Monday, March 29, 2010

Tentang Gw, Kali Ini

Yupz..setelah selama ini gw membanjiri blog gw dengan pengalaman-pengalaman gw yang aneh-aneh, akhirnya tiba juga saatnya gw mesti cerita tentang diri gw sendiri. Gara-gara ditodong tag sama Mbak Fanda dan Mbak Fanny tiga hari yang lalu, maka gw merasa ketiban pe-er. Cuman gw nggak mau jawab biasa-biasa aja, kali ini gw mau jawab sekalian dengan foto!

Siapakah dirimu di rumah?

Anak, tentu saja. Soalnya gw masih tinggal bareng bonyok, hehehe.. Meskipun ada gejala-gejala akhir-akhir ini mereka nyuruh gw segera kawin. Alasannya bagus sih, tapi gw curiga mereka punya alasan terselubung lantaran gw sering ngabis-ngabisin makanan, terutama kue, es krim, dan kripik.

Photo by my hunk.








Apa yang dikatakan teman-temanmu tentang dirimu?

Seperti iklan sebuah rokok, “Nggak ada lo nggak rame..”
Kata teman-teman gw, gw orangnya narsis berat, ke mana-mana doyannya motret-motret, dan paling senang motret diri sendiri. Lho, nggak pa-pa kan? *sok polos*
Gw juga dikata-katain selalu terlibat affair dengan orang-orang yang nggak diduga-duga. Ah, mosok seh..? *wink wink*

Photo by my hunk, too.

Lima hal yang kauinginkan, tapi belum terpenuhi

Town house, yang deket rumah sakit, dan deket mal yang jual es krim dan sepatu. Maunya town house, soalnya kecil, biar ngepelnya gampang. Deket rumah sakit, biar deket sama kerjaan. Deket tukang jual es krim, soalnya gw seneng es krim. Deket toko sepatu, soalnya kata nyokap gw, sepatu gw sering rusak sampai sebentar-sebentar gw harus beli yang baru. Bukan gw yang ngerusakin lho! Salahkan kaki gw.

Photo from http://inforumah.net

Mecca. Soalnya ini kan utang yang mesti dibayar kepada Tuhan yang sudah mau meluangkan waktunya buat bikin makhluk macam gw.

Photo from http://members.virtualtourist.com







Gelar professor. Alasan sederhana: Belum ada professor dokter yang punya blog yang di-update setiap hari.

Photo from http://kaskus.us

Anak. Terserah deh, mau dapet laki-laki atau perempuan. Yang penting sehat, dan cukup bisa diandalkan buat ngedoain gw kalau nanti gw sudah meninggal.

Photo from http://rottnestexpress.com.au

Apalagi ya? Oh ya.. ini dong. Cincin. Yang di dalemnya ada ukiran nama suami gw. Hahaha..

Photo from http://ibspro.net






Seseorang yang sangat penting bagimu

Mmmh..maunya sih gw pajang fotonya di sini, tapi orang-orang yang penting buat gw rada-rada pemalu (PEMALU = PEngen MAkan meluLU) , jadi kayaknya susah masang fotonya di sini. Ya udah, gw pasang barang-barang mereka aja ya..

Nyokap. Yang selalu ngomel kalau perut gw mulai membuncit.

Bokap. Yang sampai sekarang masih bingung kenapa gw belum sekolah lagi.

Adek. Yang selalu bilang gw jelek kalau gw pakai rok boho.

Photos by me.

My hunk. Yang masih merayu gw supaya pindah aja ke kota dia supaya kita bisa pacaran tiap hari.

The glasses were captured by my hunk.

Sebutkan blogger favoritmu (berdasarkan karakter blog mereka), dan sebutkan alasannya.

Riyati Sugiarto, Oktarina Prasetyawati, Raditya Dika. Alasannya? Soalnya mereka mirip gw, sama-sama suka bikin hal-hal yang nggak penting jadi penting, dan bikin hal-hal yang penting jadi nggak penting..:-p

Kapankah Anda ingin menikah?

Tanggal 9 bulan September tahun ’99. Supaya mas kawinnya jadi angka Rp 90.999.xxx *matre MODE : ON*

(Vic, tahun ’99 kan udah lewat..)

Photo from http://weddingsongsblog.wordpress.com

Pengalaman pahit bersama mantan pacar?

Wualah..banyak! Justru karena pengalamannya pahit itu makanya statusnya jadi mantan! Bisakah pertanyaan ini diganti saja?

Pengalaman pahit bersama pacar?


Hm..gw paling sedih lihat muka my hunk setiap kali gw harus ninggalin dia buat pulang ke Bandung. Percayalah, mukanya yang ganteng berubah jadi manyun. Dan gw selalu pura-pura senyum coz gw nggak mau nangis di depan dia. Kalau nangis, nanti maskara eike luntur, bo..’

Photo from http://covergirl.ca

Lagu cinta favoritmu?

Somewhere Somehow-nya Michael W Smith. Colour of My Love-nya Celine Dion. When You Look into My Eyes-nya Jay Graydon. Semuanya karya David Foster, hehehe..

Apa prinsip hidupmu?

Berhentilah kenyang sebelum makan.

Oops. Bukan. Hehehe.

Prinsip hidup gw adalah, be yourself, do the best and let God do the rest!

Yupz, ada yang mau ngerjain tag ini? Ayyooo..!

Sunday, March 28, 2010

Perkara Perkomentaran


Waktu blog gw di Blogspot ini baru dikenal, seorang blogger ngomporin gw buat buru-buru pindah ke Wordpress. Alasannya, sistem perkomentaran Blogspot ini cukup ribet ketimbang di Wordpress. Waktu itu gw nggak ngerti, dan gw milih mempertahankan Georgetterox sampai jadi besar seperti sekarang. (Oke, gw terdengar seperti ibu dari balita berumur 1,5 tahun.)

Pertama-tama punya Georgetterox, yang komen masih do-re-mi, jadi masih terkendali mbalas komentarnya. Tapi lama-lama penontonnya jadi banyak. Ketika Georgetterox berumur enam bulan, penonton yang komentar dalam sekali post mencapai 10 orang dan mulailah gw mengenal kata "kewalahan". Sering terjadi komentar yang masuk berendeng sampai gw kesulitan menjawab semuanya.

Oh ya, gw nggak menganut sistem menjawab komentar orang per orang. Buat gw, fungsi penting dari blog adalah diskusi buat bagi-bagi pengetahuan, di mana setiap komentar mesti layak dibaca oleh tiap orang, bukan cuman dibaca oleh gw doang. Makanya gw jarang nyebut komentar ini untuk Mbak X atau Mas Y, misalnya. Gw pikir, justru di situlah kelebihan sistem komentar di Blogspot.

