Sunday, May 29, 2011

Gw Nggak Mau Foto Sama Elu!

Seumur-umur nggak pernah tuh waktu kecil saya dirayain ulangtahunnya sambil ngundang badut. Jadi sekali-kalinya ini saya ulang tahun, ternyata saya merayakannya dengan nonton sirkus..

Pesta musim semi Perancis menular juga gaungnya ke Indonesia, bahkan ke Surabaya. Dan dalam rangka pesta inilah, pusat kebudayaan Perancis di Surabaya ngundang artis-artis sirkus buat pentas di Darmo. (Jadi bukan buat merayakan ulang tahun saya, cuman kebetulan aja tanggal pentasnya barengan sama tanggal ulang tahun saya, hihihihi..) Saya dan my hunk sudah jauh-jauh hari merencanakan mau dateng nonton pentas ini. Kebetulan beberapa kolega saya lagi nganggur alias nggak ada kerjaan di malam mingguan, maka saya ngajakin mereka buat ikutan nonton bareng saya dan my hunk, dengan syarat mereka nggak boleh gangguin kami pacaran..

*Dan tentu saja saya harus melupakan rencana mau kitik-kitikan sama my hunk di gedung Perancis itu. Karena setiba di venue, kolega-kolega saya yang centil binti narsis itu malah keblinger kepingin foto-foto di gedung eksotis itu, dan saya juga nggak mau ketinggalan kepingin foto-foto. Alhasil jadilah my hunk pun didaulat buat motret kami, para dokter cewek yang narsis ini..*

Kolega-kolega saya tadinya bingung, ngapain saya ngajakin mereka nonton sirkus. Tadinya mereka kirain sirkus tuh isinya pertunjukan monyet-monyet, gajah, harimau, dan lain-lainnya. Saya sendiri malah nggak mikirin urusan pertunjukan hewan, itu sih saya udah sering lihat di Ancol atau Taman Safari, hihihi.. Lagian nggak mungkinlah masukin gajah segede-gede gaban ke Gedung CCCL di Darmo, gila aja! Saya kirain paling-paling ya pertunjukan trapez gitu. Buat saya sih nggak soal, coz alasan saya kencan sama my hunk ke tempat ini adalah: 1) asalnya dari Perancis, jadi mudah-mudahan pertunjukannya keren, 2) gratis!

Nah, ternyata pas tiba di venue, baru ngeh kalau saya nggak baca undangannya dengan teliti. Ternyata ini adalah pentas akrobat oleh sirkus Chabatz d'Entrar. (Yaa..trapez kan juga bentuk akrobat toh? Teteepp..) Saya kira saya akan menghabiskan ulang tahun saya malam ini dengan nonton orang jungkir balik..

Sekedar review, Chabatz d'Entrar adalah grup sirkus yang memainkan akrobat dalam bentuk teater komikal. Mereka pada dasarnya pamer gerakan-gerakan akrobat, tapi gerakan-gerakannya itu dikemas dalam bentuk cerita drama. Sepanjang pertunjukan mereka nggak ngucapin dialog sama sekali alias bisu, tetapi perlakonan mereka sampaikan dalam bentuk bahasa tubuh, mulai dari mimik muka sampek gestur. Pertunjukan yang digelar selama sekitar 75 menit itu digelar di kebun belakang gedung CCCL, dan kebun itu dipadati sekitar 500 penonton. Saya bertanya-tanya, berapa pawang hujan yang dibayar orang-orang Perancis ini supaya acaranya nggak buyar..?

Sayang panitianya sudah bilang dari awal, bahwa selama pertunjukan, penontonnya nggak boleh foto-foto. Alhasil saya dan my hunk terpaksa ngumpetin kamera-kamera kami di tas. Tapi dasar kolega saya yang nggak pernah nonton sirkus secara live, nggak bisa nahan rasa terpukaunya waktu aktor-aktor sirkus itu berhasil nahan keseimbangan hanya dengan bertumpu pada kayu tipis, dan langsung kolega saya mengarahkan kamera HP-nya. Jepret! Dan dalam waktu bersamaan, tuh foto langsung di-upload-nya ke Facebook. (Dan benar saja dugaan saya, dos-q mau pamer kalau dos-q lagi nonton sirkus..) Saya mau negor dia, bilang kalau pertunjukan ginian nggak boleh foto-foto, tapi saya nggak tega liat air mukanya yang terlalu antusias. Di kota asalnya, boro-boro ada sirkus akrobat, yang ada juga monyet-monyet gelantungan di hutan..

Nah, pas pertunjukan berakhir, para penonton pun rebutan kepingin foto-foto sama artis-artisnya yang kebetulan cuman tiga orang itu. Ternyata nggak semua personel Chabatz d'Entrar seneng meet and greet, ada satu orang yang dengan senang hati mau diajak foto bareng, tapi dua lagi langsung ngeloyor ke kamar ganti dan nggak mau keluar-keluar..

Sebenarnya, normalnya saya dan my hunk udah merasa cukup dan kami biasanya langsung pulang. Tapi kolega saya, yang kayaknya seneng banget bisa nonton pertunjukan Perancis di gedungnya orang-orang Perancis, kebelet kepingin foto bareng salah satu aktor sirkusnya. Alasan dia kepingin foto sama aktor yang itu adalah coz si aktor itu punya mimik muka yang cool.. (yang dalam opini saya sendiri, tipe ekspresi mukanya itu tipe sombong..)Lalu saya bilang ke kolega saya, "Aku nggak (suka) berfoto sama bule." Karena saya sendiri sudah merasa bule, hihihi.
Tapi kolega saya nampak kemecer banget kepingin foto bareng artis Kaukasus itu, cuman dos-q rada malu-malu gitu. Dan saya sahabatnya, saya kan nggak punya urat malu, hihihi.

Akhirnya saya coba tolongin, saya perkirakan tuh artis-artis pada ganti baju di ruangan mana, dan saya pun cari. Sambil saya ajakin kolega-kolega saya yang keblinger mau foto sama artis tadi. Untung saya berhasil dapet pintu kamarnya, lalu saya ketok. Dan ternyata pintunya dibuka, oleh personel Chabatz d'Entrar-nya sendiri!
Tapi yang ngebuka pintunya itu personel yang mukanya ramah sih, bukan yang muka cool dan di-request kolega saya itu..

Saya langsung gelagapan. Lhaa..mau SKSD ngajak foto-foto tapi kok rada-rada gengsi, hihihi..
"Eh, excusez-moi, Sir.." Saya langsung nyapa si artis dengan bahasa Perancis yang patah-patah. Saya lupa: ya ampun, mestinya kan saya manggil Monsieur ya, bukan Sir..:p
Si artis memandang saya dengan tatapan welcome.
"Vouz allez prendre une appareil photo avec moi?" tanya saya ragu-ragu. Eh, sebentar, ini grammar bahasa Perancis-nya bener nggak ya? Whoaaa..saya panik! Saya udah lama nggak ngomong Perancis!
Si artis, dengan rambutnya yang keriting tebal dan jenggot yang lebat, nampak bingung denger bahasa Perancis saya yang nggak karuan. Saya ngelirik kolega saya yang mau foto bareng. Tatapan matanya seolah menyiratkan, "Bukan elu, tapi sama temen elu yang botak.."
Saya mencoba membenahi kalimat saya. "Je voudrais prendre une photo avec vous et deux de vos amis." Eeh, saya bicara dengan badan merunduk-runduk..(sama kayak lagi ngomong sama dosen saya kalau lagi mau minta nilai tambahan..)
Si artis makni bingung aja. Lama-lama saya samber pake bahasa linggis aja deh. "I would like to take photo with the two of your friends.."
"Oooh!" si artis baru ngeh. "My friends, they're in the show."
Saya bengong. "Show?" Show apaan? Kan pertunjukannya udah selesai? Ada pertunjukan lagi? Di mana? "Where?" tanya saya.
"There," dia nunjuk nggak jelas.
"Where?" saya nanya lagi.
"Showa, there," dia ngibasin tangannya, seolah-olah nunjukin orang lagi mandi.
"Shower??" saya baru ngerti. Haiyaa..selalu aja ini akibatnya kalo orang dengan telinga budek kayak saya ketemu orang yang pronounciation-nya nggak jelas. "When will your friends finish shower? I'd like to take photo with them."
Si artis ngangkat bahu. "I don't know when. I'm not sure." gesturnya seolah-olah mau bilang, temen-temennya kayaknya nggak mau "jumpa fans". Udah capek, gitu?
Tapi pada dasarnya, gesturnya juga mau bilang, 'Gw mau kok foto bareng elu-elu.'

