanya 19,8% pengunjung sisanya yang mendatangi blog saya karena mereka memang hafal URL http://www.georgetterox.blogspot.com yang alamatnya susah diingat itu.

Dari sini, saya analisa bahwa ternyata kalau kita kepingin banyak orang ngunjungin tulisan kita, ya kita mesti rajin-rajin sebar link di blog orang lain dan bikin supaya orang tuh mau masang link kita di blog dia. Termasuk juga rajin pasang link atas blog kita di situs-situs microblog, coz ternyata orang juga banyak mengklik link atas blog kita di Facebook dan Twitter. Jadi, apakah microblog bikin orang jadi males mengunjungi macroblog? Itu salah besar. Justru microblog sangat mendukung buat kelangsungan hidup macroblog kita.

Jadi, buat para blogger yang lagi kecil hati lantaran merasa lebih diperhatiin orang kalau update status ketimbang ngeblog, nggak usah stres merasa blognya jamuran. Kalau mau kreatif sedikit, kita bisa bikin microblog dan macroblog jalan bergandengan tanpa menyaingi satu sama lain. Coz mau gimana-gimana juga, macroblog dan microblog itu tujuan dari awalnya juga udah beda. Macroblog buat nulis apa yang ada di pikiran secara mendalam, sedangkan microblog itu buat status update. Bahkan microblog dari Twitter dan Facebook itu sendiri juga udah beda tujuan; Twitter buat bagi-bagi informasi dalam waktu sekejap, sedangkan Facebook lebih dikonsentrasikan buat cari-cari teman. Status update dari Facebook bahkan tidak se-real time Twitter. Info yang diperoleh dari Twitter bahkan sekarang jauh lebih cepat ketimbang info di Facebook, mungkin karena media pers juga lebih seneng upload beritanya duluan di Twitter ketimbang di Facebook.

Thanx buat Violina, Fenty, Inge, Yanti, Mas Fahmi, Pak Joko, Ronney, Mbak Inten, Mbak Reni, plus Ria dan Kristina. Menurut Analytics, link dari blog Sodara-sodara-lah yang ternyata paling banyak kirim pengunjung ke blog saya, hehehehe..

Gambarnya diambil dari sini

Thursday, July 1, 2010

Parade Orang Sungkan

Ngomongin pesta pernikahan selalu jadi tema favorit coz di situ sarangnya penuh orang-orang pakai topeng kepura-puraan. Pura-pura senyum padahal kakinya pegel. Pura-pura pakai baju bagus padahal kepanasan. Pura-pura kenal padahal namanya aja lupa.

Sewaktu blogwalking kemaren, saya baca tulisan seorang teman yang mengeluh bahwa bulan ini cukup memberatkan. Anda nyadar nggak sih kalau salah satu bulan yang paling laris dipakai bikin hajat itu adalah antara bulan Juni-Juli? Nggak heran tiap minggu pasti aja ada undangan hajatan mendarat di rumah. Termasuk teman saya ini harus ke kondangan tiap minggu, berarti tiap minggu mesti ngamplop. Padahal teman saya ini masih kesulitan dalam menabung untuk keluarga yang harus dinafkahinnya. (Baca: Penghasilan belum cukup tajir.)

Lalu saya kepikiran sesuatu. Memangnya kalau ke kondangan mesti ngamplop ya? Lha kalau kita lagi bokek gimana? Nggak dateng ke kondangan dong?

Saya jadi inget masa-masa saya masih kuliah dulu. Satu per satu teman saya menikah, dan diam-diam saya hampir selalu resah. Soalnya waktu itu saya lagi kena krisis asmara. Saya baru putus sama pacar saya, dan saya belum nemu gandengan yang baru, dan saya nggak punya gundik buat dibawa ke kondangan. (tidak, itu alasan ngaco :-p).
Tapi yang paling memberatkan saya adalah alasan dompet. Coz waktu itu saya kan masih kuliah, dan aktivitas magang sukarela di rumah sakit bikin saya kesulitan setengah mati buat cari pekerjaan paruh waktu yang bisa menghasilkan duit. Alhasil untuk urusan keuangan saya masih ditopang orang tua. Nah, mosok buat ngamplop di kondangan aja saya mesti morotin bonyok? Malu ah..

Namun kedua alasan itu tidak menyurutkan saya buat merestui temen-temen saya yang menikah. Saya rasa saya harus kembali ke prinsip awal, mana yang duluan, telor atau ayam? Apakah telor itu hadir karena ada ayam, atau apakah ayam itu hadir karena ada telor? Begitu juga dengan urusan dateng ke kondangan. Apakah kita dateng ke kondangan karena kita mau pamer pacar, atau kita dateng karena kita memang temenan sama yang empunya hajat? Apakah kita ngamplop untuk meringankan beban si tuan rumah yang harus menggelar pesta, atau kita ngamplop hanya karena sungkan kalau nggak ikutan mbayar makan?

