Wednesday, October 10, 2012

Tersesat dalam Titik-titik

Jaman kecil dulu, pada soal-soal anak SD di majalah Bobo yang jadi langganan saya, ada beberapa macam mode soal yang bisa muncul. Soal pilihan berganda, artinya disediakan 3-5 option jawaban untuk satu pertanyaan. Soal esai, artinya jawabannya disuruh mengarang bebas, tidak bisa dijawab dengan satu-dua patah kata thok. Soal menjodohkan, artinya ada lima (kadang-kadang lebih) option jawaban untuk lima pertanyaan yang berbeda, dan biasanya satu jawaban hanya untuk satu soal. Soal isian, biasanya instruksinya adalah "isilah titik-titik pada pernyataan ini dengan jawaban yang tepat".

Saya, yang membenci semua mode tes yang terbatas, tidak suka mode soal apapun selain soal esai. Karena buat saya, di dunia ini, setiap orang berhak punya jawaban sendiri sesuai kapasitas nurani masing-masing, termasuk juga berhak berbeda dari kehendak pembuat soal.

Semakin tinggi saya bersekolah, semakin saya kacau ketika berhadapan dengan ujian apapun selain ujian esai. Saban kali saya disodorin pilihan berganda, saya nggak bisa jawab coz jawaban saya sering beda dengan options yang disodorkan. Ini seperti ditawari lima macam menu makanan (ikan gurame, ayam bakar, belut goreng, telur mata sapi, dan jamur crispy) padahal perut saya kepingin sekali makan burung dara saus inggris. Situasi lebih parah lagi ketika berhadapan dengan soal menjodohkan. Saya nggak ngerti kenapa satu jawaban hanya boleh untuk satu pertanyaan dan tidak boleh untuk pertanyaan lain. Sama seperti menghidangkan lima menu makanan di meja yang diduduki lima orang tapi setiap orang cuman boleh makan satu macam menu. Kenapa kelima orang itu tidak boleh menikmati kelima makanan itu bersama-sama? Di mana prinsip berbagi di sini?

Konflik inilah yang sedang saya hadapi bersama kolega-kolega saya di sekolah sekarang. Kami akan ujian dua bulan lagi, dan profesor kami saban kali kuliah seringkali mengajari kami dengan bikin kuis. Kuisnya itu adalah soal isian.
Di kelas itu kira-kira adegannya gini, "Memasak ikan bakar adalah dengan apa?"
Kolega saya yang pertama jawab, "Bumbu."
Profesor saya nampak tidak puas, lalu menolehkan kepalanya ke kolega saya yang kedua, "Jawaban Anda?"
Kolega ke-2: "Bumbu dan garam, Prof."
Tidak puas juga.
Kolega ke-3 (sok berusaha menyempurnakan, mungkin dipikirnya jawabannya kurang panjang): "Bumbu, garam, lalu dibubuhi jeruk nipis.."
Profesor kami menggeleng lalu pindah ke saya: "Vicky?"
Saya dengan sok gagah pun menjawab, "Ada beberapa macam teknik, Prof. Yang pertama bisa digoreng dulu lalu dibakar, yang kedua lagi bisa langsung dibakar, yang ketiga.."
"Bukan, bukan itu!" Profesor langsung ngalih ke kolega saya yang lain, meninggalkan saya yang keok di kursi. "Anda?"
Setelah berkeliling ke semua mahasiswa yang ada di kelas itu, akhirnya Prof berkata, "Memasak ikan bakar adalah dengan..wajan, panggangan, dan kompor."
Spontan kami semua melenguh!

Ngerti kan di mana masalahnya?
Pada tipe soal isian, kita sering kali tidak bisa menjawab bukan karena kita nggak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya bukan seperti yang diinginkan pembuat soal.

Kami cemas bagaimana kalau nanti pas ujian, tipe soal yang keluar adalah soal isian atau pilihan berganda begini. Soal pilihan berganda, biarpun kedengerannya mudah karena bisa mengira-ngira di antara kelima option, seringkali bikin tergelincir karena option-option itu mirip-mirip. Bagaimana kalau Anda ditanyai begini: Memasak ayam bakar untuk calon mertua adalah dengan cara:
a) Memotong ayam dulu, lalu membumbuinya, kemudian membakarnya
b) Mengeluarkannya dari kantong plastik di pasar, mencucinya, lalu membumbuinya dan menaruhnya di microwave
c) Memilih ayam kampung yang segar dan tidak busuk, membumbuinya dengan bumbu kesukaan calon mertua, mengawetkannya dalam kulkas, lalu membakarnya menjelang waktu makan siang
d) Semua pilihan benar
e) semua pilihan salah
Kira-kira Anda pilih yang mana?

Semua pilihan nampaknya benar, bisa juga Anda cuman milih salah satu.
Pilihan a), nampaknya benar. Tapi cewek yang nggak pernah pergi ke pasar, akan pilih option b). Justru option b) tidak akan dipilih oleh ibu yang nggak punya microwave di rumah. Saya jelas tidak akan pilih option c), karena option itu mengandung kata "memilih ayam kampung yang segar", sedangkan boro-boro milih ayam kampung, waktu senggang untuk pergi ke pasar aja saya nggak punya..
Saya mungkin malah akan memilih option e), soalnya menurut saya ayam itu mengandung kolesterol, sedangkan saya tidak akan menghidangkan menu berkolesterol untuk mertua saya karena kolesterol itu nggak baik buat calon mertua saya yang punya hipertensi :p

Artinya apa? Tidak ada jawaban yang benar untuk semua orang pada setiap soal pilihan berganda. Lebih ciloko lagi kalau dikasih soal isian. Instruksi "isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat" justru akan membuat penjawab ujiannya tersesat dalam titik-titik..

Saya lebih senang soal esai. Malah kalau bisa soalnya lisan aja sekalian. Selain go green menghemat kertas, yang diuji punya kesempatan banyak untuk membuktikan kemampuannya menguasai ujian. Karena menguasai materi yang diujikan bisa kelihatan dari cara menjawab pertanyaan.

Anda gimana? Kalau disuruh ujian, Anda kepingin ditanyai dengan metode ujian bagaimana?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com