Saya ngelirik bodinya sebentar. Gelo, nih orang cuman telanjang dada, dengan handuk besar disampirin di pundak, sembari ngebul. Saya sih males foto sama sampeyan, Pak. Pacar saya lebih cakep ketimbang sampeyan.. :p

Saya bisik-bisik ke kolega saya yang tadi mau foto bareng itu. "Katanya, temennya yang lain lagi mandi, kayaknya nggak mau diganggu. Tapi kalo (sama artis) yang ini, lu mau foto bareng dia nggak?"
Kolega saya nampak manyun. "Aku mau ama yang botaaakk.."
Haiyaah..!

Singkatnya, kami pun pulang, dan my hunk bawa banyak sekali hasil jepretan kelakuan ceweknya yang lagi ulang tahun berikut temen-temen ceweknya yang cerewet. Kolega saya gagal foto sama personel yang dia incar, tapi sangat senang dengan pertunjukan yang berhasil dia potret tanpa rasa bersalah.. Dan untunglah kami nggak mutusin berfoto sama si artis berjenggot tukang ngebul tadi..

Saya masih sempat ngomel ke kolega saya pas berjalan pulang. "Kamu itu lhoo..mau foto sama artis kok milih-milih. Dianya tadi udah mau foto sama kita, tapi kamu malah kepingin yang botak. Mbok foto sama yang ada ajalah..!"

Heheee..anyway, terima kasih ya buat semua sanak sodara dan teman yang udah ngirimin saya ucapan selamat ulang tahun. Makasih udah doain saya, semoga doanya mantul ke Anda semua yah! Maaf, belum sempat dibales semua, ini saya lagi nyicil bales ucapannya satu per satu.. Udah ah, saya mau tidur dulu. Selamet malam, semuanya.. :)

Friday, May 20, 2011

Buku Teks Sudah Basi

Jaman S1 dulu, saban kali masuk semester baru, saya selalu bertanya-tanya, berapa buku teks yang kudu saya beli semester ini. Karena tiap semester saya mesti ikut sekitar 10 mata kuliah, dan tiap mata kuliah punya buku teks berbeda-beda. Jika tiap buku teks dibanderol Rp 100k, berarti tiap semester saya kudu nyediain dana sejuta. Sebelnya, buku teks cuman diperlukan selama satu semester doang, coz dipakainya ya cuman untuk mata kuliah itu doang.

Sewaktu masuk sekolah spesialisasi, saya seneng coz merasa nggak perlu beli buku teks banyak-banyak. Saya kan ambil program studi Obstetri Ginekologi, praktis saya cuman butuh buku teks Obsgin doang dong. Ternyata saya salah. Pada semester satu ini, saya kudu belajar Farmakologi, Statistika, dan lain sebagainya yang sebenarnya hubungannya jauh dari Obsgin yang saya dalemin. Alhasil, saya perlu buku teks lain lagi dong.

Tahu bagian paling menjengkelkan dari buku teks kedokteran? Ilmu kedokteran berkembang terus. Metode yang ditemukan 5-6 tahun lalu, bisa jadi sudah ketinggalan kalau mau dipakai sekarang. Akibatnya, buku teks selalu diperbaharui penerbitnya hampir saban lima tahun sekali. Jadi kalau saya beli sebuah buku tahun ini, mungkin isi buku itu sudah nggak relevan lagi kalau dibaca lima tahun lagi.

Seakan-akan kurang mubazir, saya nyadar bahwa isi buku teks yang paling mutakhir pun ternyata sudah ketinggalan jaman. Coba Anda iseng buka buku teks Anda, lihat halaman referensi di bagian belakang. Ternyata sumber-sumber yang dipakai untuk menulis buku itu, adalah penelitian-penelitian yang dipublikasikan 10-20 tahun lalu. Kesimpulannya, baca buku teks adalah baca hasil riset puluhan tahun lalu, dan tidak kasih informasi apa yang baru dalam 1-2 tahun belakangan. Basi.

Makanya saya males banget beli buku teks. Kalau mau cari informasi anyar, saya lebih milih baca jurnal. Tinggal diseleksi menurut kriteria Evidence-Based-Medicine, apakah jurnal penelitian itu layak dipercayai atau enggak. Untuk keperluan buku teks pada mata-mata kuliah tertentu yang cuman saya butuhkan di satu semester, saya lebih seneng minjem buku teks di perpustakaan kampus. Jelas jauh lebih irit ketimbang beli sendiri.

Tentu saja, ada nggak enaknya. Perpustakaan kampus saya kasih batas waktu dua minggu buat minjem. Padahal saya butuhnya selama satu semester, sekitar enam bulan tho? Untungnya, perpustakaan kampus saya ngijinin peminjamnya memperpanjang peminjaman setiap dua minggu. Alhasil, saban dua minggu, saya bela-belain ke perpustakaan bawa buku-buku yang telah saya pinjam, untuk dicatet bahwa saya mau pinjam buku itu lebih lama. Dan saya melakukan itu tepat waktu, terus-menerus, selama satu semester. Saya sampek menerapkan hari Jumat sebagai Hari Lapor Buku ke Perpustakaan.

Hasilnya nggak sia-sia. Nilai saya lumayan bagus buat mata-mata kuliah yang saya pinjem bukunya dari perpustakaan. Ini mematahkan mitos bahwa kalau mau dapet nilai bagus harus beli buku teks banyak-banyak. Saya nggak beli, cuman minjem gratis..

Toh sampek hari ini saya nggak tahu manfaat jangka panjang buku teks. Buat mahasiswa yang cuman kuliah 5-6 tahun, beli buku teks mungkin berguna; tapi setelah dia lulus, apakah buku teks itu masih bermanfaat? Saya bahkan nggak tahu apakah buku teks juga punya nilai investasi jangka panjang buat dosen. Mengingat prinsip kemutakhirannya yang cepat kadaluwarsa, saya rasa akhirnya buku teks cuman bisa jadi sarang debu atau bahkan jadi sarana nakut-nakutin tamu yang main ke rumah.

Saya bahkan lebih seneng baca e-book ketimbang buku teks. Kalau mau cari kata tertentu di e-book, cukup pakai search engine. Lha pakai buku teks, mata saya bisa sepet gara-gara bergerak seperti scanner. Indeks tidak selalu membantu.
Cuman sebelnya, dari e-book nggak bisa ambil gambar untuk copy paste ke dalam karya ilmiah saya. Alhasil, buat bikin gambar, saya kudu usaha sendiri deh.

Padahal di luar negeri sana, sudah ada bisnis penyewaan buku teks. Buku teks disewakan dalam jangka beberapa bulan, cocok buat mahasiswa yang cuman butuh buku teks tertentu dalam satu semester saja. Cukup pesan via online, dan buku akan dianterin ke kamar asrama kita. Jadi nggak kuatir akan kehabisan buku buat dipinjam deh. Kapan ya di Indonesia mau ada bisnis beginian?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Thursday, May 19, 2011

Dikiranya, Teman Dokter Itu Enak

Sewaktu saya memperkenalkan diri dan bilang bahwa saya dokter, reaksi orang hampir selalu seragam, "Waah..enaknya! Berarti kita bisa konsultasi gratis dong!"

Tadinya saya pikir juga demikian. Saya sangka dengan akses saya yang cukup gede pada macem-macem spesialistik kedokteran, bisa bikin saya sehat sentosa. Ternyata saya salah.

Dimulai dari ulah saya yang tadinya kepingin ngilangin kapalan di jari kaki saya, akibat saya keseringan pakai sepatu yang terlalu kencang. Kolega saya asisten dokter kulit. Kalau saya berobat sama dia sih, dia kasih saya resep gratis. Untungnya kapalan saya masih jenis yang tipis, kata kolega saya sih bisa ilang kalau saya rajin pakai pelembap. Tapi kalau tebel, baiknya di-cauter. Lha cauter-nya itu yang kudu mbayar, soalnya zat kimia yang dipakai kan bukan bikinan tangannya kolega saya. See, ternyata punya teman yang seorang dokter kulit tidak lantas membebaskanmu dari kapalan.

Nyokapnya teman saya, seorang dosen hukum, cerita bahwa dirinya suka cenat-cenut pusing nggak karuan. Beliau kepikiran mau periksa ke dokter aja, dan kebetulan salah satu mahasiswa hukumnya adalah putri seorang dokter internis, jadi si Tante mau berobat ke dokter internis itu aja. Si dokter internis pun nyanggupin janjian lewat telepon, dan si Tante dikasih antrean nomer pertama. Tiba di tempat praktek si dokter, praktis si Tante nggak disuruh ngantre, boleh masuk duluan. Tanpa ba-bi-bu, tanpa periksa badan, dokternya cuman kasih selembar kertas buat periksa lab dan kasih sebungkus obat untuk stok sebulan tanpa nebus resep. Semuanya gratis.
Si Tante malu sekali karena digratisin dan semenjak gitu nggak pernah dateng lagi ke tempat praktek si dokter. Saya bingung di sebelah mana malunya, apakah malu karena diperlakukan istimewa (nggak usah antre) atau karena dikasih gratis untuk full service.

