Friday, February 3, 2012

Mikir Gede, Tindakan Simpel

Ketika Anda baru lulus sekolah dan kepingin cari pekerjaan, gimana sikap Anda waktu menelusuri iklan lowongan kerjaan di koran? Apakah Anda hanya cari kerjaan yang sesuai dengan latar belakang sekolah? Apakah Anda hanya cari kerjaan dengan fasilitas yang banyak? Apakah Anda hanya cari kerjaan di tempat yang dekat rumah?

Saya ingat awal-awal lulus jadi dokter, ketika sarana kesehatan yang sudi menerima makhluk-makhluk selevel kami hanyalah klinik-klinik kecil, saya cuman mau melamar kerja ke klinik yang bisa dicapai dengan naik angkot satu kali dari rumah :D
Bukannya saya jual mahal. Tapi saya rasa bekerja di tempat yang kira-kira jumlah pasiennya cuman seuprit pun nggak akan sepadan dengan biaya transpor yang harus saya keluarkan untuk kerja di sana.

Sepupu saya nulis di blognya bahwa menurutnya pelamar kerja dengan kualitas tinggi cenderung nggak akan melamar ke perusahaan yang nggak terkenal atau perusahaan yang bikin iklannya cuman pakai kolom kecil. Karena pelamar dengan kualitas tinggi pasti cenderung melamar ke perusahaan besar, minimal BUMN, atau malah bikin perusahaan sendiri. Bahkan kalau melamar di perusahaan yang biasa-biasa aja pun, mungkin dia tidak akan bertahan lama di sana karena tempat kerja kecil itu hanya sebagai "batu loncatan".

Saya masih baru lulus dokter enam tahun lalu, baru ngincipin pindah kerja sana-sini, sebelum akhirnya menghentikan aktivitas kutu loncat itu karena saya diterima sekolah spesialisasi. Jadi saya nggak ngerti-ngerti amat tentang melamar kerja. Tetapi mungkin saya bisa berbagi sedikit mengenai seni memanfaatkan peluang.

Manusia yang baru lulus sekolah, rata-rata mau enaknya aja. Kerja di gedung perusahaan besar, punya mobil pribadi yang disupirin, gaji melimpah dan syukur-syukur tunjangan pensiun abadi. Dulu saya juga begitu, dan sekarang pun masih. :D Belakangan saya tahu bahwa untuk berada di posisi itu nggak gampang. Perlu kualitas pribadi yang bagus. Tapi kualitas yang bagus itu kualitas yang gimana?

SOFT SKILL
Pintar di bangku kuliah ternyata nggak cukup. Saya hapal penyakit X harus dilakukan operasi Y, tapi kalau saya nggak bisa berkomunikasi dengan baik tentu pekerjaan saya nggak akan berjalan dengan lancar. Saya harus merayu pasien supaya mau dibuka perutnya, padahal untuk dioperasi itu, sudah prosedurnya menyakitkan, pasiennya disuruh bayar mahal pula. Saya rasa demikian juga dengan teman-teman dari latar belakang ilmu lain. Bagaimana merayu tukang gali tanah untuk bikin rumah supaya dia mau menguruk tanah luas dalam dua hari saja padahal jumlah tukang galinya cuma dua orang? Bagaimana menjual kosmetik di megastore yang cuman sudi menyewakan counter untuk kosmetik impor padahal merk kosmetik kita adalah buatan lokal? Saya rasa itu perlu soft skill komunikasi yang bagus.

HARD SKILL
Percuma kamu ramah, sopan, tapi IQ-nya tiarap. Seorang kolega saya pernah berusaha melamar di rumah sakit besar di Surabaya tapi gagal gara-gara soal sepele: dia bilang pernah kerja di Puskesmas di Kupang tapi nggak bisa bilang Kupang itu di pulau mana. Lha ngapain mempekerjakan orang kalau orangnya bego?
Contoh lain, kamu tidak bisa menyuruh seorang insinyur bikinkan jembatan kalau insinyur itu tidak tahu gimana mutu semen yang bagus. Kamu tidak bisa mempekerjakan ahli facial di salon mewah jika waktu dia melamar kerja si ahli facial itu lagi kena flu dan nggak mau pakai masker. Lhoo..klien yang mau di-facial bisa ketularan penyakit dong?

