Monday, December 10, 2012
(Jangan) Nyanyi Apa di Pernikahan?
Sunday, December 9, 2012
Tusukan Pertama Selalu Sakit
Sudah umum dianggap bahwa untuk membuat anak perempuan nampak feminin, orang tua memakaikan anaknya itu anting-anting. Persoalan ini jadi susah kalau anting itu ditancepin pertama kali, namanya juga jarum ditusukin, rasanya pasti sakit nggak karuan.
Orang tua kadang-kadang ambil jalan pintas, daripada kasihan lihat anak perempuannya jerit-jerit pas ditindik, mending sekalian aja ditindiknya pas masih bayi. Toh nangisnya sama kencengnya, tapi setidaknya menahan bayi perempuan yang meronta-ronta nggak sesusah menahan anak perempuan yang kalau nangis bisa bangunin penghuni kuburan.
Rumah sakit tempat saya sekolah juga melayani jasa menindik bayi yang baru lahir. Asal yang penting
Saturday, December 8, 2012
Pola Pelaku Nikah Siri
Persoalannya, gimana mau bikin kartu keluarga, orang suami aja dapetnya dengan nikah siri?
Saya, entah kenapa saban kali dapet pasien yang kebetulan status nikahnya (masih) nikah siri, mesti urusannya nggak ada yang bener. Kalo nggak abortus provokatus lah, mesti eklampsia atau plasenta previa dengan fluksus aktif. Mbok sekali-kali kek pasien saya yang nikah siri itu pasien yang bersalin normal aja, biar nggak ada masalah. Nyatanya enggak tuh.
Setelah saya iseng bikin analisa, saya ngeh kalau hampir semua masalah pasien itu sedikit-banyak ada penyebab faktor sosialnya.
Semisal aja abortus provokatus itu terjadi karena si ibu memang sengaja minum jamu karena kepingin anaknya gugur. Dia begitu karena nggak siap besarin anak sendirian. Sendirian? Iya, soalnya suaminya masih tinggal sama istri yang satunya.
Pasien plasenta previa sebetulnya nggak segitunya menyusahkan sekiranya dari awal kehamilan sudah ketahuan di USG kalau ari-arinya memang menyumbat jalan lahir. Persoalannya si ibu nggak pernah USG karena si ibu takut ke dokter sendirian lantaran takut ditodong bayar. Suaminya nggak kasih dia duit saku buat bayar dokter karena suaminya sibuk kasih nafkah ke istrinya yang lain dan lebih sah..
Eklampsia adalah musibah yang bisa menimpa siapa aja. Korbannya rata-rata perempuan yang baru pertama kali hamil. Nggak heran banyak pasien penyakit ini adalah cewek-cewek yang nggak berpengalaman dalam urusan hamil dan punya anak. Nikah siri menambah ruwet masalah karena mereka nggak kepikiran untuk menyuruh suaminya jadi suami siaga.
Friday, December 7, 2012
Teh Kembang
Tunggu sekitar 15 menit sampai seluruh air dalam poci terlarut bersama teh.
Rasa: Pahit, sebetulnya. Jadi saya tambahkan gula sendiri, hehehe.
Bagaimanapun, tehnya cukup unik, enak di lidah, dan cukup eksotis buat difoto.
Lokasi: Sebuah restoran Belgia di kawasan Setiabudi di Bandung.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Wednesday, December 5, 2012
Tetanggaku Bossku
Akan jauh lebih simpel kalau kriteria ideal tetanggamu itu sama seperti orang kebanyakan kalau milih rumah: Nggak tukang ngintip jemuran, nggak suka sok-sok pinjem panci terus belagak lupa kembaliin, dan nggak suka puter musik dangdut. Alhamdulillah selama saya ngekost, saya nggak pernah punya masalah sama tetangga kost, karena tetangga di kamar sebelah itu senengnya main laundry, nggak suka masak, dan playlist-nya penuh dengan lagunya Adele. Sampek tetangga saya berhenti ngekost di tempat kost saya pun kami nggak pernah berantem, mungkin karena faktor yang memang cukup signifikan: Saya jarang tidur di rumah, lebih sering tidur di sekolah.
Tapi nampaknya definisi tetangga ideal itu harus ditambah lagi: Kalau bisa jangan tetanggaan sama boss.
Monday, December 3, 2012
Jejaknya Mulai Panas Lagi
Nyokap saya bilang, ia tidak ada duanya. Bokap saya mufakat, ia tidak pernah minta uang banyak-banyak. Adek saya pernah carikan alternatif lain, tapi rasanya tidak ada yang menyamainya. Saya lebih realistis, saya merasa kita akan menemukan penggantinya suatu saat nanti. Meskipun saya belum pernah berhasil menemukan penggantinya. Ia adalah..
Sunday, December 2, 2012
Aku Disuruh Ngobatin Kertas
Minggu lalu seorang teman, seorang pekerja industri yang pastinya bukan orang rumah sakit, kirim saya pesan. Ceritanya dos-q habis periksa darah dan mendapati titer Widal-nya 1/160 dengan perincian sepanjang kurang lebih 11 baris yang jelas-jelas menuhin display HP saya. Dos-q sedang bertanya dengan perincian sedetail itu, dos-q sakit tipes apa nggak? Saya bacanya jadi garuk-garuk kepala. Setahu saya, orang kalo sakit tipes nggak akan bisa ngetik sedetail itu dan seruwet itu di HP-nya. Sakit tipes itu harusnya terkapar di tempat tidur, badan panas dingin nggak karuan, feeling salah tingkah karena perasaan campur-aduk antara mencret dengan nggak bisa pup.