Nyokap saya sendiri lain lagi. Sudah lama sekali belasan tahun lalu, nyokap saya pernah sakit gigi. Terus nyokap saya berobat ke dokter gigi. Setelah diobatin, dokternya pesen, itu giginya nggak boleh dikorek-korek.
Nah, pengobatan gigi itu kan nggak langsung sembuh. Tuh nyeri kumat dan karena nggak tahan nyeri, nyokap saya ngorek-ngorek gigi yang sakit itu. Alhasil, bukannya sembuh, nyeri giginya makin menggila. Nyokap saya sampek nangis berhari-hari karena kesakitan. Nyokap saya nggak mau balik ke si dokter lantaran tengsin, sudah melanggar nasehat si dokter. Padahal, dulu berobat ke dokter giginya kan nggak mbayar, gara-gara dokter giginya masih kolega bokap saya.

Tadi malem, saya senewen gara-gara denger bokap saya ngomel panjang pendek. Bokap saya baru beli modem dan kesulitan menginstalasi modem anyar itu. Soalnya, tulisan di pedomen manual modemnya kecil-kecil, dan bokap saya nggak bisa baca.
Saya sebel banget kalau bokap saya udah ngomel soal penglihatan burem lagi. Tahu masalahnya? Bokap saya beli kacamatanya dengan ukuran plus yang asal-asalan, tanpa mau diukur dengan benar. Sudah berapa kali saya minta bokap saya ke dokter mata, supaya bokap saya bisa tahu plusnya itu ukuran berapa, jadi bisa beli kacamata yang bener. Tapi bokap saya selalu aja nolak. Saya tahu alasan sebenarnya. Bokap saya sungkan sama dokter mata, soalnya pasti dokter mata menolak dibayar. Kan kalau pasiennya sama-sama dokter, nggak boleh minta bayaran..

Tuuh kan. Siapa bilang punya temen dokter itu enak? Awal-awal pasti seneng karena berobat gratis. Tapi lama-lama ya sungkan, mosok mau gratis terus?

Bahkan dosen saya, seorang profesor psikiatri, pernah cerita bagaimana beliau kudu menahan malu gara-gara nggak bisa bereskan urusan livernya sendiri yang sakit gara-gara ada kista. Sudah konsul ke profesor mana-mana (dengan gratis, tentu!), termasuk ke Sinx, tapi malah jadi pusing tujuh keliling lantaran kista livernya nggak kunjung sembuh. Sampek akhirnya beliau mutusin buat iseng berobat ke seorang internis di Jakarta. Pakai nama samaran, nggak pakai gelar medisnya yang seabrek itu. Dan berobatnya bayar.

Apa jawaban si internis itu, coba?
"Ibu, obatnya cuman satu," tukas si ahli internis. "JANGAN STRESS!"
Dosen saya terlonjak kaget. Sedikit tersinggung. Lha beliau kan psikiater, mosok divonis kalau dirinya stress?

Tapi kemudian beliau merenungkan kata-kata si ahli internis, dan akhirnya nyadar kalau dirinya memang punya gangguan alias stress. Jadi beliau belajar menerima kelainannya itu pelan-pelan, dan anehnya sejak itu, kista livernya nggak pernah terasa sakit lagi. Maka beliau pun kirim surat ke si internis, berterima kasih karena telah "diobati", dan berterus terang bahwa sebetulnya dirinya adalah seorang psikiater, tak lupa mengirimkan si internis sekardus besar kripik udang.
Si internis malah jadi malu, mohon maaf karena telah menarik bayaran medis gara-gara nggak tahu bahwa pasiennya itu sebenarnya juga dokter.

Saya rasa, dokter menanggung risiko berupa gangguan kesehatannya sendiri, kalau dia sungkan berobat ketika dirinya sakit. Dan rasa sungkan berobat itu meningkat, lantaran dia merasa tidak membayari dokternya dengan imbalan yang pantas. Dan dia tidak membayar karena pasti dokter yang dikonsulin menolak bayaran. Dokter harus memperlakukan teman sejawatnya seperti saudara. Artinya, sesama dokter nggak boleh menarik bayaran.

Dokter yang dikonsulin kadang-kadang juga pelit bicara. Coz, disangkanya koleganya yang berobat itu sudah ahli, jadi nggak usah diterangin panjang-pendek. Padahal, koleganya itu berobat karena memang sudah nggak tahu harus bagaimana mengobati dirinya sendiri.

Makanya saya selalu berusaha nyamar tanpa nyebut profesi asli saya jika saya sendiri berobat. Supaya dokter yang saya konsulin nggak sungkan menasehati saya sampek ke hal-hal kecil. Dan supaya saya sendiri nggak tengsin gara-gara lupa pada hal-hal cetek yang mestinya sudah saya hafal semenjak kuliah. Coz kita berobat ke dokter untuk cari pertolongan, kan? Dan kita cari pertolongan coz kita nggak bisa nolongin diri sendiri, kan?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Monday, May 16, 2011

Magnum dan Penolakan Ibuku

Ada satu impian yang dari dulu selalu kepingin saya lakukan: Saya ingin makan Magnum bareng nyokap saya.

Sewaktu dulu pertama kali Magnum diluncurkan, iklannya begitu bombastis dan bikin nyokap saya kepingin. Saya sendiri nggak tahu apa yang bikin kepingin: mungkin citra iklannya yang keren atau harga esgrimnya yang mahal.

Siyalnya, waktu itu Magnum begitu susah dicari. Ke manapun saya pergi, di tiap super-hiper-minimarket yang ada di Bandung, Magnum nggak pernah tersedia. Padahal nyokap saya kepingin. Jadi saya bercita-cita, suatu hari nanti, saya kepingin makan Magnum bareng nyokap.

Ternyata, sampek saya pindah ke Surabaya, saya nggak pernah nemu Magnum itu. Saya justru baru nemu Magnum setelah saya tinggal di di Surabaya. Magnum itu dijual di toko kecil dekat rumah paman saya di Klampis. Ada lagi toko kecil di pasar dekat kamar kost saya, dia juga jual Magnum. Saya mau beli, tapi saya inget nyokap yang tinggal di Bandung.

Jadi saya menunggu. Saya ingin pulang ke Bandung, cari toko lain yang belum saya survey, buat cari Magnum.

Saya berhasil pulang ke Bandung minggu lalu. Dan hari ini saya pergi jalan-jalan ke supermarket di Cimahi bareng nyokap saya. Dan di sanalah, saya nemu satu lemari es penuh Magnum. Saya nanya ke nyokap, apakah nyokap saya mau Magnum. Jawabnya, ya.

Setelah di lapangan parkir, mau pulang, nyokap saya bilang nyokap saya nggak tertarik lagi pada Magnumnya. Nyokap saya nggak mau makan Magnum yang udah saya beli itu.

Saya terperanjat.

Saya tahu nyokap saya sudah berbuat banyak selama hampir 29 tahun saya hidup. Nyokap saya mengandung saya, melahirkan saya, membesarkan saya, mengurus persekolahan saya, dan entah apa lagi, hampir semuanya tanpa saya minta. Bahkan sampek hari ini nyokap saya masih bikinin berlembar-lembar baju buat saya. Saya bisa bilang terima kasih ribuan kali tapi itu nggak akan pernah cukup. Karena apapun yang dilakukan ibu kepada anaknya tidak bisa dibandingkan dengan anaknya yang mau belikan ibunya sebatang es krim keluaran Wall's seharga Rp 10k. Jadi seharusnya saya tidak terkejut kalau nyokap saya malah menolak esgrim yang sudah saya beliin buat nyokap tanpa bilang terima kasih sama sekali, meskipun alasan utama saya beli esgrim itu adalah karena tahun lalu nyokap saya bilang bahwa nyokap saya kepingin Magnum. Dan alasan sampingannya, coz saya kepingin makan esgrim bersama nyokap saya.

I should haven't listened to my mom too seriously.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Penganten Pangling

Musim kawin sudah tiba dan saya masih aja fobia pernikahan.
*Saya tahu my hunk akan mengerti perasaan saya ini.*

Jadi gini lho. Saban kali saya lihat foto penganten teman-teman saya, entah kenapa IQ saya jadi jongkok coz saya nggak bisa mengenali mereka. Mereka selalu kelihatan..lain, dalam polesan make-up itu. Dan saya malah jadi ngeri liatnya. Entah eye-liner-nya ketebelan, bibir yang terlalu merah, sampek bedak yang terlalu tebal. Saya selalu bertanya-tanya, siapa tukang riasnya? Dan segera mengantongi nama itu dalam daftar "Aku-nggak-mau-dirias-sama-orang-ini".