Satu cerita menggelitik lain yang masih saya simpen dari jaman kuliah dulu. Waktu itu, teman kuliah saya mau menikah. Nyokapnya si teman itu adalah temen arisan nyokap saya. Nah, sebulan sebelum temen saya menikah, nyokapnya bela-belain nelfon ke rumah saya buat nanyain alamat rumah saya, coz dia mau ngirimin undangan via pos (baik, kan?).

Pada hari H, saya dan nyokap dateng ke pesta itu. Yang dateng banyak banget, mungkin karena bokapnya kedua penganten itu pejabat.
Waktu kami salaman, si teman menjerit kegirangan, “Vicky!” lalu dia memeluk saya sampek mahkotanya nyaris melorot.
Kami di pesta itu sampek pestanya bubar. Ketika kedua penganten lagi makan, nyokapnya si penganten jalan-jalan keliling aula menyapa para tamu yang tersisa. Si Tante itu merangkul nyokap saya, “Trims ya, X. Kapan nyusul, X? Anakmu cakep tuh..” Si tante ngomong gitu sambil ngelirik saya, ehm..
Nyokap saya, seperti biasa, cuman ngangguk-ngangguk. “Yah, didoaken saja..”

Oke, sekitar seminggu kemudian, pas nyokap saya pergi ke arisan, nyokap kan ketemu lagi sama si tante yang punya hajatan. Nah, tahu-tahu si tante itu ngomong gini ke nyokap saya, “Eh, X, lu nggak dateng ih ke kawinan anak gw..”
Nyokap saya tercengang.

Waktu nyokap saya cerita itu ke saya di rumah, saya jadi bingung. “Jadi waktu itu dia ngerasa nggak, Mom, kalo lagi ngobrol sama Mom?”
Nyokap saya juga nggak ngerti.

Lalu saya mikir, jangan-jangan si tante itu memang nggak merasa salaman sama nyokap saya pada malam pesta itu. Tapi aneh juga ah, kalo nggak merasa salaman kok rangkul-rangkulan segala? Lha kalau dia merangkul itu apakah sebenarnya dia nggak kenal? Saya bingung, kenapa orang mau aja memeluk orang yang nggak dia kenal? Lha kalau nggak kenal, kenapa ngundang, pakai acara nanya-nanyain alamat segala?

Jangan-jangan, kita ini merangkul orang karena kita sungkan kalau nggak merangkul. Kita nggak merangkul karena kita memang nggak kenal, tapi kita sungkan juga kalau kita dikira nggak kenal. Kita nggak kenal makanya rada segan ngundang, tapi kalau nggak ngundang kok ya rasanya sungkan. Lingkaran sungkan yang aneh..

Makanya saya kira jadi orang itu mbok ya jujur aja. Kalau nggak kenal ya nggak usah ngundang. Kalau nggak hafal namanya ya nggak usah meluk-meluk. Kitanya juga jangan muna, kalau nggak diundang ya jangan ngambek merasa nggak dikenal. Kalau lagi jomblo ya jangan dateng bawa gundik sewaan. Kalau nggak kuat ngamplop ya jangan maksa mbayar. Jangan sampek kita ngamplop di hajatan orang, tapi anak-istri di rumah cuman makan dua kali sehari pakai nasi dan krupuk doang.

Nikah itu kan yang penting doa restunya, supaya menjalani pernikahan itu selamat tanpa gangguan. Tapi saya juga nggak sungkan-sungkan nulis di sini, Nanti kalau saya ngundang Anda ke hajatan saya, Anda ngamplopin saya yang banyak ya.. :-p

Gambarnya ngambil dari sini

Wednesday, June 30, 2010

Musim yang Bulet-Bulet

Mungkin lantaran sekarang lagi musimnya Piala Dunia, jadi pamor anting bulet naik pesat. Entah kenapa sekarang kalau saya lihat cewek-cewek yang jadi pemanis di acara siaran sepak bola, sering saya lihat mereka pada pakai anting bulet. Apakah karena ini menyesuaikan dengan bentuk bola bahwa bola itu bunder?

Saya pikir anting bulet ini cuman kostum buat memeriahkan acara bola. Tapi ternyata saya lihat juga sekarang orang-orang di helatan-helatan hiburan juga kembali seneng pakai anting bulet. Pas saya nonton Indonesian Idol kemaren, saya lihat Agnes Monica juga pakai anting bulet. Lain-lainnya, banyak yang memodifikasi anting bulet. Ada yang anting buletnya dikasih tambahan batang kecil di tengah-tengahnya. Ada juga yang bentuknya nggak bulet, tapi bentuknya seperti hati. Tapi tetep aja pada dasarnya itu adalah anting bulet.

