Wednesday, March 11, 2009

Obatnya Setumpuk!


Pernahkah kamu mengeluh lantaran disuruh minum obat banyak-banyak oleh dokter? Ini bukan pertanyaan retorika, coz gw sendiri sebagai dokter nggak pernah tau persis perasaan pasien gw. Tugas gw cuma dua, yaitu nulis resep yang benar dan melegakan perasaan mereka. Sembuh? Itu sih urusan Tuhan.

Makanya makna pasien sembuh itu sangat relatif. Ada pasien yang pembuluh jantungnya udah terseok-seok tapi dia merasa baik-baik aja. Sebaliknya ada juga pasien yang sebenarnya udah nggak berpenyakit tapi masih aja ngeluh pusing kepala. Jadi, sembuh itu apa sih?

Gw kepikiran nulis ini pas minggu lalu gw ngobrol sama seorang teman, petugas pajak berumur 27 tahun di Malang (Mas, umur sampeyan 27 ya? Apa 72..? Saya ndak pernah nanya umur sampeyan, takut shock kalo jawabannya ternyata 17..:p). Ceritanya anaknya sakit, lalu dia bawa ke rumah sakit besar di Malang, dan gw tau rumah sakit itu udah punya cabang di mana-mana di seluruh Jawa. Sang dokter yang meriksa anaknya, ngeresepin obatnya banyak banget. Lalu waktu obatnya ditebus, ketahuan bahwa harga obat yang dijual di apotek rumah sakit itu melebihi harga eceran tertinggi aslinya. Dasar istrinya teman gw itu pinter, dia googling obat-obatan itu satu per satu. Walhasil, keputusan akhir mereka, obatnya nggak ada yang diminumin ke anaknya! Teman gw itu ngedumel, "Saya mbayari dokternya cuma buat nempelin stetoskop, tapi obatnya ngga ada yang diminum..:("

Huahauhaha!

Teman gw itu heran kenapa dokter mesti ngeresepin obat sebanyak (dan semahal) itu. Adakah dokter itu kongkalikong sama detailer farmasi alias tukang obat? Maklumlah dokter mau semelarat apapun, tampangnya selalu aja nampak tajir, hahaha.. Padahal teman gw itu kan tukang pajak, dia hafal kalo dokter mau bayar pajak selalu jawab, penghasilannya kan pas-pasan..

Maka hari ini gw mau tarik dua masalah aja dari pembicaraan penuh banyolan itu.

KENAPA OBATNYA BANYAK SEKALI?
Gw bisa bayangin berapa banyak obat yang harus ditebus orang tua, padahal anaknya paling-paling cuma sakit batuk dan mungkin demam sedikit.

Gw ceritain deh pekerjaan pertama gw sebagai satpam dan pemeran pengganti di sebuah klinik. Seorang anak perempuan masih pake seragam sekolah datang diantar bokapnya ke klinik itu jam dua siang. Katanya, waktu pelajaran matematik tadi, tau-tau anaknya ngeluh pusing. Gw periksa anak itu persis sesuai prosedur yang diajarin kuliah, dan gw masih hapal mati teorinya coz waktu itu gw kan baru lulus. Gw resepin obat, lalu bokapnya tebus di apotek. Eh..nggak taunya bokapnya balik ke ruang praktek dan protes, "Dok, kok obatnya cuma satu? Antibiotiknya mana?"

Jadi, pasien ini ngira bahwa berobat itu harus minum obat yang banyak. Dan harus minum antibiotik. Padahal anak itu pusing cuman gara-gara belum sarapan. Jadi pasien bisa nggak percaya dokter cuma gara-gara dokternya ngeresepin obatnya sedikit.

Bu De gw ceritanya lain lagi. Dia berobat gara-gara kesemutan melulu. Sepulangnya dari dokter itu, dia bawa sekantong besar obat yang gedenya melebihi tas Louis Vitton-nya. Sambil berseri-seri dia bilang bahwa dokternya baik banget dan obatnya tokcer semua. Mau tau obat yang diresepinnya apa aja? Ada obat diabet, ada obat darah tinggi, ada obat pusing, ada obat perangsang nafsu makan, ada vitamin saraf. Ciamik!

KENAPA OBATNYA MAHAL BANGET?
Teman gw sang tukang pajak ngeluh bahwa obat-obatan anaknya ngabisin sampai Rp 200ribu.

Gw pernah didatengin pasien yang sombongnya minta ampun. Ceritanya dia ini sakit batuk, dan dikasih resep. Waktu dia tebus, ternyata harganya obat itu bikin dia ngamuk. Sebagai akibatnya dia pindah berobat ke gw. Pada gw, dia mengultimatum, "Dok, saya nggak mau dikasih obat seperti yang diresepin dokter X itu, yang harga per butirnya cuma Rp 80,-!"

Ternyata kolega gw telah meresepkan obat dan harga eceran generiknya emang nggak sampai cepek. Lihatlah bagaimana kebijakannya meresepkan obat yang ekonomis malah bikin dia dijauhi pasien. Mungkin pasien ini berpendapat, kalo bisa beli obat yang mahal kenapa harus dikasih obat yang murah?

Lain lagi cerita teman gw yang harus nebus obat bokapnya yang stroke. Obatnya mahal banget, sampai sejuta lebih. Gw nawarin buat ganti resep obat paten itu dengan generik aja supaya biayanya bisa dihemat sampai 200 ribu perak. Eh..kata temen gw itu, "Nggak usah, Vic. Yang paten aja. Biar Papa cepat sembuh."

Itulah persepsi umum yang terbentuk. Makin banyak obatnya, makin mahal obatnya, berarti makin sembuh penyakitnya. Dan dokter harus pintar baca persepsi publik, kalau mau prakteknya tetap rame seperti taman ria.

Dokter bukan dukun lho. Kami nggak bisa baca selera pasien, mau yang banyak atau dikit, mau yang mahal atau yang ekonomis (bukan murah). Jadi kalau pasien kepingin obatnya yang generik supaya lebih murah, ya bilang aja. Dan jangan sungkan nanya dokternya, itu obat apa aja yang diresepin, masing-masing gunanya untuk apa. Kalau dokternya nggak mau ditanya-tanya, dengan baik hati gw saranin, cari dokter yang lain aja lah..:)