Dulu pernah seorang teman lain, auditor di sebuah perusahaan minyak, setengah panik kirim pesan ke saya. Dos-q habis menjalani pemeriksaan kesehatan di kantornya, serangkaian pemeriksaan yang rumit sekali dan cenderung lebay malah, karena ternyata alat kandungannya juga diperiksa pakai USG padahal dos-q belum kawin. Dalam pemeriksaan itu terungkap bahwa dos-q punya massa segede dua senti di ovarium dan sekarang dos-q nggak bisa tidur karena membaca hasil itu. Samar-samar dos-q inget di pelajaran biologi bahwa ovarium itu indung telur yang berkontribusi untuk masa depan kesuburannya kelak. Saya ngerti apa yang dikhawatirkannya, nampaknya dos-q takut mandul sekarang, cuman gara-gara telah membaca hasil lab cek rutin..
Thursday, November 29, 2012
Pak Guru Bilang, Lupa Itu Tidak Apa-apa
Kalau pusing kasih aja parasetamol. Kalau keseleo kasih aja asam mefenamat. Kalau masuk angin kasih aja vitamin C.
Tetapi dalam prakteknya, penyakit tidak pernah sesederhana itu.
Penyakit itu, menurut ICD-X ada ribuan jenis. Setiap diagnosa penyakit punya obat yang beda-beda. Tidak semua penyakit bisa sembuh dengan kasih obat, beberapa harus ditindak, mulai dari dipijit sampek dibelah.
Persoalannya, tidak semua dokter hapal jenis-jenis pertolongannya. Daya menghapal itu sangat ditentukan bermacam-macam faktor, mulai dari umur dokter yang bersangkutan, pengalaman, sampek kemauan dokternya untuk membaca buku dan ikutan seminar. Akibatnya, nggak semua keluhan pasien yang datang berobat bisa ditangani dengan betul. Ada yang penyakitnya hilang (saya nggak suka istilah SEMBUH), ada juga yang enggak. Ada yang terhibur setelah dokternya bilang, "Nggak pa-pa kok, Bu/Pak. Ini normal." Ada juga yang jadi galau setelah dokternya bilang, "Hmm..ini bisa sembuh asalkan Anda begini, begitu, bla-bla-bla..nanti kontrol lagi ke sini bulan depan ya?" Ini dokternya bisa ngobatin nggak sih?
Tuesday, November 27, 2012
Ngomong Aja Langsung
![]() |
| Obat ini, setelah tutup obatnya diganti sama tutup obat yang lain. |
Monday, November 19, 2012
Luarnya Mewah, Dalemnya KW
Lalu, kemaren, pas saya lagi ngiderin Foursquare, tahu-tahu mata saya tertumbuk pada status kolega saya yang nulis, dos-q lagi jaga di Rumah Sakit X. Hey, saya langsung kepo, dan nanya kok bisa-bisanya dos-q kerja sambilan di Rumah Sakit X, padahal saya tahu tuh rumah sakit cuman mau mempekerjakan dokter spesialis sedangkan kolega saya kan juga sama-sama masih dokter umum.
Lalu, dos-q jawab, tuh rumah sakit memang maunya dibayar oleh pasiennya dengan tarif spesialis, tapi supaya murah meriah maka institusi itu mempekerjakan dokter umum. Supaya aman dari kemungkinan tuntutan nggak enak, nama yang dipasang adalah nama dokter spesialis entah siapa gitu, meskipun nanti tangan yang bekerja adalah tangan asistennya (asistennya itu ya dokter umum). Kalau ada apa-apa ya yang tanggung jawab adalah sang spesialis bersangkutan karena kan nama dos-q yang dipasang.
Saya dengernya jadi agak kecewa, karena somehow sekitar beberapa tahun lalu saya pernah punya cita-cita kepingin melahirkan di rumah sakit itu. Dalam benak saya waktu itu, saya kepingin diladenin spesialis kandungan, lalu kalau saya sampek jatuh kepada situasi di mana saya harus dioperasi, saya ya maunya dibius sama dokter spesialis anestesi. Bukan dibius oleh, maaf ya, spesialis anestesi KW alias dokter umum (meskipun saya tahu juga bahwa sang dokter umum itu bertanggung jawab terhadap dokter spesialisnya juga).
Saya nggak menyalahkan dokter umum yang mau-maunya bekerja atas nama orang lain sedangkan dos-q sendiri cuman dapet bayaran dikit, itu terjadi di banyak tempat, saya sendiri mengalaminya sekarang.
Saya juga nggak menyalahkan dokter spesialis yang harus nyambi bekerja di banyak tempat yang sudah kadung teken kontrak dengannya, padahal tenaga fisiknya sendiri mungkin nggak kuat untuk bisa membelah diri dan konsentrasi pada banyak tempat sekaligus.
Tapi rumah sakit seharusnya lebih jujur. Jika berani bilang kepada pasien bahwa "kami akan memberi Anda dokter spesialis", jangan lantas pada prakteknya hanya memberikan dokter spesialis yang baru seperempat jadi (alias spesialis KW).
Ah, tapi siapa yang akan mempertanyakan kejujuran rumah sakit? Apalagi kalau rumah sakitnya. Sudah mewah dan berlantai marmer seperti yang diceritakan Bu Supari, ya toh?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