Anehnya, trend anting menyesuaikan bentuk ini hanya terjadi pada musim sepakbola. Tidak berlaku buat cabang-cabang olahraga lain. Pas kemaren-kemaren semua orang ngomongin Thomas-Uber Cup misalnya, nggak ada tuh cewek-cewek berlomba pakai anting bentuk kok atau minimal raket gitu. Apakah ada anting dengan bentuk seperti barbell untuk mendukung atlet angkat besi? Bentuk seperti Frisbee untuk nyorakin atlet lempar cakram? Paling-paling saya baru pernah lihatnya anting berbentuk papan setrikaan. Ups..maksud saya anting berbentuk papan selancar.

Ngomong-ngomong, anting bulet ini memang gede banget perannya untuk mengelevasi penampilan jadi sporty. Kalau mau dandan a la olahragawan itu memang nggak bisa pakai asesoris macam-macam, tapi sedikit lip gloss di bibir dan anting bulet di kedua telinga sudah cukup buat bikin penampilan yang mestinya keringetan jadi cantik.

Tips makai anting bulet:
1. Kalau Anda nggak pe-de-an pakai anting bulet karena bentuknya yang sangat mencolok, jangan langsung pakai anting bulet yang gede-gede. Mulailah dengna anting bulet yang diameternya kecil, misalnya nggak lebih dari 2 cm.
2. Kalau sudah pakai anting bulet, nggak usah ribut pakai kalung dan gelang yang mencolok. Bentuk antingnya itu sendiri sudah cukup mencuri perhatian, jangan bikin orang yang ngelihat jadi pusing karena fokusnya diganggu oleh gelang dan kalung tumpuk-tumpuk.
3. Perhatikan venue buat memakai anting bulet. Jangan pakai anting bulet ke situasi yang cukup slum. Percayalah, alih-alih bikin tampang jadi mirip J.Lo, nanti Anda malah dikira penyanyi dangdut masuk pasar. Males deh ah..

Gambar-gambar saya culik dari sini, sini, dan sini

Tuesday, June 29, 2010

Satu Baju Berdua

Salah satu ciri khas dari orang yang punya adek sepantaran dan sama onderdilnya (maksudnya sama jenis kelaminnya) adalah sering pinjem-pinjeman baju. Kayak saya dan adek saya. Kami sama-sama perempuan, dan beda umur kami cuman tiga tahun, dan hasilnya adalah kami menganut prinsip standar: Bajumu adalah bajuku. Sisirmu adalah sisirku. Sepatumu adalah sepatuku Tasmu adalah tasku. Satu-satunya yang milikku tapi bukan milikmu adalah pacarku. Oh ya, dan celana dalamku.

Sebenarnya sih saya nggak keberatan, coz rata-rata selera adek saya masih bisa dipertanggungjawabkan. Satu-satunya yang nggak saya mufakat adalah warna favoritnya: Dia sukaa banget sama baju warna ijo. Sedangkan saya benci sekali warna ijo, entah apapun itu jenisnya, mulai dari warna ijo lumut, ijo Gedebage, ijo tentara, sampek ijo dangdut. Makanya saya nggak pernah mau pinjem baju dia yang warna ijo. Buat saya, warna ijo itu emak-emak banget deh..

Kebiasaan pinjem-pinjeman barang dan satu barang milik berdua itu kadang-kadang jadi sumber pertikaian nggak penting juga di antara saya dan adek saya. Seperti akhir-akhir ini, waktu ulang tahun kan saya dapet kado tas. Tasnya ciamik deh, saya kalau makai itu rasanya jadi anggun, hehehe. Tapi nyokap saya kasih saya informed consent bahwa nyokap saya merencanakan tas itu harus dipakai berdua, artinya kalau adek saya mau minjem, saya harus kasih. Sebagai dampaknya terjadilah kesepakatan bahwa saya dan adek saya harus merawat tas itu sesuai dengna standar prosedur yang berlaku (yupz, di rumah saya ada SOP untuk merawat tas).

Beberapa hari yang lalu, saya ke tempat servis laptop buat ngambil jenazah laptop saya yang meninggal. Sebelum pergi, saya udah nyiapin saya mau pakai baju apa, sepatu apa, tas apa. Pas mau berangkat, adek saya kaget. “Eh, nggak boleh! Kamu nggak boleh pake tas yang itu! Ayo ganti sana!”

Saya ngerut jidat. Lhoo..ini kan task ado ulang tahun saya, mosok saya mau pakai nggak boleh? Tapi kata adek saya, sesuai consensus kan tas itu milik dia juga, jadi kalau saya mau pakai itu harus dengan persetujuan dia. Dan dia tidak setuju hari itu saya pakai tas itu, soalnya..soalnya saya CUMA mau pergi ke tempat servis computer.