Yang repot, kalau gw nggak buka internet selama beberapa jam, terus ternyata yang komentar udah lebih dari empat orang. Waduh, itu yang pusing ngebalesnya.

Makanya gw usahain, begitu satu komentar masuk, langsung gw bales saat itu juga. Jadi nggak ada yang ngantre lama di kolom moderasi. Itu sebabnya push mail gw nyalain di HP, supaya kalau ada notifikasi komentar bisa langsung ketahuan oleh gw.

Oh ya, ada dua metode kolom komentar di Blogspot. Metode pertama, kolomnya ditaruh langsung di bawah posting. Metode kedua, kolom komentar ditaruh di halaman tersendiri. Menurut gw, masing-masing metode ada kelebihan dan kelemahannya sendiri.

Gw pernah pakai metode pertama. Jadi kolom komentarnya langsung di bawah posting-nya. Ini memberi efek menggoda langsung kepada penonton untuk langsung berkomentar setelah membaca artikel.

Tapi jeleknya, kalau penontonnya masih komentator gaptek. Bingung dia, "Select profile" itu apaan sih? Di mana dia harus naruh nama dirinya? Gimana kalau dia nggak punya alamat e-mail di Google?

Jadi, metode gini cuman cocok buat blogger newbie yang kepingin blognya cepet rame komentar, dan mengincar komentator dari segmen kelas "blogger senior".

Metode kedua, kolom komentar ditaruh di halaman tersendiri. Kelebihannya, ada petunjuk buat penonton yang kebingungan untuk berkomentar. Klik "post a comment". Nanti pilih, mau pakai alamat di Google, atau pakai Name/URL aja. Dan komentator yang pakai alamat Google-nya, bisa dapet keuntungan tambahan coz fotonya narsis di situ.

Kelemahannya jelas. Terlalu banyak klik sungguh tidak baik buat penonton yang fakir bandwidth, hahaha!

Gw pilih metode ini, coz gw berusaha mendesain blog gw supaya ramah kepada para blogger newbie, terutama kepada para netter yang nggak pernah baca blog. Soalnya sebagian besar relasi gw adalah dokter-dokter yang gaptek dan nggak ngerti caranya berkomentar dalam blog.

Nah, segala macam kelemahan dari sistem perkomentaran di Blogspot, sebenarnya udah diatasi di Wordpress. Tapi menjawab tantangan di alinea pertama, gw nggak mau memboyong Georgetterox pindah ke Wordpress. Soalnya, nama www.georgetterox.blogspot.com masih jauh lebih "menjual" ketimbang nama www.georgetterox.wordpress.com, di kalangan netter non-blogger. Nama "blog" pada kata "blogspot" masih mengandung makna eksklusif.

Tapi bukan berarti Wordpress nggak asyik lho. Buktinya, penonton Wordpress gw di URL http://laurentina.wordpress.com masih mencapai angka kunjungan yang lumayan, untuk sebuah English blog yang penontonnya nggak biasa ngomong pakai bahasa linggis. :-)

Oh ya, gw sering diprotes coz gw naruh satpam terlalu banyak di kolom komentar gw. Mulai dari captcha sampai moderasi. Alasannya gini lho.

Namanya juga blog publik, gw sering disatronin penonton nakal. Mereka pura-pura komentar, padahal tujuan akhirnya mau kirim iklan berupa link. Beuh, gw benci banget kalau ada yang ngiklan di blog gw tanpa bayar premi! Dan yang paling bejat mereka tuh suka nyepam. Komentar yang sama dikirim sampai lima kali, jelas bukan lantaran koneksi error. Makanya gw pasang captcha, supaya para spammer capek sendiri.

Dan kenapa tiap komentar kudu dimoderasi? Simpel aja, gw mau blog gw berkualitas, jadi sedapat mungkin gw nggak meluluskan komentar nggak nyambung dengan postingan. Misalnya gw lagi nulis tentang pencegahan kematian ibu melahirkan, tau-tau ada komentar ngiklan buat ngajakin ikutan MLM obat herbal? Komentar nggak nyambung gini ya terpaksa gw reject dong. Dan sengaja tiap komentar yang masuk gw moderasi dulu, supaya gw bisa meng-ACC mana komentar yang layak tayang dan mana komentar yang nggak layak tayang.

Dan tiap orang yang komentar pasti gw catet URL-nya, dan biasanya gw kunjungin balik. Kalau gw main ke suatu blog orang lain, biasanya gw komentar di situ juga. Terima kasih buat penonton yang udah komentar di sini, jangan bosen ya..:-)

Saturday, March 27, 2010

Hipster Salah Kaprah


Hipster, menurut kamus mode bahasa Inggris, artinya pakaian yang potongannya persis di pinggul. Seharusnya orang-orang ngerti ini sebelum nekat beli celana hipster.

Minggu lalu gw ke sebuah mal. Selagi jalan-jalan gw baru ngeh bahwa gw udah punya hampir semua jenis pakaian yang ada di situ, kecuali satu: celana jeans. Sudah bertahun-tahun gw nggak pakai celana jeans semenjak pinggul gw membesar dan celana jeans gw susah dikancingin, sehingga gw terpaksa meliburkan jeans terakhir gw.

Tidak, gw salah. Gw ternyata tidak meliburkannya. Lebih tepatnya gw memensiunkannya. Sebab tuh jeans udah kekecilan di bodi gw.

Maka, sekarang gw kepingin punya jeans, dan gw mau beli yang baru.

Toko yang pertama majang celana-celana jeans yang cukup bagus. Pramuniaganya nunjukin gw celana-celana jeans buat cewek. Ada beberapa potong yang cocok di paha gw waktu gw cobain di kamar pas. Bentuknya ngepas ngikutin paha, bahannya stretch. Tapi ternyata waktu gw coba jongkok..hey, tuh potongan pinggang celana narik banget ke bawah sampai memperlihatkan hal-hal yang bukan konsumsi publik.

Terus, gw minta ke pramuniaganya, celana jeans yang potongannya nggak kelihatan perutnya, ada? Kata si pramuniaga, "Kalo buat cewek memang trendnya hipster semua, Teh.."

Wuaa..kalau gitu hipster sama sekali nggak matching sama gw! Emang nggak ada gitu sekarang jeans yang nggak hipster?

Kata pramuniaganya, "Ada sih yang nggak hipster, tapi ini mah jeans buat cowok, Teh. Tapi cewek juga bisa make sih.."