Memang sih, Isman Suryaman pernah nulis di bukunya, penganten tuh kudu berjuang berdiri berjam-jam menghadapi lighting-nya fotografer yang super silau dan super panas. Dalam hal ini ya masuk akal juga kalau make-up-nya para tukang rias penganten itu sampek setebel-tebel gaban. Tapi ya, kok malah jadi bikin pangling sih? Saya sendiri kadang-kadang ragu kalau masuk ke pesta pernikahan teman. "Itu si Paris ya? Kalo diliat dari papan depan gerbang sih emang namanya yang empunya hajatan itu Paris. Tapi kok yang duduk di pelaminan itu nampak nggak mirip Paris?? Itu mirip Elizabeth Taylor kelebihan eye-liner.." *jahat*

Saya sendiri sudah berusaha berpikiran positif menghadapi pernikahan. Saya rasa setiap perempuan kepingin tampil paling cantik bak ratu di hari pernikahannya, ya kan? Bukan bikin orang jadi nggak mengenali dirinya, kan?
Jadi pada suatu hari saya datang ke pernikahan kolega saya yang orang Arab. Tampangnya beda banget, sampek saya nyaris nggak mengenalinya. Lalu waktu salaman, saya berbisik ke dia, "Selamat ya, Miranda, kamu cantik banget.."
Miranda langsung njawab sembari kayak mau nangis, "Aduh
, Vickyy.. Miranda kayak ondel-ondel.."

Yah, gimana ya? Apakah rias penganten harus seperti itu? Bikin pengantennya jadi nampak lain dari biasanya? Mendadak saya jadi ngiri sama Kate Middleton sewaktu dinikahi Dek William dua minggu lalu. Kate boleh pakai make-up sendiri, nggak usah pakai juru rias!!

Bisakah tradisi pernikahan Indonesia mengijinkan hal itu? Jika di Indonesia ada 20 orang saja blogger yang ngotot mau pakai make-up sendiri di hari pernikahannya, saya rasa para salon bridal harus siap-siap gulung tikar.

Atau mungkin memang sudah aturan dari sononya, rias penganten harus dibikin pangling. Jadi, Jemaah-jemaah Tercinta, kalau suatu hari nanti saya menikah dan make-up saya dibikin pangling, mungkin saya harus pecicilan di pelaminan supaya tamunya yakin bahwa mereka mengunjungi mempelai yang benar.

Ada yang tahu nama juru rias pengantin di Bandung atau Surabaya yang nggak bikin muka pengantennya jadi "manglingi"? Kasih tahu saya ya..

Foto-fotonya diambil dari sini, sini, dan sini

Sunday, May 15, 2011

Putus Fesbuk?

Tidak semua orang bisa menerima pengaduan dengan baik. Malah, tidak semua orang bisa membedakan, mana itu mengadu, mana yang cuman ngingetin, mana yang bahkan cuman cerita-cerita.

Alkisah, saya punya sepupu yang masih a-be-geh. Dasar a-be-geh ya, kalau nulis status tuh isinya ya nggak jauh-jauh dari kehidupan alayismenya (ya ampun, apa sih istilah yang tepat dari alay-isme?)
Nah, kadang-kadang dia misuh-misuh gitu, mulai dari misuh soal temen-temen sekolahnyalah, soal pacarnyalah, kadang-kadang soal gurunya atau bahkan bonyoknya. Saya suka geli sendiri ngebacanya, alangkah cemennya kalau ngebandingin persoalan a-be-geh dengan persoalan saya sendiri, mengingat selama beberapa bulan terakhir, orang-orang yang saya pisuhin kebanyakan adalah pejabat pemerintah. Kadang-kadang saya pikir remaja-remaja itu lebih realistis daripada orang dewasa. Kenapa orang dewasa mau-maunya misuh-misuh tentang pejabat, padahal kenal aja enggak? Coba Anda pikir sedikit, pernahkah Anda ngirimin kartu Lebaran secara pribadi kepada Tifatul Sembiring? Kalau enggak, kenapa Anda ngolok-ngolok Pak Tiff?

*nggak penting*

Nah, nyokap saya kan friend-an sama sepupu saya yang suka misuh itu di Fesbuk (saya benci menggunakan istilah 'berteman' untuk dunia maya). Ya yang namanya juga orang tua ya, lama-lama risih lihat status muda-mudi jaman sekarang (ceilee..bahasaku! *dilempar Macbook*) yang isinya misuh-misuh melulu. Jadi suatu hari nyokap saya ngomong sama maminya sepupu saya itu kalau sepupu saya itu suka ngomong yang..yah, mungkin kurang pantas didengar.

Berikutnya, beberapa waktu kemudian, nyokap saya di-remove dari daftar friend sepupu saya itu.
Hahaha!

Nampaknya, kesimpulan nyokap saya, tiap anak punya orang tua sendiri-sendiri, jadi nggak perlulah ada orang lain yang menasehati anak itu selain orangtuanya.

Justru sekarang saya yang ketawa terbahak-bahak dalam hati. Saya rasa, sebenarnya itu kesalahan sepupu saya. Tidak, kesalahannya bukanlah me-remove nyokap saya dari daftar friend. Kesalahannya adalah membiarkan orang tua yang TIDAK MEMAHAMI KONTEKS ke-alay-annya untuk membaca status Fesbuknya.. :p

Ya know, selalu ada gap budaya yang nggak bisa dijembatani antar tiap generasi. Kalian pikir, kenapa di toko baju selalu dipisah antar segmen orang dewasa dan segmen anak, bukan dicampur-campur? Karena nggak ada ceritanya orang dewasa nyaman milih-milih baju jika di deketnya ada anak-anak yang berantem rebutan siapa yang milih duluan baju motif Powerpuff Girl. Demikian juga, kenapa toko mainan harus dipisah antar segmen dewasa dan segmen anak? Karena anak-anak lebih suka mainan gelembung sabun buat ditiup-tiup, sedangkan orang dewasa pakai mainan sabun buat dioles-oles ke anu-nya. See? Inilah sebabnya tiap generasi punya ruangannya sendiri-sendiri, jadi kalau sampek dua generasi yang berbeda jalan pikiran itu berada di dua ruangan yang sama, pasti akan ada konflik. Konflik itu bisa macem-macam, versi besarnya mungkin perang mulut, versi kecilnya mungkin sebel-sebelan doang lihat kelakuannya.

Bisa nggak, dua generasi yang berbeda duduk di ruangan yang sama tanpa konflik? Ya bisa dong. Caranya ya jelas, yang satu kudu bisa memahami gimana rasanya berdiri di sepatu yang lain. Anak, mestinya tahu bahwa risiko friend-an Fesbuk dengan orang tua, entah itu dengan bonyoknya, dengan pakde-budenya, dengan dosennya, atau dengan entah siapa, adalah apapun yang dia tulis akan ditanggapi dengan a la orang tua. Artinya dia akan menghadapi risiko "digurui", yang mungkin merupakan risiko yang dia nggak sukai. Demikian pula, orang tua juga mestinya tahu kalau friend-an Fesbuk dengan anak, entah itu anak masih remaja atau sudah kerja sekalipun, risikonya adalah membaca status-status yang mungkin terasa kekanak-kanakan baginya. Jika dia menanggapi status itu dengan nada menggurui, yang jelas tanggapannya nggak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapin si anak, bisa jadi anak malah sebel ditanggapin orang tua, dan akan bereaksi macem-macem, mulai dari menghapus tanggapan sampek membuang dari daftar friend.

Kata kaum tua, kaum muda harusnya berterima kasih karena dia diberi tahu tentang cara yang benar. Lha saya rasa, kebenaran itu nggak ada yang absolut, artinya belum tentu apa yang benar bagi kaum tua itu adalah benar bagi kaum muda. Mungkin sepupu saya merasa lebih baik kalau dia menyelesaikan masalahnya dengan misuh-misuh di Fesbuk, coz dengan cara itu seluruh dunia bisa tahu bahwa temennya mungkin telah berbuat jahat kepada sepupu saya dan sepupu saya berusaha melawan. Meskipun dalam pandangan orang tua, misuh-misuh itu bukan tindakan yang pantas. Ngomong-ngomong, tindakan yang lebih pantas itu gimana, Om? Tante?

Saya pikir, mungkin ini sebabnya, sampek hari ini masih banyak temen saya yang ogah di-follow orangtuanya di Twitter, coz mereka sudah jenuh diawasin orangtuanya yang sudah pada pensiun itu di Fesbuk. Sebenarnya, ada banyak cara lho menyaring aspirasi-aspirasi yang nggak diinginkan supaya nggak jadi rentetan sampah di timeline atau news feed kita. Mulai dari pakai aplikasi Mute di Twitter ataupun Hide di Facebook (saya pakai aplikasi ini untuk menghindari status sampah dari orang-orang tertentu, misalnya friend yang siaran online shop melulu, atau friend yang statusnya penuh dengan memaki-maki Amerika), sampek memblokir orang-orang tertentu supaya mereka nggak bisa baca status kita (tanpa harus remove mereka dari daftar friend).

