Tuesday, March 13, 2012

Cepat Puas dan Bersyukur Itu Beda

Setiap orang punya kedai langganan, entah itu berupa sekedar warung tegal atau warung kopi di pinggir jalan, di mana akan selalu menjadi tujuannya kalau dia lagi mati gaya dan nggak tahu mau jajan apa. Sama seperti saya, yang kemaren memilih makan di sebuah warung dekat apartemen saya, lantaran saya lagi bosen makan di kantin rumah sakit. Saya nggak tahu kenapa saya milih makan di sini, padahal tempatnya panas bukan main, dan si ibu yang jualan di warungnya punya muka yang cukup masam sehingga lebih pantes dijadiin acar. Tapi saya hafal di sini gulenya enak, biarpun nggak seenak gule bikinan nyokap saya di Bandung, atau seenak gule yang dijual di pinggir lapangan hoki depan rumah sakit tempat saya sekolah. Jadi saya ke sana, lagi, untuk makan siang.

Nggak sengaja saya mencatat dalam hati bahwa di antara warung-warung dekat apartemen saya yang sering jadi tempat ngandok saya buat makan siang, pemilik warung yang satu ini nggak pernah bilang terima kasih. Kalau di warung-warung lain tuh, saban kali pembelinya habis mbayar, pemiliknya selalu bilang, "Matur suwun" atau "Terima kasih, Mbak'e.." Nah, warung yang ini jelas nggak pernah. Boro-boro bilang terima kasih, senyum pun tidak pernah.

Memang kalau saya hitung-hitung, si pemilik warung ini juga kayaknya nggak bakalan kehilangan profit biarpun dia tidak menaruh poin senyum atau poin terima kasih dalam SOP pelayanannya. Karena, dibanding warung-warung lain, warung inilah yang menyediakan meja dalam bangunan semipermanen sehingga pembeli nggak perlu takut kehujanan atau kepanasan ketika sedang makan soto di dalamnya. Hidangan jualannya juga terhitung variatif karena pilihan makanannya paling banyak dibandingkan warung-warung lainnya. Praktis dia tidak punya saingan, jadi dia nggak perlu kuatir bangkrut biarpun dia nggak pernah tersenyum kepada pelanggan.

Saya rasa, ini namanya yang disebut "cepat puas". Puas dengan keuntungan stagnan yang dia peroleh setiap hari. Meskipun nggak terhitung berapa banyak pelanggan yang ngedumel gara-gara saban kali pesan susu Milo, Milo-nya selalu disediakan dalam gelas dengan bonus semut berenang.

Saya cuman berharap pemiliknya mau menaikkan standar sanitasinya supaya kaleng susunya ditutup lebih rapat jadi nggak perlu kemasukan semut gajah. Sekiranya itu sulit, saya berdoa supaya pemiliknya mau mengucapkan terima kasih setiap kali pelanggannya membayar dengan uang pas. Jika itu masih susah juga, saya sudah cukup senang jika si ibu pemilik warung itu mau tersenyum sedikit saja.

Karena menurut saya, dengan perbaikan kinerja seperti itu, tanda dia bersyukur bahwa warungnya masih didatangin pengunjung. Bukan sekedar cepat puas karena nasi yang dia tanak semenjak jam tiga subuh bisa ludes sehingga dia sudah bisa tutup warung meskipun jam baru menunjukkan jam tiga sore. Mestinya orang itu jangan merasa cepat puas karena bisa bikin profit tanpa harus bekerja terlalu keras. Mestinya dia putar otak dan mikir gimana caranya bikin warungnya bisa nampak lebih bagus lagi.

*Ah, Vic, kenapa kau harap orang mau berpikir seperti cara mikirmu? Dia mau perbaikin servis warungnya atau tidak, toh orang tetap akan datang. Dan besok-besok pasti kau akan tetap kembali makan di situ dan memesan menu yang sama kan?*

11 comments:

  1. Kok ada ya Vic..pemilik warung yang seperti itu, padahal kan kalau ramah dikit aja ngak merugi buat warungnya.

    ReplyDelete
  2. Muka masam dipertahankan spy kalau buat acar tinggal pakai air basuhan cuci muka dia. And mengenai susu, dia pikir semutnya itu extra, no charge at all. Mungkin lain kali kalau pesan susu perlu mentioned dulu, susu tanpa semut.

    ReplyDelete
  3. susu milo + semut = gizi tinggi gak ya? hehe

    ReplyDelete
  4. xixixi ... ada tuh di sini juga, tp pemiliknya doang yang jutek. pelayannya mah ramah. penjual nasi rames dan gado2. yang beli antriiiiiiiiiii... dari karyawan bank, bea cukai, pajak, rakyat biasa. asli antri. tp yg punya klo layanin judesnya minta ampun. aku aja klo mo pesen gado2 mendingan menghindari yg punya, biar gak bete hehehe
    dan puluhan tahun bertahan tuh tempat, dan makin laris aja.

    mungkin itu kali syaratnya biar laris, harus jutek hahahaha *suudzon*

    ReplyDelete
  5. Ada, Mbak Adini. Anehnya tuh warung tetep laku. Dan saya penyuksesnya.

    Mbak Sylvia, aku udah bisa bayangin tanggapannya, "Di sini nggak ada semutnya!!" (Dengan ekspresi masam, tentu saja)

    Entin, ooh..tinggi sekali..

    Mbak Nique, itu resep yang aneh, hahahaha..

    ReplyDelete
  6. Sayang sekali ya jika masih ada saja penjual yg tak memperlakukan pembeli dg baik. Harusnya dia memperlakukan pembeli layaknya tamu di rumahnya. Tamu yg tak membawa apa2 saja harus dilayani dg baik kok, apalagi pembeli yg jelas2 membawakan keuntungan dan rejeki untuknya ya?
    Rasanya penjual2 jutek spt itu harus ditraining mbakk. Halahhhh... mentang2 aku baru pulang diklat nih hehehe

    ReplyDelete
  7. Nunggu ditraining sama Mbak Reni tuh, Mbak, wkwkwkwk..

    ReplyDelete
  8. coba kalau besok2 ada warung lain yang berdiri di samping warungnya, yang pelayanannya lebih oke, pasti pemilik warung yang sekarang mau tidak mau harus meningkatkan kualitas layanan (dan semoga juga meningkatkan kuantitas porsi nasi nya)...

    ReplyDelete
  9. Aku kepingin bikin warung juga persis di sampingnya. Dengan menu yang persis sama, cuman bedanya punyaku nggak ada semutnya. Begitu warungku rame, aku tutup aja usahaku. Hanya sekedar untuk memberi si tetangga pelajaran :D

    ReplyDelete
  10. pelayanan yang sangat sempurna yang di harapkan konsumen,,,,
    pastinya kedepannya juga pasti laku total ,,,

    ReplyDelete
  11. Mungkin stategi pemasaran emang gak senyum. biar orang selalu ngingat warung. wkwkwkw

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mau repot-repot urun berisik di sini.. :) Jangan lupa sebut nama, supaya kita bisa berteman dengan nyaman..