Whuatt? Saya tersinggung. Memangnya saya kalau mau ke tempat servis kompie nggak boleh pakai tas modis? Tapi adek saya tetap melarang saya. Coz dia bilang tas itu mestinya dipakai ke tempat-tempat yang anggun, misalnya ke tempat high tea atau kalau makan di restoran mahal. Bukan ke tempat servis! (Dia nggak tahu aja, kalau bulan lalu saya pakai tas ini buat mendaki Gunung Tangkuban Perahu, hehehe..)

Nah, beberapa hari lalu kami bongkar-bongkar lemari dan adek saya mengeluarkan sepatu boot kami yang udah cukup lama dikubur dalam lemari. Saya nggak bisa menahan keluh, bahwa saya kepingin sekali pakai sepatu boot itu, tapi nyokap saya melarang. Padahal beneran deh, kaki saya cakep banget kalau pakai sepatu boot itu. Bootnya nggak berat-berat amat kok, cuman sepergelangan kaki, dan tinggi haknya cuman sekitar lima senti.

Tukas nyokap saya, “Wong cuma makan di warung aja kok pakai baju apik-apik?”
Duuh, batin saya, itu bukan warung. Itu kafe keren yang home band-nya nyanyiin lagunya Jay Graydon!

Kenapa sih kita harus mendiskriminasikan baju hanya karena alasan tempat? Apa maksudnya tas dan sepatu X cuman boleh dipakai ke tempat yang keren-keren dan nggak boleh dipakai meskipun saya cuman kepingin belanja di hypermarket? Memangnya kalau mau pergi ke tempat murah-meriah saya cuman boleh pakai baju standar seperti kaos ketat dan celana panjang, dan nggak boleh bergaya anggun dengan sackdress dan tas kulit?

Saya jadi inget kata my hunk, waktu dia janjiin saya suatu saat nanti mau ajak saya ke pasar Arab. Belum apa-apa, dia udah kasih syarat aneh, “Tapi kamu ke sana pakai baju biasa aja ya, jangan pakai baju kayak putri.”
Saya mengerutkan kening. “Hah? Memangnya kapan aku pernah pakai baju kayak putri?”
“Itu tuh..waktu kamu pergi sama aku makan sate.”
Ya ampun. Itu bukan baju kayak putri. Itu namanya unfinished-detailed top sabrina!

Padahal kan nggak pa-pa kalau saya pakai fashion bagus buat ke tempat-tempat murah. Saya yakin penjualnya juga seneng kalau pembelinya orangnya modis, ya nggak sih?

Monday, June 28, 2010

Cewek, Tutup Mulut Sajalah!


Kalau lagi nonton bola, segmen yang biasa bikin saya pengen buru-buru ganti channel adalah segmen komentar. Bukan, bukan karena orang Indonesia lebih jago komentar ketimbang jago main bola. Tapi karena saya nggak tahan lihat cewek dipasang di situ buat jadi komentator.

Saya heran kenapa stasiun-stasiun tivi itu masang cewek buat jadi komentator, lalu menanya-nanyai analisis dan segala macam. Dan komentator cewek itu akan menjawab dengan semangatnya seolah-olah dia tahu strategi pelatihnya tim yang main. Batin saya, memangnya kamu pernah main sepakbola, Jeng?

Logika saya sederhana. Kita nggak akan pernah jadi pakar tentang sesuatu, kalau kita tidak pernah nyemplung dalam hal itu. Dan itu juga berlaku buat komentator sepakbola. Gimana caranya mereka bisa jadi komentator yang handal, kalau nendang bola aja mereka nggak pernah?

Masi lebih masuk akal kalau yang ditanggap buat jadi komentator itu perempuan yang pernah jadi atlet sepakbola juga. Lha ini yang dipanggil buat jadi komentator itu mesti profesi aselinya model, model, model lagi. Model tidak pernah jadi item, model nggak pernah main sepakbola, gimana mereka mau berkomentar tentang sepakbola?

Kalau ini hanya strategi buat bikin pemirsa nongkrong di channel dan nggak pindah ke channel lain, well..saya rasa itu dangkal banget. Semua orang juga ngerti kalau cewek di situ cuman dijadikan pemanis. Kesiyan banget, kalau cuman buat jadi pemanis, mendingan cewek disuruh ngurusin bidang lain, misalnya jadi penyiarnya acara kuis sepakbola. Itu masih mending coz faktor tampang dari si cewek akan berpengaruh besar buat ngajakin penonton ikutan kuis yang hadiahnya jutaan itu. Atau jadi pemandu sorak buat crowd penonton yang lagi nonton bareng, itu masih mendingan.

Kalau memang stasiun tivi butuh komentator yang manis dan bening, lebih baik mendaulat mantan pemain bolanya Indonesia. Well, itu tugas PSSI buat memoles para pemainnya supaya nggak cuman bisa ngegocek bola doang, tapi juga mesti punya keterampilan bicara di tivi dan berpenampilan menarik. Supaya kalau pemainnya PSSI itu udah nggak main bola lagi, mereka bisa alih profesi buat jadi komentator sepakbola yang rupawan, bukan cuman nuntut janji diangkat jadi pegawai negeri doang. Industri sepakbola butuh orang yang ahli, bukan cuman pemain yang ngarep jadi PNS, atau komentator yang cuman jual tampang doang.

