Wednesday, December 5, 2012

Tetanggaku Bossku

Dulu perhitungan saya nyari rumah kost waktu mau sekolah itu cukup rumit, karena saya terpaksa harus milih, antara milih lokasi yang sedekat mungkin dengan sekolah, atau milih kost yang harganya murah. Sekarang kayaknya milih kost itu kudu tambah lagi pertimbangannya: Tetangganya enak nggak?

Akan jauh lebih simpel kalau kriteria ideal tetanggamu itu sama seperti orang kebanyakan kalau milih rumah: Nggak tukang ngintip jemuran, nggak suka sok-sok pinjem panci terus belagak lupa kembaliin, dan nggak suka puter musik dangdut. Alhamdulillah selama saya ngekost, saya nggak pernah punya masalah sama tetangga kost, karena tetangga di kamar sebelah itu senengnya main laundry, nggak suka masak, dan playlist-nya penuh dengan lagunya Adele. Sampek tetangga saya berhenti ngekost di tempat kost saya pun kami nggak pernah berantem, mungkin karena faktor yang memang cukup signifikan: Saya jarang tidur di rumah, lebih sering tidur di sekolah.

Tapi nampaknya definisi tetangga ideal itu harus ditambah lagi: Kalau bisa jangan tetanggaan sama boss.




Boss yang saya maksud bukanlah selalu orang yang menggaji kita lho. Boss itu artinya bisa diperluas lagi: orang yang suka nyuruh-nyuruh kita, misalnya dalam konteks sekolah saya, kolega senior saya.
Saya kan dokter yang lagi sekolah spesialisasi. Seperti yang sudah jadi rahasia umum, hubungan kekolegaan di sekolah spesialisasi itu mirip hubungan di militer. Siapa yang masuk tempat itu duluan, maka dia lebih senior. Siapa yang masuk tempat itu belakangan, maka dia lebih yunior. Dan yang senior berhak nyuruh-nyuruh yunior. Nggak usah dibayangin dunianya kayak apa, kapan-kapan aja saya ceritain ini, coz hari ini fokus artikel ini bukan di situ.

Mari kita bicara tentang konsep rumah. Rumah adalah tempat di mana kita kepingin jadi diri sendiri. Mau bentuk rumah itu berupa masih numpang sama orang tua kek, atau mau nyewa kamar kost kek, pokoknya rumah adalah tempat di mana kita kepingin hidup nyaman dengan jati diri kita yang asli. Makanya ada cewek yang nggak sudi ngekost di rumah kost unisex karena dia kepingin jalan di rumah kostnya sambil pake daster dengan rambut di-roll sana-sini. Ada juga orang yang sampek hengkang dari rumah kostnya karena ibu kostnya melarang penyewanya memasak di situ demi keamanan dari kebakaran, padahal penyewanya itu hobi bikin kue. Sederhananya begitu.

Lalu tadi, concierge saya kasih tahu saya, ada calon mahasiswa cari kost ke tempat kost saya. Oh, saya baru inget kalau ini sudah Desember, pertanda tahun ajaran baru sudah mau dimulai. Berarti sekarang lagi musimnya penerimaan mahasiswa baru dong. Yang bikin saya terhenyak, concierge saya kasih tahu saya, calon mahasiswa yang cari kost ke tempat kita itu, baru diterima masuk sekolah spesialisasi kandungan.

Heh?
"Tahu nggak, Pak, kalo saya tinggal di sini?" tanya saya.
"Ya tahu, Mbak!" jawab concierge-nya bersemangat.
Saya cuman nyengir hambar.

Maksud saya, sang calon mahasiswa itu jelas anak baru, kayaknya bakalan jadi adek kelas saya nanti. Mau nggak mau, saya bakalan jadi boss-nya nanti. Saya sebetulnya bukan tipe sok senior atau bossy yah, tapi mau dibikin kondisi gimanapun, di sekolah saya itu pada ritme akhirnya selalu sama, kakak kelas akan selalu jadi boss. Artinya sang calon tetangga yang adek kelas saya itu akan jadi bawahan saya. Dan saya akan jadi boss-nya. Membayangkan begitu, saya jadi risih. Serius nih tuh orang mau tetanggaan sama boss-nya?

