Monday, April 4, 2011

Toh Harus Milih, Vic..

Saya perempuan normal, karena itu saya tergila-gila kepada sepatu. Saya perempuan yang sangat normal, karena itu saya tergila-gila kepada high heels. Dan saya baru menyadari kemaren, bahwa saya nggak punya high heels.

Eh, ada ding, high heels di lemari saya. Tapi sepatu itu pakai tali-tali yang sangat ketat, dan saya cuman tahan pakai sepatu itu selama tiga jam. Seterusnya, yuk dadah yuk bye-bye.

Kalau saya kuliah, kadang-kadang saya lihat teman-teman kuliah saya pakai high heels dan saya ngiler kepingin pakai juga. Tapi saban kali saya inget bahwa kerjaan saya sangat banyak setiap hari dan kerjaan itu memaksa saya kudu mondar-mandir dari tempat satu ke tempat lain dalam waktu cepat, keinginan saya buat pakai high heels langsung urung. Kalau dipikir-pikir, teman-teman saya yang pakai high heels itu, kerjaannya nggak segila kerjaan saya. Mereka nggak berjalan secepat saya, frekuensi begadang mereka nggak sebanyak saya, praktis mereka nggak akan kelelahan kalaupun mereka senang pakai high heels setiap hari. Jadi kesimpulannya, orang yang kerjaannya super padat, sebaiknya jangan pakai high heels. Begitu?

Tapi bagaimana dengan para model itu? Mereka kadang-kadang cuman tidur empat jam sehari, tapi kerjaan mereka kan juga berat. Mereka kan disuruh berdiri dan berjalan berjam-jam dengan muka harus selalu tersenyum dan tetap pakai high heels. Lantas apa bedanya mereka dengan dokter? Dokter harus berdiri lama ngoperasi orang, berjalan dari ruangan satu ke ruangan lain visite pasien, dan catet: Dokter harus

tersenyum atau pasiennya akan lapor ke wartawan cuman gara-gara dokternya nggak tersenyum. Jadi, nggak pa-pa kan kalau saya kepingin high heels?

Lha waktu saya masih kerja dulu, saya pakai high heels tiap hari ke kantor. Dan sepanjang tahun itu, sudah dua pasang sepatu yang saya patahkan haknya waktu saya lagi visite pasien. Salah satu sepatunya, haknya patah sampek tiga kali. Saya sampek malu mondar-mandir ke toko sepatunya buat perbaikin hak itu, sepertinya ada yang nggak beres dengan kaki saya. Anehnya, mbak-mbak di toko sepatu itu nggak pernah ketawain saya saban kali saya mau reparasi hak itu, dan toko sepatunya juga nggak pernah narik biaya reparasi. Kayaknya mereka akan selalu menggratiskan reparasi sepatu saya sampek saya bosen.

Begitu saya masuk kuliah lagi, saya sudah pasang skenario bahwa saya harus siap mobile. Jadi saya selalu pakai sepatu ceper tiap hari, supaya gampang jalan dari ujung satu rumah sakit ke ujung satunya. Saya cuman pakai high heels kalau lagi kencan sama my hunk; 1) karena kepingin gaya, 2) karena my hunk kan jangkung, kesiyan dia kalau mau noleh ke saya kudu nunduk.. :p Eh, Eka Situmorang malah pernah bilang bahwa wedge itu nggak bisa dibilang high heels. Dan kalau saya nurutin mazhabnya Eka itu, berarti selama ini saya memang nggak pernah pakai high heels, tapi saya cuman pakai klompen..

Saya berangan-angan ya, mbok sekali-kali tampang (kaki) saya itu sama segernya seperti event organizer acara launching Lamborghini, yang bisa jalan ke sana kemari dengan pakai high heels. Sampek tadi pagi, nyokap saya bilang sama saya, pakai sepatu rendah pun sudah cantik, asal yang penting sepatunya dilap bersih dan nggak bocel-bocel. Lha orang mau secantik apapun kalaupun pakai sepatu high heels, tapi jika dia merasa nggak nyaman pakai sepatu itu, otomatis cantiknya langsung ilang. Dan mood-nya yang nggak nyaman itu keliatan langsung dari mukanya. (Makanya kalau kita liat orang yang mukanya jutek, sebaiknya kita bertanya-tanya, jangan-jangan di dalam sepatunya ada beling.)

Iya, hidup ini memang harus milih. Mau pakai high heels supaya cantik tapi merasa nggak nyaman, atau mau pakai sepatu ceper tapi punya mood senang sepanjang hari?