P.S. Perasaan muncul tiap hari di tivi, tapi saya googling gambar komentator cewek buat Piala Dunia aja kok susah bener yak? Akibatnya saya cuman bisa puas dengan ngambil gambar dari sini

Sunday, June 27, 2010

IDE-IDE Gila

Saya bingung kenapa saya hampir selalu kesasar kalau masuk mal elektronik. Masuk ke mal elektronik nggak sama dengan masuk mal fashion; saya kalau masuk mal fashion, saya bisa membedakan dari depan tokonya aja apakah toko itu jual sepatu boot atau tidak, sehingga saya tidak perlu buang-buang waktu buat browsing toko yang sebenarnya cuman jual sepatu mary jane. Tapi mal elektronik? Semuanya selalu nampak sama, jualan computer dan asesorisnya, jadinya saya susah membedakan toko yang satu dengan toko yang lain secara efisien.

Makanya kalau saya mau ke mal elektronik pasti saya mesti minta ditemenin. Kalau bisa laki-laki, coz mata mereka lebih jeli dalam urusan per-gadget-an. Tapi my hunk lagi nggak bisa nemenin saya. Soalnya, hiks..hiks..kalau dia mau nemenin saya, dia mesti naik pesawat dulu.

Masalah saya sudah dimulai semenjak laptop saya meninggal tiga minggu lalu. Menyelamatkan data dalam laptop mati ternyata cukup ribet. Data disimpen dalam hard disk, dan hard disk-nya mesti dievakuasi keluar dari dalam laptop. Supaya data dalam tuh hard disk bisa dibaca di laptop lain, hard disk mesti dimasukin dalam sebuah piranti bernama mobile rack, yang mana mobile rack itu nanti akan disambungin ke laptop lain dengan perantara kabel USB. Yang jadi problem, saya nggak punya mobile rack itu.

My hunk punya, dan dia ngirimin mobile rack miliknya ke saya via Tiki. Sayang seribu sayang, tuh rack nggak bisa dipakai. Soalnya, mobile rack miliknya cuman cocok buat hard disk tipe SATA, sedangkan hard disk saya tipe IDE. (saya aja baru tahu lho, kalau hard disk tuh ada macam-macam tipe)

Jadilah saya keluyuran di sebuah mal elektronik paling beken di Bandung kemaren buat cari mobile rack IDE itu. Berbekal nama sebuah toko yang direkomendasikan seorang teman, saya mendarat di sebuah toko yang jual khusus asesoris kompie yang katanya paling lengkap se-mal. Ternyata tuh toko nggak jual mobile rack, dan pramuniaganya nyuruh saya ke toko sebelah.

Di toko kedua itu ngakunya dia jual mobile rack, tapi ternyata dia cuman jual yang SATA dan nggak jual yang IDE. Pramuniaganya nyuruh saya ke toko seberang. Ternyata di toko ketiga juga nggak ada yang jual IDE. Jadilah saya nyisirin mal dari toko asesoris satu ke toko asesoris lain cuman buat nyari mobile rack hard disk itu.

Huhuhu..tampang saya persis orang susah. Mana saya nggak ngerti juga barang yang saya incar itu kayak apa. Ke tiap pramuniaganya saya cuman bilang, “Saya mau beli barang yang kayak gini..” sambil nunjukin mobile rack SATA punya pacar saya, “..tapi saya mau yang tipe IDE. Ada ndak?”

Dan hampir setiap toko yang saya datengin bilang mereka nggak jual yang tipe IDE. Tipe IDE itu udah nggak musim lagi. Saya nyaris nangis putus asa. Duh, emang sih hard disk saya itu kan keluaran bulan April 2005.

Lalu my hunk nelfon saya coz denger saya udah kelayapan nggak jelas nyari barang yang nampaknya sudah langka. Katanya, di kota tempatnya tinggal masih ada yang jual. Mungkin mesti dia yang beliin, buat dikirimin ke saya.

Sampek akhirnya saya mendarat di sebuah toko kecil. Saya pesimis coz toko itu lebih mirip gudang ketimbang toko. Tapi akhirnya saya cobain masuk. Ternyata itu memang sebuah toko asesoris.

Si penjualnya bilang ke saya, “Ada sih yang bukan SATA. Paling merk I*M, mau?” Harganya 70 ribu perak.
Saya bilang saya mau lihat. Dia ngeluarin barangnya, sebuah mobile rack yang ukurannya tidak lebih besar ketimbang Blackberry. Saya cocokin ke hard disk saya, dan ternyata.. mobile rack itu pas.