P.S. Kalau ada orang lain ngomong yang jelek-jelek tentang anakmu, kamu nggak perlu menanggapi mereka dengan serius. Bisa jadi itu benar, bisa juga salah. Tapi kalau pun itu benar, nggak perlu bilang, "Mama malu waktu Bu De X ngomong kamu suka makan sambil kecap-kecap!" karena itu hanya bikin anakmu jadi sebel sama Bu De X. Cukup bilang aja kepada anakmu, "Mama rasa, sebaiknya kamu berhenti makan dengan mulut kecap-kecap. Kamu kedengeran seperti kuda yang suka makan rumput di Selabintana." That's it.

Eh, ini posting saya kok jadi bernada menggurui pula ya? Haiyaa..siap-siap deh bentar lagi saya di-remove. Hihihi..
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Saturday, May 14, 2011

Bisa Dulu? Punya Dulu?

Mana duluan? Ayam dulu atau telor dulu? Punya kamera dulu atau bisa motret dulu? Punya leptop dulu atau bisa ngetik dulu?

Nah, minggu lalu kolega saya ngaku ke saya. Katanya, dia nggak bisa nyetir mobil di Surabaya.

Lha? Padahal dia cowok lho. Dan umurnya sudah 37 tahun, setau saya.
(Eh, memangnya cowok itu wajib bisa nyetir mobil ya? Apalagi kalo umurnya sudah 37 tahun? Apa hubungannya, coba?)

Lanjut. Kolega saya itu bisa nyetir mobil. Di kampung asalnya, sebuah kota kecil di kawasan Indonesia Barat, dia biasa nyetir mobil ke mana-mana. Tapi di Surabaya enggak nyetir. Soalnya, alasan kedua, lalu-lintas di Surabaya kan jauh lebih rame ketimbang lalu-lintas di kampungnya, jadi kemungkinan kecelakaan lebih besar. Kesimpulannya, nggak pe-de gitu lho.

Alasan pertama? Lha dia mau nyetir mobil siapa di Surabaya? Kendaraan andalannya sehari-hari adalah sepeda motor miliknya.

Makanya kolega saya ini nggak bisa nyetir mobil di Surabaya.

Ini gimana ya solusinya, Teman-teman? Apakah harus latihan nyetir dulu di Surabaya supaya terbiasa nyetir di Surabaya? Kalau mau latihan nyetir, pakai mobil siapa? Apa ada ya orang bela-belain les nyetir dengan alasan "kepingin bisa nyetir DI SURABAYA"?

Lalu, kan kita inget bahwa keterampilan itu akan hilang kalau nggak biasa digunakan. Jadi kalau udah lulus les nyetir, mesti sering-sering nyetir dong? Lha kalau nggak punya mobil gimana? Mosok harus beli mobil dulu supaya nggak lupa caranya nyetir? Kan nggak mungkin nodongin teman buat nyetirin mobilnya teman setiap hari?

Apalagi sekarang kecanggihan mobil sudah meningkat. Banyak diproduksi mobil matic. Kita tahu, ada orang yang cuman bisa nyetir mobil manual, tapi nggak bisa nyetir mobil matic. Apakah orang kudu beli mobil matic duluan supaya bisa nyetir mobil matic?
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Sunday, May 8, 2011

VIP Bukan Very Important Person

Antusias bahwa di Surabaya mau digelar konser jazz gratis, maka semalam pun saya ngajakin my hunk nonton tuh konser di kawasan Darmo. Konsernya adalah konser tunggal Cedric Hanriot, pianis jazz asal Perancis yang lagi manggung di Surabaya dalam rangka tour internasional. Piano dan jazz adalah kesukaan saya, jadi kloplah. :)

My hunk bela-belain ngajak saya dateng sejam lebih awal buat nonton konser ini. Semula saya nggak ngeh ngapain dateng sore-sore, toh konsernya malem, lagian siapa sih yang seneng jazz dari artis Perancis yang sama sekali nggak terkenal di Indonesia?

Ternyata perhitungan saya salah. Setengah jam sebelum konser mulai, pengunjung mulai memadati teras gedung, dan panitia terpaksa nyuruh pengunjung berbaris. Yang dateng rata-rata mahasiswa, mereka dateng bergeng-geng. Saya, yang mantan mahasiswa brutal, mulai curiga bahwa tidak ada ceritanya mahasiswa melewatkan apa-apa yang gratis, sehingga saya dan my hunk merapat ke dalam barisan sembari gandengan erat bak orang mau tawaf. Bener aja, siapa cepat dia dapat, ternyata yang baris paling depan bisa duduk di kursi penonton paling depan.

Tapi nggak depan-depan amat. Dua baris paling depan sudah ditandai panitia, ada kertasnya bertuliskan "Undangan". Halah! Saya mbatin, coz sebel lantaran saya bukan Very Important Person. Untungnya saya dan my hunk cukup gesit, jadi kami bisa dapet baris ketiga. A-ha.

Sembari nungguin artisnya muncul, my hunk nge-twit dan saya sibuk nolah-noleh. Lalu masuklah segerombolan itu. Satu keluarga, Kaukasus, anaknya ada empat orang, paling besar mungkin belum berusia sembilan tahun. Semuanya ngomong Perancis. Dan gerombolan itu pun menghampiri barisan kursi paling depan. Merekalah Undangan-nya.

Lha namanya juga anak-anak, nggak kulit putih, nggak kulit sawo mateng, kalau disuruh nunggu, ya jelas nggak sabaran. Anak yang laki, ngambil kertas bertuliskan undangan yang tadi ada di kursinya, lalu melipat-lipatnya. Tahu-tahu, sebuah pesawat kertas melayang di depan piano yang mau dipakai konser.

Adeknya ternyata juga nggak mau ketinggalan. Kertas undangan yang ada di kursinya pun dia lipat-lipat. Yeah, pesawat kertas kedua pun melayang!

Adeknya yang satu lagi, saya taksir mungkin baru berumur empat tahun. Gaun yang dipakaikan emaknya kayaknya kegedean. Bolak-balik tali gaunnya copot, alhasil mammae-nya ekspos ke mana-mana. Si upik bule kayaknya nggak peduli. Duduk petangkrangan di kursi penonton paling depan, tapi lebih banyak pecicilan.

Saya nyikut my hunk. "Aku bela-belain dateng ke konser cepet-cepet, malah disuruh duduk di belakang arek-arek cilik yang nggak mau duduk manis."

My hunk cuman senyum-senyum.

Untungnya, bonyok anak-anak Kaukasus itu kemudian nongol. Kaget bagian depan pentas sudah dirombak jadi arena tempur pesawat kertas, dua-duanya langsung mendelik ke anak-anak itu pakai bahasa Perancis. Nadanya seperti, "Ayo duduk manis! Nggak boleh lempar-lemparan pesawat!"

Saya ngeliatnya kebelet mau ketawa. Owalah, Ma'am, Ma'am, sampeyan dari negara kaya kok anaknya banyak bener dan umurnya kok hampir sepantaran semua? Alat KB di sana mahal ya?

Untung artisnya tepat waktu. Cedric Hiarnot nongol bersama seorang basis dan seorang drummer yang ganteng-ganteng, dan hadirin langsung tepuk tangan. Semua orang yang memadati La Salle (dalam bahasa Perancis artinya "ruang kelas"), duduk hening, dan mendengarkan dengan antusias.

Lagu pertama, tepuk tangan masih meriah. Lagu kedua dan ketiga, tepuk tangan tetap meriah. Mulai lagu keempat, saya lihat penonton-penonton kecil itu mulai bosen. Salah satu manjat tempat duduk, ngintip penonton-penonton belakangnya. Satu lagi menguap lebar-lebar. Yang satunya bahkan sudah menggolerkan kepalanya di lengan nyokapnya.

Memang kalau saya itung-itung, biarpun bintang konsernya itu artis Perancis, tapi penontonnya sendiri kebanyakan masih orang Indonesia. Sedikit banget kalangan Perancis yang dateng, biarpun mereka udah dikasih privilege tempat istimewa paling depan. Ada beberapa tempat yang tadinya disediain buat VIP, sebagian malah kosong. Belakangan para empunya tempat duduk dateng, ternyata masih warga pribumi juga, mungkin dari klub musik manaa gitu.