Sunday, April 3, 2011

Maju (Tidak) Seperti Dihukum

Kelas saya ketiban tugas menarik sekitar empat bulan lalu. Kami disuruh bikin menara dari sedotan plastik, lalu menara yang sudah jadi akan dipajang di depan kelas bersama menara dari mahasiswa-mahasiswa lain. Karena urusan desain menara ini adalah urusan kreativitas, maka hasil desainnya beda-beda. Ada yang menaranya tinggi tapi tampangnya jadi nggak artistik, sebaliknya ada yang menaranya “nyeni” banget tapi tingginya nggak melebihi dada saya. Setelah menara-menara itu jadi, menara-menara itu dijejer di lantai depan kelas dan hendak difoto. Sewaktu fotografernya mau motret, dosen saya menginterupsi, mengambil kursi, lalu memindahkan menara yang sangat pendek ke atas kursi itu. Tapi dosen saya yang lainnya nggak setuju, katanya lebih baik menara pendek itu tetap ditaruh di lantai, supaya nampak di foto bahwa memang ukuran desain mahasiswanya itu macam-macam. Padahal dosen saya yang pertama sengaja menaruh menara itu di atas kursi, soalnya supaya kelihatan semua di bingkai kamera fotografernya (karena kebetulan waktu itu, fotografernya nggak bisa ngambil gambar dari jarak jauh supaya seluruh menara-menara kelihatan bentuknya. Kalau nggak ada kursi itu, maka menara yang pendek nggak akan ketangkap kamera).

Kenapa saya angkat kisah ini? Coz di sini saya mau cerita tentang sesuatu yang disebut perbedaan sudut pandang.

Jadi ceritanya, di sekolah saya yang baru, kami para mahasiswanya hampir tiap minggu disuruh bikin makalah. Setiap minggu, dosennya minta ada mahasiswa yang mempresentasikan makalahnya di depan kelas. Ya yang namanya mahasiswa kan macem-macem; ada yang dengan senang hati mau maju presentasi karena berharap dapet nilai tambahan, dan ada juga yang juga nggak mau maju lantaran merasa karyanya nggak bagus-bagus amat. Saya akan cerita tentang golongan yang kedua.

Dosen saya kadang-kadang suka seenak mood-nya sendiri kalau nyuruh mahasiswa presentasi. Dos-q akan mengedarkan pandangannya keliling kelas, lalu tiba-tiba menunjuk seorang mahasiswa dan berkata, “Yak! Anda, silakan presentasikan makalah Anda di kelas.”

Yang ditunjuk, kalau dia nggak siap, kadang-kadang dia akan bertanya-tanya, “Why me? Why me? Kenapa gw yang disuruh maju?”

Kolega saya adalah salah satu golongan yang kayak gitu. Dos-q selalu sibuk bertanya-tanya kenapa si A yang ditembak dosen buat disuruh maju. Mungkin si A ketangkep basah ngantuk di kelas. Mungkin si A nampak lebih sibuk ngobrol sama temen sebelahnya. Mungkin si A ketahuan suka bolos kuliah, jadi si dosen berniat menegur supaya nggak bolos. Pokoknya intinya, kolega saya mengira, yang maju itu sebetulnya sedang dihukum oleh si dosen.

Saya malah punya macem-macem diagnosa mengenai mahasiswa yang ditembak itu. Menurut saya, si A disuruh maju coz tampangnya nampak siap nunjukin bahwa dia belajar. Mungkin juga si A itu cantik atau ganteng, jadi si dosen kepingin cari hiburan dengan liat yang seger-seger presentasi di depan. Mungkin dosen itu pernah nggak sengaja liat si A di perpustakaan, jadi si dosen mau tahu apakah hasil tongkrongan si A di perpus itu berguna atau cuman duduk-duduk doang. Atau yang paling simpel, si A nampak paling gonjreng di antara mahasiswa-mahasiswa lain coz dia pake baju kuning. (Riset psikologi menunjukkan, warna kuning adalah warna yang paling menarik perhatian di antara sekian banyak warna. Saya terkejut karena ternyata warna yang paling menonjol itu bukan merah). Yang jelas, pokoknya orang tuh maju disuruh presentasi bukan karena mau dihukum.

Inilah yang dimaksud dengan perbedaan sudut pandang. Orang yang optimis, saat dia ditembak, dia akan melihat tembakan itu sebagai momen buat nunjukin potensinya. Tapi orang yang penuh dengan pikiran negatif, saat dia ditembak, dia akan melihat tembakan itu sebagai hukuman.

Terus, apa hubungannya sama cerita menara sedotan? Ya sama aja, nampaknya sudut pandang dosen saya yang pertama dengan yang kedua juga berbeda. Dosen saya yang pertama memandang bahwa setiap menara kudu keliatan difoto, jadi dos-q berusaha supaya menara yang pendek ikut terjepret kamera dengan cara naikin menara itu ke kursi. Tapi dosen saya yang kedua lebih memilih membiarkan menara pendek itu tetap apa adanya alias nampak lebih pendek daripada menara-menara lainnya, coz dos-q nggak memedulikan pentingnya menara pendek itu untuk ikutan difoto.