Asyiik..saya tetap bisa dapet data-data saya kembali biarpun laptop saya udah nggak bisa dipakai lagi. Saya udah kuatir aja, seandainya saya nggak dapet rack buat IDE itu, saya terpaksa bawa ke tukang servis buat nge-back up data hard disk saya dengan tariff Rp 300 ribu perak. Well, bukannya saya nggak percaya sama kredibilitas tukang servis sih, tapi saya kuatir mereka akan lihat kalau di dalam hard disk saya ada foto-foto vagina babi, kutil penis, dan gambar-gambar nggak senonoh lainnya yang saya ambil pas jaman saya kuliah dulu. Ntie kalau tuh foto bocor ke mana-mana, bisa-bisa saya ditahan kayak Ariel atas tuduhan menyimpan konten pornografi, hehehe..

Saya tahu perempuan sering dikira gaptek. Dan kenyataannya tuduhan itu memang banyak benernya. Banyak banget perempuan lebih suka minta pertolongan laki-laki buat benerin gadget mereka, entah itu minta kekasihnya, abangnya, atau bokapnya. Tangan perempuan tuh nggak becus kalau berhadapan sama gadget.

Tapi saya nggak bisa bela-belain nunggu ketemu my hunk buat nemenin saya nyariin barang buat benerin data hard disk saya. Saya harus bisa jalan sendiri, coz berada jauh dari pacar nggak boleh bikin saya jadi lumpuh. Dan kemaren, terbukti, dengan bimbingan my hunk via telepon, SMS, dan e-mail, saya berhasil nemu gadget yang saya perlukan buat memulihkan hard disk saya sendiri.

Saturday, June 26, 2010

Lho.. Kok Bubbye Sih?

Berurusan sama kuli bangunan memang kadang-kadang butuh keterampilan tersendiri. Coz mempekerjakannya tidak sama kayak nyari seseorang buat jadi sekretaris atau satpam.

Bonyok saya mutusin bahwa beberapa unsur dari rumah kami mesti didandanin: Atap yang harus ditambal, beberapa sisi tembok yang mesti dicat, dan entah apa lagi. Jadi nyokap saya merekrut seorang kuli buat dateng ke rumah kami untuk melakukan itu. Kulinya dapet dari hasil kenalan sana-sini, tanya-tanya sama tetangga, satpam, sampek akhirnya dapet sebuah nama. Nyokap saya cuman tahu bahwa kuli ini tinggal di sebuah kawasan di kecamatan sebelah, nggak tahu warga kampung mana, pokoknya yang penting ada nomer HP-nya. Oh ya, itu ternyata bukan nomer HP sang kuli, tapi nomer HP anaknya. Sang kuli sih nggak punya HP..

Pokoknya, sang kuli serabutan itu setuju dengan nilai upah yang ditawarin bokap saya. Dan dia janji akan datang ke rumah kami buat mulai kerja. Kemaren, seharusnya.

Nyokap saya bela-belain jaga rumah demi nungguin sang kuli terjanjikan itu. Tapi sampek siang, sang kuli nggak dateng-dateng juga. Kami mulai resah, jangan-jangan sang kuli nggak bersedia betulin rumah kami. Well, dia nggak bersedia nggak pa-pa sih, tapi mbok ya bilang gitu supaya kami bisa cari orang lain. Memangnya kuli bangunan cuman dia doang?

Bonyok saya mau nelfon dia juga susah, coz dia kan nggak punya HP. Diduga tuh HP kan dibawa anaknya, mungkin anaknya nggak ngingetin bokapnya. Nih susahnya kalau orang freelance nggak punya nomer HP sendiri, dan terpaksa merekrut orang lain buat jadi contact person. Gini nih resikonya kalau merekrut sumber daya manusia yang bukan dari lembaga profesional.

Menjelang sore, akhirnya nyokap saya nelfon juga ke nomer HP itu buat protes. Kok ditungguin seharian nggak dateng sih?
Eh, sang kuli malah jawab, "Dateng kok, Bu. Tapi Ibu-nya nggak ada."
Nyokap: "Lho, ada kok. Kan saya nungguin Bapak seharian, saya nggak mungkin ke mana-mana. Saya kan udah janjian sama Bapak, nggak mungkin saya pergi."
Kuli: "Tapi kata yang jagain rumah Ibu, Ibu-nya nggak ada."
Nyokap: "Nggak ah, Pak. Kan dia juga nungguin Bapak. Orang dia yang bakalan nunjukin Bapak mana-mana yang mesti ditambal kok." (Lagian asisten pribadi nyokap saya juga udah dipesenin bahwa hari itu akan ada kuli dateng.)
Kuli: "Tapi katanya Teteh itu, udah ada yang kerja di rumah Ibu."
Nyokap: "Dia bilang begitu?" (Mosok sih si asisten ngomong begitu? Upaya sabotase? Tidak mungkin!)
Kuli: "Iya, tadi saya dateng. Terus ketemu teteh yang lagi nyuci mobil putih di dalem garasi. Katanya, 'Di rumah Ibu sudah ada yang kerja.'"
Nyokap saya tertegun. Asisten pribadinya nggak nyuci mobil hari ini. Yang nyuci mobil itu.. adek saya.