Gw cobain satu. Oh ya, bener, celana jeans cowok lebih enak, perutnya nggak keliatan kalau jongkok. Cuman problemnya, bentuk kakinya nggak kelihatan.

Gw lepasin celana jeans itu, terus gw jalan-jalan ke toko lain.

Di toko di lantai atas gw nemu satu toko yang isinya celana-celana jeans doang. Pramuniaga-pramuniaganya centil manggil-manggil gw. "Celana jeans, Teh? Cari ukuran berapa?"

Gw bilang cari yang ukuran segini, mereka langsung sigap ngobok-ngobok tumpukan jeans mereka di laci. Lalu mereka ngasih gw sepotong celana warna biru muda. "Coba yang ini, Teh."

Gw masuk ke kamar pas. Terus gw cobain celana itu. Hm, kekecilan.

"Kurang gede, Mbak," kata gw. "Coba satu nomer di atasnya."

Gw dengar suara kresek-kresek. Gw ngintip dari balik gorden. Si pramuniaga lagi berlutut di lantai sembari ngobok-ngobok lemari. Lalu gw tercengang.

Si Mbak Pramuniaga juga pakai celana jeans. Ketika dia berlutut, potongan pinggangnya narik ke bawah. Gw bisa lihat CD-nya. Ugh. Tahu-tahu garis sela bokongnya ngintip.

Oh my God, bokongnya item!

Gw memalingkan muka, mau nangis. "Ada, Mbak?" tanya gw parau.

"Ada, Teh!" seru Mbak Pramuniaga.

Syukurlah..gw mendesah lega, merepet ke tembok.
Bukan, bukan bersyukur celana jeans-nya ketemu yang seukuran gw. Tapi bersyukur si Mbak berhenti berlutut. Biar bokongnya nggak terus-menerus ngintip, gitu lho.

Demi Tuhan, ada apa sih dengan celana jeans jaman sekarang? Kenapa ada jeans yang namanya potongan hipster? Apa barusan itu yang dimaksud dengan hipster? Hipster maksudnya keliatan pinggulnya, kan? Lha kalau yang barusan itu pasti bukan hipster, tapi itu namanya BUTTSTER! Keliatan "butt"-nya, alias keliatan bokongnya!

Gw nggak akan ngoceh soal aurat di sini. Coz masing-masing dari kita punya definisi yang beda-beda tentang aurat. Tapi gw harus bilang, bahwa orang mau bugil aja harus punya selera, apalagi yang baru pakai hipster?

1. Kalau pakai celana jeans yang kelihatan pinggulnya, pastikan jangan sampai celana dalamnya "ngintip".

2. Kalau celana dalamnya memang harus "ngintip", pastikan celana dalamnya punya warna yang menarik. Misalnya silver metalik, atau sekalian warna yang "glow in the dark"!

3. Jangan pakai celana dalam yang warnanya pudar, belel, apalagi yang banyak ventilasi alias celana dalam yang bolong-bolong.

4. Usahakan warna celana dalam sama dengan warna celana jeans-nya. Jadi orang-orang yang matanya kayak elang (seperti gw ini) nggak ngeh bahwa yang "ngintip" itu celana dalam.

5. Kalau celana dalamnya ternyata hipster juga, maka bokong harus tahu diri. Bokong nggak boleh panuan apalagi sampai item-item!

6. Kalau semua tips di atas masih terlalu sulit, ya udah cari yang gampang aja. Nggak usah pakai celana hipster doong..!

Friday, March 26, 2010

Lari, Lelet, Lari!


Hujan turun deras dua hari yang lalu, mengakibatkan satwa-satwa aneh kesasar ke rumah gw. Salah satunya siput ini, tahu-tahu udah ada di teras belakang. Sebut gw norak, tapi gw belum pernah lihat siput sampai segede ini.

Gw buru-buru ambil kamera, lalu ngejepretnya. Terus gw tinggalin sebentar, lalu gw ngambil piring buat siap-siap makan malam. Pas gw mau makan, gw tengokin teras lagi.

Lho, siputnya kok nggak ada??

Dia lari ke mana? Lho, siput bisa lari, gitu? Bukannya siput jalannya lamban?

Gw menggugat asisten pribadi nyokap gw. "Kamu lihat siput yang tadi di teras, nggak? Kok dia jalannya cepet seh?"

Lalu jawab sang asisten cuek. "Oh, tadi ta' buang ke rumput.."

Gw langsung ngomel-ngomel. "Lhoo..gimana seh? Kan aku mau ngukur siput itu kecepatan berjalannya berapa??"

Sang asisten ketawa terbahak-bahak.

Duuh..gw nggak pernah lihat siput segede itu. Makanya itu fenomena langka buat gw. Kapan yah, siput dateng ke rumah gw lagi??

Wednesday, March 24, 2010

Kolaborasi Kacau


Hukum Postulat Laurentina mengatakan: Hanya boleh ada satu koki yang menguasai dapur. Artinya, untuk sebuah keluarga, cuman ada satu orang yang bertanggung jawab mengatur menu untuk keluarga. Dia yang merancang menu makan, dia yang belanja bahan logistik, dia yang masak. Makanya gw nggak pernah percaya ada anak perempuan yang memasak buat keluarganya. Yang betul adalah, dia masak buat membantu nyokapnya. Kecuali kalau nyokapnya kena stroke sampai
nggak bisa mikir, maka saat itulah anak perempuan naik tahta jadi koki.

Paman gw yang beranak dua dan bercucu satu terpaksa
ninggalin keluarganya di Jakarta, demi ngurusin Grandma gw di Kreyongan. Ngurusin ini maksudnya mengambil alih posisi eksekutif sebagai kepala keluarga, lantaran Grandpa sudah ada di kursi
roda sedangkan Grandma sudah pikun. Paman gw yang masak sehari-hari, termasuk
mikirin menu belanja.

Pas gw dan bonyok pulang ke rumah Grandma minggu lalu, paman gw langsung merancang sepanjang liburan itu kita mau makan apa. Sarapan apa, makan siang apa, makan malam apa. Dos-q lebih detail ketimbang nyokap dan tante gw dalam urusan ngatur makanan, karena alasan kuantitas: Kalau semua orang
sudah selesai makan, tidak boleh ada makanan yang tersisa di meja makan. Tadinya gw sama sekali nggak ngerti kenapa nggak boleh ada makanan sisa. Pikir gw, kalau kita nggak bisa ngabisin sop untuk makan malam, sopnya bisa diabisin besoknya pas sarapan, kan?