Sudut pandang kita pasti beda dengan sudut pandang orang lain. Sekarang problemnya, mau nggak kita sekali-kali keluar dari sudut pandang kita dan belajar untuk melihat dari sudut pandang orang lain? Orang yang pesimis, mungkin kadang-kadang perlu belajar sudut pandang orang optimis, supaya jidatnya nggak tambah keriput lantaran kerjaannya mengeluh melulu. Dan mungkin orang yang optimis, perlu belajar juga memandang dari sudut pandang orang pesimis. Supaya bisa bersyukur bahwa selama ini sudah dikaruniai pribadi yang optimis. Karena, otak yang dijejali pikiran negatif itu, sama sekali nggak enak..

Tuesday, March 29, 2011

Saya Bukan Satu-satunya

Mungkin lantaran zodiak saya Gemini, saya ini orangnya bosenan. Akibatnya, saya nggak suka berada di dalam situasi yang monoton terus-menerus.

Dampaknya, di kelas saya sering banget kehilangan konsentrasi. Saya nggak bisa duduk manis dengerin dosen saya ceramah, saya selalu cenderung skeptis terhadap apa yang dia katakan, saya gatel untuk lihat textbook demi memeriksa apakah apa yang disebutkan oleh dosen saya itu tidak ketinggalan jaman. Tentu saja, itu susah, coz saya harus nunggu dua jam sampek kuliahnya selesai untuk bisa bertanya atau sekedar cross-check, dan saya nggak sabar. Nggak heran, saya cuman tahan denger dosen ngoceh selama 10 menit pertama, lalu saya ambil HP saya dan mulai ngetwit.

Beberapa hari lalu, saya ikut kuliah. Isi kuliahnya adalah seminar, di mana empat orang kolega saya maju presentasi, dan dosen saya duduk nyaman di bangku mahasiswa menonton mereka presentasi. Eh, menonton? Nope. Dosen saya buka laptopnya, lalu menatap sesuatu di layar. Saya iseng ngintip. Ya oloh. Dosen saya lagi ngaji.

Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang kehilangan konsentrasi di kelas. Dosen saya ternyata juga demikian.

Setidaknya, kami berdua sama-sama punya kesamaan. Kami nggak tahan mendengar orang lain bicara tanpa interupsi terlalu lama, hihihi. Tapi itu memberi saya harapan baru. Siapa tahu, karena saya punya kesamaan dengan dosen saya, suatu hari nanti saya bisa jadi dosen juga. Hahaha!
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Monday, March 7, 2011

My Funny Fan and Me

Sewaktu saya pindah ke Surabaya, saya memutuskan bahwa salah satu barang yang harus saya beli pertama-tama adalah kipas angin. Maka saya pergi ke tengah kota buat beli kipas angin besar, lalu saya coba rakit sendiri sambil liat manual book. Padahal boro-boro merakit kipas angin sendiri, pakai kipas angin aja saya nggak pernah.

Tiga bulan berlalu dan saya betul-betul sibuk. Kipas angin saya mulai berdebu sampek-sampek saya nggak sempat ngelapnya, padahal nyokap wanti-wanti bahwa saya harus rajin bersihin kipas itu. Sampek minggu lalu, adek saya bilang bahwa dia mau dateng ke Surabaya, dan saya mulai panik coz kamar saya nggak bersih-bersih amat. Saya nggak mau bikin adek saya tersinggung karena adek saya akan tamu-tamuan di kamar yang kotor, jadi saya pun bergerak mau bersihin kipas angin.


Ternyata bersihin kipas angin nggak segampang yang saya kira. Saya harus nyopot covernya dulu, baru baling-balingnya bisa saya ambil buat saya bersihin. Setelah baling-balingnya dilap, mesti saya pasang lagi kan? Dan saya mulai bingung, coz berarti saya mesti rakit dari awal. Saya lupa cara merakitnya. Saya lupa di mana naruh manual book-nya.

Saya kepikiran mau minta my hunk datang masangin kipas angin saya, tapi itu sulit coz di gedung apartemen saya, laki-laki nggak boleh masuk. Lagian cuma sekali ini saya harus bersihin kipas angin saya, konyol betul saya harus minta my hunk datang tiga bulan sekali cuma buat bersihkan kipas angin. Akhirnya saya mutusin belajar merakit sendiri sambil nebak-nebak di mana saya harus nyekrup covernya.


