Thursday, November 29, 2012

Pak Guru Bilang, Lupa Itu Tidak Apa-apa

Akan jauh lebih sederhana, jika jenis-jenis penyakit itu sesimpel diagnosa Puskesmas: PUSing, KESeleo, dan MASuk angin.

Kalau pusing kasih aja parasetamol. Kalau keseleo kasih aja asam mefenamat. Kalau masuk angin kasih aja vitamin C.

Tetapi dalam prakteknya, penyakit tidak pernah sesederhana itu.

Penyakit itu, menurut ICD-X ada ribuan jenis. Setiap diagnosa penyakit punya obat yang beda-beda. Tidak semua penyakit bisa sembuh dengan kasih obat, beberapa harus ditindak, mulai dari dipijit sampek dibelah.

Persoalannya, tidak semua dokter hapal jenis-jenis pertolongannya. Daya menghapal itu sangat ditentukan bermacam-macam faktor, mulai dari umur dokter yang bersangkutan, pengalaman, sampek kemauan dokternya untuk membaca buku dan ikutan seminar. Akibatnya, nggak semua keluhan pasien yang datang berobat bisa ditangani dengan betul. Ada yang penyakitnya hilang (saya nggak suka istilah SEMBUH), ada juga yang enggak. Ada yang terhibur setelah dokternya bilang, "Nggak pa-pa kok, Bu/Pak. Ini normal." Ada juga yang jadi galau setelah dokternya bilang, "Hmm..ini bisa sembuh asalkan Anda begini, begitu, bla-bla-bla..nanti kontrol lagi ke sini bulan depan ya?" Ini dokternya bisa ngobatin nggak sih?

Tuesday, November 27, 2012

Ngomong Aja Langsung

Saya sakit. Mula-mula radang hidung, lama-lama ekstensi jadi radang tenggorokan. Sudah tiga hari. Saya sudah ngeh sejak tiga hari yang lalu, jadi saya sudah beli segepok obat, salah satunya obat pilek.

Obat pileknya adalah sirup bikinan Inggris yang pabrik manufakturnya ada di Jakarta. Saya sudah lama langganan pakai obat ini, karena saya tahu kalau alergi saya lagi kumat, bisa reda kalau pakai obat ini. Cuman saya biasanya beli obatnya yang kemasan 120 ml. Kali ini saya beli yang kemasan 60 ml. Perhitungan saya, ini cuman alergi temporer, bisa sembuh sendiri kalau saya mau rendah hati untuk tidur dan nggak maksa begadang.

Baru kali ini saya beli yang kemasan 60 ml, dan saya mengalami kebingungan yang sangat konyol: Tutup obatnya nggak bisa dibuka!

Saya puter-puter, saya dorong-dorong, saya cungkit pakai pisau, nggak berhasil. Pilek saya semakin meradang, hidung saya mengamuk dan meler-meler. Siyalan, gw lagi sakit, demit. Apa maksudnya ini Gl^xo Sm*th Kl*ne bikin obat yang tutupnya nggak user friendly?

Kesal, saya geletakkan obatnya di meja. Tiga hari. Saya masih minum obat antibiotik saya, sementara sirup pileknya saya cuekin. Sampek tiga hari, my hunk datang ke apartemen saya.

Lalu dos-q bukain obatnya. Nggak ada satu menit, tuh obat pun membuka. Ya ampun, saya memang kayaknya butuh kawin laki-laki buat bereskan masalah-masalah sepele.

Saya tutup obatnya, lalu my hunk pulang. Begitu my hunk pulang, saya buka lagi obatnya. Heeh..tutupnya nggak bisa dibuka lagi!

Oke, ini sudah cukup.

Saya jalan ke apotek tempat saya beli obat itu. Kepada mbak-mbaknya yang jaga di apotek itu, saya bilang kalau obat yang dos-q jual nggak bisa saya buka. Si mbak ketawa geli, "Lho, jadi obatnya belum diminum?"

"Belum," jawab saya dengan suara parau karena radang saluran napas mulai mengacaukan pita suara saya.

Si mbak membuka tutup obatnya, dan terhenyak. Eh, dos-q juga nggak bisa buka tutupnya..!

Saya menatapnya dengan tampang sayu.

Kata si mbak apotek, dos-q mau minta salah satu temannya untuk membuka obat siyalan bikinan Inggris itu, tapi temannya lagi pergi nganter obat ke tempat lain saat itu. Dos-q suruh saya tunggu di apartemen saya aja, nanti obatnya dianterin ke apartemen saya. Saya angkat tangan. Terserah elu dah.