Nyokap saya menunda percakapan itu sejenak. Lalu nutup telepon. "Adeek! Adek! Tadi beneran waktu Adek nyuci mobil ada orang dateng ke garasi?"
Adek saya ngernyit. "Iya."
Nyokap: "Sama Adek diusir?"
Adek: "Iya."
Nyokap: "Lhoo..kenapa diusir?"
Adek: "Abisnya dia bilang, 'Mau minta pekerjaan..'"

Saya ketawa terbahak-bahak dengernya. Nyokap saya nepuk jidat, speechless berat.. Adek saya bingung. Lho, apa salah gw?

Well, Sodara-sodara, memang di keluarga saya ada kebiasaan, kalau ada orang asing dateng ke rumah minta sumbangan dan nggak dianterin Pak RT, pasti orang itu diusir..

Jadi, Sodara-sodara, sang kuli ternyata memang dateng dan bilang ke adek saya, "Mau minta pekerjaan.."
Adek saya, yang ngira bahwa itu orang minta sumbangan, menolak dan bilang, "Sudah ada yang kerja di sini."
Sang kuli kecewa, menyangka nyokap saya diam-diam telah mengontrak kuli lain. Jadi dia minggat, bubbye deh.
Padahal maksud adek saya, keluarga kami sudah punya pembantu rumah tangga yang telah bekerja pada kami bertahun-tahun, dan kami belum butuh pembokat baru..

Setengah ketawa, nyokap saya nelfon sang kuli dan minta maaf coz salah satu putrinya nggak ngeh bahwa itu kuli yang udah janjian. Untung sang kuli nggak pundung, dan dia mau dateng mulai kerja besoknya. Adek saya akan minta maaf ke sang kuli atas kesalahpahaman ini.

Ternyata, memang beginilah akibatnya kalau nggak menguasai pilihan berbahasa Indonesia yang baik dan benar..

Thursday, June 24, 2010

Pas Foto Senyum

Salah satu trik orang tua saya buat mendidik anak-anaknya menjadi ceria adalah menyuruh kami semua ketawa kalau difoto. Kebetulan ayah saya hobi motret, dan objek favoritnya adalah anak-anaknya. Setiap kali ayah saya menyorongkan kamera, saya dan adek saya harus ketawa. Akibatnya kebiasaan itu kebawa terus sampek kami jadi dewasa, dan hingga kini, kebanyakan foto saya adalah pose dengan mulut nyengir.

Kebiasaan didikan orang tua saya itu ternyata cukup merepotkan waktu saya bikin pas foto, bahkan sudah dimulai waktu saya dipotret buat pas foto raport saya untuk TK. Umur saya waktu itu empat tahun, saya dipanggil Bu Guru, disuruh masuk kamar yang rupa-rupanya sudah dirombak jadi studio foto kecil-kecilan. Nah, dasar saya kan sudah biasa dipotret ayah saya, jadi waktu fotografernya ngomong, “Satu..dua..” pada hitungan ketiga, otomatis saya langsung nyengir. Si fotografernya mengerutkan kening, lalu nyuruh saya foto lagi. Dia ngitung lagi, ‘Satu..dua..” dan saya langsung nyengir lagi dengan gigi berbaris di mulut saya. Fotografernya bingung kenapa saya nampak ketawa. Ini kan pas foto..?

Wednesday, June 23, 2010

Tips Bikin Blog Dagang

Nulis blog dagang, alias blog yang memang didedikasikan buat jualan, ternyata punya tantangan sendiri kalau dibandingkan dengan blog lain yang tujuannya memang murni untuk menuliskan opini pribadi. Salah satu kesulitan utama dalam bikin blog jualan adalah mendatangkan pengunjung supaya mau lihat-lihat foto-foto dari barang jualan yang dipamerin dalam blog itu.

Kali ini saya akan menulis beberapa tips buat blog dagang. Oh ya, tolong dicatet ya bahwa saya sama sekali bukan tukang dagang yang memakai blog buat jualan, coz saya blogger yang murni ngeblog buat nulis celotehan saya. Malah bisa dibilang, saya jarang banget jalan-jalan ke blog dagang apalagi belanja online (coz saya orangnya nggak percayaan sama barang yang cuman saya lihat fotonya doang). Tapi saya akan menulis tips ini dari sudut pandang saya sebagai seorang konsumen yang doyan cuci-mata.