PENAMPILAN MENARIK
Sebagian besar dari kita lahir dengan hidung yang pesek, tompel segede koin seceng di pipi kiri, dan suara yang lebih serak daripada Dewi Perssik. Tapi punya penampilan jelek bukan berarti nggak bisa dikoreksi dong? Gimana orang mau mempekerjakan kita kalau kita datang dengan sepatu sendal belel dan gaya jalan yang diseret, atau rambut shaggy kusut nggak tersisir, dan sikap duduk kangkang seperti baru disunat? Teman saya pernah dengan simpelnya bilang bahwa dia pernah lebih milih pelamar yang nggak pakai dasi ketimbang yang pakai dasi. Alasannya, waktu itu dasi pelamarnya itu ada gambar Betty Boop-nya.. :D

Persoalannya, kadang-kadang kita sudah mengira kualitas kita bagus, tapi penyedia lowongan belum berkenan sama kualitas kita. Dokter umum yang baru lulus mungkin sudah tahu bahwa sakit maag mestinya dikasih obat antimaag, tapi mungkin dia belum tahu mana pasien yang butuh obat antimaag jenis H2 antagonis dan mana yang lebih cocok dikasih obat antimaag proton pump inhibitor. Gimana meladeni pasien yang kepingin diopname karena muntah-muntah hamil, dan gimana meladeni pasien yang kepingin diopname semata-mata hanya karena pingin ngabisin imberse dari asuransi. Pakai sepatu macam apa jika kerjaan kita 9-5 dan kudu naik turun tangga tanpa bikin muka jadi pegel. Kapan bisa nyuri waktu buat makan siang padahal jumlah orang yang butuh jasa kita itu seabrek. Itu semua bukan dipelajari di sekolah, tapi dipelajarinnya justru di dunia kerja. Dan kadang-kadang, kesempatan untuk belajar hal-hal begitu belum tentu bisa didapatkan dengan nyaman di perusahaan besar, tapi justru lebih cepat dipelajari di perusahaan kecil.

Bukalah lowongan kerja di bagian-bagian iklan baris dan jangan segan-segan menelepon mereka untuk minta pekerjaan. Kalau yang mau menerima kita itu CV kecil-kecilan, kita punya dua pilihan yang bisa dilakukan: 1) membangun CV itu supaya berkembang menjadi PT yang lebih besar, atau 2) cari pengalaman sebanyak-banyaknya di CV kecil itu supaya bisa loncat lain kali ke PT yang lebih besar. Tapi kalau CV kecil-kecilan aja nggak mau menerima kita, berarti kemungkinannya juga dua: 1) kualifikasi keahlian kita bukan yang mereka butuhkan, 2) kita nggak cukup baik buat perusahaan mereka.

Menjadi pemilih-milih dalam melamar kerja, misalnya karena kita lebih suka kerja di perusahaan gede ketimbang perusahaan kecil, juga nggak dosa. Tapi, sebaiknya kita juga tahu diri, terlalu lama nganggur tanpa punya penghasilan karena mengharap dapet lowongan dari perusahaan besar juga nggak baik. Selain bikin dompet makin lama makin tipis, juga bikin otak makin lama makin tumpul lantaran nggak dipakai.

Jauh lebih baik lagi kalau kita nggak usah cari kerjaan, tapi bikin lapangan pekerjaan sendiri dan ngasih gaji ke banyak orang. Untuk itu pasti perlu sumber daya, mulai dari merekrut orang, merekrut modal, sampek ilmu manajemen. Di mana belajar cari koneksi, cari modal dan belajar ngatur-ngatur orang? Ya itu dimulai bukanlah saat kita punya perusahaan sendiri, tapi dimulai saat kita masih bekerja untuk orang lain dong.