Lhaa..saya nggak biasa ngerjain kerjaan tukang. Tangan saya nggak biasa megang obeng.
Dan sekarang saya harus nyekrup cover kipas angin, atau kalau saya males nutup cover-nya, berarti saya akan biarkan tuh kipas nyala dengan risiko baling-baling bisa menyambar apapun yang berada terlalu dekat. Lagian nanti saya diketawain kalau adek saya dateng nanti. Mosok udah gede, tapi nutup cover kipas angin aja nggak bisa?


Dan tau nggak, saya nggak bisa nyambungin cover dengan punggung kipas itu. Saya bingung kenapa saya udah nyekrup tapi cover dan punggung yang dipasangin sendi plastiknya nggak mau nyambung juga. Sore sudah mau berlalu, adzan sudah berkumandang, tapi cover bego itu nggak mau nyambung-nyambung. Saya penasaran, dan saya kesal.


Saya putusin, saya sembahyang dulu. Takut Maghrib-nya lewat dan saya diketawain malaikat gara-gara saya telat absen masuk surga. Selesai sholat, baru saya kepikiran sesuatu. “Bukan punggungnya ditempelin sendi plastik, lalu covernya tinggal nyambung. Tapi cover-nya dulu ditempelin sendi plastik, baru ditutupkan ke punggungnya.”
Saya mencoba itu, dan..voila. Kipas angin itu mau ditutupin cover-nya juga. Ya ampun. Padahal saya udah dua jam berusaha nutupin cover itu.

Apakah itu menyelesaikan persoalan? Nope. Karena malam itu saya berusaha tidur, tapi anehnya hawa begitu panas. Padahal kipas angin nyala dengan volume paling besar.
Kok aneh sih? Mosok kipas anginnya jadi nggak bikin dingin setelah debunya dibersihkan?


Tiga malam saya berada di kamar dan kepanasan. Kipas berputar kencang, tapi saya nggak merasa dingin. Kepala saya sebal,saya lagi banyak masalah, dan saya gusar dengan hawa padahal saya sudah berusaha maksimal bikin kamar saya nyaman.


Sampek semalam, sebelum tidur, saya diam dan menatap kipas itu tajam. Saya dadah-dadah di depan kipas yang berputar kencang itu, dan tangan saya nggak terasa dingin. Saya mengerutkan kening, lalu dadah-dadah di belakang kipas. Eh..lho..kok tangan saya agak dingin sedikit ya?


Saya matikan kipas itu, lalu saya copot lagi sekrupnya cover dengan susah-payah. (iya! Pekerjaan gila itu.) Lalu saya lepas baling-balingnya, kemudian..saya balikkan. Saya sambungkan ke listrik, lalu saya nyalakan kipas itu. Serta-merta angin menghajar muka saya tanpa ampun!
Masya Allah. Dasar anak perempuan nggak pernah merawat kipas angin!


Everybody knows, it hurts to grow up. Kamu biasa tinggal di hawa dingin, sekarang harus di hawa panas dan punya kipas angin. Kamu harus copot sekrup kipas anginnya buat bersihin kipasnya, padahal megang obeng aja kamu nggak becus. Siapa bilang jadi dewasa itu gampang?


Saya tidur semalam. Dengan baling-baling kipas angin yang kencang nggak berdebu. Kamar saya dingin, padahal Surabaya sumuk banget. Dan sekarang, saya rasa, saya masuk angin. :D

Tuesday, February 22, 2011

Istrinya Teman

"Vicky, gw mau kawin," ucap seorang teman pada saya tahun lalu, dalam sebuah pesan yang dia kirimkan di Facebook.

Saya balas, "Hm? Lu mau kawin? Siapa cewek yang sial dapet lu itu, Lin?"

Colin, 28, bukan nama sebenarnya, temen saya itu, ngegaplok saya di Facebook. (Eh, gimana ya caranya ngegaplok di Facebook ya? Yang pasti bukan pakai "poke" :p) "Siyalan lu, Vic! Udah ah, pokoke dateng ya! Ntar gw kirimin undangannya ke rumah elu! Rumah elu masih di tempat yang dulu kan?"

Singkat cerita, memang bener Colin kirim undangannya ke rumah saya. Undangan cetak lho, bukan undangan basa-basi pakai SMS apalagi undangan massal via Facebook. Saya ketawa geli. Jujur aja, kalau Colin nggak pasang fotonya di Facebook, mungkin saya udah lupa tampangnya Colin. Lha terakhir kali saya ketemu Colin adalah 10 tahun lalu, bo'..

Oiya, nyokapnya Colin sampek bela-belain nelfon nyokap saya demi minta nyokap saya dateng. Sudahkah saya ceritakan bahwa saya dan Colin sudah temenan semenjak SD? Nggak heran nyokap-nyokap kami sama-sama tahu kami berdua semenjak ingusan. (Eh, saya udah nggak ingusan lho waktu kecil..)

