Thursday, February 14, 2013
Perlindungan Sedotan
Pemilik restoran yang satu ini enggak. Nampaknya dia tahu kalau salah satu unsur yang bisa bikin konsumen nggak mau balik lagi ke restoran dia adalah kalau alat makannya nggak bersih. Jadi dia pasang tisu di mulut sedotan-sedotannya.
Sanitatif dan estetik.
Lokasi: Piring Suroboyo, Central Point, Ngagel, Surabaya.
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Thursday, February 7, 2013
Memaksa Ibu Merawat Bayi
Saya menghabiskan waktu sepanjang hari ini untuk mendengar keluhan bidan. Ceritanya, bidan di kamar nifas tempat saya bersekolah, sekarang punya tugas baru, yaitu ngajarin ibu-ibu yang baru melahirkan untuk mandiin bayinya sendiri. Tujuannya, supaya kalau ibunya sudah pulang dari rumah sakit, ibu bisa mandiin anaknya di rumah.
Persoalannya, ternyata nggak semua ibu yang melahirkan itu senang dan antusias. Mereka yang masih merasa letoy cenderung males bangun, males pipis, dan pada akhirnya males megang bayi yang baru dia lahirkan sendiri. Megangnya aja males, apalagi mandiin. Akibatnya mereka minta bidan yang mandiin. Bidan jadi resah karena pasien kan jadi nggak mau mandiri.
Ibu-ibu yang baru melahirkan pertama kali ternyata juga banyak yang penakut. Takut menjatuhkan bayinya yang licin waktu dimandiin.
Di saat e-mail saya mulai dibanjiri keluhan sana-sini dari ibu-ibu muda yang mengeluh sering dipaksa pakai susu kaleng untuk bayinya yang baru lahir, saya terenyuh karena ternyata masih banyak ibu yang menolak mandiin anaknya sendiri dan minta orang lain yang mandiin. Apa kendalanya sampek mereka takut ngejatuhin bayinya sendiri? Apakah mereka menyangka vagina mereka begitu rapuh sesudah melahirkan sehingga takut jahitannya buyar kalau mereka bangun sedikit aja? Padahal kata Pak Guru saya, otot kemaluan itu ajaib, biarpun jahitannya miring-miring pun tetap aja hasilnya nyambung. Jarang banget kejadian jaitannya buyar. Membuat saya masih percaya bahwa Allah memang Maha Pencipta, apalagi dalam urusan menciptakan otot selangkangan.
Mungkin karena ini rumah sakit buat orang-orang miskin ya. Sewaktu masih hamil, rata-rata mereka memeriksakan kehamilannya ke bidan atau Puskesmas dengan tarif murah-meriah, mungkin di fasilitas itu nggak dapet kursus Lamaze atau kursus merawat bayi sehingga mereka nggak termotivasi untuk mandiin anaknya sendiri sesegera mungkin. Tapi ide mengaitkan rendahnya motivasi dengan masalah ekonomi itu terlalu naif, memangnya yang males mandiin anaknya cuman ibu miskin doang?
Selama ini saya selalu punya mantra rutin yang saya ucapkan kepada setiap pasien yang baru saya tolong persalinannya: "Bu, nanti anaknya disusuin pake ASI ya. Tidak pake susu kaleng ya."
Mosok saya harus nambahin mantranya: "Bu, nanti anaknya dimandiin sendiri yaa?"
Ada yang punya usulan mantra tambahan? Heheheheh..
Ibu memang seharusnya mandiin bayinya sendiri kan? Nggak perlu sampek dipaksa segala kan?
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Wednesday, January 30, 2013
Cukup Satu Kali Aja!
