Beberapa orang memang nggak senang membaca.
Sudah dibilangin, kalau mau komentar, tulis nama dulu. Supaya nyaman. Komentatornya nyaman, yang punya rumah juga nyaman.
Tapi tetep aja dateng-dateng ngoceh panjang-panjang sembari nggak nulis identitas.
Nggak bisa baca kah?
Segitu susahnya daftar ikutan Kelompok Belajar Paket C sampai baca instruksi simpel aja sulit?
Biar saya kasih tau Bang Anies nanti, mumpung dia lagi jadi menteri.
Eh, sebentar, Bang Anies itu menteri pendidikan dasar atau khusus ngurusin pendidikan tinggi?
*Saya juga nggak baca daftar menteri itu*
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com
Tuesday, May 5, 2015
Monday, May 4, 2015
Dokternya Menyerah Di Tangan Dokter
Saya selalu dimarahi kolega kalau habis pergi ke dokter.
"Kamu ngapain gitu aja ke dokter? Obatin sendiri!" Saya inget begitu kata kolega senior saya, sekitar beberapa tahun lalu, waktu saya minta ijin hengkang duluan dari acara main badminton bersama gara-gara saya kepingin ngejar prakteknya seorang spesialis THT.
"Saya sakit," jawab saya sambil ngelap idung saya yang meler. Sumpah, jorok banget.
"Kamu kan juga dokter!" Dos-q nuding saya.
Saya mendelik ke sang senior. Mau bilang, "Kita nggak boleh sombong, Bang!" tapi saya ogah menggurui.
"Kamu ngapain gitu aja ke dokter? Obatin sendiri!" Saya inget begitu kata kolega senior saya, sekitar beberapa tahun lalu, waktu saya minta ijin hengkang duluan dari acara main badminton bersama gara-gara saya kepingin ngejar prakteknya seorang spesialis THT.
"Saya sakit," jawab saya sambil ngelap idung saya yang meler. Sumpah, jorok banget.
"Kamu kan juga dokter!" Dos-q nuding saya.
Saya mendelik ke sang senior. Mau bilang, "Kita nggak boleh sombong, Bang!" tapi saya ogah menggurui.
Monday, April 27, 2015
Mental Daerah Rumahan
Ini kisah nyata dari seorang kawan jemaah blog saya. Yang struggle untuk mencari nafkah, dan ironisnya perjuangannya dihambat oleh keluarganya sendiri. Atau mungkin oleh mentalnya sendiri.
Kawan saya laki-laki, mungkin umurnya sekitar 30 tahun. Bekerja jadi pegawai negeri sipil, di sebuah kantor dinas di sebuah kabupaten. Dos-q baru menikah, istrinya juga pegawai negeri sipil, bekerja di kantor yang lain di kabupaten itu. Pasangan muda ini punya seorang anak balita yang berumur kira-kira dua tahun.
Mungkin karena kinerjanya bagus, kantor tempat kawan saya ini dianggap berprestasi. Atasan dari kepala kantor ini menganggap lokasi kantornya nggak ideal lagi berada di kabupaten itu, karena kantor ini nggak cuman meladeni urusan sekabupaten itu, tapi bebannya sudah sampai tingkat propinsi. Jadi sang boss pun ambil keputusan, kantor ini mau ditutup dan dipindahkan ke ibukota propinsi. Termasuk pegawai-pegawainya, ya termasuk kawan saya juga, disuruh pindah sekalian ke ibukota.
Nggak tahunya, kawan saya mengerang keluh kesah. Karena istrinya juga mengeluh. Menurut dalih kawan saya, kalau dos-q disuruh pindah ke ibukota propinsi, dos-q harus ninggalin istrinya. Karena istrinya sudah betah bekerja di kabupaten itu, plus di kabupaten itu ada orang tua yang bisa dititipin anak mereka kalau istrinya sedang ngantor. Lha kalau istrinya ngikut kawan saya ke ibukota propinsi, istrinya mungkin harus ninggalin pekerjaannya yang sebagai PNS itu, biaya hidup akan meningkat coz mereka harus siap-siap cari rumah kontrakan, cari pengasuh anak, pokoknya jadi lebih mahal deh.
Kawan saya laki-laki, mungkin umurnya sekitar 30 tahun. Bekerja jadi pegawai negeri sipil, di sebuah kantor dinas di sebuah kabupaten. Dos-q baru menikah, istrinya juga pegawai negeri sipil, bekerja di kantor yang lain di kabupaten itu. Pasangan muda ini punya seorang anak balita yang berumur kira-kira dua tahun.