Jadi pergilah saya dan nyokap ke kondangannya itu, suatu malam di bulan Desember. Tamunya banyak sekali, dan pestanya super duper meriah. Tapi ketika saya dan nyokap naik ke podium buat nyalamin penganten, mempelai prianya kontan teriak, "VICKY!"

Saya nyengir, dan seketika saya ngulurin tangan, dan mendadak memeluk Colin lalu mencium kedua pipinya. Ya know, sungguh menyenangkan lihat teman kecil saya, yang terakhir kali ketemu saya 10 tahun lalu, dan sekarang mengundang saya ke pernikahannya, dan tetap mengenali saya biarpun tampang saya kan mestinya udah berubah dalam 10 tahun.

Lalu saya menyalami istrinya Colin yang baru itu. Sudah, saya turun dari pelaminan.

Baru seminggu kemudian, nyokap saya negor saya, "Koen waktu itu nyium Colin kan?"

"Uhh, yeah," mendadak saya agak malu. Sebentar lagi saya pasti akan ditegor karena nyium pria yang bukan sodara saya.

Tapi ternyata saya salah. "Mestinya kalo koen nyium Colin, koen juga mesti nyium istrinya sekalian."

Saya terkejut. "Eh..tapi kan aku nggak kenal bininya itu? Kenapa aku harus cium orang yang nggak pernah aku kenal?" Colin memang nggak pernah memperkenalkan pacarnya kepada saya.

"Ya," kata nyokap saya. "Tapi memang begitu sopan-santunnya. Kalau kita memang bersikap akrab sama suaminya, sebaiknya kita juga bersikap sama kepada istrinya."

Saya terdiam. Saya nggak ngerti apa yang dimaksud nyokap saya itu. Buat saya, urusan "teman" itu saklek. Saya bisa mendefinisikan persis mana itu teman, mana yang bukan teman. Dan itu membedakan kadar kesokakraban saya kepada orang. Contohnya ya urusan cium-mencium itu.

***

Sampek akhir-akhir ini, saya dengerin curhat seorang teman pria. Dia mengeluh, bagaimana istrinya protes lantaran temen saya jarang ada di rumah. Kami kan dokter, ya praktis waktu kami lebih banyak untuk urusan rumah sakit ketimbang urusan keluarga. Saya bilang, mungkin si Ibu mengeluh karena dia tidak bisa membayangkan sesibuk apa suaminya di rumah sakit. Mestinya si Ibu sekali-kali dibawa ke rumah sakit supaya dia tahu apa yang dikerjakan si Bapak.

Ternyata itu jadi kendala. Kata teman saya, istrinya belum bisa beradaptasi dengan urusan kantor kami. Penyebabnya, yah..mungkin, karena istrinya belum kenal dengan teman-teman suaminya.

Perlahan-lahan, saya mulai ngerti apa yang dibilang nyokap saya beberapa bulan lalu itu. Laki-laki kadang-kadang punya peran ganda, dia harus jadi kuli di kantor, dia harus jadi kekasih untuk istri (atau mungkin pacarnya). Kadang-kadang harus ada yang dikorbankan, dan seringkali yang dikorbankan adalah peran yang nomer dua. Nggak heran banyak para istri yang cemburu. Termasuk juga, mungkin benar tindakan saya yang kegirangan ketemu Colin yang sudah lama nggak ketemu saya itu sehingga mencium Colin, membuat istri Colin cemburu. Apalagi kan saya melakukannya di pelaminan mereka, hihihi..

Saya rasa, kita semua memang mesti belajar jaga perasaan para kekasih dari teman-teman kita, termasuk juga ngertiin kelakuan para teman dari kekasih kita. Hendaknya kalau teman kita punya istri atau pacar, ya kita mesti kenal sama para WAGs itu. Dan kalau kekasih kita punya teman, mestinya kita kenal teman-temannya juga supaya kita tahu kekasih kita itu gaulnya sama siapa aja. Dan akhirnya saya harap, kekasih saya mau bijaksana ngenalin saya ke teman-temannya.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Sunday, February 20, 2011

Seharusnya Gw..

Seharusnya gw..
1. Cari literatur Filsafat Ilmu.
2. Cari jurnal buat kuliah Evidence Based Medicine.
3. Perbaiki PR Garis-garis Bahan Pengajaran.
4. Bikin PR Perpustakaan.
5. Telaah buku Abbas Immunology.
6. Pelajari soal-soal UTS Metode Belajar Mengajar.
7. Coret-coret buku Imunologi-nya Subowo.
8. Pindahkan foto-foto jepretan bahan kuliah ke laptop.
9. Setrika baju.
10. Ambil cucian di binatu.
11. Merancang wadah besek buat naruh bawang.
12. Betulin korden yang mau copot.
13. Ngelap kipas angin.
14. Perbaikin lensanya Ixus yang rusak.
15. Browsing tempat servis tas buat jahit tas.
16. Jahit ritsleting wadah lotion.
17. Browsing tempat jualan Tupperware.
18. Cari tempat luluran yang ladies only dan tukang pijetnya sopan.