Nah, ceritanya seperti biasa nyokap gw selalu sibuk mikirin
oleh-oleh kalau pulang ke Kreyongan. Maklumlah, namanya juga kalau ke rumah
mertua kan sebaiknya bawa anter-anteran. Supaya nggak ribet, nyokap gw bawa spaghetti dari Bandung. Bawanya gampang, cukup bawa spaghetti yang udah kemasan produk itu, masukin
tas. Paling-paling kesulitannya adalah bawa topping dagingnya yang mesti
ditaruh dalam tromel khusus.

Jadi waktu makan siang, giliran menu spaghetti dimakan bareng-bareng sekeluarga. Nyokap gw ngeluarin daging spaghettinya sebagian, sementara sebagian lagi disimpen di kompor. Spaghetti bikinan nyokap gw enak lho. *bangga*

Malam itu, gw keluar sama bonyok buat beli tahu campur.
Pulang-pulang kita mau makan di rumah, rencananya mau makan spaghetti sisa makan siang tadi. Nyokap gw kebingungan. Lho, daging spaghetti yang tadi ada di panci di atas kompor mana?

Daging itu raib. Nyokap gw gemas. Padahal semua orang udah siap di meja makan. Di kompor nggak ada. Di lemari nggak ada. Siapa coba yang mau nyolong daging spaghetti?

Usut punya usut, diinterogasilah ke asisten pribadinya tante gw yang tugasnya cuci-cuci piring. “Kowe lihat daging yang di dalam panci di atas kompor ruang makan, ndak?”

Si asisten menjawab dengan polos. “Tadi dimasukin sama Ibu
Sepuh ke panci ijo..”

Tante gw langsung pucat pasi. Grandma gw udah masukin daging spaghetti ke panci soto!

“Baiklah,” kata nyokap dan tante gw mencoba melucu di
hadapan kita sekeluarga. “Malam ini kita akan makan spaghetti dengan rasa soto ayam!”

Gw rasanya mau semaput. Bokap gw ketawa terbahak-bahak.

Penasaran. Akhirnya nyokap gw nanya pelan-pelan ke Grandma gw malam itu. “Mom, apa tadi Mom masukin daging di panci kompor ke dalam panci soto?”

Eh.. jawab Grandma gw cuek, “Enggak,” sambil ngelap-ngelap
piring.

Gw senyum-senyum miris. Hanya ada tiga kemungkinan:
1. Grandma gw bohong. Memang dos-q nyampurin daging spaghetti dengan soto, tapi dos-q nggak mau ngaku. Tapi gw nggak suka kemungkinan yang ini.
2. Grandma gw memang nyampurin daging spaghetti sama soto, tapi dos-q nggak nyadar. Dipikirnya dua bahan dalam panci itu berwarna sama, jadinya dicampurin aja biar nggak banyak-banyak panci. Ini pasti gara-gara lampu ruangan yang kurang terang.
3. Grandma gw memang nyampurin daging spaghetti sama soto tadi sore, dan dos-q lupa bahwa dos-q pernah melakukannya.

"It happened a lot," kata paman gw yang udah berbulan-bulan merawat Grandma gw. Dengan santai dos-q cerita, "Beberapa waktu yang lalu, Mom nyampurin kuah rawon sama semur."

Ya ampun.

Persoalannya, Grandma gw nggak merasa udah pikun. Setiap hari kerjaannya sama. Bangun pagi, beresin dapur, manasin nasi dan lauk. Atau mencampur lauk. Seperti ibu rumah tangga sejati.

Lalu gw baru ngeh kenapa paman gw mewanti-wanti dari awal, jangan pernah ninggalin sisa makanan di dapur. Rupa-rupanya takut insiden kolaborasi kuah rawon + semur terjadi lagi.

Masih mendingan Grandma gw suka main kolaborasi. Kadang-kadang, Grandma gw masukin makanan sisa ke lemari makanan. Terus lemarinya dikunci oleh Grandma, lalu kuncinya diumpetin Grandma sampai Grandma lupa di mana naruh kuncinya dan kita baru mencongkel kuncinya bertahun-tahun kemudian untuk membersihkannya. Dan jangan lupa, Grandma gw melakukan itu semua, TANPA SADAR. Pantesan paman gw mutusin buat mengkudeta posisi penguasa dapur.

Makanya jangan pernah kompromi sama orang tua yang udah pikun dan maksain diri untuk tetap jadi koki. Bisa-bisa nanti kita bakalan sering makan spaghetti rasa daging soto..:-P

Tuesday, March 23, 2010

Saya Nggak Bo'ong, Pak Polisi


Perhatikan foto di atas baik-baik. Menurut Anda, apakah tampang di atas punya tanda-tanda kriminal?

*pertanyaan sulit*

Nggak ada, kan? Jawab nggak dong, please.. (Memohon sembari siap-siap bawa pecut)

Tadi siang, gw jalan-jalan ke kantor polisi. Bukan, bukan lantaran gw keabisan tempat buat hang out. Tapi gw mau bikin surat bahwa selama ini gw berkelakuan baik dan nggak pernah malingin ayam tetangga. Sebenarnya gw udah bikin surat yang sama enam bulan yang lalu, tapi surat gituan ada masa kadaluwarsanya. Jadi kalau gw mau bikin surat yang sama, ya gw kudu ke kantor polisi lagi, gitu.

Nah, ceritanya tadi gw terpaksa nunggu coz kata Pak Polisi-nya, kompie yang dipakai cuman satu. Ya udah, gw nunggu di ruang tamu, sementara seorang polisi minta gw ngisi selembar formulir. Gw agak bingung, lha gw kan seumur-umur udah dua kali bikin surat itu, nggak pernah tuh gw disuruh ngisi ini-itu. Paling-paling ya disuruh bawa surat pengantar dari Lurah, kartu keluarga, KTP, dan foto 4 x 6 aja. Tapi ternyata sekarang ada peraturan baru, jadi tiap orang yang mau dinyatakan berkelakuan baik, kudu ngisi formulir dulu.

Isiannya standarlah: nama, alamat, tempat tanggal lahir, nomer KTP, gitu deh. Ditanyain juga nama bapak-ibunya siapa, kerja di mana, sekolah sampai mana. Ditanyain nama sodara-sodaranya. Terus gw sendiri disuruh ngisi gw SD-nya di mana, SMP di mana, kuliah di mana, sampai kursus-kursus apa yang gw pernah ikutin. Gw tadinya mau jawab gw pernah kursus berenang dan kursus ngomong Perancis, tapi niat itu gw batalin lantaran gw takut dites berenang sembari ngomong Perancis sekaligus, hehehe. Bukan apa-apa, gw ogah aja kalau disuruh hilir-mudik di depan polisi-polisi berseragam sembari pakai baju renang. Emangnya gw bintang pelem Baywatch, apa?