Mungkin karena kinerjanya bagus, kantor tempat kawan saya ini dianggap berprestasi. Atasan dari kepala kantor ini menganggap lokasi kantornya nggak ideal lagi berada di kabupaten itu, karena kantor ini nggak cuman meladeni urusan sekabupaten itu, tapi bebannya sudah sampai tingkat propinsi. Jadi sang boss pun ambil keputusan, kantor ini mau ditutup dan dipindahkan ke ibukota propinsi. Termasuk pegawai-pegawainya, ya termasuk kawan saya juga, disuruh pindah sekalian ke ibukota.
Nggak tahunya, kawan saya mengerang keluh kesah. Karena istrinya juga mengeluh. Menurut dalih kawan saya, kalau dos-q disuruh pindah ke ibukota propinsi, dos-q harus ninggalin istrinya. Karena istrinya sudah betah bekerja di kabupaten itu, plus di kabupaten itu ada orang tua yang bisa dititipin anak mereka kalau istrinya sedang ngantor. Lha kalau istrinya ngikut kawan saya ke ibukota propinsi, istrinya mungkin harus ninggalin pekerjaannya yang sebagai PNS itu, biaya hidup akan meningkat coz mereka harus siap-siap cari rumah kontrakan, cari pengasuh anak, pokoknya jadi lebih mahal deh.
Tuesday, April 21, 2015
Gawul Ciamik di Stasiun Kereta
| Fasad Loko Cafe di Stasiun Gubeng, Surabaya |
Loko Café ini adalah gerai tenant kuliner yang ketiga bikinannya PT Reska, anak perusahaannya PT Kereta Api Indonesia. Sebelumnya PT Reska udah buka café di Stasiun Tugu Jogja dan café di Stasiun Poncol Semarang. Café di Tugu berkonsep restoran dine in, sama kayak café yang di Gubeng ini. Sedangkan café di Poncol berkonsep take away. "Di Poncol, orang datang ke café untuk beli minum, lalu langsung dibawa pergi. Di Surabaya ini, kami ingin orang datang ke café untuk makan (di tempat)," jelas Decil Christianto, manajer dari Consumer Business Directorate PT Reska kepada saya.
Friday, April 10, 2015
Berhadapan dengan Si Tunnel Vision
Orang nggak hamil: "Nanti melahirkan di mana?"
Saya: "Mungkin di Rumah Sakit P."
Orang nggak hamil: "Sama dokter siapa?"
Saya: "Nggak tau, gimana dokternya yang piket aja nanti pas saya dateng ke situ."
Orang nggak hamil: "Lho, emang selama ini periksanya sama siapa?"
Saya: "Oh, ganti-ganti. Kadang sama dokter K, kadang sama dokter L, kadang-kadang malah sama dokter M. Yaah tergantung pas saya dateng ke sana adanya siapa yang lagi praktek."
Orang nggak hamil: "Oh bukan sama dokter H*rt*n*?" (Sambil nyebut makhluk beruban paling kejam sekota yang nggak pernah njahit perut pasiennya sendiri setelah Cesar dan selalu nyuruh asistennya buat njahit.)
Saya: "Hahahaa..saya nggak mau sama orang itu!" (Sambil pasang gestur melambaikan tangan dan pasang ekspresi jijik.)
Terus orang nggak hamilnya langsung diem.
Ma'am, saya tahu kalau situ bisa hamil lagi, kamu ingin diberesin sama H*rt*n*. Tapi saya tidak kepingin disentuh sama dia, saya nggak peduli biarpun mungkin situ pikir dia dokter terbaik se-Indonesia.
Ini rahim saya, saya yang menentukan dengan siapa saya ingin mencari pertolongan medis, dan pendapat situ nggak ada nyantolnya sedikit pun di kepala saya. Eh, nyantol ding, setidaknya buat bahan ngeblog.
Belajarlah untuk tidak nyuruh orang lain berpikir seperti caramu berpikir.
Saya: "Mungkin di Rumah Sakit P."
Orang nggak hamil: "Sama dokter siapa?"
Saya: "Nggak tau, gimana dokternya yang piket aja nanti pas saya dateng ke situ."
Orang nggak hamil: "Lho, emang selama ini periksanya sama siapa?"
Saya: "Oh, ganti-ganti. Kadang sama dokter K, kadang sama dokter L, kadang-kadang malah sama dokter M. Yaah tergantung pas saya dateng ke sana adanya siapa yang lagi praktek."
