Monday, April 29, 2013

Dongeng dari Bangsal Pasrah

Selama tiga minggu terakhir saya disuruh guru saya magang di bangsal khusus orang-orang yang punya penyakit di alat kandungan. Sebenarnya target saya cuman belajar penyakit-penyakit yang cemen-cemen kayak tumor jinak, mens nggak teratur, dan sejenisnya. Tapi pasien yang menderita begituan di bangsal ini nggak terlalu banyak, alhasil kalau waktu saya senggang, saya lebih sering bantuin kolega senior saya yang meladeni kanker-kanker kandungan. Kanker ini paling banyak berupa kanker leher rahim, jadi kali ini saya mau cerita tentang derita pasiennya.

Kanker leher rahim, atau lebih populer disebut kanker serviks, pada dasarnya adalah tumor yang tumbuh di kawasan antara vagina dan rahim. Kalau masih di stadium 1 atau 2, cukup angkat aja rahimnya, maka kankernya nggak akan nyusahin penderitanya lagi. Tapi yang kasihan kalau udah stadium 3, di mana kankernya nggak cuman main di leher rahim, tapi sudah ndusel-ndusel ke saluran kencing sehingga bikin ginjalnya rusak dan pasiennya susah pipis.
Maka penderitanya harus diobati dengan radiasi, artinya dikasih sinar khusus yang mengandung zat-zat radioaktif untuk menghambat pertumbuhan kanker. Paling apes pada stadium 4, di mana kanker sudah nyebar sampek ke tempat lain di atas perut, misalnya ke tulang punggung, ke paru, bahkan ke otak. Kalau kayak gini nggak mungkin dioperasi, radiasi juga kayaknya nggak mempan, obat-obatan kemoterapi belum tentu manjur. Dalam hal ini pasiennya tinggal "tunggu waktunya saja".

Pasien (kolega senior) saya yang saya urusin ini rata-rata stadium tiga. Beratnya penyakit yang sudah saya gambarkan di atas bikin saya bisa memahami kenapa mereka kadang-kadang begitu rewel. Ada yang tumornya begitu bandel, ditowel dikit aja langsung berdarah, dan darahnya na'udzubillah ngalahin cewek-cewek mens hari pertama. Nggak heran kalau kadang-kadang pasien-pasien ini suka nggak berani bersihin vaginanya saban kali habis pipis lantaran takut berdarah.

Efeknya betul-betul sinting: kebersihan kemaluan penderitanya sangat mengharukan. Kalau saya mau visite, baru jarak semeter aja udah tercium baunya busuk. Penderitanya jadi minder karena mencium bau vaginanya sendiri, alhasil mereka jadi depresi berat. Nggak cuman itu, banyak banget yang terpaksa "kehilangan" suami, lantaran suaminya juga sungkan mendampingi karena nggak tahan kebauan.

Nyeri kanker ternyata itu sakit minta ampun. Biarpun kankernya cuman di kawasan selangkangan, tapi nyerinya ternyata nyetrum sampek ke seluruh perut. Kadang-kadang penderitanya duduk miring-miring, tidur pun dengan posisi sedekap aneh, ternyata karena menghindari nyeri di kawasan antah-berantah dalam selangkangannya yang dia sendiri tidak bisa membayangkan di mana persisnya. Belum lagi kalau sudah nggak bisa pipis. Saat kami berusaha menolong dengan kasih kateter pipis, dia menjerit-jerit karena susternya nggak sengaja nowel kankernya.

Biarpun secara teoritis kanker stadium 1-2 bisa ditolong dengan operasi, nggak selalu operasi itu bisa dilaksanakan. Kadang-kadang tumornya terlalu besar, dan kalau dipaksa operasi, bisa-bisa jadi pendarahan hebat dan pasiennya malah mati di meja operasi. Supaya aman, pasien ginian harus dikasih kemoterapi dulu. Nanti kalau udah kemoterapi tiga kali dan ternyata tumornya mengecil, baru deh dioperasi.

Kemoterapi pada kanker itu sebetulnya memasukkan obat khusus ke dalam infusnya si pasien. Obat ini konon bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker supaya nggak merangsek makin banyak. Yang menyebalkan adalah efek sampingnya. Obat ini ternyata nggak cuman menghambat sel kanker, tapi ternyata juga menghambat sel-sel lain yang masih sehat. Salah satu sel yang kena adalah sel rambut. Alhasil banyak penderita yang setelah dikemoterapi jadi botak.