Jangan pernah menyepelekan pekerjaan kecil yang kita hadapi sekarang. Saya ngetikin laporan persalinan setiap hari, bikin saya jadi ngeh mana pasien hamil yang kudu buru-buru dioperasi dan mana pasien yang bisa ditunda bayinya sampek lahir sendiri (padahal saya cuman ngetik, tapi nggak pernah berhadapan dengan pasiennya langsung). Ketika saya naik pangkat dan jadi eksekutor, berhadapan lima detik dengan pasien, saya langsung tahu kapan harus segera nelfon dokter yang lebih senior dan kapan bisa melahirkannya sendiri.
Dan di tempat lain juga begitu. Paman saya memulai karier dengan disuruh menjalankan toko orang lain sendirian, sampek kemudian dia kepingin buka warung fotokopi sendiri, lalu sekarang kios itu berkembang jadi perusahaan cetak yang meladeni jasa percetakan dari pabrik-pabrik multinasional di Surabaya (dan itu dimulai dengan menjadi penjaga toko). Kakak saya dulunya jualan bakso di food court kampus, hasil labanya dipakai buat modal jualan pasir lukis anak-anak, pas lagi jualan pasir di mal ternyata dia lihat anak-anak butuh tempat main selama ditinggal orangtuanya belanja, maka dia lihat peluang bikin taman bermain di mal, maka modal dari jualan pasir dia pakai buat beli hak waralaba untuk bikin taman bermain, dan sekarang taman itu punya cabang di mal-mal seluruh Jawa (lihatlah bahwa semula ia hanya seorang penjual bakso).

Semua keberhasilan itu dimulai dari hal kecil. Tapi jangan kama-lama bekutetan dengan hal kecil. Tindakan kecil untuk tujuan akhir yang lebih besar.

Anda sudah kerja dan merasa nyaman? Anda sudah kerja tapi kepingin pindah? Anda belum kerja dan bingung gimana mau melamarnya? Yok, bagi-bagi di sini yaa..

26 comments:

  1. hehehe ... senyum2 saya mbaca tulisan kali ini mba dokter
    bener banget tuh yang di tulis
    semuanyaaa bener
    makanya sering gregetan tuh sama orang yg pengen dapat pekerjaan sesuai maunya sampai bertahan nganggur bertahun2.
    tapi itulah, tidak semua orang menyadari apa yg ditulis di sini, sayang banget kan :D

    dulu saya pun memulai karir dari perush. kecil, dan di tempat itu justru bisa belajar banyak, sampai bisa memberi lapangan pekerjaan untuk orang lain :)

    ReplyDelete
  2. dalam salah satu bukunya , Bob Sadino bapak entrepreneur Indonesia pernah berkata bahwa pengusaha sukses bukan lahir dari bangku sekolahan, melainkan dari jalanan yang banyak makan pengalaman dan asam garam... yang lahir dari bangku sekolahan akan berpikir lurus2 saja dan cenderung tidak mencari tantangan...
    anyway, saya rada2 setuju dengan pemikiran om Bob ini. bukannya bermaksud mendiskreditkan, tapi lulusan sekolah dokter yang saya tahu jarang sekali yang menjadi entrepreneur di luar sana, apalagi berpikir out of the box...

    ReplyDelete
  3. Iya, Mbak Nique, nggak ngira kita kalo kerja di tempat-tempat kecil gitu bisa memberi kita banyak pelajaran berharga. Yang menakjubkan lagi buat saya, setelah bekerja dengan instansi yang dulunya sudah saya anggap hebat pun, baru saya sadar kalau apa yang saya anggap hebat itu ternyata belum ada apa-apanya lantaran ternyata ada yang jauh lebih bagus. :)

    Ih, saya ngiri sama Mbak Nique coz sekarang Mbak Nique sudah bisa kasih lapangan pekerjaan ke orang lain. Kapan ya saya bisa kayak gitu, bisa kasih makan orang lain?

