Semalam, gw baru gabung dukung “Gerakan 1 Juta Dokter Menolak Kepala Dinas Kesehatan Bukan Tenaga Kesehatan!!” di Facebook. (Tadi malem gw dapet notification alert bahwa adminnya gerakan itu baru aja ngeganti namanya menjadi Dukungan Facebookers Menolak Kepala Dinas Kesehatan Bukan Tenaga Kesehatan. Sama aja sih, cuman ganti bungkus.)
Jadi begini, gerakan ini diinpsirasi dari rasa empati kepada dokter-dokter PTT yang dijelek-jelekin sebuah koran di Buton minggu lalu. Diceritain bahwa di Wakatobi, dokter-dokternya sering mangkir tugas, sering nggak ada di tempat, lalu ada yang minta bayaran pengobatan ke pasiennya, hal-hal seperti itulah. Tindakan ini dianggap jelek coz bertentangan dengan program birokrasi daerah setempat, karena menurut mereka, sedang digalakkan program pengobatan gratis.

Kenapa dokter sering nggak tinggal di Puskesmas? Sederhana aja. Sering keliatan di daerah-daerah terpencil bahwa Puskesmas itu letaknya di ujung dunia, jauh dari mana-mana. Nggak ada orang jual makanan, nggak ada air bersih, nggak ada kantor pos. Makanya dokter milih tinggal di rumah yang deket pasar, yang air sumurnya nggak cokelat, dan ada sinyal buat SMS-an. Kan kita semua udah diajarin waktu kelas 1 SMP dulu, bahwa ciri makhluk hidup adalah butuh makanan, butuh air, butuh komunikasi. Kalau Puskesmas jauh dari ketiga ciri di atas, lama-lama dokternya bisa tewas di situ.

Kata kakak ipar gw, PTT itu Pegawai Tidak Tentu. Gajinya telat, manuvernya sulit, sekolah lagi juga susah. Lha istilah gw, PTT itu singkatan dari Penderitaan Tiada Tara.
Menurut gw, daripada birokrat-birokrat yang minim wawasan pengobatan itu bikin program pengobatan gratis, mendingan bikin program kesehatan gratis. Program kesehatan nggak melulu ngurusin pengobatan, tapi bisa menyentuh sisi pencegahan penyakit. Misalnya mencegah infeksi dengan nyuruh penduduk cuci tangan. Mencegah kematian ibu melahirkan dengan kampanye keluarga berencana. Mencegah kencing manis dengan demo masak menu makanan sehat. Mencegah kecelakaan dengan membagi-bagi helm gratis. Kalau penduduk sudah tau caranya mencegah penyakit, akan makin sedikit penduduk yang berobat, dan biaya pengobatan yang mesti ditanggung Pemerintah juga nggak akan besar.
Jadi, jangan cepat percaya dengan janji-janji calon birokrat manapun yang merayu soal pengobatan gratis. Pengobatan gratis itu omong kosong selama sistem pengobatannya sendiri masih amburadul. Jangankan pengobatan gratis, sama seperti sekolah juga nggak ada yang gratis. Bahkan, di dunia ini nggak ada yang gratis. Boro-boro, kita mau bernafas aja juga nggak gratis. Buat bernafas, kita butuh makan. Buat dapet makan, kita butuh uang. Buat dapet uang, itu harus ada usaha. Jadi, bernafas itu harus usaha, bukan gratis. Lha kalau bernafas yang cuman skala cemen aja nggak gratis, apalagi yang urusan gede macam pengobatan, gimana mau gratis?