Apalagi ya?

Oh ya.. 19. UPDATE BLOG !

Dan sekarang gw kehilangan selera buat ngapa-ngapain. :((
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Tuesday, February 8, 2011

Plesternya Harus Dibayar..

Ini plester. Warnanya putih, bentuknya modis.

Kesambet apa saya kok sampek iseng nulis plester di sini? Yaa sebagai pengetahuan aja buat para jemaah blog semua. Teman-teman umumnya punya sediaan plester di rumah ya yang standar aja, warnanya cokelat, lebarnya kecil, semacem selotip gitulah. Sekarang banyak dijual plester-plester yang bergambar lucu-lucu, mulai dari gambar dinosaurus sampek gambar benderanya Kompeni. Biasa dipake orang buat nutupin luka setelah sebelumnya diobatin obat merah.

Plester kecil-kecil itu ternyata bisa bikin penderitanya mengeluh panjang pendek. Beberapa orang ternyata ada yang alergi terhadap bahan plester. Akibatnya banyak yang mengeluh lukanya terasa gatel-gatel setelah dibekap plester. Nggak heran, banyak pasien minta lukanya dibedaki dulu sebelum diplester.
Keluhan lainnya adalah terasa nyeri ketika plesternya dicopot. Bayangin plesternya dicabut..kraak! kulit yang terluka terasa perih bukan main seperti baru waxing.

Itulah kenapa saya nampilin gambar plester ini. Plester putih yang saya tampilin ini, nggak bikin alergi. Dan ngelepasinnya pun cukup dilumurin air atau alkohol dulu, dan dia akan copot sendiri. Malah nggak usah cairan atau pun langsung dicopot pun juga nggak akan seperih plester standar.
Plester ini banyak dipakai pada pasien-pasien yang baru mengalami operasi atau baru dijahit. Maka dijualnya terbatas, dan jarang banget dijual di supermarket pasaran.

Masalahnya sekarang, tidak semua orang bisa pakai plester modis ini. Contohnya, pasien miskin yang dirawat di rumah sakit dengan asuransi pemerintah. Asuransi pemerintah sudah menanggung hampir semua alat perawatan untuk pasien, tapi hanya dalam batas-batas tertentu. Item kecil seperti plester misalnya, ditanggung pemerintah hanya berupa plester cokelat yang kadang-kadang bikin gatel itu. Nggak heran, kadang-kadang pasien miskin mengeluh plesternya nggak nyaman, dan ujung-ujungnya bikin dos-q jadi stres sendiri.

Beberapa pasien yang merasa terganggu oleh plester ecek-ecek ini, menyerah dan minta plester putih. Konsekuensinya, mereka rela mbayar sendiri coz plester putih kan nggak ditanggung asuransi pemerintah. Ya nggak pa-pa sih, kalau mereka kepingin nyaman dan rela mbayar, kenapa tidak? Harganya sih relatif terjangkau, masih lebih mahal harga rokok lima bungkus. (Kenapa saya nyantumin rokok sebagai pembanding harga? Soalnya orang miskin itu, lebih stres kalau nggak bisa beli rokok daripada beli nasi).

Siyalnya, isu mengenai "hal-hal yang tidak ditanggung Pemerintah" ini seringkali nggak diketahui orang awam yang nggak ngerti masalah sesungguhnya. Coz sudah diplot dari sononya, orang-orang yang dirawat dengan asuransi Pemerintah, baik itu pakai kartu Gakin atau Jamkesmas, dijanjikan bahwa kalau dirawat di rumah sakit, nggak perlu bayar apapun. Akibatnya, ketika pasien miskin diketahui disuruh bayar karena minta plester putih yang tidak bikin gatel dan tidak perih ketika dicopot, hal ini dipolitisir dengan lebay, seolah-olah rumah sakit memalak kantongnya pasien itu.

Ini memang dilema. Di sisi pasien miskin, kalau dia pakai plester ecek-ecek, dia dapet gratis, tapi mungkin alergi. Tapi kalau dia pakai plester putih, dia memang lebih nyaman, tapi harus bayar.
Buat rumah sakit, kalau dia kasih plester putih, dia mungkin akan ditanyain LSM atau wartawan lebay kenapa dia "morotin" pasien miskin yang katanya mestinya nggak usah mbayar. Tapi kalau dia biarkan pasiennya pakai plester standar yang bikin alergi, mosok dia tega sih membiarkan pasiennya gatel-gatel?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Friday, January 28, 2011

Tutup pada Siang Bolong?