Orang nggak hamil: "Oh bukan sama dokter H*rt*n*?" (Sambil nyebut makhluk beruban paling kejam sekota yang nggak pernah njahit perut pasiennya sendiri setelah Cesar dan selalu nyuruh asistennya buat njahit.)
Saya: "Hahahaa..saya nggak mau sama orang itu!" (Sambil pasang gestur melambaikan tangan dan pasang ekspresi jijik.)
Terus orang nggak hamilnya langsung diem.
Ma'am, saya tahu kalau situ bisa hamil lagi, kamu ingin diberesin sama H*rt*n*. Tapi saya tidak kepingin disentuh sama dia, saya nggak peduli biarpun mungkin situ pikir dia dokter terbaik se-Indonesia.
Ini rahim saya, saya yang menentukan dengan siapa saya ingin mencari pertolongan medis, dan pendapat situ nggak ada nyantolnya sedikit pun di kepala saya. Eh, nyantol ding, setidaknya buat bahan ngeblog.
Belajarlah untuk tidak nyuruh orang lain berpikir seperti caramu berpikir.
Monday, April 6, 2015
Soal Naik-naik Berat Badan Ini
Sudah beberapa bulan terakhir saya terobsesi sama berat badan. Terutama berat badan janin saya. Gini nih repotnya jadi dokter, saya sampai hafal kalau usia janin sudah sekian minggu, berat badannya si janin mesti segini. Sementara kalau usianya sudah nambah lagi, berarti berat badannya si janin harusnya segitu.
Soal Bayi
Siyalnya saya nggak bisa mantau beratnya si janin saban hari, jadi saya cuman bisa mantau trend-nya sebulan sekali pas lagi periksa ke dokter kandungan. Saban kali USG, yang saya tanyain pertama kali pasti "Berapa berat dia sekarang?" (Dan saya nggak peduli sama sekali soal jenis kelamin.)
Kalau dokternya sudah sebut angka berapa ratus gram, saya selalu tanya apakah itu normal untuk usia kehamilan segitu. Kalau beratnya di bawah rentang normal, saya pasti deg-degan kebat-kebit. Tapi kalau beratnya di atas rentang normal, saya deg-degan juga coz takut sama fenomena giant baby. (Giant baby identik dengan keterlambatan perkembangan otak.)
Soal Bayi
Siyalnya saya nggak bisa mantau beratnya si janin saban hari, jadi saya cuman bisa mantau trend-nya sebulan sekali pas lagi periksa ke dokter kandungan. Saban kali USG, yang saya tanyain pertama kali pasti "Berapa berat dia sekarang?" (Dan saya nggak peduli sama sekali soal jenis kelamin.)
Kalau dokternya sudah sebut angka berapa ratus gram, saya selalu tanya apakah itu normal untuk usia kehamilan segitu. Kalau beratnya di bawah rentang normal, saya pasti deg-degan kebat-kebit. Tapi kalau beratnya di atas rentang normal, saya deg-degan juga coz takut sama fenomena giant baby. (Giant baby identik dengan keterlambatan perkembangan otak.)
Saturday, March 21, 2015
Yang Penting Anggarannya Habis
Dua hari terakhir ini saya dateng ke pameran fotografi di sebuah plaza di kawasan selatan Surabaya. Acaranya berupa pameran foto dan seminar tentang fotografi yang nampilin tiga fotografer sebagai pembicara. Sponsor utama dari acara ini adalah sebuah merk tinta printer.
Sebetulnya acaranya menarik, tapi saya mau ngulas tentang penyelenggaraan acaranya.
Sebagai seorang mantan event organizer amatiran, saya ngerti bahwa bikin seminar terbuka di pusat perbelanjaan itu cukup sulit. Salah satu kendala gede mungkin dari pembiayaan, jadi saya ngerti kenapa klub fotografi penyelenggara pameran ini mutusin buat menggandeng merk tinta printer sebagai partner-nya. Logika saya, kalau pemilik merk sudah rela bayar banyak untuk ngadain event ginian selama dua hari di plaza yang gede, mestinya mereka memanfaatkan ini semaksimal mungkin.
Nyatanya, dari awal sampai akhir acara, kalau saya nggak perhatian, saya nggak akan ngeh bahwa sponsor utama acara ini adalah merk tinta printer. Saya cuman ngeliat booth-booth polos yang didominasi meja-meja panitia yang isinya cuman orang-orang ngerumpi di depan leptop. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang ini adalah staf tetap dari perusahaan sponsornya atau cuman SPB/SPG pajangan yang cuman disuruh njagain pameran.