![]() |
| Adegan lempar-lemparan pisang sanggan. Nanti kalo Jukut Photography sudah kasih saya foto dari angle depannya, saya ganti nih foto di blog ini. |
Menikah itu sungguh melelahkan dan bikin lapar! Saya kan didandanin dari subuh, dengan dempul sekilo di muka di bawah pendelikan nyokap ("awas, jangan beyayakan!" Beyayakan = pecicilan-Red) yang ngeri kalo make-up saya ancur lantaran saya kesulitan duduk diam. Alhasil pas acara adegan suap-suapan antar penganten, saya nyuapin Fahmi dan Fahmi nyuapin saya, saya makan dengan kalap, sampek MC-nya ngomentarin "Pengantinnya betul-betul kelaparan, Bapak-Ibu.." Gitu Fahmi ya medit, mosok dia ngambilin saya nasi di piring itu cuman dikit, mana mau saya disuapin nasi sauprit gitu? Ya jelas saya minta disuapin yang banyak laah..!
Jujur aja, saya nggak bisa mengenali semua tamu yang datang. Soalnya Puri Kanti masangin bulu mata palsu setebel-tebel ulet bulu! Bulu atas dan bulu bawah! Whoaa..impian saya nggak mau nampak manglingi langsung pupus! *nangis darah* Coba bayangin, Sodara-sodara, bulu mata palsu itu lebih tebel ketimbang bulu kakinya Fahmi! Saya mau ngeliat tamu yang dateng jadi kayak ngeliat gorden. Kalo ada tamu dateng, saya cuman bilang "Makasih..makasih.." sembari nyengir nggak jelas tapi dengan staring ke tamunya karena berusaha mengenali tamunya. Belakangan, baru tadi akhirnya Willy Wijaya, kolega saya yang sempat datang ke acara, ngeledek gini, "Pantesan leher lu tampak ekstensi terus2an...ampir gw kira awalnya lu kifosis servikal.."
Foto-foto prewedding itu betul-betul membantu meyakinkan tamu bahwa mereka nggak salah masuk gedung. Sehubungan tampang saya sepanjang resepsi nggak ada bedanya dari Syahrini ditumpuk dengan Ashanti sekaligus (saking beratnya dempul di muka saya), tamu masih bisa mengenali bahwa pengantennya itu memang saya karena mereka lihat foto-foto prewed kami di sepanjang akses masuk. Wah, untung banget foto prewed-nya pakai tampang saya yang aseli! Makasih lho buat +angki ainur rifqi, +Aziz Hadi, +Heidy Marcellita, +Erditya I. Wirasta, dan Om Tato Andrianto yang udah jadi fotografernya.. (Foto-foto prewed kami ada di sini lho ya..)
![]() |
| Sohib-sohib yang dateng dari Jakarta, Semarang, dan Demak! Kiri ke kanan: Dian Tjahaju, Zamroni, Latree, Didut, Ulfah, Ihsan. Ini foto siapa yang motret ya? |
![]() |
| Dahlia foto-fotoan di deket mobil penganten. Untung cuman sekali. Kalo sampek dia melakukan ini lima kali aja, Dahlia mau saya tarikin premi.. |
![]() |
| Saya n Fahmi masuk ke ruang resepsi. Pemain biola yang di depan kami itu Nia. Foto dibikin oleh Om +Hari Dwijayanto |
Adegan lempar buket itu betul-betul sinting. Padahal saya udah mengundang temen-temen saya yang masih jomblo supaya mereka dapet peluang buat nangkep buketnya. Saya udah melakukan prosedur standarnya, ngelempar buketnya ke belakang punggung saya. Entah kenapa, ternyata yang nangkep buketnya malah... adek saya sendiri!!
Akhirnya piala bergilir jatuh ke tangan saya, hahahah! Ini piala dibikin di antara teman-teman kuliah saya yang dikasih secara bergiliran ke teman-teman yang menikah. Sudah delapan tahun tradisi ini berjalan, dan sekarang giliran saya yang pegang pialanya. Makasih buat Merlin yang udah bawain piala ini dari Vita, sekarang nih piala didekap dulu sama saya sampek tiba waktunya dikasihin ke Yunbo.. ^^ (Ini Yunbo kapan mau married-nya yah?)