Nah, bagian menarik ada di halaman formulirnya.

Pernah tersangkut perkara? Perkara apa? Pada tingkat apa? Vonis hakim? Halah. Gw bikin gambar kurawal gede, terus di sebelahnya gw tulis, "Tidak pernah."

Pernah pergi ke luar negeri? Sebutkan tanggal dan negeri mana yang dikunjungi.
Gw menyeringai. Mau gw jawab yang mana ya? Singapura? Thailand? Ah, ini pasti nanya-nanya apakah gw pernah terlibat jaringan al-Qaeda di Afganistan.
Ya udah gw jawab, "Australia, tahun 1996."
Seumur-umur negara itu nggak pernah ada terorisnya. Kalau Thailand kan masih ada pemberontaknya sedikit-sedikit.

Pertanyaan berikut. Ciri-ciri badan. Waduh, ini yang menarik. Mengingatkan gw pada data mayat ruang forensik yang dulu sering gw kerjain.

Rambut: "Hitam."
Muka: ...

Maksudnya apa seh? Muka gw mirip bokap gw lah. Tapi kalau lagi ngamuk, muka gw jadi mirip nyokap. Mosok gw mau jawab gitu?

Akhirnya gw tulis, Muka: "Cantik."

Gw nyengir.

Kulit: "Sehat."
Nggak ada panunya. Su-er.

Perawakan: "Langsing."

Apa seh yang mereka harapkan dari isian ini? Apa ada yang nulis perawakan cebol? Bahkan yang mengidap gigantisme pun paling-paling cuma nulis "jangkung".

Tanda istimewa: ...

Oke, ini udah kelewatan. Maksudnya apa? Tahi lalat? Tattoo naga?

Gw nulis, tanda istimewa: "Senyum manis."

Gw mulai merasa lagi nulis sebuah lelucon.

E-eh..di paling bawah ada tulisan, "Demikian keterangan diatas saya buat dengan sebenarnya atas sumpah menurut agama, kepercayaan dan keyakinan saya. Apabila di kemudian hari ternyata keterangan saya ini tidak benar, maka saya bersedia dituntut berdasarkan hukum yang berlaku."

Alamaak! Jadi gw nggak boleh bo'ong!

Gw baca lagi formulir yang udah gw isi itu. Terutama bagian Ciri-ciri Badan. Gw nggak bo'ong kan? Kalau ternyata gw nggak cantik seperti apa yang gw tulis, berarti gw bersedia dituntut dong? :-P

Dalam hati gw mbatin, "Saya nggak bo'ong, Pak Pulisi. Kata pacar saya, saya cantik. Dia juga bilang senyum saya manis. Saya percaya aja dia ngomong gitu. Kalau ternyata itu nggak bener dan saya dituntut, saya juga bakalan nuntut pacar saya." :-P

Formulir gw kasih ke polisi yang ngetikin surat gw. Duh, untung tuh polisi ganteng nggak cengar-cengir.

Lalu dia kasih surat gw. Gw berkelakuan baik dan nggak tersangkut perkara pidana apapun.
Eh, surat ini berlaku sampek bulan Juni.

"Lho, sekarang cuma sampai tiga bulan, Pak?" gw protes. Kan biasanya sampai enam bulan.

"Iya, sekarang tiga bulan."

"Ini gara-gara Dulmatin ya?" sindir gw.

Sang polisi ketawa.

Buat bikin surat itu nggak dipungut biaya. Selama gw nunggu, gw disuguhin minum. Malah ditawarin kue pastel segala oleh polisinya. Gw nolak kuenya dengan sopan, soalnya gw kesiyan lihat polisi yang nawarin gw kue itu, kok bodinya nampak kurus.. Mendingan kuenya dimakan Pak Pulisi aja deh, biar Pak Pulisi nggak kurang gizi..

Gw keluar dari sana dengan puas. Ah, polisi-polisi baik.. :-)

Monday, March 22, 2010

Cari Pahala Kok Ngoyo?

Judul ini diskriminatif coz nggak semua jemaah blog ini ngerti bahasa Jawa. Maaf, maaf, semalam gw cari terjemahan kata “ngoyo” dalam bahasa Indonesia, tapi gw nggak nemu juga. Ada yang nggak tahu kata “ngoyo” itu artinya apa? Kalau gw pikir sih, sebenarnya makna kata “ngoyo” itu ya lebay, usaha keras yang berlebihan.

Suatu hari tahun lalu, gw bertamu ke sebuah keluarga dan keluarga itu menjamu gw makan malam di rumahnya. Ada tiga orang anak di rumah itu. Nyonya rumahnya begitu senang kedatangan tamu, jadi dia masakin gw macam-macam. Ada opor ayam, ada cah kangkung, dan entah apa lagi. Kita duduk di pinggir meja makan. Eh, kita? Maksud gw, cuman gw dan nyonya rumahnya yang makan di meja. Ketiga anaknya makan di ruangan itu juga, tapi mereka duduk di kursi lain yang nggak ada mejanya.

Aneh? Meja itu sebenarnya besar, muat sampai enam kursi, tapi terlalu banyak piring, kecap, dan botol-botol saos yang ditaruh di meja. Sampai-sampai nggak muat buat empat orang lagi untuk makan di pinggir mejanya. Ah, sudahlah, gw nggak mau ngomongin seni tata boga di sini.

“Ayo, Mbak Vicky, tambah lagi nasinya,” kata si tante prihatin dengan porsi nasi gw yang irit.

“Sudah, Tante, terima kasih,” tolak gw sopan. Menu gw sudah proporsional lho. Sudah ada nasi, daging, sayur. Cukup lah.

Mendadak si tante nepuk jidatnya. “Eh, Tante lupa! Belum nggoreng tempe! Ya ampuun! Mbak Vicky dateng kok nggak digorengin tempe!” tiba-tiba dos-q jadi panik.

Gw terkejut. “Eh, udah Tante, nggak usah,” gw melambaikan tangan. Gw nggak minta digorengin tempe lho. Su-er.

“Aduh, biasanya Mbak Vicky kan seneng digorengin tempe! Daniela, ayo sana gorengin tempe! Cepetan!” seru si tante pada anaknya yang bungsu. Padahal Daniela, bukan nama sebenarnya, lagi makan di situ.