Saya nunggu di apartemen, beres-beres blog. Kira-kira satu jam kemudian, concierge saya ngetok kamar nganterin kiriman obat. Ternyata si apotek telah mengganti tutup obat saya dengan tutup obat dari produk lain.
Obat ini, setelah tutup obatnya diganti sama tutup obat yang lain.

Jadi ini kesalahan desain produk?

Oh, biarin lah. Yang penting sekarang saya bisa minum obatnya.

***

Pernahkah Anda beli produk sesuatu lalu merasa tidak puas dengan produk itu karena merasa produk itu cacat desain? Apa yang Anda lakukan? Pasrah aja? Atau balik ke toko yang jualnya dan protes? Atau malah ngamuk-ngamuk tidak karuan terhadap pabriknya di Twitter padahal direktur pabriknya nggak tahu apa-apa atas kesalahan anakbuahnya (dan lebih parah lagi, direkturnya itu nggak punya account Twitter sehingga dos-q tidak tahu kalau dos-q sedang dimaki)?

Jika tidak puas, ngomong ajalah langsung. Itu namanya komunikasi. Nggak usah dipendam. Dewasa dong ah.

Monday, November 19, 2012

Luarnya Mewah, Dalemnya KW

Dulu tuh Menteri Kesehatan (sekarang mantan) Fadillah Supari pernah nyela anggapan masyarakat bahwa rumah sakit yang bagus itu kudu rumah sakit yang lantainya dari marmer, mewah, dan sebagainya. Saya dengan jujurnya mengaku bahwa kalau pun saya sakit dan kudu diopname, saya ingin dirawat di rumah sakit kayak gitu. Meskipun saya nggak tahu apa hubungannya lantai marmer dengan kesembuhan pasien, hehee..

Lalu, kemaren, pas saya lagi ngiderin Foursquare, tahu-tahu mata saya tertumbuk pada status kolega saya yang nulis, dos-q lagi jaga di Rumah Sakit X. Hey, saya langsung kepo, dan nanya kok bisa-bisanya dos-q kerja sambilan di Rumah Sakit X, padahal saya tahu tuh rumah sakit cuman mau mempekerjakan dokter spesialis sedangkan kolega saya kan juga sama-sama masih dokter umum.

Lalu, dos-q jawab, tuh rumah sakit memang maunya dibayar oleh pasiennya dengan tarif spesialis, tapi supaya murah meriah maka institusi itu mempekerjakan dokter umum. Supaya aman dari kemungkinan tuntutan nggak enak, nama yang dipasang adalah nama dokter spesialis entah siapa gitu, meskipun nanti tangan yang bekerja adalah tangan asistennya (asistennya itu ya dokter umum). Kalau ada apa-apa ya yang tanggung jawab adalah sang spesialis bersangkutan karena kan nama dos-q yang dipasang.

Saya dengernya jadi agak kecewa, karena somehow sekitar beberapa tahun lalu saya pernah punya cita-cita kepingin melahirkan di rumah sakit itu. Dalam benak saya waktu itu, saya kepingin diladenin spesialis kandungan, lalu kalau saya sampek jatuh kepada situasi di mana saya harus dioperasi, saya ya maunya dibius sama dokter spesialis anestesi. Bukan dibius oleh, maaf ya, spesialis anestesi KW alias dokter umum (meskipun saya tahu juga bahwa sang dokter umum itu bertanggung jawab terhadap dokter spesialisnya juga).

Saya nggak menyalahkan dokter umum yang mau-maunya bekerja atas nama orang lain sedangkan dos-q sendiri cuman dapet bayaran dikit, itu terjadi di banyak tempat, saya sendiri mengalaminya sekarang.
Saya juga nggak menyalahkan dokter spesialis yang harus nyambi bekerja di banyak tempat yang sudah kadung teken kontrak dengannya, padahal tenaga fisiknya sendiri mungkin nggak kuat untuk bisa membelah diri dan konsentrasi pada banyak tempat sekaligus.
Tapi rumah sakit seharusnya lebih jujur. Jika berani bilang kepada pasien bahwa "kami akan memberi Anda dokter spesialis", jangan lantas pada prakteknya hanya memberikan dokter spesialis yang baru seperempat jadi (alias spesialis KW).