![]() |
| Kalo kayak gini lumayanlah, saya jadi nggak keliatan "tanduk"-nya, hihihi.. Foto dijepret oleh Aly Diana |
(Catetan penting: waktu acara siraman saya di rumah, Mrs Tony turun sendiri ke dapur rumah saya buat jadi mandor katering. Ckckck..rendah hati sekali orangnya, saya nggak ngira lho kalau beliau itu istrinya perwira..)
Makasih buat semua tamu yang udah jauh-jauh datang, naik pesawat, ngecap paspor, booking hotel dan entah apa lagi, hanya untuk berdoa dan ikut bahagia bersama Vicky dan Fahmi. Semoga Tuhan memberkahi tamu-tamu semua dan melimpahkan kesehatan dan rejeki yang banyak. Sekarang saya punya hidup baru dan saya mengakui, punya suami ternyata lebih enak ketimbang jadi lajang, hihihi..
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Saturday, January 26, 2013
Setelah Pesta Siraman
Tentu saja pada akhirnya keinginan itu adalah hil nan mustahal. Alasannya, kawin lari itu capek, tau. Sepatu pengantennya aja udah cukup bikin pegel, apalagi kalau dibawa lari-lari. Lagian di mana-mana juga kawin itu enaknya ya sambil tiduran, bukan sambil lari-lari!
Tidak, bukan itu. My hunk bilang orangtuanya itu sesepuh di kantornya, jadi nggak mungkin kalau anak mereka kawin lari, membuat saya terpaksa mencoret rencana itu jauh-jauh.
Lalu saya ngalah. Oke, terserah kalau orang tua kami mau bikin resepsi dan ngundang orang banyak-banyak dan menjadikan saya dan my hunk sebagai boneka pajangan. Tapi, daripada saya ngitung berapa tangan tamu yang salaman sama saya dan tidak saya kenali, lebih baik saya ngitung berapa tangan yang saya kenali, dan makin banyak jumlahnya maka saya akan makin puas.
Dan percayalah, saya lebih merasa aman kalau berada di tengah sepupu-sepupu saya. Buat saya, nggak peduli berapa tamu yang datang memenuhi undangan orang tua saya, yang penting sepupu-sepupu saya datang. Jadi saya bergerak menelusuri semua phonebook saya, di HP, di Twitter, di Facebook, saya kirimin message ke mereka satu per satu. Saya nggak pakai fasilitas Send To All, jelas. Saya betul-betul nulis nama mereka di setiap e-mail, saya tuliskan bahwa saya mau resepsi hari X jam segini, saya mau disiram hari Y jam segitu, dan saya tegaskan bahwa saya mau mereka hadir. Saya sebut nama-nama istri/suami mereka dan saya bilang saya ingin spouse mereka itu datang juga. Lalu karena sebagian sepupu saya masih kecil, dan untuk datang ke resepsi masih numpang mobil orangtuanya, saya tulis pesan undangan ke paman-paman dan tante-tante saya juga. Saya cukup beruntung sepupu-sepupu ayah/ibu saya menguasai Facebook.
Hal yang menakjubkan adalah hampir semuanya membalas balik dan bilang terima kasih sudah saya undang secara pribadi. Saya tahu tentu saja bahwa bonyok saya sudah kirim mereka undangan cetak, tapi saya menulis message saya dengan bahasa saya sendiri via online. Tahu sendirilah saya orangnya personalization banget.
Tadi pagi, pas saya lagi dirias di kamar rumah menjelang siraman, saya dengar suara orang-orang mulai riuh di ruang tamu. Sambutan riang menyambut saudara yang sudah lama nggak ketemu. Sepupu saya yang sudah dua tahun nggak ketemu saya, dengan sinting menyelinap masuk ke ruang rias pura-pura jadi paparazzi dan mencuri motret saya. Kakak ipar sepupu saya yang lain, menjengukkan kepalanya dan menyeringai, membuat saya tidak tahan untuk tidak menghambur memeluknya; kami terakhir kali bertemu 10 tahun lalu, waktu Grandpa meninggal.
