Di daftar itu ada kolom-kolom nama, nomer mahasiswa, dan tanda tangan. Dan di kolom sebelahnya, ada kolom "Salaman / Tidak Salaman", yang salah satunya harus dicoret.
Saya bingung itu kolom apaan. Lalu petugas kampus nanya sama saya, nanti pas diwisuda dan saya dikalungin medali, saya mau salaman sama dekannya apa enggak. Saya mengerutkan kening. Ya jelas saya mau salaman dong, saya kan orangnya baik hati lagi tidak somse.
Temen saya malah lebih parah lagi. Sehubungan dengan biaya wisuda kami waktu itu yang udah cukup mahal, dia jadi rada sensi buat tanda tangan formulir apapun. Jadi waktu disuruh teken daftar Salaman / Tidak Salaman itu, dia malah nanya, "Kalo saya salaman, bayar (wisuda)-nya lebih mahal?"
Pada Hari H, beneran saya diwisuda. Saya dikalungin medali, dipindahin kunciran toganya, disalamin oleh Dekan. Saya lihat semua proses seolah terkendali, bahkan gerakan tangan Dekan seolah sudah otomatis, dan bahkan fotografer nampaknya sudah tahu kapan momen yang pas buat motret saat saya salaman sama Dekan.
Tapi kemudian saya juga lihat, beberapa teman cewek saya yang kebetulan pakai jilbab, nggak salaman sama Dekan. Mereka cuman nerima map, dikalungin medali, dipindahin kuncir doang. Dan Dekan juga nggak nampak gelagat mau salaman sama mereka.

Saya rasa akal-akalan panitia ini layak ditiru di acara-acara lain, termasuk di acara kenegaraan sekalipun. Para pihak yang nggak mau bersalaman dengan non-muhrim, hendaknya kasih tahu protokol sebelum acara berlangsung. Supaya nggak perlu ada adegan menteri bingung mau nggak salaman sama istri presiden yang udah kadung ngulurin tangannya.
Bukan begitu, Pak Tiff?
*wink*
Gambarnya diambil dari sini lho...