Ah, tapi siapa yang akan mempertanyakan kejujuran rumah sakit? Apalagi kalau rumah sakitnya. Sudah mewah dan berlantai marmer seperti yang diceritakan Bu Supari, ya toh?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Monday, October 22, 2012

Bokis Turunan

"Vicky, sini!"
Seruan Bu Guru membuat Little Vicky Laurentina lemas. Aku tahu dia akan marah. Dia akan menghajarku, kasih nilai merah di rapor, dan pada pembagian rapor minggu depan dia akan menjungkalku dari ranking satu yang selama ini aku dapet di kelas.
Tapi saya menarik napas panjang dan berjalan dengan gagah berani ke meja Bu Guru. Di hadapan sekitar 64 pasang mata murid lainnya di kelas 3, saya menghadap Bu Guru. "Ya, Bu?"
"Vicky, mana prakaryanya? Kenapa belum mengumpulkan?" tanya wanita berumur sekitar 45 tahun itu.
"Saya belum kerjakan, Bu," jawab Little Laurent tenang.
Bu Guru terheran-heran. "Kenapa?"
Saya menelan ludah. Tidak berani menatap matanya. Saya melihat ke kancing atas jas Korpri Bu Guru, lalu mengucap dua kalimat sakti itu. "Saya sibuk."
Dia menatap saya nanar. Little Laurent menunggu-nunggu sampai dia ngamuk seperti burung-burung manyar, lima detik, 10 detik, tapi dia tidak kunjung bergerak.
Lalu apa yang dia lakukan? Dia mengambil bolpennya, lalu menulis di buku nilainya, di samping nama saya, angka 6.
Saya mundur pelan-pelan dan kembali ke bangku saya, hati setengah gelisah tapi pasrah.

Tuesday, October 16, 2012

Kapan Nyeri Haid Dianggap Serius

Saya pernah menulis di sini sebagai ungkapan saya menolak mentah-mentah tentang adanya cuti haid. Saya diprotes banyak cewek waktu itu di forum lain karena mereka merasa memang haid itu bikin menderita sekali. Ada yang pekerjaannya terganggu sekali, karena ada yang terhuyung-huyung waktu haid saking nyerinya, ada yang sampek nyetok Kiranti di kulkasnya sampek berbotol-botol, ada yang sampek pingsan, ada yang sampek harus dirawat di rumah sakit segala.

Sebegitu menderitanyakah haid itu? Bukankah haid itu normal, sehingga nyeri yang mengiringinya mestinya juga dianggap sebagai fenomena normal juga? Bayangkan kalau Anda nggak haid, dua bulan aja, tidakkah Anda kebingungan setengah mati, bukannya bersorak-sorai karena bebas nyeri?

Kalau kita iseng bikin penelitian dengan responden yang merata, kita akan menemukan bahwa ternyata yang lebih sering mengeluh nyeri waktu haid adalah mereka-mereka masih perawan atau minimal yang belum melahirkan. Apa sebab? Semakin dewasa usia seorang cewek, dos-q terbiasa dengan nyerinya dan lama-lama tidak mengeluh lagi. Selain itu, pada cewek yang sudah melahirkan normal (bukan lewat operasi Cesar lho ya), leher rahim cenderung lebih luwes karena sudah pernah dilewati bayi yang meluncur melalui jalan itu, sehingga kalau cuman segumpal darah haid yang lewat, sakitnya sih cetek..

Haid itu sendiri juga ada siklusnya. Prostaglandin yang diproduksi cewek pada waktu haid, paling banter hanya memuncak pada hari pertama atau kedua haid, tapi setelah hari ketiga, kadarnya berkurang. Prostaglandin inilah penjahatnya nyeri haid. Ini yang menjelaskan kenapa nyeri haid paling hebat cuman terjadi pada hari-hari pertama haid.

Nyeri haid jarang sekali bisa bikin pingsan. Istilah "pingsan" pada masyarakat awam umumnya masih seringkali dikaburkan dengan "lemes dan mendadak roboh". Apakah si pingsan masih menyahut kalau dipanggil namanya? Apakah si pingsan langsung melek begitu ditepuk-tepuk pipinya? Itu namanya bukan pingsan dong.

Nyeri bisa ilang kok. Dengan obat-obatan tertentu yang bisa dibeli di warung sebelah rumah, obat ini bisa berkhasiat menghantam prostaglandin yang banter di dalam tubuh seingga mampu meredakan nyeri haid. Tentu saja kalau mau pakai obat ini kudu konsultasi dulu sama dokter untuk mencegah efek samping maupun overdosis.

Kapan nyeri haid dianggap tidak normal? Nyeri boleh dianggap serius jika nyeri bukan berlangsung di hari pertama/kedua, tetapi berlangsung sepanjang haid dan baru hilang begitu haidnya selesai. Nyeri haid juga perlu diperiksakan ke dokter jika penderitanya sudah menikah tapi mandul padahal tidur bareng suaminya tiap malam berisik terus.