    Mikhael, sesungguhnya saat dokter membuka tempat prakteknya sendiri, di situlah saatnya dia menjadi seorang entrepeneur.
    Yang saya sesalkan adalah mindset dokter yang bersedia sekolah tinggi-tinggi tetapi ujung-ujungnya cuman mau jadi PNS, dan setelah jadi PNS pun dia cuman tunduk sama sistem yang dibikin oleh Pemda. Dengan begitu dia hanya akan berpikir dalam sistem itu, dan nggak bisa mikir out of the box.

    ReplyDelete
  4. Pamannya dah sukses, kakaknya juga dah punya lahan kerjaan sendiri..
    berarti tinggal Mbak Dokter (atau Bu?) niy yg blon ngegaji orang laen..

    kalo saya siy sebenernya lebih milih kerjaan yg deket rumah, biar ga tua di jalan..

    kalo profesinya dokter siy enak.. bisa kerja di rumah, jadi baru bangun tidur bisa langsung ke "kantor".. huehehe..

    salam kenal Dok... ^_^

    ReplyDelete
  5. Hahahaa..saya juga harap demikian :)

    Terima kasih, salam kenal balik.

    ReplyDelete
  6. Gua masih bingung antara kerja ato buka usaha. Kerja seru sih dapet banyak pengalaman, tapi kadang juga sekaligus buang waktu, apalagi kalo di ibukota, umur habis di jalan akibat kemacetan tiada tara...

    ReplyDelete
  7. karena kuliah accounting, jadi pas udah mau lulus ya kerjaan idamannya adalah ngelamar jadi auditor di big 4 public accounting company. jadi ya melayangkan 4 surat lamaran.

    syukurlah 3 diterima. 1 gak dipanggil. hihihihi. jadi pas lulus kuliah udah ada kerjaan menanti.

    sekarang... lagi dalam comfort zone. keenakan karena udah nyaman disini. tapi kalo mikir kok udah kelamaan dan kurang bagus jenjang karirnya, jadi pengen nyari2 kerjaan lain. tapi kok ya males juga. huahahaha. gak tau deh, masih dalam phase bingung maunya apa sekarang... :P

    ReplyDelete
  8. Keven, memang umur-umur segini kita masih bingung mau kerja atau mau buka usaha. Kita timbang-timbang aja mana yang untungnya bisa dicapai lebih banyak, dengan mempertimbangkan jangka waktu yang ingin dicapai.

    Arman, asik lo udah sampek comfort zone. Tapi jangan terlena juga, jangan sampek bangkrut di masa depan cuman gara-gara keenakan di masa sekarang :)

    ReplyDelete
  9. awal2, makan gaji ma orang. lama2 jadi entrepreneur sendiri.
    hehe

    ReplyDelete
  10. ngguur memang rasnya tidak mengenakan,bisa bikin strees dan otak tumpul... kalau udah di dunia kerja, selalu ada masalah dan tantangannya... jika tidak bisa melewati tantangan dan masalah ini.. pengennya jadi penggaguran lagi...
    pokokonya sama-sama stres deh... tapi lebih stres kalau nganggur

    ReplyDelete
  11. bersyukurlah yang punya banyak rencana ketika lulus sekolah
    aku boro boro cari iklan di koran
    mau ngelamar udah minder duluan stm aja gak lulus
    kepaksa kerja serabutan sambil belajar ototdidak
    kalo cape kerja, nyobain usaha
    kalo bangkrut, balik kerja lagi
    hehe katrok..

