Lalu gw lihat tulisan ini dan tercengang.
Baiklah, mereka salah menerjemahkan. “Pergunakanlah saat kereta berjalan”, seharusnya hasil terjemahannya adalah “Please use when the train is going.”
Karena, “Please use only the train is running” artinya hanya dipakai kalau keretanya lari.
Gw bayangin, kalau penumpangnya kaum kulit putih alias bangsa Kaukasus, mereka harus nunggu keretanya lari dulu, baru mereka bisa pipis. Tapi bangsa
Lalu gw masuk ke kamar toilet itu, dan nyari-nyari lobang toiletnya. Wijna, minggu lalu bilang di blog ini bahwa hasil buang hajat di toilet kereta itu langsung jatuh ke rel, bukan “ditabung” dulu di container atau entah apa. Ternyata dia benar. Lobang toilet yang lagi gw potret ini, jelas-jelas jatuhnya ke tanah.
Pantesan bangsa ini susah banget dibikin jujur kalau berbuat salah. Orang-orang kita senang lempar batu sembunyi tangan, kalau bikin salah suka nggak mau ngaku. Dan toilet ini sudah mencerminkan itu. Orang tinggal lempar produk hajatannya di atas rel, lalu meninggalkannya lari bersama kereta. Lempar tokai, sembunyi bokong.
Ini masih mendingan kalau keretanya lewat di kawasan persawahan. Hasil tokai atau pipis bisa dijadiin zat hara yang bikin subur tanah. Tapi gimana kalau keretanya lewat di kawasan perkotaan? Apalagi kalau relnya melintas di tengah jalan raya. Gimana perasaan kita kalau mobil kita mesti ngantre di depan pintu lintasan kereta api, nungguin keretanya lewat, lalu ternyata di dalam kereta itu ada orang lagi boker, dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta? ^^
Atau mungkin harus dibikin pengumuman dulu, “Perhatian, perhatian! Sebentar lagi kita akan memasuki jalan raya di
Gini nih akibatnya kalau pembangunan transportasi kita nggak banyak melibatkan faham religius. Katanya ajaran agama gw, mbok ya habis buang hajat itu dibersihkan supaya produk hajat itu tidak merugikan orang lain. Ya termasuk hasil buang hajat di toilet itu dibuang di container yang benar, jangan sampai dibuang di rel. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Pertanyaannya sekarang, apakah negara kita punya cukup anggaran buat membangun container toilet, supaya penumpang kereta tidak buang hajat sembarangan?
Fakta yg nggilani sekali. Semoga kalo pipis di pesawat nggak jadi hujan :P
ReplyDelete*ROFL*!
ReplyDeleteGilingan, hujan kayak gitu mungkin bauk pesing, Mas.. :-p
*LMAO* ...Fahmi nggilanipun!!
ReplyDeleteugh!!
ReplyDeletelho mi, emang kl di pesawat jug kek gitu sistimnya?
yek....... :P
Mendadak aku merasa butuh bicara dengan ahli pesawat terbang..
ReplyDeletememang dilematis teh....
ReplyDeletebutuh semangat berubah yang kolektif
mampir2 ke tempatku teh
Btw, kalo jatuhnya dijalan raya kasihan yang nyapu yah, tar pada lengket disapu :)
ReplyDeleteNah itu dia! Pengalaman dari korban kecipratan "sesuatu" dari atas jembatan rel KA. :)
ReplyDeleteMakanya kalau lewat rel kereta harus pakai sendal. Terus kalau jalan di bawah jembatan rel kereta harus pakai payung, hahahah.. :D
ReplyDeleteOh Indonesiaku..
katakan: "saya mencintai Indonesia tapi tidak dengan keretanya!"
ReplyDeleteHahaha..mencintai boleh sepotong-sepotong ya?
ReplyDeleteWao baru tahu sekarang ..... dah lama tidak naik kereta .... tapi rumahku dekat rel kereta, ngak pernah ni mananya dapat berkat dari penumpang, paling berkatnya tas kreset yang isinya sampah .... itulah Indonesia. Bu dokter mampir keblogku
ReplyDelete"..dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta?.."
ReplyDeleteItu contoh yang di tanah..lihat tuh di Malioboro. Rel-nya di atas jalan raya..tembus pandang lagi, Vic..:)
Sebenarnya kisah berkat itu cuman karang-karanganku, tapi kalau sampai terjadi sungguhan di Malioboro, ya kebangetan, hahahaha..! Gimana coba caranya melarang penumpang kereta buang sampah sembarangan, sampah apapun? ;-)
ReplyDeleteTadi aku mampir ke blog Bu Dyah. Ayo Bu, nulis lagi yang menarik.. :-D
kalau bandung jakarta melewati rel diatas sawah kan ya?
ReplyDeletekasihan banget pak tani yang lewat dibawah rel itu, bisa dapat "hadiah" kalau lagi kurang beruntung
ibudosen
Makanya Pak Tani selalu pakai topi caping. Maksudnya untuk menghindari "berkah tak diundang" waktu kereta api lewat. ^^
ReplyDeleteLucu, waktu SMA aku juga sering melihat bus malam yang seperti ini.
ReplyDeleteDan lucunya lagi, aku tidak merasa ada yang aneh dengan hal ini, huahahaha! Asal pipis aja :)
Serem ngebayangin toilet bus nggak pakai container juga.. ^^
ReplyDeleteoh Tuhan..... menjijikkan sekali...
ReplyDeleteSangat. :)
ReplyDeleteFahmi nggilani bener ....pesawatnya pipis?....kali ini postingan bu dokter jorok...tapi gue terkikik2 gara2 Fahmi.
ReplyDeleteAku nggak nulis jorok kok. Aku cuman menulis kenyataan. :D
ReplyDeletehahahaaa nggak mungkin lah toilet pesawat dibikin bolong gitu. mesti ada penampungnya. karena kabin penumpang itu harus kedap udara, untuk menjaga tekanan udara. kalo bolong gitu bisa terjadi dekompresi, barang2 bisa kesedot keluar semua, kan gawat kalo anunya penumpang yg pipis jadi kesedot keluar. aw! :P
ReplyDeleteKedengarannya lebih gampang bikin kereta api ketimbang pesawat. Mau lantai keretanya jebol pun nggak akan ada apapun yang tersedot keluar.. :D
ReplyDeleteitu dah jujur loh, kan sesuai pesannya pergunakan setelah kereta berjalan, lah kalau masih berhenti bakalan ketahan donk kalau toiletnya sebenarnya g ada penampunya ha.... ha....
ReplyDeleteRenungkan Wahai Sahabat Ku
iya, aku dulu juga pernah bertanya2 kenapa musti nunggu kereta jalan, kirain supaya nggak banyak yang ngintip
ReplyDeleteCk..ck mungkin maksudnya spy tanah air kita tambah subur oleh pupuk kandang eh..orang???
ReplyDeleteLha mungkin memang disengaja supaya nggak gampang diintip waktu disiramin "pupuk".. ^^
ReplyDeletewogh.. klo di kapal laut sih saya sering liat yang begitu..
ReplyDeletetp klo kereta.. hayaahhh.. kebangetaaannn amat yahh..
merusak pemandangan.. :(
Waduh, pantesan ikan-ikan di perairan laut kita cepet mati. Lha makanannya tercemar sih.. :-p
ReplyDeletejeli sekali pengamatanmu....saya cerita ke suami, tenyata dia juga mengamati hal yang sama di kereta api
ReplyDeleteMungkin kita sama-sama penumpang kurang kerjaan yang suka ngeliatin toilet. :D
ReplyDelete