Sebetulnya acaranya menarik, tapi saya mau ngulas tentang penyelenggaraan acaranya.
Sebagai seorang mantan event organizer amatiran, saya ngerti bahwa bikin seminar terbuka di pusat perbelanjaan itu cukup sulit. Salah satu kendala gede mungkin dari pembiayaan, jadi saya ngerti kenapa klub fotografi penyelenggara pameran ini mutusin buat menggandeng merk tinta printer sebagai partner-nya. Logika saya, kalau pemilik merk sudah rela bayar banyak untuk ngadain event ginian selama dua hari di plaza yang gede, mestinya mereka memanfaatkan ini semaksimal mungkin.
Nyatanya, dari awal sampai akhir acara, kalau saya nggak perhatian, saya nggak akan ngeh bahwa sponsor utama acara ini adalah merk tinta printer. Saya cuman ngeliat booth-booth polos yang didominasi meja-meja panitia yang isinya cuman orang-orang ngerumpi di depan leptop. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang ini adalah staf tetap dari perusahaan sponsornya atau cuman SPB/SPG pajangan yang cuman disuruh njagain pameran.
Sunday, March 15, 2015
Alasan Blogger Absen Ngeblog
Seorang jemaah ngingetin saya bahwa saya udah sebulan mengabaikan blog ini. Dos-q kangen. Saya nyengir. Aduh, seandainya aja sang jemaah ngerti kenapa saya ngilang dari jagat blogosphere ini.
Saya yakin yang absen nggak cuman saya. Ada ratusan blogger lainnya yang milih mundur. Ada yang mundur sebentar, ada yang mundur selamanya. Alasannya macem-macem.
1) Sudah mulai pilih-pilih topik.
Dulu, ngeblog bisa ngomong seenaknya sendiri. Apa aja pun bisa diomongin. Mulai dari tema serius kenapa di Mojokerto belum juga ada MRT, sampai tema remeh kenapa kucing piaraan kita nggak doyan makan indomi.
Saya yakin yang absen nggak cuman saya. Ada ratusan blogger lainnya yang milih mundur. Ada yang mundur sebentar, ada yang mundur selamanya. Alasannya macem-macem.
1) Sudah mulai pilih-pilih topik.
Dulu, ngeblog bisa ngomong seenaknya sendiri. Apa aja pun bisa diomongin. Mulai dari tema serius kenapa di Mojokerto belum juga ada MRT, sampai tema remeh kenapa kucing piaraan kita nggak doyan makan indomi.
Sunday, February 15, 2015
Eliminasi Pegel-pegel di Hotel
Seperti cewek-cewek lain yang lagi hamil, saya juga merasa pegel-pegel. Seiring dengan kehamilan saya yang makin gede, ternyata pegelnya juga makin sering. Pegel yang paling terasa itu di punggung sama di tungkai. Saya sendiri heran, perasaan anak saya di perut ini beratnya paling-paling baru enam ons, tapi kok saya merasa kayak lagi nggembol karung beras.
Eh, ternyata keluhan pegel-pegel ini bisa dijarangin sekiranya kita ini sering olahraga. Cuman kan olahraga buat ibu hamil itu selektif banget. Saya kasih tahu ya, kalau lagi hamil janganlah sok-sok milih olahraga seperti angkat besi kayak Lisa Rumewas. Juga jangan milih olahraga atletik seperti lompat galah. Apalagi gulat, judo, wushu, pokoknya jangaaan!
Monday, February 9, 2015
Move On Itu Mulai dari Bersih-bersih
Saya lagi seneng bersih-bersih.
Ya know, mula-mula saya kirain cuman rumah aja yang perlu dibersihin dari barang-barang tak berguna. Tapi kemudian ternyata saya nemu hal yang lebih penting dan cukup mengganggu: the work station of mine yang ukurannya nggak lebih dari 10 inci ternyata juga perlu dibersih-bersihin. Guess what, netbook yang udah nemenin saya lebih dari tiga tahun ini ternyata penuh barang-barang bosok, mulai dari file-file makalah sekolahan sampai foto-foto yang pingin saya buang ke tempat sampah.
Semua dimulai dari mood saya ngeblog yang makin lama makin turun. Lha gimana nggak menurun, nyalain laptop ini aja leletnya bukan main. Mulai dari muncul layar wallpaper sampai buka layar Microsoft Word yang siap ngetik aja butuh waktu dua menit. Genderuwo macem apa yang nongkrongin laptop saya sampai-sampai mau buka MS Word aja berat banget?
Subscribe to:
Posts (Atom)