Monday, March 2, 2009

Ini Ngritik, apa Ngenyek?


Untung gw nggak punya tivi. Kalo gw liat sendiri, bisa-bisa tuh tivi ancur lantaran gw lemparin sendal jepit. Tapi pembicaraan itu ditulis ulang di internet. Tanpa edit. Bahkan mbacanya aja, bikin gw merah padam karena malu.

"..Saya tidak akan tanya pada saudara-saudara yang baru dilantik tentang kedudukan saudara yang secara jujur, Anda belum cukup umur sebagai dirut."
"Anda bukan the right man." "..." "The right woman juga bukan. Jangan karena dekat dengan si A, si B. Anda tidak mampu sebagai dirut.."
"...Ini kelas angpau besar..." "..." "Saudara tidak tahu karena cuman operator.."
"...kalau hanya untuk melindungi bisnis para Bohir, kualitas Anda lebih dari cukup. Satpam rumah saya sudah cukup. Saya tidak katakan Ibu Karen.."

Karen yang dimaksud di atas adalah Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina. Kalimat-kalimat di atas diucapin langsung ke pada Karen, pada dengar pendapat antara Komisi VII DPR dengan sang direktur, pada tanggal 10 Februari, oleh seorang anggota DPR yang males banget gw sebut namanya di sini (coz gw takut jadi mencemari blog gw nan indah ini!). Pembicaraan itu direkam Metro TV, diperdengarkan luas ke mana-mana, dan berikutnya sang legislatif terkait dihujat habis-habisan di berbagai website, blog, dan milis. Belum selesai, Kompas kembali menulis dialog di atas di edisi on-line-nya, Minggu, 1 Maret '09, 1:31, di kolom Kehidupan, dalam artikel "Dengar Suara Dewan".

Mungkin maksudnya mengkritik Pertamina. Tapi entah gimana, kedengerannya malah seperti menghina. Kalo bahasa Jawanya sih, ngenyek.

Kok bisa sih kita punya anggota parlemen yang ngomong kayak gitu? Siapa yang milih dia masuk legislatif?!

Sudah berminggu-minggu gw jalan dari blog satu ke blog lain, dan gw nemu makin banyak blogger yang menyatakan kepingin golput. Ini merepotkan.

Gw ngerti, para blogger yang pinter-pinter ini nganggap para caleg rata-rata nggak layak masuk legislatif. Mereka main amplop, tukang tidur, dan senang bikin sandiwara mesum di HP dengan artis dangdut. Tapi karena paman gw sendiri adalah caleg, maka gw harus bilang tidak semua caleg itu punya mental jorok. Paman gw adalah contohnya, dia caleg yang jujur, melek waspada, dan setia sama istri dan anak-anaknya. Sialnya nggak semua caleg sebersih paman gw, dan akibatnya hampir semua caleg identik dengan main kotor.

Bayangin kalo kita golput. Kemungkinan caleg bersih untuk menang, akan makin kecil. Caleg-caleg busuk akan melenggang menang, coz didukung para pemilih yang mau aja disogok duit dan dihipnotis SMS serangan fajar. Maka caleg bermental bobrok pun jadi legislatif beneran, dan makin banyak yang kelakuannya mirip penghujat Bu Karen di atas, persis orang nggak pernah ditatar P4. Kehormatan parlemen jadi turun, rakyat malu sama wakilnya sendiri. Akhirnya, siapa yang rugi? Kita!

Sodara-sodara, orang-orang cerdas yang melek internet macam kita ini cuman 20% dari total populasi pemilih Pemilu. Kalo kita golput, akan ada 20% kertas suara yang nggak kepake. Partai-partai yang jelek akan bisa menyalahgunakan surat-surat suara kosong ini buat menyontreng caleg-caleg yang mereka inginkan, bukan yang kita restuin. Mau jadi apa parlemen kita kalo wakil rakyatnya nggak bisa mewakili rakyat?

Ayo kita jadi bangsa cerdas. Nggak nemu caleg yang yahud, browsing caleg yang paling mendingan menurut nurani kita. Jangan sia-siakan surat suara yang jadi milik kita. Jangan mau diwakili anggota legislatif bermental bobrok. Stop geleng-geleng kepala, stop elus-elus dada. Berhenti cuman bersabar, sudah waktunya kita bertindak. Kalo bukan kita yang mengubah nasib bangsa kita sendiri, siapa lagi?