Saya tidak bisa menghitung berapa tamu yang hadir, karena aturannya mempelai harus duduk tegak dan nggak boleh noleh-noleh. Tapi ketika saya berjalan ke ruang tamu untuk sungkeman, saya sempat menoleh ke seluruh ruang, dengan pandangan menyapu semua tamu, senang menyadari rumah begitu penuh. Semuanya nampak kepingin nonton saya dimandikan, semuanya nampak berebutan kepingin motret dengan berbagai lampu kilat sana-sini. Kamera pocket, kamera DSLR si kakak, iPad yang lebih mirip talenan, Galaxy Note yang saya kirain buku tulis, dan HP dengan lampu flash yang bikin silau. Saya terperangah. Semua yang datang dan menuh-menuhin rumah itu adalah sepupu-sepupu saya dan bapak ibu mereka, tak ada orang lain.
Siraman itu khidmat sekaligus meriah dan penuh ketawa. Ketika my hunk datang dengan keluarga untuk seserahan, sepupu-sepupu saya diam memenuhi setiap sudut sembari pamer gadget masing-masing. Begitu acara seserahan selesai dan keluarga my hunk pulang, saya keluar dari kamar pingitan dan ditarik foto sana foto sini. Keluarga nyokap dan keluarga bokap sama besarnya, sama centilnya, sama hebohnya. Saya pasti penganten yang beruntung karena saya jingkrak-jingkrak sepanjang siang itu. Saya dengar bude-bude saya berteriak, "Vicky, awas sanggulnya jatuh!" Halah, siapa peduli sanggul jatuh? Paling-paling kalau jatuh sanggulnya ya ditangkep om-kakak-adek-ponakan saya dan dijadikan objek main bola..
Seindah-indahnya menikah adalah menikah di tengah-tengah sepupu-sepupumu. Family does matter, mereka pasukan setia yang paling mencintaimu dan mendukungmu :)
P.S. Foto-foto siraman ditunda dulu upload-nya. Soalnya sampek akad nikah, my hunk nggak boleh ngeliat tampang saya dulu..
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Monday, January 21, 2013
Legenda Setrika
Begitu saya dijemput di bandara ketika pulang ke Surabaya, saya langsung minta my hunk antarkan saya ke toko buat beli setrika baru.
Di toko elektronik, saya pilih-pilih setrika, dan pilihan saya jatuh ke setrika yang harganya paling murah. Lha saya kan anak kost, saya rasa saya nggak punya perhitungan macam-macam buat setrikaan.
Sewaktu barangnya mau saya bayar di kasir, my hunk menyela tangan saya, dan nanya apakah saya nggak kepingin merk setrika yang lain. Saya jawab, saya nggak tahu bedanya merk satu dan merk yang lain. Saya nggak cukup berpengalaman dalam urusan merk alat rumah tangga.
Lalu my hunk bilang, dos-q mau beliin saya merk setrika yang di foto ini. Memang harganya lebih tinggi, tapi siapa tahu produknya lebih awet. Bagaimanapun, setrika saya yang lama itu umurnya kan baru dua tahun (dia inget coz dia nganterin saya beli setrika itu).
Saya nggak tahu apa yang ada di benak my hunk waktu dos-q beliin saya setrika yang akhirnya jadi milik saya ini. Mungkin karena kami mau menikah, dan dos-q mengharapkan saya nyetrika bajunya pakai setrika ini, jadi dos-q bersedia bayarin.
Sewaktu my hunk kasih duitnya ke mbak-mbak di kasir toko elektronik yang jualin setrika itu, saya merengkuh sebelah lengannya dan saya tahu bahwa saya mencintainya sangat.