Masih mengaduh-ngaduh menuntut surat cuti haid? Menerima nyeri haid sebagai kodrat alami, membantu kita meredakan nyeri itu sendiri. Jadilah tegar, jangan cengeng ya :)

Monday, October 15, 2012

Robohnya Pemandu Sorak

My hunk nunjukin saya seorang pengendara sepeda lagi naikin sepeda yang katanya disebut sepeda fixie, sekitar dua tahun yang lalu. "Itu sepeda nggak ada remnya lho," kata my hunk. Saya langsung mengerutkan kening. Sepeda kok nggak ada remnya gimana sih, kalau nurunin jalan curam bergunung-gunung kayak di kawasan Darmo gitu gimana?

Saya bukan penggemar kendaraan beroda dua apapun, jadi saya nggak terlalu memperhatikan. Tapi sore kemaren, saya baru ngerti dampaknya sepeda sinting yang nampaknya keren tapi sebenarnya nggak keren itu.

Kemaren sore, saya lagi enak-enak duduk di ruang gawat darurat yang baru saja saya bersihkan dari pasien-pasien tumor kandungan yang harus dioperasi dan kanker leher rahim yang berdarah melulu, berjalan masuklah seorang ibu yang nampak pucat membawa anak gadisnya yang nampak sama pucatnya. Katanya, gadis kecil yang konon baru berumur 15 tahun itu lagi naik sepeda fixie siangnya, dan entah gimana dia selip lalu terjatuh dan menghantam setang atau entah bagian apa dari sepedanya itu. Setelah menghantam entah apa itu, si gadis menjerit kesakitan karena keluar darah dari sela-sela selangkangannya..

(Oke, Anda takut darah? Silakan pencet icon silang di sebelah kanan atas layar.)

Saya suruh si nonik tiduran di tempat tidur, lalu saya buka sela-sela kakinya. Darahnya tidak terlalu banyak, tapi ya ngalir pelan-pelan. Saya rasa yang membuat si nonik itu ketakutan adalah karena kebetulan dos-q lagi mens, jadi darah mensnya campur dengan darah lukanya yang nggak seberapa itu.

"Gimana, Dok?" Ibunya menggigil ketakutan.
"Kemarilah, Bu," saya ajak ibunya melihat lukanya, coz si ibu nampaknya ketakutan lihat vagina anaknya sendiri. Saya tunjukin luka anaknya, "Ini luka. Darahnya keluar. Kami harus jahit supaya darahnya berhenti keluar. Kalau tidak dijahit, lukanya tidak akan nutup dan darahnya tidak akan berhenti. Kami bisa jahit sekarang, setelah selesai, anak Ibu bisa pulang hari ini juga, nggak usah nginep."
Si ibu terdiam, "Tadi ada yang keluar, seperti daging kenyal kecil? Hitam-hitam, saya kirain.." Bicaranya terputus, seolah tidak berani mengucapkan apa yang terlintas di benaknya.
"Maksud Ibu ini?" Saya nyodorin stolsel di baskom.
"Iya.." Si ibu gemetaran.
"Bu, ini bekuan darah."
"Bukan..bukan 'itu'..?"
Saya menatap matanya, menebak jalan pikirannya. "Bu, selaput daranya masih utuh."
Si ibu langsung menghela nafas lega. "Saya kirain.. Ya Allah.."
Saya menepuk bahunya, lalu mengajaknya ke meja konsultasi untuk tanda tangan persetujuan jahit kemaluan.

Si nonik masih kuatir. "Dok, dibius kan?"
Saya tersenyum. "Nanti saya kasih anti nyeri."

Lalu saya sodorkan surat tanda persetujuan ke ibunya untuk ditandatangani. Ibunya membaca surat itu, lalu perlahan-lahan dos-q nangis. Air matanya bercucuran makin deras, dan semakin diusapnya dengan ujung kerudungnya, semakin keras nangisnya sampek terkulai kepalanya di meja.
Saya tunggu dos-q sampek nangisnya selesai. Begitu reda, saya bertanya dengan nada khas orang awam, "Sepeda fixie itu sepeda yang nggak ada sadelnya ya?"

"Sepeda fixie itu yang nggak ada remnya, Dok.." kata si ibu.
"Oo.." Saya manggut-manggut, pasang tampang seolah-olah terkagum-kagum "wow keren".