Jujur aja, saya suka sebel sama kelakuan orang-orang VIP ini. Udah dikasih tempat duduk paling enak sedunia, tapi nggak mau dateng tepat waktu. Yang udah dateng pun ternyata orangnya bukan VIP, mungkin cuman keluarganya atau handai-taulannya yang sama sekali nggak ngerti musik atau minimal tahu bahwa kalau ke konser itu mesti duduk tertib. Mbok tempat duduk paling enak tuh dikasih aja ke penonton yang udah jelas-jelas mau bela-belain ngantre dan dateng lebih awal demi dapet kursi paling depan.

Nggak cuman VIP di konser musik. Tapi juga di tempat-tempat lainnya. VIP di tempat kondangan penganten, yang dikasih tempat makan khusus tapi ma'emnya nggak diabisin. VIP di simposium, yang dibelain duduk di depan tapi malah tidur sepanjang seminar. Atau VIP-nya orang-orang studi banding tapi malah bawa istri dan istrinya minta dibawain barang belanjaan. Dan entah VIP apa lagi.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Friday, May 6, 2011

Oleh-oleh dari Perancis

Alunan gending bonang dan saron bertalu-talu menghentak di gedung pusat budaya Perancis itu. Sindennya berjingkat bangun dari duduknya yang tadi bersimpuh, menghampiri bapak-bapak kepala gedung dan mereka pun megal-megol di teras gedung. Pemandangan itu menarik hampir semua tamu, dan nggak ayal semua berebut memotret sang bule yang asyik joget-joget bersama sinden sembari diiringi tabuh gamelan. My hunk, berbisik kepada saya, “Dia tampak menikmati sekali (joget bersama sinden)..”

Show gamelan itu, semalam, menandai pembukaan pameran karya Agus “Koecing” Sukamto, pelukis asal Surabaya yang menggelar ekshibisi lukisan-lukisan dan sketsanya yang berjudul “Oleh-oleh dari Perancis” (sosoknya ada di foto kedua, orangnya yang pakai kemeja putih dan bawa ransel). My hunk mengajak saya ke sana buat menyemangatin pelukisnya yang kebetulan masih temennya sendiri itu, dan saya sendiri bersukaria karena akhirnya kami menemukan alternatif kencan lain selain menggerayangi bebek goreng.

Pembukaannya sendiri ramai sekali, lantaran banyak banget seniman yang dateng dan dengan antusias melihat sketsa-sketsa karya Agus yang dipajang di seluruh aula. Sketsanya sendiri bertemakan kehidupan di Rouen, tempat Agus sempat tinggal tahun lalu di Perancis. Sekilas sketsanya rada mirip komik yang minim variasi warna, dan saya tertarik memandangi setiap gambar mencari-cari arti. Kadang-kadang untuk mempertegas makna, Agus menuliskan satu-dua patah kalimat sederhana dalam bahasa Perancis, seperti Merci beaucoup, Au revoir, A bien tot, dan sebagainya. My hunk minta saya menerjemahkan setiap kalimat yang dituliskan Agus di setiap lukisan itu satu per satu, dan salah satu sketsa yang disukainya adalah Je n’ai plus l’argent, yang langsung diunggahnya saat itu juga ke blognya.

Sebetulnya masih ada diskusi setelah pesta pembukaan pameran itu, tetapi my hunk sudah keburu kelaparan sehingga kami cabut setelah mengitari seluruh pameran. Saya sendiri sibuk motret kelakuan para pengunjung pameran. Pengunjung cewek pameran lukisan ini rata-rata modis dan punya selera bagus dalam berpakaian, hampir sama kayak saya lah..

Menurut undangan yang saya terima, pameran karya Agus Koecing ini masih digelar di CCCL de Surabaya sampek 20 Mei. Tidak akan lama-lama, coz tahun depan lukisan-lukisan ini mau diboyong buat ekshibisi di museum nasional di Rouen, untuk acara peresmian “la salle de Indonesia”, alias ruang bertema “Indonesia” yang akan dibangun di sana. Yeaah..Indonesia ternyata cukup unik sampek dijadiin ruangan sendiri di Rouen. Ihiiy..!

Thursday, May 5, 2011

Insiden E-mail Abal-abal

Ketika ibu-ibu dari Komisi 8 DPR nyebut bahwa e-mail-nya Komisi 8 adalah "komisi delapan et yahu dot kom", saya ngakak berat. Plis dong ah, mosok lembaga tinggi di negara masih pakai email gratisan? Kalau punya website www.dpr.go.id, kenapa tuh website nggak dimanfaatkan sekalian buat bikin e-mail?

Jadi ya wajar aja kalau kunjungan orang-orang Dewan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne malah dijadikan dagelan olok-olok di kalangan mahasiswa Indonesia di Oz. Orang-orang Indonesia yang sekolah S2 dan S3 di Oz itu bukan orang goblok, pastinyalah semua pada bisa buka e-mail dan hafal alamat e-mail masing-masing. Mosok orang-orang Dewan nggak ada satupun yang HAFAL alamat e-mail-nya sendiri? E-mail resmi yang institusional lho, yang selalu dipakai buat korespondensi menerima keluhan-masukan-saran-kritik dari rakyat, bukan e-mail alay yang dipakai buat pesbukan.. :p

Sebenarnya mungkin masih bisa dimaafkan kalau orang-orang Dewan pada nggak punya e-mail pribadi. Sudah tuwir, gaptek, mana tau caranya bikin e-mail, iya nggak? Salahin aja rakyatnya yang milih, suruh siapa waktu Pemilu dulu milih anggota Dewan yang gaptek, bukan begitu? Tapi mbok ya nggak usah bikin ulah nyebut-nyebut alamat e-mail palsu "komisi delapan et yahu dot kom" yang memang account-nya aja fiktif nggak pernah dibikin. komisi8@yahoo.com. komisidelapan@yahoo.com. komisiVIII@yahoo.com. Kenapa kok ngirim e-mail ke situ, e-mail-nya pada gagal terkirim semua..??

Owalah, bo'ongnya kok norak buanget.. *tepok jidat*

Cerita selengkapnya silakan dibaca di sini dan di sini

Wednesday, May 4, 2011

Ketika Bu Dokter Nonton Bang Rhoma

Ayayaa..maksud hati mau dugem, ujung-ujungnya kok jadi nonton Rhoma Irama seeh..? *tepok jidat*

Jadi gini, ceritanya Surabaya ulang tahun bulan Mei ini, tapi saya sendiri nggak ngeh ulangtahunnya tanggal berapa (maklumlah, kan warga pendatang baru di Surabaya..), jadi mal Tunjungan Plaza ngadain acara pesta bernama Pasar Malem Tjap Toendjoengan. Konsepnya sendiri sebenarnya bazaar gitu, isinya adalah kios-kios dadakan yang jualan cindera mata khas Jawa Timur, yang digelar di parkiran mal. Selain cindera mata seperti batik dan jamu-jamu tradisional, juga banyak banget yang jual makanan. Saya, yang nampaknya nggak bisa nahan diri untuk tidak berwisata kuliner, mencium bau-bau dugem alias DUnia GEMbrot alias acara makan-makan. Makanya waktu kolega saya, Rachmi (fotonya di atas), ngajakin saya jalan-jalan, spontan saya ngajakin dos-q ke Pasar Malem Tjap Toendjoengan..


Banyak banget jenisnya penganan yang dijual di sini. Selain rujak cingur, sate klopo, lontong balab dan lain-lainnya yang khas Jawa Timur, ternyata di bazaar bernuansa pasar kampung ini dijual juga penganan-penganan dari alam selain Jawa Timur, misalnya pempek Palembang dan cireng. Saya sendiri, akhirnya malah kelayapan menggerayangi penganan luar seperti surabi blueberry dan takoyaki keju, hihihi..


Cuman yang kurang mufakat adalah banyaknya tenant yang menggelar kios tidak diimbangi dengan menyediakan tempat buat pengunjung yang kepingin makan di tempat. Sedikit sekali disediakan kursi dan meja makan di tengah-tengah jalur untuk tempat nongkrongnya pengunjung. Padahal makanan yang dijual cukup berat lho, kayak misalnya soto, mosok mau dimakan sambil jalan-jalan atau a la standing party? Panitia nampaknya menggiring pengunjung buat makan-makan a la lesehan, soalnya banyak disediain meja makan lesehan dengan menggelar tiker di depan panggung utama yang nampaknya didesain sebagai spot utama. Panggung ini nampak nanggung, soalnya waktu saya dateng, panggungnya nggak ada pengisinya alias cuman standing mic doang. Ini mungkin maksudnya buat tempat manggung band ya, cuman band pengisi acaranya belum dateng.


Sebagai gantinya, di sebelah panggung digelar layar tancep segede-gede gaban. Alamaak..entah mungkin karena kebelet sama suasana pasar malemnya, layar tancepnya muterin film jadul dengan aktor utama Rhoma Irama dan Yati Octavia!