Obatnya sendiri bikin mual. Padahal nginfusin obatnya sendiri nggak lama, paling banter tiga jam. Tapi kata pasien saya, sekali kemo, mualnya bisa sampek seminggu. Jadi buat penderita kanker, kemoterapi ini bisa jadi fase penyiksaan lantaran bikin mereka jadi gundul dan muntah-muntah :(

Seperti yang saya bilang bahwa pasien (kolega senior) saya kebanyakan stadium tiga, dan stadium tiga itu mestinya diobatin pake sinar. Dan rumah sakit tempat saya sekolah itu kebanyakan pasiennya dari kelompok miskin yang berobat gratisan. Siyalnya pasien-pasien miskin ini nggak bisa langsung disinar karena untuk acara radioterapi itu mereka harus ngantre. Sehubungan pengobatan ini program gratisan Pemerintah, maka antreannya panjang banget, bisa makan waktu enam bulan. Mosok mau ngobatin orang aja kudu nunggu enam bulan, maka si pasien terpaksa diobatin dengan terapi garis kedua supaya nggak sampek tewas. Terapi garis keduanya ya kudu ikutan kemoterapi tadi, sambil nunggu sampek tiba saatnya tiket untuk terapi sinar. Masuk zona gundul-muntah deh.

Dengan deskripsi derita di atas, nggak heran kalau pasien-pasien kanker serviks itu stress berat. Nggak cuman pasiennya yang stress, tapi keluarganya juga ikutan stress. Kesakitan itu membuat pasiennya ngamuk, lalu dia ngamuk pada dokternya, pada perawatnya, termasuk juga ngamuk pada keluarganya, dan pada akhirnya ngamuk pada dirinya sendiri. Pada pasien-pasien miskin yang berobat gratisan, asuransi Pemerintah nggak sampek meng-cover keluarganya, walhasil keluarganya jadi terbebani kalau harus nungguin pasiennya selama diopname. Banyak dari mereka yang terpaksa jual rumah dan jual sawah demi berobat. Kadang-kadang keluarganya ikutan sumpek, karena harus menjaga pasiennya yang tidur berjubel bareng-bareng pasien lain yang sesama sekarat. Saya pernah menyaksikan keluarga pasien berantem cuman gara-gara yang satu kepingin tidur dengan AC nyala sedangkan tetangga di sebelahnya nggak tahan AC.

Beberapa pasien yang tidak cukup sabaran menghadapi pengobatannya, kadang-kadang nekat berhenti berobat dan lari ke dukun-dukun modern yang dewasa ini populer dengan nama "pengobatan alternatif". Di sana mereka dicekoki ramuan macam-macam dan dikasih bisikan sesat bahwa dengan ramuan itu kankernya sembuh. Tentu saja karena tidak satupun dari ramuan itu punya dasar ilmiah, maka banyak yang tertipu dan beberapa bulan kemudian terkapar dengan ginjal yang bengkak lantaran kankernya semakin ganas dan ginjalnya kepenuhan oleh ramuan-ramuan alternatif tadi. Terpaksa cuci darah deh.

Apakah semua penderita kanker serviks seperti itu? Enggak juga. Karena operasi, radiasi, dan kemoterapi ternyata memang bisa menolong. Mereka yang patuh menjalani pengobatan dan bersedia disinar sampek 35 kali dan diberi kemoterapi sampek enam kali, ternyata kankernya mengecil dan bahkan selangkangannya kembali mulus. Memang dokter tidak boleh bilang kankernya sembuh, tetapi ya, pasiennya memang mendapatkan hidupnya kembali.

Beberapa pasien saya yang sudah dikemo berkali-kali, akhirnya mengakui bagaimana kemo yang bikin muntah-muntah itu akhirnya mengembalikan diri mereka lagi. Perdarahannya mulai berhenti, vaginanya tidak sebau yang dulu lagi. Mereka sesama penderita itu saling berkawan, saling curhat akan penderitaan, dan mereka berusaha menguatkan "teman-teman" sesama penderita lain yang sedang kesakitan. Bagian yang lucu adalah bagaimana mereka bertukar info tentang toko jualan jilbab, karena mereka ingin menutupi kepala mereka yang botak tidak karuan akibat obat kemoterapi itu. Rumah sakit kami mewajibkan mereka yang sudah selesai dikemo dan diradiasi untuk pap smear teratur (demi mengecek, siapa tahu kankernya kumat), dan setiap ada "alumni" yang pap smear-nya tetap bersih setelah tiga tahun, selalu dipandang kawannya yang lain untuk jadi bahan inspirasi supaya mau tetap berobat.

Kanker tidak bisa sembuh. Sel kanker akan tetap ada di sana, tetapi bisa dihambat supaya tidak tumbuh apalagi menyebar. Yang penting, penderitanya harus tetap bisa hidup dengan menerima dirinya sendiri. Bukan mati dalam keadaan tragis: kesakitan, botak, sedih, dan bangkrut. (Dan kadang-kadang, mati setelah tertipu dukun alternatif.) Karena seperti kata profesor saya, hendaknya jika umur sang penderita memang sudah habis nanti, penderitanya meninggal dengan tetap punya harga diri. Tetap punya perasaan bangga terhadap dirinya, tetap senang biarpun kepala sudah gundul, dan tetap punya uang cukup untuk sekedar membelikan cucu-cucunya esgrim.
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com