"Sepedanya itu baru beli satu bulan, Dok. Dia minta dibelikan sepeda fixie, sedangkan adeknya minta sepeda yang biasa. Kami belikan. Saya nggak ngira, ternyata sepeda itu bikin celaka.. Huhuhuhu.." Lalu ibunya menangis lagi.
"Hm.." Saya ngelus-ngelus dagu saya yang tidak berjenggot. "Mungkin besok-besok dia akan naik sepeda fixie itu lagi ya?"
Si ibu nangis makin kenceng, dengan suara yang campur antara nangis dan ketawa miris.
"Ya habis gimana ya, Bu, ya? Kalau sepedanya dijual, kayaknya sayang.. Tapi kalau didiemin di rumah, siapa yang mau naik..?"

***

Sepanjang saya nyiapin alat jahit, mahasiswa koass ngajak ngobrol si nonik. Si nonik sudah mulai tenang coz ternyata dos-q masih perawan, tapi masih ada sesuatu yang mengganjalnya.
"Nanti aku bisa pipis nggak?" tanya si nonik.
"Bisa," jawab si koass.
"Aku nggak boleh loncat-loncat?"
"Jalan biasa aja dulu ya."
Si nonik terdiam. "Boleh jongkok?"
"Boleh.."
"Boleh split?"
Si koass mengerutkan kening. "Hm..tunggu dululah.."

Saya datang, dan mulai nyiapin perban di dekat si pasien.
"Dok, nanti aku boleh masuk sekolah?"
"Besok masuk sekolah seperti biasa," jawab saya kalem.
"Soalnya besok aku ada latihan."
"Oh ya? Latihan apa?" Terlintas di benak saya, mungkin gadis ini anak Paskibra atau atlet basket atau atlet tenis meja atau atlet apalah.
"Aku harus latihan cheers.."
"Hah?" Saya menoleh terkejut. "Ngg.."
Si koass langsung ketawa. "Pantesan tadi nanya boleh split apa enggak.."

***

Sepedaan sekarang memang tren. Modelnya macam-macam, cara naikinnya ternyata juga macam-macam. Sayang nggak semua pengendara tahu aturan naik sepeda yang aman. Kita masih susah menyuruh pengendara sepeda buat pake helm di kepala. Sekarang PR-nya nambah satu lagi, kalau naik sepeda fixie, jangan lupa pake helm di vagina..
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Friday, October 12, 2012

Antologi "Nyesek"

Kalau kamu suka dia, bilang. Tapi kalau kamu nggak berani bilang, jangan pernah ketakutanmu bikin kamu nyesel.

***

Kolaborasi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari ini saya acungin empat jempol! Dua jempol dari tangan saya, dua jempol dari kaki saya. Soalnya biarpun Perahu Kertas sampek dipecah jadi dua seri sehingga saya terpaksa dateng ke bioskop dua kali, dua-duanya sukses bikin saya lengket sama kursi bioskop lantaran saya penasaran kepingin nonton credit crew sampek terakhir. Filmnya hampir sama bagusnya dengan novelnya, dan nggak salah film ini jadi trending topic di mana-mana.
Kugy dan Keenan kabur ke pinggir pantai untuk membahas mimpi masing-masing.
Keenan satu-satunya yang hafal semua dongeng karya Kugy yang dianggap irasional .

Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Koesmadji) diam-diam saling naksir sejak kuliah, tapi nggak pernah bilang satu sama lain. Siyalnya, sahabat Kugy, Noni (Sylvia Fully) malah nyomblangin Keenan dengan sepupunya sendiri, Wanda (Kimberly Ryder) sehingga Kugy jadi patah hati dan menghilang. Wanda yang kemecer setengah mati dengan Keenan, mencoba menipu Keenan dengan pura-pura beli lukisan Keenan, sehingga Keenan nekat drop out kuliahnya demi melukis profesional.

Ketika Keenan ngeh ditipu, Keenan putus asa dan kabur ke Bali untuk tinggal bersama Wayan (Tio Pakusadewo), pelukis yang dikaguminya dan secara kebetulan juga masih mantan pacar Lena, ibunya sendiri (Ira Wibowo). Di Bali itu dia mencoba menyusun hidupnya yang berantakan, dan berkencan dengan ponakan Wayan, Luhde (Elyzia Mulachela).
Keenan sudah memilih Luhde, seharusnya Luhde senang.
Tapi Luhde galau karena merasa dirinya selalu jadi bayang-bayang Kugy.