Walhasil saya jadi nggak betah berlama-lama di pasar malem itu. Yah, selain karena kekurangan variasi pilihan jajanan (coba kalau ada yang jual cheese cake atau tiramisu, mungkin saya masih betah), juga lantaran saya takut ketangkep basah wartawan lagi nonton layar tancep yang muterin film dangdut. Aiih, bisa jatuh nih pamor eike, bo’. Katanya Bu Dokter niatnya ke sini mau dugem, kok malah jadi nonton Bang Rhoma siih?

Buat Jemaah Georgetterox yang kepingin dateng, satronin aja pasar ini di area parkirnya Tunjungan Plaza, tepatnya di sebelahnya Sogo. Konon, pasarnya main sampek tanggal 15 Mei. Eits..jangan dateng siang-siang coz kiosnya belum pada buka. Lhaa..namanya aja Pasar Malem, jadi pasti bukanya baru malem dong. Mudah-mudahan kalian yang dateng ke sana lebih beruntung daripada saya, dan layar tancepnya muterin pelem yang lebih bermutu. Kan mendingan diputerin film lain, misalnya film Warkop DKI, atau film Suster Creambath, gitu? Atau mau sekalian diputerin film G30S/PKI di layar tancepnya? Oh oh, kalau katanya si Bang Jenggot, “Terlaluuu..!”

Tuesday, May 3, 2011

Ngambek Sama Nyokap

Tahu nggak, saban kali saya cerita yang merepet-repet tentang bonyok, pasti ada aja yang komen: "Kasihan lho, kok orangtuanya dijelek-jelekin, padahal orang tua sudah melahirkan kamu, membesarkan kamu, dan lain-lain et cetera bla bla bla.." Dan yang biasanya komentar gitu ya blogger yang sudah jadi orang tua, dan lupa diri rasanya jadi anak. Hah, biasanya saya nggak ambil pusing, coz komentator yang menghakimi kayak gini pasti nggak baca blog saya dari paragraf awal sampek akhir. Jadi kalau dia nggak perhatian-perhatian amat sama esensi tulisannya, akan sulit dia memahami perasaan penulisnya, maka ngapain tuh komentar diambil pusing, hm?

Ini cerita tentang saya puluhan tahun lalu, waktu usia saya masih 17 tahun. Jaman itu lagi ngetop-ngetopnya film 10 Things I Hate About You-nya Julia Stiles dan Heath Ledger. Saya kepingin nonton, lalu pas lagi ngobrol-ngobrol sama seorang teman bernama Amanda di sekolah, jadilah kita sepakat mau nonton film itu berdua nanti sore. Hari itu, kami akan pulang sekolah jam 11 siang, makan siang di rumah masing-masing, lalu cabut buat ketemuan di bioskop jam 3-an sore buat beli tiket. Terus nonton deh..

Siang itu saya pulang sekolah dengan hati seneng karena mau nonton sore-sore. Saya sampek di rumah, lihat nyokap lagi masak di dapur, lalu tanpa tedeng aling-aling saya bilang ke nyokap, "Mom, nanti sore Vicky mau nonton film di BIP sama Amanda ya?"

Eh, nggak taunya..nyokap saya balik badan dan ngomong ke saya dengan intonasi yang sama sekali nggak enak didengar, "Ngapain koen kok nonton?"

Saya terhenyak. Eh, apakah ada yang salah? "Ngg.." suara saya mulai ragu-ragu. "Iya, Vicky janjian sama Amanda mau nonton bioskop.."

Nyokap saya, entah kenapa, tahu-tahu marah sekali denger saya mau nonton. (Adegan ini saya lupa persis gimana ceritanya, mungkin karena saya begitu sakit hati dimarahin, lalu saya lupakan di memori. saya yang terdalam). Saya dibentak-bentak, dimarahi, dan entah apa lagi, pokoknya akhirnya, saya nggak tahan dan lari dari dapur ke ruang tengah tempat pesawat telepon. Lalu saya pencet nomer rumah Amanda.

"Amanda?" saya megang gagang telepon dengan gugup. "Amanda, maaf ya, kayaknya nontonnya nggak jadi."
Amanda kedengeran kaget. "Lho, kok nggak jadi sih?"
"Iya nih, nggak jadi," tahu-tahu suara saya mulai bindeng. "Nggak boleh sama nyokap!"
Amanda terdiam. "Vic," sekarang dia bingung. "Vic, kamu nangis ya?"
Saya diam. Gagang telponnya mulai basah kena air mata saya. "Nggak," tukas saya. "Maaf ya." Spontan saya nutup telpon.
Lalu saya masuk kamar saya, saya kunci, dan saya nggak keluar-keluar. Saya mbekap idung saya pakai bantal, dan saya nangis sampek ketiduran.

Bokap saya sempat bangunin saya buat makan siang, tapi saya nolak dan nggak mau bangun. Saya rasa saya sakit hati.

Pikiran anak usia 17 tahun saat itu adalah, kenapa saya nggak boleh nonton bioskop? Kan sekarang bukan musim ujian, nggak pa-pa dong saya senang-senang?
Apakah nyokap takut saya ngabis-ngabisin duit bokap dengan berfoya-foya? Lho, nggak ada tiga bulan sekali saya nonton bioskop..
Apakah nyokap takut saya kehujanan? Lho, sekarang kan bulan Juni dan bukan waktunya musim hujan..
Atau jangan-jangan, nyokap nggak mau saya main sama Amanda? Tapi kan Amanda anak baik, mosok saya nggak boleh main sama dia?
Dan berbagai macam pikiran jelek lainnya yang bikin bantal saya makin basah.

Yang lebih jauh lagi, saya nangis karena saya malu sudah batalin janji. Amanda mungkin sudah seneng mau nonton sama saya, dan kalau saya batalin nonton, dia akan kecewa coz nggak punya temen buat nonton bareng.
Dia mungkin sebenarnya bisa aja janjian sama temen lain yang nggak sepermainan dengan saya, tapi dia milih pergi sama saya, mungkin untuk menjaga persahabatan.
Dan saya pasti telah membuatnya bingung coz (nyokap) saya telah batalin janjian kami seenaknya begitu aja. Mbok ya nyokap saya mikir sampek sejauh itu, gimana rasanya orang yang udah kadung seneng banget, tahu-tahu batal seneng karena dilarang lantaran alasan nggak jelas?

Menjelang sore, nyokap saya bangunin saya dari tidur siang yang nggak enak. "Ky, Ky, bangun, Nak. Maaf ya, Mom minta maaf ya?"
Saya bingung, dengan separuh nyawa masih tidur.
"Tadi Vicky sudah janjian sama Amanda mau nonton bioskop?"
Saya ngangguk.
"Terus tadi gara-gara ndengerin Mom, Vicky nelfon Amanda bilang nontonnya nggak jadi?"
Saya ngangguk.
"Owalah..besok, pas Vicky di sekolah, bilang sama Amanda, Mom minta maaf karena bikin kalian nggak jadi nonton, ya? Tadi waktu Vicky pulang sekolah, Mom memang lagi marah, tapi Mom nggak lagi marah sama Vicky.. Maaf ya, gara-gara pikiran Mom lagi sebel, kalian kena imbas nggak jadi nonton.."
Saya tertegun. Eyalah, jadi bukan salah saya tho?

Memang kalau saya pikir lagi, tadi siang itu, ekspresi nyokap saya lagi be-te. Entah lagi be-te sama asisten pribadinya yang kerjanya nggak bener, atau be-te sama masakan yang salah bumbu. Saya memang nggak sempat perhatikan ekspresi nyokap saya pas saya pulang sekolah tadi.

Kata nyokap saya lagi, "Besok tanyain lagi sama Amanda, mau nggak nonton lagi? Kalo dia mau, duit buat nontonnya Mom kasih.."
Saya ngangguk. "Okey."
"Ya sudah. Sekarang koen sholat Ashar, terus mandi. Apa mau makan? Tadi siang koen nggak makan tho?"
"Sholat dulu, terus makan.." Saya bangun pelan-pelan.
"Ya wis, Mom minta maaf ya? Vicky jangan nangis lagi ya?" kata nyokap saya sambil nyium saya.

Besoknya, betulan saya ngomong gitu ke Amanda. Untung Amanda nggak marah. Kami pergi nonton dua hari kemudian, ketawa ngakak di bioskop, dan itu jadi salah satu film favorit kami.

Amanda menikah 10 tahun kemudian. Nyokap saya dateng ke pernikahannya. Justru saya yang nggak dateng, lantaran saya lagi tugas negara di Cali dan nggak bisa naik pesawat ke Bandung.