“Tante, nggak usah, makasih..” gw jadi nggak enak sama Daniela. Orang lagi enak-enak makan kok malah disuruh nggoreng tempe sih buat orang lain?

“Udah, biarin aja!” kata sit ante, sementara Daniela-nya udah keburu meloncat ke dapur. Saat itu juga gw denger suara minyak dia tas wajan, pertanda tempe sudah dicemplungin. Gw melirik ke kursi tempat Daniela duduk tadi. Piringnya masih ada di situ, makanannya tinggal setengah. Kesiyan.

Gw dan si tante melanjutkan makan lagi. Mendadak si tante nepuk jidat lagi. “Wuaa..airnya Mama masih di kamar! Robert, ambilin gelas air minumnya Mama sana!”

Gw melirik ke Robert, anak keduanya si tante yang juga lagi enak-enak makan. Robert terpaksa berdiri dan naruh piringnya di kursinya, lalu pergi ke kamar tidur si tante.

“Di mana gelasnya, Ma?” gw denger Robert berteriak dari dalam kamar.

“Itu lho di sebelah tempat tidur!” seru si tante dari meja makan.

“Nggak ada!”

“Ya cari sekitar situ, apa di deket lampu tidur, atau di deket tivi, atau di meja rias!” seru sit ante sambil nyeruput opor ayamnya.

Gw denger suara-suara Robert ngaduk-ngaduk kamar nyokapnya, dalam rangka nyari gelas air minum si tante. Dooh..kesiyan Robert. Padahal tadi dia lagi makan.

Mbokya kalau mau nggoreng tempe itu ya dari tadi-tadi, sebelum waktunya makan. Air minum disiapin dulu di meja. Jadi waktunya makan, nggak ribut nyari air minum apalagi nggoreng tempe yang ketinggalan.

Apakah kita seperti si tante, yang kesulitan mengorganisir suasana makan yang enak? Gw ngerti sih si tante kepingin nyuguhin gw tempenya yang enak. Nyuguhin makanan buat tamu itu pahala lho. Termasuk anak nyuguhin minum buat ibunya sendiri itu juga pahala. Tapi apakah untuk menyuruh orang nyari pahala itu harus mengganggu orang yang sedang makan?

***

Gw denger Grandma gw dari Jakarta mau dateng ke rumah gw di Bandung, mestinya dateng semalam. Nyokap gw nyuruh gw beres-beres kamar yang mau dipakai Grandma; ganti sarung bantal, ganti sarung guling, geser posisi kasur supaya jauh dari jendela. Lalu nyokap gw bilang ke asisten pribadinya, nanti kalau Grandma gw dateng, tolong bikinin teh coz Grandma gw suka nyari-nyari teh. Terus si asisten bilang, persediaan teh di dapur lagi abis.

Nyokap gw bilang, “Pergi ke warung sekarang, beliin teh satu kotak. Mumpung belum Maghrib.”

Gw ngelirik keluar. “Hujan.”

“Pake payung.”

Gw senewen. Ini hujan-hujan, gw nggak suka lihat asisten pribadi nyokap gw jalan ke warung cuman buat beli teh, takutnya nanti dia masuk angin. Kalau sore ini nggak ada teh, ya udah nggak usah nyuguhin teh. Besok aja ‘napa, kalau ujannya udah berhenti. Lagian Grandma paling-paling baru dateng malem jam sembilan, pasti langsung tidur. Kalau mau tidur itu jangan minum teh, soalnya teh itu merangsang pipis, akibatnya nanti pasti Grandma bawaannya kepingin pipis melulu. Nanti Grandma nggak bisa tidur. Siapa bilang minum teh itu selalu bermanfaat?

Tapi kata nyokap gw, “Ayo kita turutin apa aja yang diminta Grandma, supaya kita dapet pahala.”

Gw menghela napas. Menatap si asisten yang keluar dari garasi sambil buka payung. Cari pahala, kok ngoyo?

Eh, itu fotonya gw yang jepret lho.. :D

Sunday, March 21, 2010

Memorabilia Mania


Jika Anda perempuan seperti gw, gimana reaksi Anda kalau nemuin sekotak penuh bunga-bunga hiasan warna putih? Simpan atau tinggalkan?

Seperti yang gw tulis dua hari lalu, gw baru kelar bongkar-bongkar gudang di rumah Grandma gw. Baiklah, gw berlebihan. Itu sebetulnya bukan gudang, tapi kamar tidur. Tapi Grandma gw menimbun barang-barang yang nggak kepakai di situ, jadi kamar yang malang itu jauh lebih mirip gudang ketimbang kamar tidur.

Dan gw cukup pusing bersihinnya, coz kebanyakan isinya adalah kantong-kantong kresek dan kain-kain perca. Kata tante gw, udah buang aja sampah-sampah itu coz Grandma nggak pakai lagi. Kita sampai bagi-bagi tugas di acara operasi bersih itu: Gw yang bagian ngelompokin rongsokan, sementara tante gw bagian seksi pemusnahan rongsokan dengan metode bakar-bakaran.

Nah, di bagian bawah lemari, gw nemu sebuah kotak berisi kembang-kembang warna putih. Bahan plastik dan kain. Masih utuh rangkaiannya, belum pecah. Gw nanya ke tante gw, apakah tuh kembang mendingan dibuang, soalnya gw nemunya di dasar lemari yang susah banget dijangkau tangan manusia. Siapa coba yang mau pakai kembang-kembang itu?

"Eeh.." tante gw nyengir pas lihat temuan itu. "Ini bunga waktu dulu aku menikah."
Gw terpana. "Wow. Do you wanna keep it?"
"Noope!" seru tante gw ketawa. "Udah, buang aja!"

Maka gw mencampakkan bunga-bunga kusam nan malang itu ke tempat sampah.

Berikutnya, nyokap gw nemu satu set sprei putih berenda-renda, lengkap dengan sarung bantalnya. "Duh, bagus sekali," keluh nyokap gw, merasa sayang lantaran sprei itu ditaruh di dasar lemari barengan kain-kain perca yang ditumpuk nggak karuan. "Ini pasti sprei waktu Tante menikah dulu."
Lalu nyokap gw nata sprei itu lagi dalam lemari, kali ini dengan tumpukan yang lebih rapi.

Gini lho, Grandma gw punya anak perempuan dua orang, dan kemungkinan besar itu tadi barang-barang bekas asesoris waktu tante-tante gw menikah dulu. Gw nggak tahu persis kapan tante-tante gw itu menikah, tapi gw perkirakan mereka udah menikah 40 tahun lalu. Bodi gw merinding membayangkan Grandma gw masih nyimpen memorabilia pernikahan putri-putrinya sampai 40 tahun!