Tapi Keenan tidak pernah melupakan Kugy. Keenan pelan-pelan bangkit, lalu membuat lukisan pertamanya, yang inspirasinya datang dari dongeng-dongeng karya Kugy yang sering diceritakan Kugy saat dulu mereka masih dekat. Lukisan pertamanya tahu-tahu dibeli Remi (Reza Rahadian), seorang pengusaha periklanan top dan sejak itu karier Keenan melonjak menjadi pelukis ternama.

Dewi Lestari memang sengaja mempersempit setting dengan mempertemukan Remi dan Kugy, dan ujung-ujungnya mereka pacaran. Kugy akhirnya ketemu Keenan lagi setelah Keenan tiga tahun drop out kuliah, dan ternyata Keenan sudah jadi ilustrator jempolan dan sudah punya pacar.

Pertemuan itu bikin Kugy galau karena diam-diam ternyata ia masih mencintai Keenan yang nggak jomblo lagi, sedangkan ia sendiri sudah punya pacar. Keenan juga akhirnya sadar bahwa Kugy sudah di-tag Remi, sehingga Keenan memilih Luhde. Padahal Luhde ternyata selama ini penggemar tulisan Kugy, dan Luhde langsung minder karena merasa kalah keren ketimbang Kugy. Remi sendiri akhirnya tahu bahwa ternyata tunangannya diam-diam naksir sohibnya sendiri, dan lukisan yang dipujanya ternyata dibikin oleh sohibnya yang naksir tunangannya sendiri, sehingga film ini pun jadi mbulet karena tokoh-tokoh utamanya terjebak dalam lingkaran sesat yang campur-aduk antara perasaan salut terhadap saingan dan sekaligus patah hati.
Lihat adegan Kugy dan Remi ini, maka kau akan belajar tentang apa itu ikhlas.
Saya nangis waktu adegan ini, hihihi..cengeng banget deh saya :p

Film ini dilabelin buat Remaja, dengan konflik simpel yang sebetulnya nggak jauh-jauh dari kehidupan kita sendiri. Coba Jemaah semua acungkan tangan, siapa yang dulu punya gebetan tapi nggak berani ngomong langsung? Jika kalian mengaku, coba pikir-pikir, sekiranya sekarang ketemu lagi sama mantan gebetan, dan ternyata si mantan gebetan itu ngaku bahwa dia dulu juga naksir kalian, apakah kalian menyesal? Dengan kenyataan yang kayak gitu, jika sekarang si gebetan sudah bersama orang lain, dan kalian sendiri sudah bersama yang lain lagi, apakah ini yang dinamakan "nyesek"?

Sekian lama saya nonton film Indonesia, baru kali ini saya lihat pemeran utamanya nampak kucel dan jarang mandi. Maudy di sini nampak bebas make-up, mungkin disesuaikan sama karakter Kugy yang berantakan. Reza ternyata sukses mencuri perhatian banyak penonton, nampak dari komentar-komentar di Twitter yang menyatakan klepek-klepek lihat pembawaan tokoh Remi ini. Ira, yang sekarang lebih sering jadi model iklan krim anti-aging, juga masih menarik biarpun sudah berperan jadi emak-emak.

Sayangnya ada beberapa yang kurang pada film ini. Hanung nggak memainkan adegan Wanda kejeduk atap rumah kost Keenan yang kumuh, padahal Wanda dibikin antagonis dan adegan di bukunya sebetulnya lucu sekali. Juga tidak dieksplorasi kenapa Lena dulu putus dari Wayan dan malah memilih Adri (August Melasz) sehingga menghasilkan Keenan. (Meskipun saya sudah bisa menduga jawabannya: karena Adri nampak tajir dan elite, sedangkan Wayan hanyalah seorang pemuda bertattoo yang doyan melukis dan mulutnya bau asbak). Tapi yang bikin saya gusar adalah adegan yang tidak mendidik: Kugy dalam keadaan hamil malah naik perahu di laut demi mengalirkan perahu kertas. Gila apa, kalau di tengah laut dia kecemplung gimana? Bisa gugur janinnya nanti! Terlalu!

Film ini juga sukses bikin saya meneteskan air mata karena terharu. Yang pertama ketika Keenan minta Kugy nggak mengenang cinta mereka lagi, karena Keenan ikhlas Kugy sudah di-tag Remi. Yang kedua adalah ketika Remi akhirnya tahu bahwa Kugy memendam cinta diam-diam kepada Keenan meskipun Kugy sudah memilih Remi, dan dengan besar hati, Remi melepaskan Kugy. Seolah-olah di sini nampak pelajarannya: 1) Jangan kau ambil pacar orang lain, meskipun kau mencintainya, dan meskipun dia juga mencintaimu. 2) Saat kau sadari pacarmu sebenarnya lebih mencintai orang lain daripada mencintaimu, biarkan dia pergi meskipun kamu mencintainya setengah mati.