You don't know how happy a lady when her boyfriend buys her a costly iron. :)
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Sunday, January 20, 2013
Mualaf Belajar Pelan-pelan
***
Seperti biasa, setiap tanggal 25 Desember, saya ngirimin ucapan selamat Natal ke teman-teman saya yang Protestan dan Katolik. Ini kebiasaan saya semenjak kecil yang saya piara bertahun-tahun. Teman-teman saya sudah hafal itu. Dan lucunya, selalu ada aja satu-dua orang yang bilang selamat Natal ke saya padahal saya nggak nyelametin duluan. Mungkin karena tampang saya mirip Tionghoa, kalau diteropong dari puncak Monas pakai sedotan.
Bicara soal Tionghoa, hampir selalu temen-temen saya yang Tionghoa itu Nasrani. Sedikit sekali dari mereka yang ternyata Budha atau Konghucu.
Lalu saya semakin bertambah umur, dan teman-teman saya makin banyak. Termasuk teman baru pun makin bejibun juga dan teman-teman baru ini kebetulan dari bangsa bermata sipit pula. Jadi waktu Natal kemaren, saya dengan spontan kirim message ke teman saya, sebut aja namanya Ronald, yang baru saya kenal beberapa bulan, selamat Natal.
Terus..Ronald membalasnya begini, "Makasih, Buu! Btw, aku muslim lho, hehehe.."
Saya langsung malu berat!
Saturday, January 19, 2013
Takut pada Jakarta
Tuesday, January 15, 2013
Kilat Pakai Pos
Itu jeritan bosnya temen saya yang di-tweet oleh si teman, membuat saya tercengang.
Lho, memangnya apa salahnya ngirim kilat masih lewat kantor pos?
***
Menjelang pernikahan, saya masih bertugas kirim-kirim undangan ke kerabat-kerabat bokap saya. Karena sudah mepet, saya disuruh bokap pakai cara secepat mungkin. Pilihan saya semula JNE, tapi saya males ke sana coz jauh dari apartemen saya, kudu naik bemo ini-itu yang kalau dipikir-pikir malah jadi berat di ongkos transport. Lalu my hunk bilang kalau di sekolah saya sebetulnya ada kantor pos. Alhasil saya milih kirim kilat via kantor pos, soalnya saya kalau mau ke kantor pos sekolah saya tinggal jalan kaki, hihihi..
Kantor pos ini ideal banget buat mahasiswa-mahasiswa kayak saya ini. Buat kirim surat ke ayah bunda di desa (apaan seeeh..??), buat nerima wesel berisi uang buat bayar kost-kost-an. Tapi perkiraan saya buat ketemu anak-anak mahasiswa S1 yang masih culun-culun di kantor pos kampus itu langsung buyar, begitu saya ngeliat rombongan kakek-kakek plus nenek-nenek ngantre di kantor yang hampir sama kecilnya dengan kamar tidur saya itu. Ya oloh, mereka ternyata lagi ngambil tabungan pensiun!
Monday, January 14, 2013
Disentil Foursquare
Saya, sebagai orang yang tidak mau kalah dalam urusan riya kalo sudah urusan amal ibadah berupa bagi-bagi tips jalan-jalan, pun tidak ketinggalan ikutan meninggalkan jejak berupa tips. Sayangnya saya ini bukan orang yang cukup kreatif dalam urusan muji, apalagi kalau tempat yang saya datengin itu nggak enak-enak amat.
Buat saya, tempat makan itu seenak apapun, tapi kalau masih banyak nyamuknya, jelas saya nggak sudi dateng ke situ lagi dalam keadaan kaki telanjang. Tak lupa saya tinggalin tips di venue situ, "Never forget to bring your repellent!"
Sayangnya ternyata robot-robot 4sq sudah mulai hapal keluhan saya itu, buktinya hari ini mereka nyentil saya.
Sunday, January 13, 2013
Ini Siapa Ketemu Siapa?
![]() |
| Saya (berdiri, ketiga dari kanan) diapit Dina dan Ryan @DuaRansel bersama tweepsies lainnya dalam #2RanselSurabaya |
![]() |
| Dua kartu pos dari @DuaRansel untuk saya dan +Eddy Fahmi bergambar diri mereka di Greenland. |
+(265x400).jpg)
.jpg)


.jpg)