Nggak cuman memorabilia pernikahan, gw juga nemu koleksi prangko Belanda bekas surat-suratan sama Grandpa, majalah-majalah jadul, sampai kliping tentang sodara keluarga kami yang rupanya namanya dimuat di koran. Sewaktu gw nemu selembar kartu Lebaran dan nunjukin ke nyokap gw, nyokap gw nggak bisa nahan air mata. Kartu itu ditulis tahun '88, oleh almarhum bokapnya nyokap gw di Jakarta, dikirim buat bonyoknya bokap gw di Jember. Kartu itu pertanda bahwa mereka adalah besan-besan yang sangat akur..

Semua barang di atas nggak ada gunanya, tapi layak disimpan lantaran nilai historisnya yang sangat kuat. Nggak mungkin gw campakin ke kebun belakang rumah, di mana tante gw sedang membakar rongsokan yang telah bertahun-tahun menuh-menuhin kamar tidur di rumah Grandma gw.

Mungkin cuman Grandma gw yang tahu, seberapa besar berartinya barang-barang yang buat anak-cucunya lebih mirip rongsokan itu. Sebenarnya nggak problem kalau Grandma senang nyimpen memorabilia, tapi akan jauh lebih baik kalau barang itu ditata. Mungkin Grandma gw nggak cukup kuat buat nata kamar-kamar itu sendirian, tapi dos-q nggak pernah memercayai anak-anaknya sendiri buat nata rumah itu. Gw inget Grandma pernah bilang ke kami waktu mudik ke sana, "Kalian kan tamu. Sudah, duduk aja ngaso-ngaso minum teh dan nggak usahlah bersih-bersih rumah.."

Sewaktu gw bantu ngumpul-ngumpulin rongsokan itu sampai kaki gw pegel-pegel, gw bilang ke tante gw, "Saya nggak akan mau nyimpan-nyimpan barang yang nggak bisa dipakai sampai jadi menuh-menuhin ruangan gini." Kamar itu begitu kepenuhan rongsokan sampai-sampai gw susah jalan di antaranya.
Lalu kata tante gw, "Jangan ngomong gitu. Dulu aku juga sesombong kamu. Tapi sekarang aku mulai ngumpul-ngumpulin barang juga, seperti Ibu. Kita semua, akan menuju seperti itu."

Membayangkan cucu-cucu gw bongkar-bongkar rumah dan nemu koleksi memorabilia New Kids on the Block gw, langsung bikin gw pusing. Mosok Little Laurent nanti nyodorin potongan koran tahun '90-an dan nanya ke gw, "Mbah Putri, kenapa cowok-cowok ini rambut belakangnya ada buntutnya??"

Kita semua akan menua. Akan makin kesulitan merawat koleksi barang kenangan kita. Kalau kita nggak antisipasi, lama-lama cuman jadi sarang debu doang.

Tips nyimpen memorabilia:

1. Tata yang rapi. Jangan ditumpuk-tumpuk barengan rongsokan. Tata di tempat yang gampang keliatan, supaya gampang dikenang.

2. Kasih tahu suami, anak, cucu, apa makna kenangan dari masing-masing barang. Jadi mereka ikut ngerti arti memorabilia dan ikutan merawat.

3. Bikin satu hari khusus dalam setahun buat mengelap barang-barang memorabilia. Selain buat mengenang, juga supaya barang-barang itu nggak sampai rusak atau kotor.

Saturday, March 20, 2010

Undangan Membingungkan


Ada sedikit perdebatan penting yang nggak penting, seperti biasa di keluarga gw. Jadi gini, ingat ketika dua bulan lalu orang rame ngomongin foto pre-wed? Nah, ada yang bisa jelasin nggak seh sebenarnya foto pre-wed itu buat apa? Selain buat dipamer-pamerin di venue resepsi pas hari H? Selain buat meluapkan hasrat narsis sang penganten? Dan selain buat lahan rejeki para fotografer?

Jawab gw, foto pre-wed itu buat ditaruh di kartu undangan.

Nyokap gw nggak mufakat. Soalnya, undangan pernikahan itu pasti ujung-ujungnya ditaruh di tempat sampah. Jadi ngapain juga dipasangin foto pengantennya? Apa ada orang nyimpen kartu undangan pernikahan buat kenang-kenangan?

(Ada. Orang macam gini pasti jenis orang yang seumur hidupnya cuman sekali diundang ke pernikahan.)

Nah, kemaren siang, ada kurir nganterin undangan pernikahan ke rumah gw. Undangannya buat bokap gw. Yang nerimanya asisten pribadi nyokap gw, dan dia nggak tanya itu undangan kiriman siapa. Di sampul depan tertulis nama bokap gw, tanpa alamat. Jadi undangan itu dianter setangan, bukan pakai pos.

Ternyata bokap gw jadi bingung. Soalnya, baik nama pengantennya maupun nama orang tua kedua penganten itu, bokap gw nggak kenal.

Dilihat dari gelarnya, pengantennya bukan dokter. Jadi pasti bukan mahasiswanya bokap gw. Yang bikin pusing, alamat orangtuanya nggak ditulis lengkap, cuman nama pasangan suami-istri dan tulisan Bandung doang. Pasangan satunya di Pekanbaru. Dooh..ini undangan dari siapa seeh?

Dan yang nikah itu juga bukan temen-temen gw atau adek gw. Jadi ini siapa?

Gw malah akhirnya becanda ke bokap gw, "Mungkin ada orang merasa kenal sama Dad tapi Dad-nya nggak kenal sama dia.." :-p

Nah, terjawab kan sekarang kenapa kita sebaiknya naruh foto di undangan pernikahan? Soalnya orang memang suka nggak kenal sama yang empunya hajat, jadi mereka butuh petunjuk-petunjuk pengenal seperti nama kecil para pengantennya, alamat lengkap orang tua pengantennya, dan kalau perlu ya sekalian foto para pengantennya.

Jadi melalui blog ini, gw mau memohon maaf buat calon penganten yang udah ngirim undangan ke bokap gw, yang sedianya mau nikah hari ini di kawasan Turangga. Maaf, bukannya kita sombong, nggak mau dateng ke hajatan kalian. Tapi masalahnya, kita nggak tahu kalian ini siapa. Lain kali, kalau mau nikah, mbok sekalian dilampirin surat dong. "Halo Pak/Bu X, apa kabar? Dateng ya ke pesta hajatan kami. Jangan kuatir, suguhannya enak-enak lho.. Eh, masih inget kami kan? Itu lho, yang dulu pernah kenalan sama Pak/Bu X pas lagi ngantre beli sate Maranggi.."