Ini memang film yang sarat cerita akan komplikasi yang timbul akibat suatu kesalahpahaman. Ceritanya yang membumi dan apa adanya bikin film ini nggak ngebosenin buat ditonton. Semua tokoh punya karakter yang kuat, alhasil penonton punya banyak pilihan menentukan karakter favorit. Mumpung sekuel keduanya masih main di bioskop, ayo nonton yuk! :)

Wednesday, October 10, 2012

Tersesat dalam Titik-titik

Jaman kecil dulu, pada soal-soal anak SD di majalah Bobo yang jadi langganan saya, ada beberapa macam mode soal yang bisa muncul. Soal pilihan berganda, artinya disediakan 3-5 option jawaban untuk satu pertanyaan. Soal esai, artinya jawabannya disuruh mengarang bebas, tidak bisa dijawab dengan satu-dua patah kata thok. Soal menjodohkan, artinya ada lima (kadang-kadang lebih) option jawaban untuk lima pertanyaan yang berbeda, dan biasanya satu jawaban hanya untuk satu soal. Soal isian, biasanya instruksinya adalah "isilah titik-titik pada pernyataan ini dengan jawaban yang tepat".

Saya, yang membenci semua mode tes yang terbatas, tidak suka mode soal apapun selain soal esai. Karena buat saya, di dunia ini, setiap orang berhak punya jawaban sendiri sesuai kapasitas nurani masing-masing, termasuk juga berhak berbeda dari kehendak pembuat soal.

Semakin tinggi saya bersekolah, semakin saya kacau ketika berhadapan dengan ujian apapun selain ujian esai. Saban kali saya disodorin pilihan berganda, saya nggak bisa jawab coz jawaban saya sering beda dengan options yang disodorkan. Ini seperti ditawari lima macam menu makanan (ikan gurame, ayam bakar, belut goreng, telur mata sapi, dan jamur crispy) padahal perut saya kepingin sekali makan burung dara saus inggris. Situasi lebih parah lagi ketika berhadapan dengan soal menjodohkan. Saya nggak ngerti kenapa satu jawaban hanya boleh untuk satu pertanyaan dan tidak boleh untuk pertanyaan lain. Sama seperti menghidangkan lima menu makanan di meja yang diduduki lima orang tapi setiap orang cuman boleh makan satu macam menu. Kenapa kelima orang itu tidak boleh menikmati kelima makanan itu bersama-sama? Di mana prinsip berbagi di sini?

Konflik inilah yang sedang saya hadapi bersama kolega-kolega saya di sekolah sekarang. Kami akan ujian dua bulan lagi, dan profesor kami saban kali kuliah seringkali mengajari kami dengan bikin kuis. Kuisnya itu adalah soal isian.
Di kelas itu kira-kira adegannya gini, "Memasak ikan bakar adalah dengan apa?"
Kolega saya yang pertama jawab, "Bumbu."
Profesor saya nampak tidak puas, lalu menolehkan kepalanya ke kolega saya yang kedua, "Jawaban Anda?"
Kolega ke-2: "Bumbu dan garam, Prof."
Tidak puas juga.
Kolega ke-3 (sok berusaha menyempurnakan, mungkin dipikirnya jawabannya kurang panjang): "Bumbu, garam, lalu dibubuhi jeruk nipis.."
Profesor kami menggeleng lalu pindah ke saya: "Vicky?"
Saya dengan sok gagah pun menjawab, "Ada beberapa macam teknik, Prof. Yang pertama bisa digoreng dulu lalu dibakar, yang kedua lagi bisa langsung dibakar, yang ketiga.."
"Bukan, bukan itu!" Profesor langsung ngalih ke kolega saya yang lain, meninggalkan saya yang keok di kursi. "Anda?"
Setelah berkeliling ke semua mahasiswa yang ada di kelas itu, akhirnya Prof berkata, "Memasak ikan bakar adalah dengan..wajan, panggangan, dan kompor."
Spontan kami semua melenguh!

Ngerti kan di mana masalahnya?
Pada tipe soal isian, kita sering kali tidak bisa menjawab bukan karena kita nggak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya bukan seperti yang diinginkan pembuat soal.