    ReplyDelete
  12. Hehee..Mas Eko jangan minder lah biarpun belum lulus STM juga. Mas Eko tetep sudah hebat sekarang, bisa keluar dari kecilnya Purwokerto, bisa melanglang sampek ke Jogja dan kali ini sudah berani nyeberang ke Cali. Orang-orang yang udah lulus sekolah pun belum tentu punya pengalaman sekaya Mas Eko. Biarpun kerjaannya serabutan pun tetap harus diyukurin, coz kerja serabutan masih jauh lebih baik ketimbang menjadi tua dalam keadaan nganggur, coz ngnggur nggak cuman ngabisin waktu tapi juga bikin otak jadi tumpul. Semoga Tuhan kasih kita semua rejeki yang terbaik ya :)

    ReplyDelete
  13. Awal lulus maunya kerja di perushn ato law firm besar...eh yg ada malah nganggur setahun. Akhirnya diterima di law firm kecil dan cari ilmu,terlebih soft skillnya. 2 tahun kmdn diterima di perushn asing dg salary berlipat-lipat,hingga skrg duduk manis di comfort zone...Skrg jadi kepikiran utk buka lawfirm sndiri...

    Bener Vick, walaupun pekerjaan diawali di tmp kecil asalkan dilakukan dg benar2 dan berstrategi akan membawa hasil

    ReplyDelete
  14. Bahh..udah nyaman bener lu, Bell, gw jadi ngiri, wkwkwkwk..

    ReplyDelete
  15. Saya punya prinsip, bekerjalah dua kali dari saya dibayar. Pegang pekerjaan-pekerjaan yang strategis yang sebenarnya saya harus dihargai lebih karenanya. Urusan naik posisi tinggal menunggu waktu kalau sudah megang banyak kunci. Cukup bilang, "To do this and that, I need more power."

    Tapi untuk bilang itu lho yang perlu kerja keras banting tulang yang ternyata ga semua orang mau melakukannya. Pahit sih emang. Bertahun-tahun seperti nggak dihargai. Waktu teman saya saya beri prinsip ini, jawaban dia malah setengah sinis, "Mau naik kemana? Ke atap?"

    Maaf OOT. Setengah curcol pula. Silakan lho kalo di unapprove, hehe :D

    ReplyDelete
  16. Nggak tahu deh, aku ini udah kerja apa belum. Yang aku tahu, setiap hari aku ngerjain hal-hal yang kusukai, dan bersyukur udah bisa menghidupi diri sendiri dari hal itu.

    Yang jadi masalah, keluarga (dalam hal ini nyokap) nggak pernah nganggap aku udah kerja, karena kerja dalam definisinya adalah "berangkat pagi, pulang sore, dapat gaji setiap bulan". Jadi, saban ketemu, nyokap sering ngingetin, "Mbok kamu nyari-nyari kerja, biar nggak di rumah terus."

    Hah, mungkin selama ini nyokap ngira aku beli nasi pake daun. :D

    ReplyDelete
  17. saya saya saya masih jobseeker tapi alhamdulillah tetep punya gaji lumayan dari nulis-nulis... tapi nulis-nulis cuma makan waktu sebentar mbak... boringnya krn banyak bingung mau ngapain. gak ngapa2in memang gak enak sih ya

    ReplyDelete
  18. Galih, saya juga mengalami itu sekarang. :)
    Kolega saya kerap kali mencibir, kenapa kok saya rela mengabdi mengerjakan tugas-tugas sepele yang rasanya seperti nggak bermakna. Katanya, "You won't go anywhere by doing those stupid stuffs!"
    Tahu-tahu, Galih, kemaren sore, waktu saya lagi jadi asisten operasi, boss nyodorin saya jarum dan pinset. Saya dipersilakan menjahit kulit pasien bekas operasi, padahal itu seharusnya tugas boss! *sorak sorai*
    Saya rasa itu cara boss mengatakan bahwa saya sudah boleh memegang tanggung jawab yang lebih besar. Siapa bilang kita akan terus bekutetan dengan tugas sepele dan nggak akan pernah naik-naik? :)

    Mas Hoeda, bagi sebagian besar orang, terutama bagi orang tua kita, mungkin aktivitas terbaik adalah kerja kantoran, yang penting ada cash flow masuk. Kerja freelance nampaknya tidak diharapkan, mungkin karena dianggapnya tidak memberikan kestabilan. Saya masih berharap kita tetap bisa bahagia dengan pilihan kita sendiri, entah itu dengan menjadi pekerja tetap atau pekerja freelance. Dan pilihan apapun yang saya ambil, saya harap akhirnya ibu saya bahagia melihat saya bahagia. :)