Coba bayangkan, dia lagi enak-enak nyuci baju di rumah kost kami sambil pake daster gombal dengan rambut di-roll, tiba-tiba saya muncul dengan membawa setumpuk cucian?
Dia: "Uh, eh, selamat pagi, Mbak.." (Dengan nada hormat)
Saya: "Pagi, Dek.." (Setengah menguap karena masih subuh)
Dia: "Mau nyuci juga ya? Duluan aja pake embernya, Mbak.." (Karena junior harus kasih giliran duluan ke seniornya)
Saya: "Nggak usah, Dek. Kamu pake aja dulu.." (Karena saya kan orangnya demokratis)
Dia: "Ngg..nggak pa-pa, Mbak. Saya bisa nanti-nanti aja nyucinya.." (Mematuhi prinsip bahwa senior tetap harus duluan)
Saya: "Udah, nggak pa-pa, kamu aja duluan.." (Nggak peduli soal urusan senioritas, apalagi kalau sama-sama pake daster)
Dia: "Uh, maaf, baik, Mbak.." (Menganggap disuruh nyuci duluan itu perintah atasan, lalu melanjutkan nyuci baju dengan penuh sungkan)
Saya: (diam di pojokan, mata setengah merem karena masih ngantuk) (lalu mendadak teringat bahwa mestinya junior ini sudah berangkat duluan ke rumah sakit buat visite pasien) "Dek?"
Dia: "Ya Mbak?" (Terlonjak kaget)
Saya: "Kamu bukannya mestinya sudah siapin si Nyonya Zubaidah buat saya operasiin dua jam lagi ya?"
Dia: "Ngg.." (Gesturnya mulai canggung) "Maaf, Mbak, saya lupa.."
Saya: (menatapnya dengan tampang flat)
Dia: (meloncat dari dingklik, lari ke kamarnya, saya yakin dia ganti baju secepat kilat, lalu keluar dari kamar dan lari meninggalkan rumah kost untuk ke rumah sakit demi menyiapkan pasien tumor ovarium solid yang mau dioperasi, yang mestinya sudah dia siapkan sejak satu jam yang lalu, tapi dia lupa karena dia sibuk cuci baju di tempat kost)

Lalu mungkin saya ngurut-ngurut dada di ruang cucian sembari berkata dalam hati, "Sabarlah, Laurent, dulu waktu lu masih level bawah kan lu juga sering pelupa kayak gitu."
Tapi pada saat yang bersamaan, adek kelas saya memaki dalam hati, "Mestinya aku nggak satu kost sama kakak senior!"

Sekarang saya juga masih level bawah sih, belum senior-senior amat. Tapi sudah punya adek kelas. Dan percayalah, punya adek kelas itu rasanya..beda.

Dan sekarang kayaknya adek kelas bakalan jadi tetangga kost saya. Nyuci baju rame-rame di tempat saya. Mungkin masak indomi di dapur umum. Mondar-mandir di selasar dengan tampang lusuh setelah seharian kerja rodi.

Kalau pulang dengan capek setelah kerja rodi seharian di sekolah, kita biasanya bilang, "Suruh siapa sekolah?"
Tapi kalau pulangnya ke tempat kost tempat boss kita juga tinggal, mosok mau bilang, "Suruh siapa ngekost?"

I don't like being feodal. Biarlah lingkungan sekolah saya aja yang feodal, tapi saya nggak kepingin ikutan gituan juga. Meskipun saya juga nggak tahu sampai kapan pikiran idealistik ini akan bertahan.

Saya harap adek-adek kelas saya yang baru ini akan menemukan rumah kost yang nyaman. Moga-moga rumah kost-nya tetap terasa nyaman meskipun mereka satu kost dengan kolega seniornya.

Saya bahkan terheran-heran sendiri kenapa saya harus menggunakan kata "meskipun".

Dan untuk saya yang sudah pe-we di sini cukup lama, saya akan berdoa, moga-moga tetangga baru itu nggak suka muter lagu dangdut.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com