***

Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami kejadian siang itu.
1. Orang tua, selaku manusia, bisa kena bad mood, dan dalam keadaan itu, orang-orang di sekitarnya bisa kena jadi sasaran kemarahannya. Termasuk anaknya pun jadi sasaran, biarpun anaknya nggak salah apa-apa.
2. Anak selalu didoktrin buat nurut sama orang tua. Termasuk nurutin orangtuanya yang lagi bad mood. Akibatnya, ketika dia harus ngorbanin keinginannya sendiri demi nurutin orangtuanya yang lagi bad mood, dia jadi stress.
3. Kita tidak pernah tahu bagaimana kemarahan kita bisa mengorbankan orang lain. Nyokap saya nggak mengira bahwa gara-gara bad mood-nya siang itu yang mengakibatkan intonasi suaranya jadi ketus, saya terpaksa mengorbankan teman saya.
4. Nyokap saya menyadari itu tidak benar, oleh karena itu nyokap minta maaf. Sudah selayaknya orang tua minta maaf kepada anak jika sifat error-nya orang tua sampek menyakiti hati anak. Dan sebagai anak, saya belajar perlahan-lahan untuk memaafkan orang tua saya yang juga manusia.
5. Saya bisa aja membela janji saya dengan Amanda siang itu, dan tetap ngotot pergi nonton biarpun nyokap saya lagi ngamuk. Tetapi alasan saya tidak pergi siang itu, coz saya tidak tahu apakah Tuhan akan mufakat dengan keputusan saya yang nggak mau nurut sama larangan orang tua. Jika memang benar bahwa ridho Tuhan tergantung pada ridho ibunda, apakah doktrin itu berlaku juga pada ibunda yang lagi be-te dan lagi nggak bisa mikir jernih?

Tulisan ini saya persembahkan buat semua orang tua yang sering mengeluh tentang anak-anaknya. Saat anak-anak ngambek kepada Anda yang sudah membesarkan mereka, sebaiknya Anda berpikir, kenapa mereka begitu sulit memahami jalan pikiran Anda?

Sunday, May 1, 2011

Tembus Bioskop, Menjaring Penggemar

Tahu peminatnya sedikit, mereka melebarkan sayap promosinya ke khalayak luas dengan menggelarnya di bioskop. Kalau perlu, demi menarik minat orang banyak, penonton pun nggak ditarik bayaran, alias gratis.

Hey, pada tahu nggak, sudah 16 kali Kedutaan Besar Perancis menggelar festival film Perancis di Indonesia? Jarang-jarang lho ada yang ngeh, soalnya lantaran filmnya memang pakai bahasa Perancis, jadi penontonnya ya rata-rata penggemar kebudayaan Perancis. Nggak heran, festivalnya ya digelar hanya di tempat-tempat tertentu, paling sering ya di tempat les bahasa Perancis. Lama-lama, terbersit keinginan buat mempromosikan kebudayaan Perancis di tempat-tempat yang lebih umum, supaya menjangkau lebih banyak pasar. Makanya tahun ini festival film Perancis nggak cuman digelar di tempat les bahasa Perancis doang, tapi film-filmnya juga diputar di bioskop-bioskop XXI yang berserakan di Indonesia. Dan supaya lebih menarik, penontonnya pun nggak usah bayar!

Tahun ini, festival film Perancis digelar di Jakarta, Bandung, Jogja, Denpasar, Balikpapan, dan tentu saja saya kebagian nonton di mal Surabaya Town Square. Sebenarnya banyak banget film yang diputer di festival ini, dan hampir semua filmnya pernah menangin penghargaan macem-macem. Tapi nggak semua film diputer di setiap kota, mungkin lantaran keterbatasan bioskop juga yang bersedia nerima penonton gratisan. Setiap kota kebagian menggelar film gratisan ini selama dua hari, dan Surabaya kebagian dapet lima film. Saya nonton sama geng saya kemaren.

Sewaktu kami masuk bioskop buat nonton film pertama, Welcome, karyanya Philippe Lioret, kami nggak perlu antre lama-lama buat bisa masuk teater. Teaternya cuman terisi setengahnya, nampaknya karena nggak banyak orang yang tahu bahwa di mal itu lagi digelar acara nonton film gratis. Promosinya memang nggak terlalu jor-joran, paling-paling di lobby bioskop cuman ada X-banner satu lembar bertuliskan Festival Sinema Perancis. Saya tahu secara kebetulan ada festival ini dari Twitter, coz saya mbuntutin account-nya @CCF_Bandung dan @CCCLSurabaya (account resminya pusat kebudayaan Perancis di Bandung dan Surabaya).

Film Welcome-nya sendiri bagus banget! Ceritanya tentang usaha seorang perenang bernama Simon Calmat (Vincent Lindon) yang tinggal di Perancis dan berupaya ngajarin Bilal Kayani (Firat Ayverdi) supaya bisa berenang. Alasan gilanya, Bilal kepingin nyebrang Selat Dover demi ketemu pacarnya, Mina (Derya Ayverdi), yang tinggal di Inggris. Kenapa harus berenang?

Soalnya Bilal nggak legal kalau nyebrang pakai kendaraan yang lewat pelabuhan resmi. Kenapa nggak legal? Soalnya Bilal adalah imigran gelap asal Irak yang nggak punya surat-surat resmi untuk boleh keluar dari Irak..

Saya suka film ini coz di film ini saya dapet banyak banget pengetahuan baru. Perancis ternyata nggak membolehkan warganya nolongin imigran gelap, coz takut imigran bawa penyakit nular atau bikin kriminal. Di sini saya lihat perasaan manusiawinya Simon buat nolongin Bilal, antara takut melanggar hukum lantaran ngumpetin imigran gelap dan kesiyan lihat Bilal yang setengah mati belajar berenang demi ketemu Mina. Terharu juga sama perjuangannya Bilal; demi ketemu pacar, Bilal lari dari Irak, ditangkep pulisi Turki dan dihukum dengan dibekap dalam tas plastik selama berhari-hari sampek trauma kalau harus nahan napas lama-lama. Padahal buat bisa berenang, kan harus banyak-banyak nahan napas..

Film kedua sempat nonton juga, tapi saya dan geng nekat keluar teater di tengah-tengah filmnya gara-gara filmnya ngebosenin. Maklumlah, soalnya film dokumenter, nggak ada konfliknya, jadi nggak seru, hihihi.. Lumayan sih bisa kabur sebentar, soalnya kalau maksa nonton semua filmnya berturut-turut, penontonnya nggak akan sempat sembahyang tuh. Lha tiap film rata-rata durasinya pas hampir 120 menit.

Film ketiga saya sukaa banget! Judulnya Les Enfants de Timpelbach, garapannya Nicolas Bary. Film ini cocok banget ditontonin semua umur coz judulnya aja memang tentang anak-anak di desa Timpelbach. Ceritanya, ada sebuah desa yang mana anak-anak penduduknya nakal-nakal semua. Orangtuanya pada kewalahan coz anak-anak itu saking bandelnya, sampek akhirnya mereka mutusin supaya semua orang tua pergi dari desa. Akibatnya anak-anak itu kelimpungan bak anak ayam kehilangan induk, dan terpaksa beresin masalah mereka sendiri sehari-hari tanpa orang tua..

Bahkan kalau ada DVD-nya pun, kayaknya saya juga mau cari coz nih film bikin semua penonton ngakak dari awal sampek kelar. Sinematografi yang canggih, nunjukin bagaimana Wolfgang (Terry Edinval) bikin sistem pembangkit listrik tenaga air a la tahun ’10-‘30an hanya dengan pakai alat sederhana, supaya cowok-cowok di desa bisa mandi semua. Ada cinta-cintaan monyet si kecil cupu Manfred (Raphaël Katz) yang ngegebet Mireille Stettner (Lola Créton), cewek bermulut silet yang jauh lebih tua dan lebih jangkung ketimbang Manfred. Dan kisah gangster-gangsteran a la kanak-kanak, ditandai Robert Lapointe (Léo Paget) yang dikirim geng anak-anak jail tapi manis pimpinan Marianne (Adèle Exarchopoulos) buat mata-matain gengnya Oscar Le Rouge (Baptiste Bétoulaud), tapi buyar gara-gara terbongkar oleh Willy Hak (Martin Jobert), tipikal asisten pemimpin gang yang sirik lihat anggota baru yang lebih pintar.

Makin sore, ternyata penonton festival makin banyak. Teater mulai penuh pada pemutaran film ketiga, sampek-sampek XXI terpaksa kudu pasang pita pembatas demi ngatur antrean penonton yang kepingin nonton gratis. Penonton yang nggak bisa ngomong Perancis pun nggak usah panik, coz semua filmnya dikasih terjemahan ke bahasa Inggris. Hm..sayang ya cuman digelar di enam kota doang. Moga-moga tahun depan Kedubes Perancis bisa bikin acara nonton gratis ini di lebih banyak tempat lagi. Syukur-syukur, kalau perlu, digelar di layar tancep aja, hihihi..