Kami cemas bagaimana kalau nanti pas ujian, tipe soal yang keluar adalah soal isian atau pilihan berganda begini. Soal pilihan berganda, biarpun kedengerannya mudah karena bisa mengira-ngira di antara kelima option, seringkali bikin tergelincir karena option-option itu mirip-mirip. Bagaimana kalau Anda ditanyai begini: Memasak ayam bakar untuk calon mertua adalah dengan cara:
a) Memotong ayam dulu, lalu membumbuinya, kemudian membakarnya
b) Mengeluarkannya dari kantong plastik di pasar, mencucinya, lalu membumbuinya dan menaruhnya di microwave
c) Memilih ayam kampung yang segar dan tidak busuk, membumbuinya dengan bumbu kesukaan calon mertua, mengawetkannya dalam kulkas, lalu membakarnya menjelang waktu makan siang
d) Semua pilihan benar
e) semua pilihan salah
Kira-kira Anda pilih yang mana?

Semua pilihan nampaknya benar, bisa juga Anda cuman milih salah satu.
Pilihan a), nampaknya benar. Tapi cewek yang nggak pernah pergi ke pasar, akan pilih option b). Justru option b) tidak akan dipilih oleh ibu yang nggak punya microwave di rumah. Saya jelas tidak akan pilih option c), karena option itu mengandung kata "memilih ayam kampung yang segar", sedangkan boro-boro milih ayam kampung, waktu senggang untuk pergi ke pasar aja saya nggak punya..
Saya mungkin malah akan memilih option e), soalnya menurut saya ayam itu mengandung kolesterol, sedangkan saya tidak akan menghidangkan menu berkolesterol untuk mertua saya karena kolesterol itu nggak baik buat calon mertua saya yang punya hipertensi :p

Artinya apa? Tidak ada jawaban yang benar untuk semua orang pada setiap soal pilihan berganda. Lebih ciloko lagi kalau dikasih soal isian. Instruksi "isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat" justru akan membuat penjawab ujiannya tersesat dalam titik-titik..

Saya lebih senang soal esai. Malah kalau bisa soalnya lisan aja sekalian. Selain go green menghemat kertas, yang diuji punya kesempatan banyak untuk membuktikan kemampuannya menguasai ujian. Karena menguasai materi yang diujikan bisa kelihatan dari cara menjawab pertanyaan.

Anda gimana? Kalau disuruh ujian, Anda kepingin ditanyai dengan metode ujian bagaimana?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Monday, October 1, 2012

Si Cantik Ciamik dalam Batik!

Di Twitter rame-rame ada ajakan besok tanggal 2 Oktober buat pake baju batik. Soalnya katanya 2 Oktober itu hari batik. Saya mencibir. Huh, pake batik? Cuman gara-gara hari batik aja lantas saya kudu pake baju batik? Puaah..nggak usah nunggu baju batik pun saya udah pake baju batik hampir setiap minggu. Malah saya nggak punya baju batik satu-dua potong, saya punya baju batik selusin! *sombong* Bahkan saat setiap orang rasanya punya kemeja batik, saya malah nggak punya kemeja batik, karena batik-batik saya hampir semuanya berupa gaun. Ada gaun yang buat cocktail party, ada gaun yang buat dipake ngantor, macem-macem..

Nampang sebentar pake batik Madura, sebelum kerja bakti buat acara sekolahan. Iya, di sekolah saya, murid-muridnya kerja bakti pake batik..






Bekerja nggak cuman di sekolah atau di rumah sakit. Saya bahkan bekerja sambil nyeruput soto di tempat dugem. Dan kerja sambil makan pun saya tetap pake batik..












Batik sutera, beli di Bali. Dipake nge-date di kapal pesiar..


Pergi dugem di tempat karaoke. Pake batik Cirebon..








Kalo ini sih bukan foto baju batik, tapi saya foto pake gelang batik!

Wednesday, September 5, 2012

Porsi Supir Bis

Salah satu hal yang menjadi alasan kenapa kadang-kadang saya lebih suka makan di restoran rumahan ketimbang kafe-kafe gaul sok ke-paris-paris-an: Es jerman-nya, biarpun namanya es jerman, tapi disajikan dalam porsi orang indonesia, alias disajikan dalam gelas besar a la supir bis. Bandingkan dengan kafe gaul sok ke-paris-paris-an yang menaruh es jerman dalam gelas sloki yang langsing, sudah porsi airnya cuman dikit, harganya nyekek leher pula, dan dinamain dengan nama-nama aneh yang susah dieja. Padahal intinya cuman es jerman. Es JERuk MANis.

Foto saya jepret di RiceBox, kawasan Klampis, Surabaya. Di sebelah gelasnya adalah nasi ikan saos lemon.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com