Gw nggak bisa gambar. Gambar yang bisa gw bikin adalah pemandangan gunung a la anak TK, tau sendirilah, dua gunung di tengah, lalu di bawah gunungnya itu ada sawah yang pake sengkedan, truz di antara kedua gunung itu ada mataharinya, dan mataharinya pake mata segala. Sewaktu SD, gambar gw lebih kreatif, coz di masing-masing pucuk gunung itu ada saljunya pake gletser. Lalu gambar sawah di bawahnya itu nggak melulu gambar rumput berhuruf V, tapi karena gw sudah mengenal beberapa macam pohon, jadi gw gambar pohon kelapa dan pohon cemara. Bayangin, cuman di gambar gw, bisa terjadi sebuah lembah di mana di sana ada gunung bersalju dan pohon kelapa sekaligus.
Oh ya, gw juga bisa gambar peta yang nunjukin jalan dari rumah gw ke stasiun kereta api Kebon Kawung. Ini karena gw sering jadi guide buat orang-orang dari luar kota yang suka kesasar kalo jalan-jalan ke Bandung.
Cukup sampai di situ aja kemampuan gw akan seni lukis. Maka gw susah banget ngerti kenapa sebuah lukisan bisa dijual mahal dan digantung di ruang tamu, padahal tamunya sama sekali nggak ngerti ini gambar apa. Jadi gw kepingin belajar, karena itu gw mulai rajin nyambangin pameran-pameran lukisan. Modal gw cuman modal dengkul dan kamera di tangan. Gw berharap, di pameran itu, gw bisa belajar sesuatu.


Satu-satunya lukisan yang bisa gw apresiasi dengan baik, hanya lukisan ini. Dua orang pacaran, yang satu megang laptop, yang satunya lagi megang HP.

“Salah kau sendiri, Vic,” ujar suara Little Laurent dalam hati gw. “Ini pameran buat komunitas pelukis, bukan buat orang awam macam kau. Satu-satunya lukisan yang bisa kau mengerti cuma gambar perjalanan sirkulasi darah di vena cava inferior, karena itu memang pekerjaanmu.”
Mungkin akan lebih baik, kalo pengunjung awam macam gw dikasih petunjuk tentang lukisan itu. Minimal ada buku petunjuknya lah. Atau ada semacam pemandu wisata yang ngasih informasi ke pengunjung tentang apa maksudnya mereka melukis ini.

Dan semestinya, gw bisa dapet kesan yang cukup bagus sesudah liat pameran lukisan, bukan cuman sekedar motretin diri gw doang.