    Ninda, isilah waktu dengan kegiatan produktif. Niscaya nggak akan bosan :)

    ReplyDelete
  19. saya juga belum kerja dan sedang nyari kerja...masuk sini masuk sana tapi mungkin belum saatnya bt kerja sesuai bidang, jadi cuma masuk dan keluar saja tanpa bisa menikmati bagaimana rasanya duduk didalamnya, atau mungkin memang bukan dsitu rejeki saya.he...

    Yang pasti saya selalu menikmati apa yg sedang saya jalani, karena saya yakin Tuhan punya jalan lain buat saya. Yang penting terus berusaha buat menggapai apa yg saya inginkan. Kata orang percuma sekolah tinggi2 kalo ga kerja dikantoran, tp bagi saya niat utama saya kuliah bukan cuma bt dapet ijazah terus lamar kerjaan, tapi ilmunya yg saya cari.he...Ya kalo memang ga dapet2 g ada salahnya juga meneruskan kerjaan orangtua jadi Petani, tapi dengan catatan harus jadi petani sukses.hehe

    ReplyDelete
  20. Gw ngangguk ngangguk baca postingan ini vick! and I agree with u completely!!!! IQ + EQ sama bantuan yang Diatas..itu semua sama pentingnya!

    ReplyDelete
  21. dah kerja , tapi boring gitu gitu aja" mungkin pengen buat usaha " itu sich mimpi yg blm tercapai sampai saat ini,

    ReplyDelete
  22. Terkadang dlm perusahaan besar,perekrutan karyawan hanya pada lingkaran keluarga dan teman akrab,diskriminasi trhdp lingkungan dan sosial sngat jelas kelihatan,dlm hal ini sang Bos besar tdk bsa brkutik trhdp tindakan org kepercayaannya tsb(dgn alasan keamanan operasional) sehingga bnyak skali trjdi ketimpangan antara SDM dgn Pekerjaan itu sndiri.
    Ini trjadi didaerah sya(Kecamatan Sekotong-Lombok Barat)
    Dua perusahaan tambang emas besar seolah-olah berada sangat jauh,pdhal lokasi kantornya didekat rumah kami.. :-D
    Salam kenal Bu'Dokter :-)

    ReplyDelete
  23. waw.. zuper banget mbak!
    makasih udah ngingetin untuk gak menyepelekan hal-hal kecil. :D

    ReplyDelete
  24. selama kerja, udah 4 kali pindah perusahaan - ga ada satupun kerjaannya yang sesuai sama bekgron kuliah gw hihihii... Tapi enjoy semua sih sama kerjaan nya, kalo alesan pindah ya demi mencari penghidupan yang lebih baik :p

    Kalo dokter sih tenang-tenang aja ya? kan jumlah dokter di Indonesia katanya masih kurang banyak, jadi pasti masih banyak peluang kerja nya hehee...

    ReplyDelete
  25. saya sekarang kerja di perusahaan swasta lumayan besar sekala nasional.. pekerjaan saya trainer. kerjanya lumayan enak siy kalo pas training pegawai baru.. tapi jadi GA NYAMAN pas training pegawai senior.. lebih pinter yang di training soalnya daripada yang mentraining.. apalagi pekerjaan saya menuntut mobilitas yang tinggi kadang ke daerah terpencil.. itu yang bikin saya ga nyaman.. pernah berpikir tuk pindah tapi takut karena katanya nyari kerja susah.. mungkin bu dokter bisa ngasih saran ke saya apa yang seharusnya saya lakukan?? karena terus terang back ground saya teknik bukan pengajar..

    salam kenal
    arif

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mau repot-repot urun berisik di sini.. :) Jangan lupa sebut nama, supaya kita bisa berteman dengan nyaman..