Pengunjung yang dateng ke suatu blog dagang pasti pertama-tama dia akan mendarat di halaman utama dulu. Kesan pertama pada halaman utama, akan berperan penting untuk menentukan apakah dia akan melihat-lihat seluruh barang dagangan kita, atau justru dia akan menguap kebosanan lalu pindah ke website lain. Jadi kuncinya, buat halaman utama blog semenarik mungkin.

Kesalahan utama para blogger pedagang, biasanya mereka terlalu ambisius memajang semua foto dagangan mereka di halaman utama. Akibatnya orang jadi nggak fokus buat milih produk. Jadi, jangan terlalu banyak pasang foto. Misalnya Anda pedagang kue, cukup pasang 4-7 macam kue unggulan di halaman utama. Kue-kue lainnya bisa dipasang di halaman lain. Anda harus jeli menentukan mana produk yang paling ingin Anda tonjolkan. Kalau mau merayu pengunjung melihat produk yang lain, gunakan widget Archives atau Categories.

Masalah foto itu juga problem tersendiri. Foto sebaiknya ukurannya jangan gede-gede. Jangan bikin foto yang lebarnya sampek melebihi layar laptopnya, sehingga pengunjung harus scroll-scroll ke bawah. Foto yang lebarnya kecil-kecil aja, misalnya dalam satu layar monitor laptop, foto produk yang nampak ada tiga buah. Perhatikan resolusi; kalau buat halaman utama, jangan pasang foto dengan resolusi tinggi coz itu akan bikin loading halaman jadi lelet. Nanti pengunjungnya kabur. Lha gimana pengunjung mau lihat-lihat toko online kita, kalau baru di halaman depan aja udah bosen gara-gara nungguin loading foto yang nggak kelar-kelar?

Jangan terlalu banyak ngumbar teks di halaman utama. Ini blog dagang lho, pengunjung lebih tertarik lihat fotonya, bukan baca teksnya. Triknya begini, pasang foto produk di halaman utama, lalu bikin semacam capture di bawahnya disertai link ke halaman baru. Nanti di halaman baru, bikin artikel yang menjelaskan mengenai produk tersebut, dan di sini boleh-boleh aja pasang foto yang resolusinya besar supaya calon pembeli bisa melihat produknya dengan jelas.

Untuk merangsang seorang pembaca buat dateng lagi ke blog kita, blog harus rajin di-update. Ini sumber frustasi buat para blogger pedagang yang sering miskin ide. Cara ngakalinnya gini: Misalnya Anda pedagang sepatu. Sejauh ini Anda udah punya 15 rancangan sepatu yang mau dijual. Dalam sekali update, jangan langsung pasang ke-15 foto sepatu itu. Tetapi pasang 3-4 produk dulu dalam sekali posting. Nanti minggu depan, update blognya dengan pasang posting dua produk yang lebih baru. Minggu depannya lagi, posting lagi tiga produk anyar. Begitu terus sedikit demi sedikit, sehingga seolah-olah ada kesan bahwa tiap minggu Anda mengeluarkan produk baru (padahal desainnya sih sudah ada berbulan-bulan sebelumnya kan?)

Belajarlah cara motret produk yang menarik. Sebagus apapun produknya, orang cuman lihat gambar. Jadi kalau motretnya biasa aja, maka produknya juga nampak biasa aja. Saya pernah lihat blog yang jualan utamanya adalah tas bordir, tapi gara-gara penjualnya lebih semangat menonjolkan jahitan bordiran pada pinggiran tasnya, akibatnya foto tasnya nampak nggak menonjol. Kesan pertama orang malah mengira bahwa itu adalah blog yang jualan kain motif kembang, bukan blog yang jualan tas.

Kalau bisa pakailah model. Misalnya blog Anda jualan kripik, cobalah pasang gambar model lagi makan kripik. Jadinya atraktif!

Pantau minat pengunjung dengan Google Analytics. Dengan Google Analytics, Anda bisa mengetahui:

1. Berapa lama pengunjung rata-rata ngabisin waktu buat melihat-lihat produk dalam blog Anda? Apakah cuman sebentar atau lama?

2. Produk mana yang paling sering dilihat oleh pengunjung? Anda bisa menentukan minat calon pembeli dari sini.

3. Siapa yang mereferensikan blog Anda sehingga mendatangkan pengunjung baru? Dari sini Anda bisa tahu siapa yang telah mengiklankan blog Anda sehingga produk Anda dikenal orang lain.

4. Dari lokasi mana saja asal pengunjung blog Anda? Kalau Anda tinggal di Majalengka dan ada pengunjung yang berasal dari Gorontalo, Anda perlu memikirkan kemungkinan ekspor jualan ke sana.

Sudah ah, segitu dulu tipsnya. Kapan-kapan kalau saya dapet ide lagi, nanti saya bagi-bagi. Semoga blog Anda sukses bikin dagangan Anda laku! J