Saya sibuk, tau nggak. Waktu saya nggak banyak. Jadi kalau saya sampek bisa menyempatkan diri buat dateng ke sini, itu sudah untung. Tapi kenapa sampeyan tutup pada jam 12 siang? Kan sampeyan ini tempat pelayanan umum, ya mesti buka jam kerja dong. Iya, saya tahu sampeyan kepingin ma'em siang, tapi ya mosok satu kantor pegawainya ma'em siang semua pada jam yang sama? Kan bisa 2-3 orang ma'em, sisa yang lain-lainnya jaga gawang. Nanti ma'emnya kan bisa gantian? Itu namanya efisiensi waktu.

Kalau kayak gini, gimana nasib orang-orang yang waktunya sedikit kayak saya? Yang cuman punya waktu luang jam 12 dan jam 1 siang harus sudah kerja lagi? Saya jadi nggak bisa terlayani dong? Memangnya jadwal saya hari ini cuman nyamperin sampeyan thok? Saya hari ini banyak banget kerjaan, tauk.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Tuesday, January 18, 2011

Ada Apa dengan Menyilangkan Kaki?

Suatu hari kolega saya ujian lisan dengan dosennya. Mereka duduk berhadapan, dan di antara mereka ada meja tulisnya si dosen.
Sebelum ujian lisan mulai, dosennya tiba-tiba bilang, "Tolong turunkan kakimu. Tidak sopan."

Kolega saya kaget, lalu buru-buru nurunin kakinya. (Dia memang tadinya duduk dengan sebelah kaki disilang di atas kaki satunya.) Dia kaget, soalnya kan di antara mereka tuh ada meja tulis yang cukup tinggi, tapi kok dosennya tahu ya dia duduk nyilangin kaki?

Tapi saya yang diceritain itu, lebih heran lagi. Lho, memangnya duduk nyilangin sebelah kaki itu nggak sopan ya?

Hari ini, saya dapet kuliah berjudul Perilaku Sakit. Dosen saya menerangkan di mimbar hari ini, bahwa sebaiknya kalau dokter lagi menghadapi pasien di klinik, ada beberapa sikap tubuh yang harus dihindari:
1. Jangan duduk sambil nyender ke kursi, apalagi sambil kaki selonjoran.
2. Jangan ngomong sama pasien, sementara tangan kita malah sibuk mbetulin kancing baju kita.
3. Jangan melipat tangan di depan dada.

Semua sikap di atas seolah nunjukin kita nggak memperhatikan orang (pasien) yang lagi kita ajak ngomong. Saya ngerti itu. Tapi ada butir berikutnya lagi yang saya bingung.

4. Jangan mengangkat sebelah kaki. Kesannya meremehkan.

Eh, iya gitu?

Gimana, Sodara-sodara Jemaah? Apakah menurut Anda, duduk sambil menyilangkan sebelah kaki itu nggak sopan?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Saturday, January 1, 2011

Membagi Bahagia

Ada dua hal yang paling hype pada waktu Tahun Baru, yaitu kembang api dan terompet. Dan saya nggak suka dua-duanya. Kembang api memang bagus, tapi suara ledakannya bisa bikin telinga rusak. Terompet juga nggak saya sukai, dan alasan kenapa saya nggak seneng terompet pernah saya tulis di sini.

Jadi beberapa hari lalu, saya dimintain tolong kolega yang mau bikin acara tahun baru. Mereka minta bala bantuan saya buat nyediain kipas angin dan terompet.

Saya bisa minjemin kipas angin, tapi saya nggak ngerti gimana mereka mau minta disediain terompet. Kok sudah umur gede gini masih mau niup terompet, bukankah terompet itu mainan anak-anak?

Tapi kolega itu minta tolong saya dan saya akhirnya mau bantuin. Persoalannya sekarang, saya mau beli terompetnya gimana? Saya dimintain buat beli terompet 10 biji, tapi anggarannya terbatas.

Sambil bingung, saya pun jalan-jalan di pasar deket apartemen saya. Eyalaa..di tengah pasar saya lihat ada bapak-bapak jualan terompet. Bentuknya lurus, warnanya emas mencrang bin gonjreng. Setelah tawar-menawar, akhirnya saya mutusin beli terompetnya bapak-bapak itu, 10 biji.

Saya bukannya nggak malu bawa pulang terompet-terompet itu. 10 biji, bo! Dan saya pun bawa terompet-terompet itu sambil jalan kaki ke apartemen saya. Dasar yang saya lewatin kan pasar, sepanjang saya jalan, ada aja orang neriak-neriakin saya dalam bahasa Jawa.
"Owalah, Mbaak, ndak kurang banyak tho Mbak, terompetnyaa?"
"Haa..Mbaknya ayu-ayu mau tahun baruan di manaa?"
"Terompet, terompet, terompeeet!"