Friday, March 19, 2010

Reportase Upik Abu

Yang gw tahu, gudang adalah ruangan dalam rumah yang fungsinya buat nyimpen barang-barang keperluan kita. Tapi gw nggak pernah ngira bahwa Grandma gw akan merombak gudang menjadi museum.

Ini semua berawal dari kecurigaan keluarga gw. Mula-mula kita sering merasa nggak nyaman kalau pulang ke rumah Grandma gw di Kreyongan lantaran tuh kamar-kamar rasanya kepenuhan oleh barang-barang simpanan Grandma gw. Padahal di rumah Grandma itu sudah banyak gudang, cuman Grandma gw nggak mau nyimpen barangnya di gudang itu coz merasa gudang itu sudah kepenuhan. Tuh gudang mesti ditata ulang, barang yang nggak perlu sebaiknya dibuang, jadi bisa buat tempat naruh barang-barang yang masih diperlukan. Cuman Grandma gw udah 87 tahun, nggak akan sanggup bersihin gudang itu sendirian. Maka jadilah bokap gw dan ketiga kakaknya mudik ke Kreyongan sepanjang liburan Nyepi lalu buat bersihin rumah. Termasuk gw sendiri juga ikutan mudik.

Grandma gw ternyata nggak cuman seneng mengoleksi kantong kresek, tapi juga ngoleksi makanan di dalam gudang. Yupz, di gudang itu kita nemuin kue brownies, masih dalam dus, dengan tanda kadaluwarsa sekitar lima bulan yang lalu. Gw juga nemu gula kiloan, yang iklannya suka wara-wiri di tivi pakai lagu “Sugar-sugar” itu, terpaksa gw buang lantaran tahun kadaluwarsanya tahun ’08. Produk susu kalsium 1 kg, warnanya udah nggak putih lagi, tapi jadi kuning dan sudah jadi batu. Dan air mineral kemasan plus teh kemasan, ternyata tahun kadaluwarsanya 2005.. :-p

“Mom, ini kalo udah expired gini kenapa nggak dibuang aja sih?” keluh bokap gw.
Kata Grandma gw sambil mecucu, “Duuh..saya nggak tau kalo itu udah expired. Itu kan disimpen buat dihidangkan ke tamu-tamu kalo Lebaran..”

Di dalam lemari gw nemu taplak dan sarung bantal hasil sulam-menyulam Grandma gw. Kata tante gw, tuh taplak dari jaman gw dan kakak-kakak masih kecil, mungkin sekitar wangsa ’70 atau ’80-an gitu deh. Grandma gw tuh orangnya rajin, senengnya nyulam dan bikin kue. Makanya sama anak-anaknya suka dibeliin mixer, oven, sarung bantal, sprei, dan sejenisnya. Tapi hadiah-hadiah dari anak-anaknya itu nggak pernah dibuka-buka, tapi disimpen aja di dalam lemari, sampai bertahun-tahun hingga Grandma gw lupa kalau pernah dihadiahin itu.

Selama operasi bersih itu, gw sampai eneg ngeliat segala rongsokan hasil tabungan Grandma gw selama bertahun-tahun itu. Nggak pernah gw duga kalau satu selasar bakalan penuh sama karung-karung yang isinya kantong kresek, botol-botol plastik bekas, kaleng-kaleng bekas makanan, dan entah apa lagi. Grandma gw marah-marah lantaran kita buang semua “koleksi”-nya, masih bisa gw dengar Grandma gw ngomel panjang-pendek, “Itu kan botolnya bisa dipakai buat tempat minum..” “Kantong kreseknya bisa dipakai buat wadah kue kalau mau bekal piknik ke Ijen..”

Dan akhirnya setelah kita semua berhasil nyingkirin rongsokan-rongsokan yang menuh-menuhin gudang itu, tiba-tiba gw baru ngeh kalau di gudang itu ternyata ada lemari yang sudah kuno sekali. Dan ternyata gw salah, itu bukan lemari; itu mesin es krim. Mesinnya pasti keluaran kuno, soalnya di pintu mesinnya ada tulisan gede-gede, “SOERABAIA”.
“(Keluarga) kita pernah jualan es krim?” tanya gw bengong.
“Tidak,” jawab tante gw parau. “Waktu aku dan bapakmu masih kecil-kecil, Mom sering mbikinin kita es krim pakai mesin itu..”

Di sebelah mesin itu, kita nemuin sisa-sisa kejayaan Grandma sebagai ibu rumah tangga penggemar homemade cake. Banyak sekali cetakan-cetakan kue dan loyang dan entah apa lagi. Di dasar rongsokan-rongsokan cetakan kue itu, paman gw nemuin map-map berisi kertas-kertas tua.

Isinya ternyata aneh-aneh: Resep-resep masakan. Catatan harian Grandma gw. Pe-er Ilmu Hayat-nya tante gw, lengkap dengan nilai yang ditulis gurunya. Surat curriculum vitae Grandpa, diketik pakai bahasa Belanda. Mulai dari kapan lulus HIS, MULO, sampai jabatan terakhirnya di perusahaan perkebunan. Plus, surat-surat cinta yang ditulis Grandpa ke Grandma.

Barang yang masih bisa dipakai, ditata oleh nyokap gw dalam lemari. Bahan-bahan makanan yang udah basi, gw buang isinya ke kebun. Rongsokan-rongsokan diangkut pakai mobil tinggi paman gw, terus dijual ke tempat pemulungan di Kreyongan. Paman gw harus bolak-balik sampai dua kali dari rumah ke tempat sampah supaya semua rongsokan bisa terangkut. Setelah diitung-itung per kiloan, ternyata paman gw dapet hasil jualannya sampai 133.000 rupiah..

Sebenarnya kita bisa dapet lebih banyak lagi, kalau saja sebagian rongsokan yang lain nggak diangkut ke kebun dan dibakar oleh tante gw. Harus buru-buru dibakar, soalnya kalau ketahuan Grandma gw, pasti Grandma marah-marah dan bilang, “Ini plastik-plastik kan masih bisa dipakai buat nyimpen bumbu-bumbu..”

Ternyata, Grandma gw orangnya penuh penghargaan terhadap pemberian orang. Tiap barang tuh disayang-sayang, jadinya cuman disimpen di gudang. Termasuk kalau dikasih makanan juga nggak pernah dimakan, tapi disimpen aja dan dikunci rapat dalam lemari. Akibatnya sampai lupa, sampai bertahun-tahun pun nggak pernah dimakan..