Ya ampun, untung pembawaan saya rada gaya dikit. Kalau enggak, saya serasa dikira pedagang terompet deeh.. :p

Kemaren, saya sodorin ke kolega saya, kipas angin dan terompet-terompet itu. Kolega saya pesen, nanti kalau pestanya udah selesai, saya boleh ambil barang-barang yang saya pinjemin.

Maka, semalem, saya merayakan tahun baruan bareng geng sambil lihat kembang api di Surabaya. Nggak ada yang istimewa sih, buat saya Tahun Baru itu ya biasa-biasa aja, tapi saya cuman seneng jalan-jalan sama temen aja.

Lalu datenglah pesen dari kolega saya. Katanya, pestanya sudah selesai. Maka saya dan teman pun cabut ke rumah sakit tempat pesta tahun baru itu kelar digelar.

Ketika saya masuk ke rumah sakit, saya menjumpai pemandangan yang jarang banget saya lihat di siang hari. Koridor-koridor rumah sakit penuh dengan keluarga-keluarga penunggu pasien yang diopname di situ. Keluarga-keluarga itu tidur di koridor, dengan beralaskan tikar, lengkap dengan berbekal selimut dan termos air panas. Perawat kan nggak ngijinin pasien opname ditungguin keluarganya banyak-banyak di kamarnya, jadi sisa keluarga yang rumahnya terlalu jauh pun berkemah di koridor rumah sakit.

Nampaknya saya berjalan di koridor itu bikin mereka terbangun, coz saya merasa beberapa pasang mata melirik saya ketika saya jalan ke blok rumah sakit tempat kolega saya menunggu saya.

Ternyata kolega saya nggak cuman balikin kipas angin saya. Tapi terompetnya juga ikutan dibalikin! Nggak ke-10-nya sih, cuman tinggal empat biji, tapi saya nyaris ketawa dalam hati. Halah, siapa juga sih yang mau pakai lagi tuh terompet, toh saya dan teman nggak seneng niup terompet kan?

Saya ngambil kipas angin, sedangkan teman saya ngambil terompet-terompetnya. Teman saya buru-buru jalan duluan via koridor itu, sementara saya jalan di belakangnya. Lalu saya dengar ada keluarga pasien yang lagi tiduran di koridor itu sembari ngeliatin kami jalan, tahu-tahu ngomong, "Whoaa..terompetnya!" Memang dasar tuh terompet warnanya gonjreng abis, jadi menarik perhatian.

Tapi mendadak saya terpikir sesuatu. Saya berhenti, dan menoleh ke bapak yang barusan berkomentar itu. "Pak? Bapak mau terompet?"

Si Bapak terhenyak. "Ada, Mbak?" Saya mendengar nada terkejut di suaranya, sekaligus pengharapan.

Saya mengernyit. "Bapak mau terompet?" Saya nanya lagi.

Si Bapak: "Ada?"

"Tunggu sebentar," kata saya. Lalu saya lari dan nyusul teman saya.

Beberapa saat kemudian, saya balik ke koridor itu sambil bawa keempat terompet itu. Ternyata si bapak (dan istrinya!) sudah bangun dari tikarnya menyusul saya..

"Ini, Pak, buat Bapak aja semuanya!" kata saya menyodorkan terompet-terompet dari kertas emas itu.

Saya nggak menduga, suami-istri penunggu pasien itu nampak berseri-seri. "Terima kasih, Mbak! Suwun!"

"Selamat tahun baru, Pak! Selamat tahun baru, Bu!" saya melambaikan tangan, dan buru-buru minggat menyusul teman saya.

"Selamat tahun baru, Mbak!" saya dengar mereka teriak di belakang punggung saya.

***

Kadang-kadang saya lupa, betapa hal-hal kecil bisa bikin orang lain senang. Buat saya, terompet kertas mungkin nggak ada artinya. Tapi mungkin buat orang lain, barangkali terompet itu hiburan yang sangat membahagiakan, apalagi buat orang yang cuman bisa menunggui keluarganya yang lagi diopname dengan cara tidur di koridor rumah sakit. Entah mau diapakan terompet-terompet itu oleh suami-istri itu, mungkin mau mereka kasih sebagai hadiah kejutan buat anak mereka yang bangun besok paginya. Atau mungkin mau mereka tiup-tiup sebagai tanda eforia menyambut tahun baru. Terompet yang selama ini saya sepelekan, ternyata adalah benda sederhana yang bisa bikin orang lain senang setengah mati.

Ya Tuhan, mudah-mudahan meniup terompet itu nggak bikin mereka ditangkep satpam rumah sakit. Kalau sampek suara terompet itu mengganggu pasien yang lagi dirawat, bisa repot mereka nanti..

Gambarnya diambil dari http://koranbaran.wordpress.com

http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com